Ketika pertama kali saya dihubungi oleh Drs. Guus Cremers, SVD dan alm. P.Dr. Ozias Fernandes, SVD (+18/12/1995) untuk melanjutkan studi dalam bidang Filsafat untuk kepentingan Seminari, saya langsung menolak tawaran ini. Ada beberapa alasan mengapa saya menolak tawaran ini, antara lain: 1) saya hanya ingin menjadi biarawan, imam, dan misionaris, dan ingin bekerja sebagai misionaris di mana saja di bumi ini, sesuai dengan panggilan saya. Saya tidak ingin untuk menjadi guru dan akan tinggal tetap di suatu tempat dalam jangka waktu yang lama. 2) Saya tidak dipersiapkan baik dalam bidang Filsafat. Saya sadar bahwa bagian Filsafat di Ledalero amat lemah, karena mutu kuliah yang pernah saya dapat dan juga bahwa kami tidak punya dosen yang kualified untuk bidang khusus ini. 3) Pada umumnya Filsafat dengan sekian banyak disiplin dan cabangnya dilihat sebagai mata kuliah yang berat. Dan di Ledalero banyak teman frater yang gagal dalam bidang ini.

Ada banyak diskusi dibuat mengenai rencana studi lanjut saya ini. Pater George Kirchberger, SVD, sebagai salah seorang pendamping frater dan mahasiswa, merupakan orang terakhir yang berbicara dengan saya tentang kemungkinan studi lanjut ini. Dia memang mengharapkan saya menerima tawaran ini demi kepentingan Seminari Tinggi dan Serikat masa depan, dan dia mengungkapkan kepercayaan penuh kepada saya dan bahwa saya mampu mengatasi semua kesulitan tersebut di atas. Beliau mengatakan misalnya bahwa tidak mutlak saya akan tinggal tetap di Ledalero, dan bahwa sebagai anggota tarikat saya memiliki hak juga untuk melamar ke tempat lain setelah kira-kira 10 tahun mengabdi di Ledalero. Serikat juga pasti akan melihat dan memperhatikan kebutuhan kita. Lewat semua pembicaraan dan diskusi ini, saya akhirnya dengan berat menerima tawaran ini.

Ketika saya dan teman-teman mengikrarkan kaul abadi pada tanggal 1 Agustus 1983, Pater Provinsial membacakan benuming misi pertama untuk kami semua. Pada waktu nama saya dibaca dengan benuming misi untuk Provinsi SVD Ende dan akan melanjutkan studi Filsafat, banyak orang bertepuk tangan, tapi saya sendiri masih merasa agak tertekan dan berat hati. Banyak anggota keluarga saya yang hadir waktu itu bertanya: "apa itu? Frater nanti akan studi ilmu apa itu?" Dan saya yakin banyak hadirin yang juga bertanya tentang nama yang asing ini - suatu bidang yang tidak dikenal oleh kebanyakan orang yang bukan terlibat dalam jurusan ini. Ketika orang bertanya kepada saya "Apa itu Filsafat," saya bahkan tidak mampu menjawabnya. Memang banyak orang, bahkan hingga saat ini memiliki banyak prasangka terhadap Filsafat, misalnya Filsafat dilihat sebagai bagian studi yang amat abstrak dan sulit, permainan akal saja, atau tugasnya ialah mempersulit sesuatu yang sebenarnya mudah, memanipulasi pikiran-pikiran yang gampang dalam ide-ide atau bahasa yang berat dan sulit dimengerti, dan banyak prasangka lainnya.

Meskipun saya juga sangat dipengaruhi oleh semua prasangka ini, sesuai dengan jawaban 'ya' saya, saya coba bertekat untuk siap menerobos bagian gelap dunia Filsafat ini. Saya tetap berprinsip di bawah kata-kata sang Guru ilahi sendiri: "Mari dan lihatlah." Saya berpikir bahwa lebih baik saya coba menerobos masuk ke dalam dunia ini untuk bisa secara langsung merasakannya. Saya akhirnya juga secara sistematis masuk ke dalam studi-studi Filsafat yang untuk kebanyakan orang merupakan bagian yang gelap dan sukar. Pada permulaan, studi ini saya rasa berat karena lebih banyak dipengaruhi oleh semua prasangka di atas, namun juga karena saya merasa bahwa materi ini terlalu luas dan kami tidak mempelajari materi ini dengan cukup baik dan memadai.

Setelah satu tahun masuk dan menyelami dunia yang gelap ini saya akhirnya merasa terbiasa dan senang hidup dalam dunia seperti ini. Dan nampaknya semakin banyak saya belajar dan tahu, semakin saya merasakan kepuasan dan kegembiraan. Hidup terasa semakin menyenangkan dan batin saya merasa jauh lebih tenang. Kegembiraan ini pasti akan lebih diperbesar kalau nanti saya juga akan meneruskannya kepada para murid saya dengan gembira. Di sana kegembiraan saya akan menjadi lebih penuh. Saya akhirnya juga sadar bahwa hal yang sangat esensial dalam filsafat ialah bahwa ia melingkupi saya, dan 'diri saya' termasuk bagian esensial dari filsafat itu sendiri. Filsafat tidak hanya dilihat sebagai karya akal dan berpikir, dengannya manusia dapat memanipulasi dunia dan lingkungannya; filsafat tidak hanya mempelajari bagian-bagian dunia dan manusia secara riil atau pun secara metafisis, melainkan filsafat juga merupakan cara hidup dan cara memandang realitas di sekitar kita, bagaimana seharusnya kita hidup di tengah lingkungan dan dunia sekitar kita. Filsafat itu dikatakan sulit kalau ia hanya dimengerti sebagai kumpulan ide-ide dan gagasan-gagasan para pemikir yang abstrak dengan pelbagai istilah teknis yang khas, atau kalau kita mau mengungkapkan sesuatu yang secara real tidak kita alami dalam hidup kita sehari-hari, atau juga kalau kita mengungkapkan sesuatu secara negatip dalam dunia konkrit tentang sesuatu yang melampaui dunia konkrit ini (metafisika). Sama halnya kalau kita mau berkata-kata tentang Tuhan atau makhluk atas duniawi dalam bahasa mereka yang sungguh berada di luar jangkauan bahasa manusiawi.

Berdasarkan pemikiran ini, dalam suatu kesadaran baru tentang Filsafat, saya masuk dalam dunia ini dan dengan gembira mengajar selama sekitar 20-an tahun ini. Paham ini sungguh-sungguh tertanam dalam batin saya dan karena itu saya merasa bahagia dalam karier saya sebagai dosen. Di atas tapak ini saya berjalan bersama sebagai pendamping bagi para pemula dan para mahasiswa dalam jurusan Filsafat untuk menemukan diri mereka sendiri, dan bagaimana mereka melihat diri dan dunia sekitar mereka; bagaimana mereka mulai berpikir dan mengonfrontasikan diri mereka dengan realitas, membuat interpretasi dan kemudian memahami dunia dan realitas ini. Pendidikan seperti ini justru memacu mereka untuk secara kreatif menemukan sesuatu yang orisinal bagi diri mereka sendiri. Pendidikan seperti ini jelas tidak memaksa orang untuk masuk dalam suatu forma berpikir tertentu. Penghargaan terhadap kebebasan berpikir orang sangat kuat terasa di sana. Filsafat seharusnya tidak memaksa atau menggiring orang menuju suatu pola berpikir tertentu, tetapi harus membuka kemungkinan dan kesadaran akan diri sendiri yang bebas dan berharkat di depan totalitasnya yang maha luas.

Sejak Agustus 1988 saya menerima suatu gelar baru sebagai 'dosen' di STFK Ledalero. Tugas mengajar ini diselingi oleh sekali studi lanjut untuk program doktor (1991-1994) dan sekali penyegaran akademik di Washington (2003-2004). Berkarya sebagai dosen sungguh merupakan suatu karya yang menggembirakan, apalagi saya mendidik dan mengajar para calon imam dan biarawan, tokoh inti Gereja masa depan (SVD, Carmelit, Scalabrinian, Rogationis, dan Praja), dan juga mahasiswa/i, tokoh awam katolik yang handal untuk Gereja. Pada permulaan tugas ini terasa berat karena memerlukan banyak waktu dan tenaga untuk persiapan, juga harus berdiri dan berbicara di depan sekian banyak mahasiswa, orang-orang pintar terpilih untuk sekolah seperti ini. Namun dalam perjalanan waktu, rutinitas ini terasa semakin menjadi bagian diri dan menjadi semakin mudah untuk dikerjakan. Sebagai dosen, saya harus mempersiapkan kuliah dengan baik, menyusun diktat agar para mahasiswa memiliki pegangan dan mengimbau agar mereka selalu mengembangkan sendiri bahan ini lewat sekian banyak literatur yang ada dalam perpustakaan.

Di samping menggunakan metode mimbar dalam mengajar, saya juga menggunakan metode seminar. Yang terakhir ini lebih saya minati, karena melalui seminar para mahasiswa dipacu untuk lebih banyak membaca dan belajar, dan mereka juga harus mengambil bagian aktif dalam diskusi. Apa yang mereka baca dan pelajari harus juga mampu diungkapkan secara jelas di hadapan teman-teman dan dosen mereka. Dan di sana kerap terjadi konfrontasi pendapat dan dengan ini mereka juga dilatih untuk masuk dalam logika berpikir dan secara fair juga menerima pendapat teman-teman lain. Selain mereka mendapat kemungkinan untuk tahu lebih banyak, mereka juga belajar untuk berani berbicara dan mengungkapkan diri dan pikiran mereka, untuk mampu memimpin sidang dan seminar dan berbicara di depan publik.

Kesibukan lain dari seorang dosen ialah menyusun pertanyaan ujian, memeriksa pekerjaan ujian, dan membaca semua paper mahasiswa dan memberikan penilaian. Sebagai dosen saya juga harus mempersiapkan waktu khusus untuk membimbing para mahasiswa yang menulis skripsi dalam bidang Filsafat, membaca dan mengoreksinya dengan cermat, dan akhirnya menguji dan memberikan penilaian atas skripsi ini. Bagi saya, bagian yang paling berat dan yang menuntut banyak waktu dan energi saya adalah memeriksa bahan ujian. Kadang-kadang terasa amat membosankan, apalagi membaca tulisan yang jelek dan tidak jelas, dengan bahasa yang tidak mudah dimengerti. Namun ini adalah kewajiban yang sudah menjadi suatu kebajikan bagi seorang dosen. Kadang-kadang saya harus membuat ujian untuk sekitar 200 mahasiswa dan kalau masing-masing mereka menulis antara 6-8 halaman dalam kertas pekerjaan, maka saya harus membaca antara 1200 - 1600 halaman pekerjaan ujian itu. Ini baru satu matakuliah. Bisa dibayangkan kalau saya memberikan tiga mata kuliah per semester. Toh saya menjalankan kebajikan ini dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Kalau saya terlalu kecewa terhadap beberapa pekerjaan ujian, saya biasanya menghentikan pekerjaan pemeriksaan, agar emosi saya tidak menjadi ajang kemarahan untuk memeriksa pekerjaan yang lain. Karena kalau demikian saya tidak adil terhadap mahasiswa lain.

Saya sangat yakin dan merasa bahwa karya saya sebagai dosen ini akan menjadi karya yang sangat menyenangkan dan membawa banyak kebahagiaan kalau saya memiliki beberapa sikap yang menjadi kebajikan utama bagi seorang dosen.

Pertama
, saya harus memiliki perhatian (care dan concern) terhadap para mahasiswa. Kalau saya punya hati terhadap mereka saya juga akan gampang memahami dan mengerti mereka. Perhatian ini juga melingkupi kemampuan saya untuk bisa merasakan apa yang mereka rasakan.

Kedua, motivasi dasar harus jelas dalam tugas sebagai guru. Semangat pelayanan yang baik dengan motivasi dasar harus menjadi roh dan semangat utama dalam tugas mengajar dan menyajikan kuliah. Motivasi dasar inilah yang membuat saya selalu gembira dalam mengajar. Setiap mahasiswa memiliki instink dasar entahkah dosen ini 'ada' untuk mahasiswa atau tidak; apakah dia betul memiliki roh pelayanan atau tidak. Saya sendiri mengalami bahwa ada teman dosen yang kurang komunikatif dalam membawakan kuliah atau monoton, atau juga kurang baik dalam mengajar. Namun kehadiran dosen dan seluruh dirinya memberi pesan kepada mahasiswa bahwa dia sungguh hadir dan serahkan seluruh dirinya untuk kepentingan mahasiswa dan lembaga pendidikan. Sebagai tanggapan mahasiswa justru sangat menghargai kuliah-kuliahnya dan belajar dengan sangat tekun semua kuliah dosen bersangkutan.

Ketiga, rendah hati dan sabar. Sikap keras dan penuh disiplin itu bagus asal tidak besikap kejam terhadap anak didik. Kalau ada permasalahan selesaikanlah itu dengan bijaksana di bawah kebajikan kerendahan hati dan kesabaran. Yang harus menjadi motto dalam penyelesaian semua permasalahan adalah: "Tegas dalam hal atau persoalan namun halus dan bijaksana dalam cara" (fortiter in re, suaviter in modo).

Keempat, tekun, kreatif dan bekerja keras. Seorang dosen harus sungguh memperlihatkan ketekunan dan kerja keras. Ia harus sungguh-sungguh mempersiapkan pelajarannya, banyak membaca, dan memiliki disiplin hidup dan kerja yang baik. Semua aspek ini justru mendukung kewibawaan seorang dosen. Ia juga harus konsekuen dalam tugas-tugasnya. Kalau ia menuntut banyak paper dan pekerjaan dari para mahasiswa, ia juga harus berusaha membaca setiap paper dan pekerjaan serta memberikan perbaikan dan penilaian.

Kelima, disiplin dan ketepatan waktu. Banyak mahasiswa suka melihat dosennya yang berdisiplin dalam banyak hal. Masuk dan keluar ruang kuliah pada waktunya; memeriksa pekerjaan ujian dan memasukkan poin-poin pada waktunya. Dan ada banyak kebajikan lainnya yang bisa Anda tambahkan sendiri. Yang paling penting adalah kalau Anda adalah seorang baik dan mampu mengkomunikasikan pengetahuan Anda kepada para mahasiswa. Ada dosen yang sangat pintar, tetapi tidak mampu mengkomunikasikan pengetahuannya kepada para mahasiswa. Ada yang memiliki pengetahuan yang sedang, namun cara mengungkapkan ide dan meneruskan pengetahuannnya kepada mahasiswa sangat bagus dan mudah dimengerti. Dan tentu banyak mahasiswa akan melihat entahkah kepribadian dosennya menarik atau tidak. Karena itu yang sangat diperlukan bagi seorang dosen adalah memiliki kepribadian yang menarik dan kemampuan menyiapkan dan dapat meneruskan pengetahuannya kepada para murid.

Kuliah-kuliah yang pernah saya berikan di STFK Ledalero adalah sebagai berikut:

yang termasuk dalam kuliah wajib adalah: Pengantar Filsafat, Sejarah Filsafat, Filsafat Kosmologi, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Filsafat Manusia, Dasar-Dasar Filsafat dan Metodologi Penelitian Filsafat (Logika). Selain itu saya juga menyajikan kuliah-kuliah pilihan dan seminar, seperti Filsafat India, Filsafat China, Estetika Nietzsche. Seminar-seminar yang pernah saya siapkan sebagai tuntutan yang harus dipilih oleh setiap mahasiswa adalah: seminar tentang Filsafat Nietzsche, Filsafat Plato, Filsafat Berpikir Orang Cina, Manusia dalam Sejarah Filsafat, dan Filsafat Berpikir Orang N.T.T., Foucault dan Postmodernisme, Filsafat Timur, dan lain-lain. Filsafat Berpikir Orang Cina dan Filsafat Berpikir Orang N.T.T. saya lihat sebagai seminar-seminar yang menarik dan ditanggapi sangat positif oleh para mahasiswa.

Selama menjalankan tugas sebagai dosen, saya juga pernah diminta untuk menjadi dosen tamu (visiting lecturer) di beberapa tempat. Pada tahun 1989 saya diminta untuk mengajar bahasa Inggris pada Akademi Pariwisata St. Thomas Aquinas di Maumere. Akademi ini mempersiapkan para mahasiswa untuk berkarya di objek-objek wisata sebagai pemandu dan guide, pelayan restauran dan hotel, biro-biro perjalanan, dan lain sebagainya. Pada waktu itu direktur utama Akademi ini adalah Bapak Drs. Roby Lameng. Saya memang bukan memiliki bidang keahlian bahasa Inggris, namun saya memiliki sertifikat khusus dari Fakultas Bahasa Inggris, Universitas Katolik Amerika di Washington, DC dan dalam sertifikat itu saya dicatat sebagai yang bisa mengajar bahasa Inggris di Universitas atau SMA di mana saja di Indonesia, apabila diperlukan. Sertifikat ini dibuat berdasarkan kursus intensif yang pernah saya ambil dan berdasarkan kemampuan dan profisiensi bahasa Inggris saya yang bisa dilihat lewat mengikuti kuliah-kuliah yang berat dalam bidang Filsafat dan menulis paper-paper ilmiah, thesis untuk Master dan disertasi doktoral. Lebih dari itu karena saya telah terbiasa menggunakan bahasa Inggris secara tepat dan baik selama sejumlah tahun di Amerika Serikat, negara yang menggunakan bahasa Inggris. Tugas mengajar sebagai dosen bahasa Inggris pada Akademi ini terpaksa saya hentikan setelah satu tahun karena pelbagai kesibukan di Ledalero sebagai dosen dan banyak tugas lainnya dalam komunitas formasi.

Selama bulan Februari sampai April 1996 saya menjadi dosen tamu di St. Peter's College di Kuching, Serawak, Malaysia. Pada waktu itu di College ini sangat dibutuhkan dosen dalam bidang Filsafat yang bisa mengajar dalam bahasa Inggris. Ada beberapa dosen dari STFK Ledalero pernah diminta mengajar di sana dalam bahasa Indonesia (Melayu). Namun seringkali para frater yang berasal dari India dan Cina tidak bisa dengan gampang mengerti bahasa ini. Saya sungguh merasa senang berkesempatan mengajar pada St. Peter's College ini.

St. Peter's College adalah Seminari Tinggi diosesan yang dimiliki bersama dan dikelola oleh lima Keuskupan di Malaysia Timur, yaitu keuskupan Agung Kuching, keuskupan Sibu, keuskupan Miri-Brunei, keuskupan Keningau dan Kota Kinabalu di Sabah. Pada waktu itu ada kira-kira 30 frater yang tengah belajar Filsafat dan Teologi. Sangat memprihatinkan bahwa mereka tidak memiliki cukup imam dan dosen. Di sana hanya ada dua imam dari Mill Hill dan beberapa imam diosesan yang tinggal bersama frater dalam rumah pendidikan yang dibangun dalam model British. Beberapa dosen lain bekerja di paroki dan datang mengajar menurut jadwal yang disiapkan oleh Seminari. Ketika itu saya mengajar matakuliah Introduksi Filsafat dan Sejarah Filsafat, dengan penekanan Filsafat Klasik, Skolastik dan Modern.

Pada tahun 2000, ketika sedang menjalankan tugas sebagai Rektor di Ledalero beberapa kali saya menerima telepon dari Prof. A.A. Maramis, seorang psikiater di Surabaya, dengan tawaran untuk bisa mengajar Filsafat Manusia pada jurusan Psikologi yang baru mulai dibuka di Universitas Katolik Widyamandala, Surabaya. Untuk memperlancar proses pendaftaran jurusan baru ini, mereka harus melengkapi diri dengan tenaga-tenaga dosen yang diperlukan. Saya bersedia kalau nama saya didaftar sebagai dosen, namun selama sebagai Rektor dan dosen purnawaktu di STFK Ledalero, saya tidak bisa memberi kuliah di sana. Nama saya terus dimasukkan dalam prospectus jurusan ini sebagai dosen tamu atau tidak tetap. Tahun 2003 ketika dalam perjalanan ke luar negri untuk sabatik saya sempatkan diri berbicara dengan dekan fakultas Psikologi, Bapak Marcellus Oetomo, dan menyampaikan bahwa kalau fakultas ini masih memerlukan tenaga saya, kita akan berbicara lagi bulan Agustus 2004, ketika saya kembali dari USA. Semua ini akhirnya sirna karena di USA saya didiagnose menderita tumor ganas dan karena itu saya membutuhkan waktu lebih banyak untuk istirahat dan melihat perkembangan kesehatan saya sambil mengajar di Ledalero.

Selain memberikan kuliah saya juga memiliki bakat yang sangat menggembirakan adalah bakat tulis menulis. Karya tulis menulis ini sudah dibina sejak di Seminari Menengah Hokeng lewat majalah dinding dan majalah Seminari. Sebagai frater-mahasiswa saya juga banyak menulis di surat kabar dan beberapa majalah. Di Ledalero, saya juga banyak dilatih dalam karya ini melalui bulletin "Wisma" dan Seri Buku Vox, yang lebih banyak berisikan studi-studi dan analisis-analisis lebih ilmiah. Juga pernah bekerja sebagai staf redaksi dan badan pimpinan Seri Buku Vox. Sebagai dosen, saya juga pernah menjadi moderator Vox dan kemudian sebagai Rektor, saya menjadi penanggungjawab umum Vox.

Sejak tahun 1994 sampai hari ini saya lebih berkecimpung dalam perkuliahan, penerjemahan buku dan karya tulis lainnya. Selama berkarya sebagai dosen saya telah menulis beberapa buku Filsafat dan sekitar 10 terjemahan yang diterbitkan, baik dalam bidang Filsafat dan ilmu sosial maupun dalam bidang Teologi dan kerohanian. Selain itu saya juga banyak menulis artikel ilmiah untuk beberapa seri buku, Jurnal Filsafat STFK, Melintas, jurnal Filsafat dari Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, Bandung, juga dalam majalah kebudayaan "Basis," dan lain-lain. Beberapa proyek yang sedang saya kerjakan adalah, memeriksa dan membukukan semua bahan kuliah dan seminar, menulis dan mengerjakan buku untuk para pemula studi filsafat, yang kiranya dapat digunakan di Sekolah Lanjutan Atas dan setingkat, dan lain sebagainya. Saya memiliki minat yang besar dalam bidang ini, namun kemampuan dan daya jangkau saya amat terbatas baik dari segi tenaga, waktu, maupun dari segi finansial.
Beberapa karya yang sudah diterbitkan dan yang masih dalam proses penerbitan adalah:

Karya-karya asli:

1. Plato: Jalan Menuju Pengetahuan yang Benar (Jokyakarta: Kanisius, 1997).

2. Michel Foucault: Parrhesia dan Persoalan Mengenai Etika
(Jakarta: Obor, 1997).

3. Misa Kudus: Misteri Iman Kita
(Ende: Nusa Indah, 2003).

4. Esai tentang Manusia
(vol. 1: Ende: Nusa Indah, 2006)

5. Esai tentang Manusia
(vol.2 : Ende: Nusa Indah, 2007)

6. Esai tentang Manusia
(vol.3 : Ende: Nusa Indah, 2007)

7. Aku Dicipta Untuk Berkarya
(Otobiografi), 2008.

8. Filsafat: Apa Itu?
(sedang dalam proses penerbitan)

Karya terjemahan:

1. Krisis: Bahaya dan Peluang (Through Crisis to Freedom). Ende: Nusa Indah, 1994).

2. Pelayan Kegembiraan Injil
( Diener Euerer Freude). Ende: Nusa Indah, 1994. [ bersama P.Y.Boumans].

3. Selibat Para Imam
( Het Priester-Celibat). Ende: Nusa Indah, 1996. [bersama P. Y. Boumans]

4. Antara Engkau dan Aku
(ed.oleh Agus Cremers) (Jakarta: Gramedia, 1987).

5. Ilmu Motivasi: Rahasia Cina Masa Lampau
(Secrets of Ancient Chinese: Art of Motivation). Ledalero: LPBAJ, 2001.

6. Plato dan Freud: Dua Teori Cinta
(Plato and Freud: Two Theories of Love). Ledalero: LPBAJ, 2002.

7. Imam Masa Kini
(Being a Priest Today). Ledalero: Pen. Ledalero, 2003.

8. Arnold Janssen: Pendiri SVD
(bersama sekelompok penerjemah dari karya Joseph Alt, SVD: Arnold Janssen). Ende: Nusa Indah, 2007.

9. Hidup dari Sakramen dan Sakramen Kehidupan
(karya asli Leonardo Boff). Jakarta: Obor....

Sejumlah karya diterbitkan dalam karya editorial sebagai berikut:

1. Gereja Milenium Baru: Sebuah Bunga Rampai. Ed. oleh Romanus Satu dan Herman E. Wetu ( Ritapiret: Yayasan Gapura, 2000), hlm., 105-126.

2. Kontekstualisasi Sabda dan Transformasi Masyarakat
. Ed. Henrikus Dori Wuwur, Guido Tisera, dan Amatus Woi ( Ledalero: Pen. Ledalero, 2002), hal. 9-37, dan hlm., 61-81.

3. Seminari Hokeng Menelusuri Jejak Langkahnya 1950-2000
, hlm., 232-242.

4. Kata Pengantar
untuk Doa Novena Arwah, tulisan Bonie Payong, SS.CC (Jakarta: Obor, 2001).

5. Kata Pengantar
buku Dia Datang (Kunjungan Sri Paus Yohanes Paulus ke II di Flores, 11-12 Oktober 1989)

6. Banyak artikel ditulis dalam Jurnal Filsafat STFK Ledalero. Juga dalam Melintas, Jurnal Filsafat Universitas Parahyangan, Bandung (bahasa Inggris dan Indonesia).

7. Mengabdi Kebenaran
, ed. Frans Ceunfin dan Feliks Baghi (Ledalero: Penerbit Ledalero, 2005), hlm., 235-257.

Selain semua karya di atas ada banyak artikel dimuat dalam pelbagai majalah ilmiah, Bulanan, Mingguan dan Harian Umum.

Berdasarkan semua karya pelayanan sebagai dosen dan karya-karya tulis ini, saya dapat mencapai jabatan akademik yang tinggi sebagai dosen di STFK Ledalero. Sejak tahun 1995 proses penjenjangan ini dimulai. Saya adalah orang pertama yang dijadikan kelinci percobaan menyangkut proses untuk mencapai jabatan akademik. Ternyata segala urusan cukup mudah bagi saya mulai dari penyetaraan ijazah luar negri sampai pada pengumpulan kredit (CUM) berdasarkan hasil karya sebagai dosen. Penyetaraan ijazah berjalan lancar karena saya memiliki arsip pribadi yang baik tentang segala sesuatu menyangkut studi dan pendidikan di luar dan dalam negri. Semua dokumen terkait juga cukup lengkap. Dan sejak tahun 2002/3 sebelum saya berangkat ke luar negri perhitungan kredit saya sebenarnya sudah jauh melampaui angka 1000, sebagai angka akhir untuk memperoleh gelar guru besar. Tahun 2006 saya menerima berita dari dirjen Dikti bahwa mereka masih memerlukan dari saya satu artikel, hasil penelitian, yang dimuat dalam Jurnal yang terakreditasi di tanah air atau juga di luar negri. Dengan mudah saya akhirnya mengirim naskah penelitian saya ke jurnal Filsafat Universitas Parahyangan, Bandung, dengan judul: "Repositioning Derrida's Deconstruction". Naskah inilah yang menutupi semua urusan saya untuk memperoleh jejang guru besar penuh atau profesor. Bagi saya hal ini sama sekali tidak penting karena toh tidak menambah apa-apa yang berarti bagi saya. Tapi bagi lembaga STFK hal ini tentu sangat berarti menyangkut akreditasi dan nama Sekolah Tinggi ini sendiri. Namun banyak urusan ini tergantung pada pimpinan STFK, dosen bersangkutan, dan juga sekretariat.