AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

Sekelompok anak-anak dari parokiku siap dengan lanterna di tangan, berjalan dari rumah ke rumah, menyanyikan lagu Santu Martin, dan mengumpulkan dana lagi buat proyek pipa air minum di Eputobi. Saat berita ini diturunkan, sudah terkumpul sekitar 2500 Euro yang siap dipakai untuk belanja pipa di Jakarta dan ongkos transport serta tenaga kerja dalam proyek maha penting ini. Semoga orang Eputobi senang menerimanya dan tidak lupa mendoakan semua pihak yang memperhatikan mereka.

 

 

SANTU MARTIN DAN PROYEK PIPA AIR MINUM DI DESA EPUTOBI

Setiap tanggal 11 November liturgi Gereja Katolik mengajak kita memperingati Santu Martin, Uskup Tours, Prancis, yang hidup pada abad ke empat sesudah Masehi. Karena lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga militer, Martin kemudian masuk dinas militer dan menjadi seorang serdadu yang terkenal berani dan gagah perkasa. Dalam sebuah perjalanan dinas militernya di musim dingin, diceritrakan bahwa Martin berjumpa dengan seorang pengemis yang kedinginan di tepi jalan. Melihat sang pengemis yang merintih meminta tolong, Martin tidak segan-segan mengambil pedangnya dan membagi mantel hangat miliknya menjadi dua lalu memberikan sebagian kepada sang pengemis.

 

Setelah kembali ke Kamp Militer, Martin tidur kelelahan dan bermimpi bahwa Jesus datang mengunjunginya, mengenakan Mantel yang diberikan Martin kepada si Pengemis. Yesus mengucapkan terimakasih kepada Martin atas kebaikannya. Pengalaman ini mendorong Martin untuk mengenal Jesus lebih dekat lagi.

 

Karena itu pada usianya yang ke 18 Martin memutuskan untuk meninggalkan dinas militer kebanggaanya dan kebanggaan keluarga. Ia mulai belajar mengenal orang Kristen, membaca Kitab Suci dan menghidupi pesan-pesan cintakasih yang ia temukan di dalam Kitab Suci. Kebaikan Martin kepada orang miskin dan sederhana kemudian menjadi sangat terkenal di seluruh pelosok Prancis sehingga ia dianjurkan oleh penduduk kota Tours sndiri untuk menjadi Uskup. Sebagai Uskup Martin sangat dicintai dan dihargai oleh umatnya karena ia tetap mempraktekan hidup sederhana dan tetap mencintai sesamanya. Uskup Martin meninggal tanggal 8 November 397 dan dikuburkan pada tanggal 11 November 397.

 

Sankt Martin sudah meninggalkan dunia ini lebih dari 1600 tahun yang lalu. Tetapi ceritra tentang kebaikannya masih senang diceritrakan setiap tahun pada bulan November, sampai dengan hari ini. Tindakan cintakasih yang dilakukan Sankt Martin terhadap pengemis sering diperagakan pada hari pestanya dan sudah menjadi tradisi tak terpisahkan dari acara tahunan di desa-desa Jerman.

 

Untuk memperingati Sankt Martin di Paroki saya saat ini, setiap tahun diselenggarakan acara pengumpulan dana untuk siapa saja yang membutuhkan. Dana ini biasanya dikumpulkan oleh anak-anak usia taman kanak-kanak yang berjalan dari rumah ke rumah membawa lanterna dan menyanyikan lagu tentang Sankt Martin. Keluarga-keluarga Jerman biasanya membuka pintu rumah mereka, mendengarkan lagu anak-anak yang datang ini dengan penuh perhatian lalu memberi sejumlah uang untuk tujuan yang sudah ditentukan oleh dewan Paroki. Pada tahun 2009, 2010 dan 2011 dana yang terkumpul berjumlah sekitar 100 juta Rupiah telah diberikan bagi SMA TITEHENA di Paroki Lewolaga. Dana tersebut sudah dipakai untuk pembangunan gedung serta pembelian sejumlah mebel dan kebutuhan sekolah.

 

Mulai tahun 2012 dana yang terkumpul dimanfaatkann untuk proyek pengadaan air minum bagi desa Eputobi. Saya berharap semoga kita bersama bisa menggantikan seluruh pipa airminum yang saat ini umumnya hanya sebesar 1 Dym menjadi 3 Dym. Pada tahun 2012 sudah didatangkan 100 batang pipa 3 Dym, sedangkan pada tahun 2013 sudah didatangkan 125 batang pipa 3 Dym. Berkat kerja keras dari segelintir orang di desa Eputobi yang ikut peduli terhadap proyek ini, semua pipa yang sudah dibeli kini sudah terpasang dengan baik. Volume air yang masuk ke desa Eputobi semakin banyak sehingga kebutuhan air warga Eputobi makin baik dilayani. Patut disayangkan bahwa sebagian besar warga Eputobi secara sengaja tidak ingin terlibat dalam proyek ini. Meskipun tenaga harian mereka dibayar dua kali lipat dari tenaga harian orang desa di Flores Timur, tetapi banyak dari mereka yang tidak peduli. Mudah-mudahan kenyataan ini tidak lagi kita alami pada tahun tahun yang akan datang. Dengan dilantiknya kepala desa Lewoingu yang baru, Bapak Sis Tukan, beberapa waktu lalu, kita berharap agar koordinasi selanjutnya dalam kaitan dengan proyek maha penting ini, semakin mendapat perhatian dan penanganan yang serius. Selamat menanti datangnya rezeki baru dan marilah kita saling mendukung. Ta´n uin to`u! (Rm. Arnold Manuk)

 

 

10 Oktober 2014: BERITA DUKA

Hari ini Allah sumber kehidupan telah memanggil hambaNya, nana kami Piter Koten, untuk kembali ke hadiratNya. Nana Pende Pite, demikian sapaan akrab beliau, meninggal di RSU Larantuka setelah cukup lama menderita karena serangan Stroke yang dialaminya beberapa waktu yang lalu. Kami sangat berduka atas kepergiannya dan berharap semoga ia beristirahat dalam damai di sisi Bapa. Terimakasih untuk semua kebaikanmu, Nana Pende! RIP!

 

 

7 Oktober 2014:

Hari ini telah di tampilkan sebuah video baru di YouTube, tentang pemasangan pipa pada tanggal 26 Agustus 2014. Bagi yang berminat dan kecepatan internetnya memungkinkan, silahkan klik pada topik VIDEO! Selamat menyaksikan!

 

 

6 Oktober 2014: Foto-foto penjemputan Imam baru P. Polikarpus Kelen SVD:

3 Oktober 2014: Proficiat Imam Baru!

Pada hari ini imam baru dari desa kita Eputobi, P. Polikarpus Kopong Kelen, SVD, yang dithabiskan pada tgl. 1 Oktober 2014 di Ledalero, merayakan misa perdananya di Eputobi. Kita ucapkan proficiat kepada Imam Baru kita. Semoga Pater Polikarpus setia dalam panggilannya dan selalu diberkati dalam karyanya di kebun anggur Tuhan.

Selasa, 26 Agustus 2014. PEMASANGAN PIPA AIR MINUM.

Pada awal Februari 2014 sudah didatangkan lagi 125 batang pipa 3 dym ke kampung Eputobi. Pipa-pipa yang dibeli di Jakarta dan di antar langsung ke Eputobi merupakan sumbangan umat parokiku untuk kedua kalinya. Sayang bahwa situasi kekosongan pemimpin di desa kita saat ini menghambat proses pemasangannya karena kesan saya, tidak ada yang merasa bertanggungjawab dalam mengurusnya.  Karena itu saya memanfaatkan waktu liburanku untuk mengajak umat yang ikut prihatin terhadap kebutuhan air di desa kita, beramai ramai memikul pipa dan memasangnya. Setiap batang pipa yang dipikul dari Tuakepa ke tempat pemasangannya dibayar RP. 50.000. Hari ini hanya sekitar 35 Batang pipa yang sempat terpikul. Selanjutnya pengangkutan pipa ditangani oleh orang Tuakepa hingga selesai, sementara pemasangannya ditangani oleh 9 oraang anggota PAMDES yang diketuai oleh bapak Yufen Koten. Informasi terakhir yang saya dapat setelah berada di Jerman menyebutkan bahwa Bapak Yufen Koten dan timnya telah menyelesaikan seluruh pekerjaan mereka. Saya ucapkan terimakasih kepada Tim PAMDES Lewoingu dan berjanji untuk memperhatikan nasib mereka pada sumbangan berikut di bulan November 2014 nanti.

Bersiap-siap berangkat bersama Om Anis dan Mantan Bapa Desa, Michael Kelen, menuju ke desa Tuakepa.

Truk Om Anis yang seram tapi save di atas jalanan yang sangat memprihatinkan! Jalan dari Eputobi ke Tuakepa ini mengingatkan saya akan waktu tiga tahun menimba ilmu di SMPK Swadaya Tuakepa (1983-1986). Setiap hari sekolah, saya menempuh 5km x 2 PP dengan berjalan kaki!

125 batang Pipa diturunkan di Wolor, Tuakepa, untuk selanjutnya di transportasi tenaga manusia menuju tempat pemasangannya, mendaki gunung, menembusi hutan, di jalan setapak yang tidak jelas statusnya, sepanjang kurang lebih 10 Km.

Sekitar pkl. 13.30 siang, tujuan belum tercapai tapi sudah lapar dan haus. Karena itu sekelompok pekerja beristirahat di tengah hutan menikmati bekal alakadarnya yang disiapkan dari rumah.

Akhirnya tiba juga di tempat tujuan dan terhibur melihat volume air yang tidak sedikit untuk desa kita. Mudah mudahan dengan pergantian seluruh Pipa dari 1 Dym ke 3 Dym, volume air ini bisa dibawa hingga ke Desa kita Eputobi. Kita masih butuhkan banyak uluran tangan agar cita cita ini tercapai.

Perjalanan pulang kami sempat terhiasi dengan menikmati kelapa gunung yang gurih. Terimakasih kepada pemiliknya yang merelakan buah-buah kelapa ini buat kami-kami yang haus dan letih saaat itu.

 

Berita sebelumnya lihat Arsip!