AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

31 Desember 2015:

TUHAN - AGAMA DAN NILAI, demikian judul tulisan perdana P. Bernard Hayong SVD di sebuah Blog barunya, tertanggal 31. Dezember 2015. Pater Nard menyebut tulisannya sebagai sebuah „coretan akhir tahun 2015“ Bagi yang berminat untuk membaca isinya silahkan mengunjungi Blognya di http://hayong.eputobi.net

 

Sekedar informasi bagi mereka yang suka menulis dan ingin memiliki Blog sendiri, silahkan mengirim email ke arnoldmanuk@yahoo.de Anda akan diundang untuk membuka blog sendiri yang sifatnya gratis dan tanpa ada reklame seperti yang sering kita jumpai di Blog google dan lain lain. Syarat utamanya ialah sedikit mengerti bahasa Inggris agar bisa mengikuti langkah-langkah membuat Blog yang anda inginkan. Anda juga bisa menentukan sendiri, apakah tulisan atau informasi anda bisa dikomentari pengunjung atau tidak. Design Blog anda bisa bermacam macam dan sudah disiapkan. Anda tinggal memilih mana yang anda suka dan bisa menggantinya setiap saat. Blog anda akan bisa tampil dalam dua jenis yakni versi sederhana, umumnya untuk Smartphone atau juga versi lengkap untuk PC. Untuk mengungah tulisan atau Foto, anda bisa menggunakan smartphone atau juga PC. Selamat mencoba!

 

04 November 2015:

 

CATATAN HATI DI AWAL NOVEMBER 2015

 

Angin dingin bulan November yang mempercepat luruhnya dedaunan kuning musim gugur di Eropa seakan mengajakku untuk sejenak memandang kedinginan hati segelintir orang desa yang sempat kutemui saat liburanku di tanahair pada bulan Agustus 2015 yang lalu. Ijinkan aku untuk membahasakan secuil rasa kecewa yang masih tersirat di sudut hati mengenang perjalanan kembaliku ke Lewotana tercinta Eputobi. Dilubuk hatiku yang terdalam memang ada rasa syukur yang berlimpah atas kesempatan berjumpa kembali dengan semua anggota keluargaku di rumah kesayanganku. Lebih dari itu, kehadiran kembali saudari bungsuku (walaupun hanya 10 hari) yang sudah merantau di Timika, Irian Jaya, sejak 8 tahun yang lalu seakan menyempurnakan daftar panjang alasan rasa syukurku ini. Meskipun demikian saya tidak ingin menutup mata terhadap beberapa kenyataan kurang membahagiakan yang sempat saya rekam sebagai berikut:

 

Dampak perayaan 17. Agustus 2015

Untuk memeriahkan perayaan hari kemerdekaan 17. Agustus 2015 pemerintah desa Lewoingu menyelenggarakan berbagai turnamen olahraga dan kesenian serta pasar malam yang berlarut larut setiap hari mulai tanggal 2 Agustus 2015. Warga tergoda untuk tidak mencari nafkah dan menghabiskan penghasilan mereka yang sudah sedikit di tempat tempat hiburan di pasar malam.

Polusi bunyi musik dan suara gaduh para penyelenggara pasar malam sangat mengganggu istirahat warga setiap malam hingga melebihi pkl. 01.00 dinihari selama kegiatan desa ini diselenggarakan.

 

Proyek pengadaan Airminum

200 batang pipa air minum yang didatangkan pada awal Februari 2015 tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Anggaran sebesar Rp. 15 Juta untuk pemasangan dan transportasi pipa dari desa Eputobi ke tempat pemasangannya di pegunungan terkesan mubazir.

Menghadapi kenyataan ini saya langsung menemui KADES Lewoingu pada hari ke 2 liburan saya, yakni Senin, tanggal 3 Agustus 2015 dan meminta bantuannya untuk menggerakan warga yang bersedia dibayar lagi Rp. 50.000 per orang per hari.

Karena sampai dengan hari Minggu tanggal 9 Agustus 2015 tidak ada reaksi positif lebih lanjut dari pihak pemerintah Desa Lewoingu, saya memanfaatkan mimbar Gereja pada misa hari Minggu pagi tanggal 9 Agustus 2015 untuk mengundang umat membereskan 200 batang pipa yang masih tercecer di pegunungan.

Selain itu pada sore hari yang sama, saya menjumpai segelintir penonton sepak bola di kampung Eputobi dan mengajak mereka secara pribadi untuk ikut berpartisipasi.

Pada malam hari, masih pada hari yang sama, lewat seorang utusannya, KADES Lewoingu menyampaikan, pesan bahwa akan ada wakil dari setiap dusun yang mendampingi saya dan PAMDES dalam menyelesaikan proyek ini keesokan harinya.

Ternyata pada keesokan harinya, Senin pagi 10. Agustus 2015 saya hanya menjumpai 12 orang tenaga yang siap berangkat bersama. Mereka bukanlah wakil dari setiap dusun seperti yang dijanjikan oleh KADESs Lewoingu.

Saat menunggu di mobil Pick Up yang dipesan untuk menghantar kami ke desa Tuakepa, terdengar pengumuman resmi pemerintah Desa Lewoingu yang mengundang warga setempat secepat mungkin hadir di tempat lomba memasak yang diselenggarakan khusus untuk para bapak. Pengumuman ini memberi kesan ketidakpedulian pemerintah terhadap rencana kerja yang sudah disampaikan sebelumnya. Meskipun demikian pemasangan 200 batang pipa pada hari itu bisa terlaksana dengan baik dan kami semua kembali ke rumah dengan selamat. Dua hari kemudian pasokan air ke desa Lewoingu terhenti. Rupanya ada sambungan yang terlepas karena tekanan air dari pipa baru 200 batang tidak disalurkan dengan baik oleh pipa lama berukuran jauh lebih kecil. Lucunya… masyarakat mulai mencari kambing hitam dari persoalan ini.

 

Catatan penutup

Sejak 3 tahun terakhir warga Jerman di paroki tempat saya bekerja mengumpulkan dana untuk proyek pengadaan air minum, dengan rincian sebagai berikut: Tahun 2012 100 batang pipa, tahun 2013 125 batang pipa dan tahun 2014 (tiba pada awal 2015) sebanyak 200 batang pipa. Biaya transportasi dan pemasangan juga ditanggung. Masyarakat yang memikul pipa dari desa Tuakepa ke tempat pemasangannya di bayar RP. 50.000 untuk setiap batang pipa. Pemasangan pipa dilakukan oleh PAMDES dengan dana khusus dari Jerman. KADES Lewoingu sebelumnya selalu aktif dan selalu mendampingi saya saat pemasangan pipa. Kesan saya, KADES Lewoingu saat ini yang baru mulai aktif awal tahun 2015 tidak ingin menerima bantuan selanjutnya. Cita cita saya untuk mendatangkan air yang limpah ke desa Eputobi mungkin harus berakhir disini, sampai dengan ada perubahan baru dari desaku yang tercinta. Dana yang akan terkumpul akhir November nanti akan saya alihkan untuk proyek lain di Jerman.

Rm. A. Manuk of Germany

 

25. Mai 2015: 200 batang pipa untuk Eputobi

Pada akhir Februari 2015 sudah didatangkan lagi sumbangan ketiga dari Paroki St. Sixtus Pollenfeld dan St. Yohanes Pemandi Wachenzell di Jerman buat warga desa Lewoingu. Sumbangan dalam bentuk pipa air minum sebanyak 200 batang sudah diterima oleh warga Lewoingu tepatnya pada tanggal 28 Februari 2015. Berdasarkan informasi yang diterima Eputobi.net, pipa pipa tersebut kini sudah selesai terpasang berkat kerjasama segelintir orang Lewoingu dan sebagian besar orang dari Tuakepa dan juga Riangduli. Biaya transportasi dari Eputobi ke tempat pemasangannya serta biaya tenaga pemasang sesuai kesepakatan dengan PAMDES Lewoingu Rp. 15. Juta sudah dibereskan sebagaimana mesitinya. Kita harapkan agar kebutuhan air minum warga Lewoingu semakin terpenuhi berkat sumbangan ini.

 

1 Agustus 2014: Kunjungan ke Allianz-Arena München, Stadion sepakbola paling bergensi di Jerman.