Terbit: 22 Juni 2007

Oleh Bpk. Drs. Don Kumanireng - Kupang

Saya mulai dari catatan penutup ari Rafael Marang yang saya kutip: "Menyusun sejarah Lewoingu tempo doeloe dapat menjadi suatu pekerjaan yang sangat mengasyikkan. Dikatakan mengasyikkan, karena selalu ada tantangan bagi kita untuk membuka selubung demi selubung yang menghalangi kita untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada periode awal pembentukan sejarah kebudayaan kita. Kita pun selalu ditantang untuk menyinari kegelapan masa lalu dengan terang akal budi serta daya imajinasi kreatif. Dan kalau kita tak sabar dalam upaya itu, kita bisa tergoda untuk menempuh jalan pintas agar hasilnya cepat tersajikan ke medan publik." Alasan utama kutipan saya itu, karena saya ingin bersama ari Rafael, opu Kobus (yang menghimpun nukilan tersebut), opu P.Arnold (yang mempublikasikan via eputobi.net), opu P.Konrad (yang kepadanya niat opu Kobus menghimpun nukilan tsb dalam bingkai kaca mata wungung Beoang untuk memberi latar belakang kesejarahan bagi pribadi yang berimamat perak ) serta seluruh masyarakat Lewoingu dimanapun berada agar 'membuka selubung demi selubung yang menghalangi kita untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada periode awal pembentukan sejarah kebudayaan kita'. Masyarakat dan generasi Lewoingu yang akan datang akan sangat bersyukur karena kita (generasi ini) bisa menjadi lilin yang 'menyinari kegelapan masa lalu dengan terang akal budi serta daya imajinasi kreatif ' kita. Dan Tuhan akan memberkati niat tersebut dan alam semesta serta lewotana mendukung. Dalam niat seperti itulah go mau sumbang pikir sesuai versi yang go ai.

Go senang pengakuan ari Rafael (via e-mail ke opu Arnold), bahwa memang dalam beberapa hal sejarah Lewoingu yang na ai, berbeda dengan versi lisan lain yang berkembang di Lewoingu. Tentu saja antara versi yang satu dengan versi lain akan terdapat perbedaan-perbedaan tertentu, karena sifat alamiah sebuah tradisi lisan. Melekat erat disana faktor subyektif si penutur. Faktor-faktor subyektif itu sangat dipengaruhi oleh: keluhuran niat suci sang subyek, sudut pandang, basis titik tolak subyek, dan arah yang ingin dicapai subyek penutur. Dengan begitu, kita tidak heran kalau versi yang satu bisa bikin 'aku geleng-geleng kepala' kata ari Rafael Marang yang basisnya pada versi sejarah suku Atamarang. Bahkan go pun ikut 'geleng-geleng kepala' (dalam motivasi yang berbeda) tat kala baca semua itu; baik nukilan yang dimuat eputobi.net, maupun Catatan Kritis Untuk Nukilan Sejarah Lewoingu. Tapi go begitu bahagia karena perbedaan-perbedaan itu telah menambah kasanah persepsi saya. Tambahan kasanah tersebut bisa semakin meluruskan pandangan saya terhadap sejarah suku Kumanireng dalam konteks Sejarah Lewoingu, namun tidak mungkin merobah sejarah Kumanireng dan Lewoingu sekian abad silam itu. Tambahan kasanah tersebut bisa pula saya anggap bias bila mengacu pada latar belakang sejarah suku yang go ai (sebagai subyek yang menulis ini).

Jadi betapa relatif semua paparan-paparan kita generasi sekarang, generasi 'user' untuk menghasilkan suatu karya sejarah yang kebenarannya (menjadi) pasti apalagi mutlak. Habibi dengan Wiranto dan Prabowo saja (yang semuanya masih hidup), toh punya persespsi subyektip yang berbeda, terhadap Inpres pengamanan negara khususnya ibu kota pada 18 Mei 1998. Dan ketika satu orang dari ketiganya menulis persepsi itu bagi publik (dari kaca mata sang subyek), mesti ada debat yang bahkan menjurus ke debat kusir. Yang satu akan mengatakan kisah yang lainnya sebagai dongeng.

Begitu pula kalau saya membedah dan menelusuri sejarah: Subang Pulo Ratu Noeh Subang Wara Brahang Tana, no'ong kakang papa'ang aring lola'ang Ebe Laka Beang Keli Sari Buga Glaka Arang, tobo pia Hari Lama Rebo, pae pia Rebo Lama Lina. Inang go Bota Bewa pana nai gute kayo, opa herung no'ong bai, one'eng huk matik sare deing nala bote bai sadik nala dukong nubung. Nete tiro niang Lewo lau Hari Lama Rebo, niang lau Rebo Lama Lina, opa nele tuho dukong lela liwu. Bai nele tawa bele ka' na'ang hogo beta, nubung nele gere blola ya' na'ang mereng rua....... dst............ Tula wuhu deke gala ...... dst. Yang dicetak miring itu MARANG. Itu bukan dongeng. Sastra kiwaneng itu diucap juga oleh bapaknya ari Rafael yaitu: Sani, yang diucap pula oleh bapaknya Sani yaitu: Nuba dan diucap pula oleh bapaknya Nuba yakni Gena, dan demikian seterusnya sampai kembali lagi ke nama Sani sang Uluwai itu. Tapi Sani sang Uluwai itu toh bukan the founding fathers of marang. Jauh sebelum Sani dan bapaknya Gresituli, sastra kiwaneng marang, no'ong kae.

Generasi marang alakeng yang sempat kita tahu kemarin sore a.l: bapak Bolo, bapak Wadang, oper ke bapak Kuku Beoang dan Kini Geroda Kweng. Tapi mereka pun adalah generasi ke sekian ratus dari generasi-generasi terdahulu. Cuma itu, go bisa niko nai pe. Yang lain, mari sama-sama tite 'tobo goleng pae tueng'. Dengan bantuan teknologi rekaman baik audio maupun video, yang merekam marang rae koke, maka keyakinan dan persepsi kita semakin dekat menuju terbukanya tabir-tabir itu tadi. Jika kita sepakati ini, maka premis-premis ataupun konklusi yang menyinggung rasa subyektif suku lain patut dikemas dalam rumusan lebih elegan seorang ilmuwan.

Secara historis, bisa didekati.

Pendekatan historis mencakup pula subyek-subyek yang: ola kriang (kaitan dengan batas tanah, newa-nura, kayo-tale), kawin mawin (baik secara terhormat dan beradab, maupun secara jalan pintas yang dikenal dengan senudu'ung bedananeng), berperang dan berdamai, bersekutu dan nete wua malu dokang hoka rae adok nara...' dimana pada titik-titik tersebut sejarah menjadi 'exist in historical back ground' sebagai policy tapi absent dalam teknis operasional tradisi lisan. Pada tataran operasional suku, heroisme individual muncul untuk memotivasi anak-anak dalam sukunya. Namun dalam tataran Lewo, ada etika penuturan yang diperlakukan semacam 'off the record', nekeng lewo gole roi ro! Mo blorong lau ae'nekeng niku no'ong rae kola'. Pakem ini bukan prinsip ilmiah, tapi titipan pesan budaya: "...hi'ing koi pakeng kewang, helo amang rae kakang nope bapak rae nenek..." Apakah generasi 'user' kita sekarang mau buka-bukaan semua itu, untuk berhantam karena beda sudut pandang? Sementara nenek moyang kita sudah secara arif mampu meredam semua gejolak at the begining of Lewoingu? Niku no'ong rae kola. Karena apa yang tertutup bagi suku A, malah terbuka lebar di suku B, C, dan lewo gole. Kebijakan telah diambil nenek moyang untuk 'mendem jero'. Ternyata nenek moyang tite'eng ra'eng juga no'ong budaya mendem jero itu, dan mengakar dalam sanubari, niat suci dan keluhuran nurani. Pukeng tite juga akui term 'bao Yawa haka, golo Sina gere, sehingga tidak heran sebagian budaya Sina Yawa tersebar di Lewoingu. Apa rela dari jauh kita melontar bola panas bikin porak poranda tatanan yang sudah apik itu?

Berdasarkan pertimbangan itu pula maka, dari tiga butir respons kritis rasional yang disampaikan oleh ari Rafael yakni: pertama, terhadap pertimbangan etimologis kata Lewoingu, dan beberapa kata lainnya; kedua, terhadap ceritera-ceritera tertentu, yang bagi saya, lebih bersifat dongeng ketimbang historis; dan ketiga, terhadap penyebutan nama-nama tertentu, yang menurut saya keliru....", go mau sampaikan sbb.: Dalam terang cinta dan persaudaraan ari goeng yang menyumbang pikiran ini, telah mengakui kepada P. Arnold Manuk melalui e-mail 5 Juni di eputobi.net, kalau sumbernya dari riwayat suku Atamarang. Na juga akui kalau versi yang dia dapat sedikit beda dari versi lain di Lewoingu. Artinya subyektifitas catatan kritis ari Rafael ini akhirnya terkungkung juga di seputar sejarah Atamarang, sub-filial ke sekian dari Gresituli. Arti lain boleh jadi, ada sekian kisah yang off the record oleh pertimbangan etis, moral, arif dan bijaksana bapak nenek moyang mereka, yg tidak secara terang-terangan ditutur blak-blakan. Di lain pihak suku-suku A,B,C di sekitar Lewoingu tahu, namun secara kooperatif tidak berniat mempersoalkan hal itu, malah sepakat untuk '...abo ta'ang tukang dai ag ta'ang one gere. Hama-hama teti weki te tele gelekat lewo, rupa-rupa peheng lima te tele gewayang tana, pupu suku matang pulo kae'eng, wo koleng lema kae'eng...' These all been taken because they had their mutual enemy yaitu: ata PAJI. Jika internal mereka pecah, maka semua ketong yang menulis di eputobi.net ini sonde ada adi Rafael (orang Kupang bilang begitu). Sudah punah dimakan Paji. Jadi Gresituli atau keturunannya: was not the 'single fighter' man to fight Paji. Wekaeng ra ha rae koke hau, hama pe mo maring neng me: koke rua namang tou untuk Dumbata and Dumtana (go setuju ari pertimbangan etimologis untuk kata Dumbata dan Dumtana yang mo sampaikan; tapi tidak bisa dipisahkan dari pasangannya: Sarabiti Waihali dan Pota Ile Honi woka. Ada sejarahnya yang bukan dongeng ari, karena orang berurusan dengan nyawa manusia, tupa gowa lawan Paji, perang saudara karena kewae, harta benda, kayo tale, newa nura, weling elang, nawo bine, paha hope, perselingkuhan, hamil di luar nikah sementara kedudukan wanita sangat terhormat dan semua pranata sosial manusia umumnya). Ada banyak pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan dan ada pertanyaan yang tidak perlu dijawab karena budaya 'mendem jero'.

Dari semua uraian di atas, kita tahu bahwa sejarah dari sebuah suku belum menggambarkan secara komprehensif sejarah kebudayaan Lewoingu. Kita butuh duduk bersama tanpa rasa memihak, dan berdiskusi tentang sejarah itu. Kita butuh cerita dari semua suku dan tidak perlu tersinggung jika ada yang mengungkapkannya beda dengan versi suku kita (dore na aikeng). Tapi ada satu hal yang patut disepakati ialah bahwa ungkapan waktu marang mukeng adalah yang mendekati kebenaran, karena secara pribadi saya anggap marang setara dengan doa, karena disana tak ada manipulasi.

Banyak bukti menunjukan bahwa hikayat marang yang diloncati, terpenggal atau kelalaian serupa lainnya bikin orang yang marang alakeng me kehepeng na kedi lengo. Apakah ini dongeng atau tahyul, sebagai anak lewo tana saya tidak berani menilai, tidak berani memvonis. Go taku ko'ong lewo tana. Dan hingga saat ini, apabila marang lali duli pali (mang neta) masih dicurigai adanya manipulasi, maka marang rae koke Lewooking masih dipercayai kemurniannya. Semua orang lewo gole anggap begitu, meski ra tou rua menganggap itu cerita fiktif yang irasional, dongeng atau entah apa namanya.

Bukan hanya di Lewoingu kisah tana beto ekang burang, atau pun kisah ile jadi woka mami itu ada. Sejarah Lianurat, sejarah Patigolo, kisah Subang Pulo Purunama dari suku Lewohayong, semua tidak rasional tapi bukan cerita fiktif. Begitu pula menyangkut pemberian nama. Tidak akan diberi nama kalau garis keturunannya belum diketahui. Bahkan Subangpulo Purunama tidak tahu kalau nama istrinya Sabudora (sejarah Lewohayong). Maka mempersoalkan nama dengan kaca mata abad 21 tentang kejadian yang setua budaya Lewoingu (yang jauh lebih tua dari eksistensi Gresituli, apalagi filialnya) akan mengacaukan banyak aspek kehidupan kita. Nuho Rehing dalam garis keturunan Ebe Laka tidak akan memberi nama; apa lagi menempel suku Kumanireng pada 'demong tawa nubung barang' karena dia bukanlah orang yang diselamatkan oleh kumalolong pepag ado girek. Ini frase yang membuat ari Rafael semakin tidak mengerti. Tatanan budaya Lewohari saat itu hanya dimengerti oleh 'demong tawa' yang serumah dengan ema bapaknya di Lewohari, sampai na nimo kepasi naraneng Gresituli Keropong Ema, baru disapa Gresituli for ever and ever. Ana'ang Sani, Dalu, Doweng (tinggal di Lewowato) semua tidak ngerti tentang budaya Lewohari apalagi keturunannya yang kemarin sore. Sekarang baru dipersoalkan oleh keturunannya yang ke sekian, sementara keturunan kakang lau Lewolaga mengakui? Ari Rafael sebagai penulis catatan kritis ini telah menempatkan diri sebagai 'the only son of the God father', sementara masih banyak suku keturunan Gresituli lainnya yang terus merenung. Realitasnya begitu kan ari?

Wacana tentang dongeng ini muncul dari tafsir subjektif ari belaka atas cerita yang diperoleh ari Rafael atau Plasidus Nuba Atamarang (nong Ngingo), bukan dari tradisi tutur lewat marang rae koke Lewowerang maupun lau koke Lewoleing yang ada di lewo oking. Nara sumber mi'ong juga jelas, ada Doweng, Gena yang masih hidup atau dari orang yang sangat saya hormati yaitu besa Sani almarhum. Secara pribadi saya ragu, kalau bapak tite'eng Bernardus Sani 'had told you like that'. Yeach, itu inspirasi mo'eng ari, sebagaimana pengakuan ari pada butir 4, surat ke eputobi.net tanggal 5 Juni itu. Sedangkan nara sumber Atamarang lainnya saya belum tahu. Bagi saya, dongeng atau bukan, kita dengar saja bagaimana sastra marang rae koke yang dibaca sebagai sastra sekaligus mantra sembelihan hewan korban. Kita rekam lalu analisis bersama.

Tak ada seorang atau sekelompok orang yang bersekongkol untuk menceritakan sejarah dengan pretensi jadi 'super hero', meniscayakan yang satu dan menisbikan yang lainnya. Lewotana juga terima hala ari. Tapi sekedar data dari suatu sudut pandang ari Rafael sebagai renungan inspiratif penulis, rasanya boleh diwacanakan. Dengan begitu maka kita diperkaya, meski khawatir kalau suku-suku keturunan Gresituli lainnya, Doweng One'eng, Lewoema, de Ornay, Lewoleing yang tersinggung (karena sejarah dibilang dongeng), lalu terjadi hal-hal yang irasional di zaman logis-kritis rational ini, kita malah masuk ke dalam new problem. Toh mereka, nenek moyanglah pelakunya waktu itu, bukan kita yang sekedar menafsir hal-hal yang sudah final, disaat 'ekang noro mola mara kia behing tite lou rang te' sekarang. Tafsiran kita baru mendekati kebenaran kalau semua data autentik dikaji dari berbagai sudut pandang. Kita coba itu ari, in the spirit of TAANG UING TOU.

Catatan penutup

Tobo goleng pae tueng, menjadi ungkapan yang lebih pas untuk kondisi kita. Mengundang semua suku menjadi sebuah keniscayaan, untuk menghasilkan sebuah karya sejarah Lewoingu yang komprehensif. Tidak mesti rigo rago, rio rao dengan kayo tale, newa nura baru tobo pupu dalam konteks perkara, permusuhan. Kita perlu dengar versi Lewoema, Lewoleing, Kebeleng Keleng, Kebeleng Koteng, Wungung Kweng, Wologening, Lewoanging, Lewohayong, Kumanireng, Lamatukang, Wungung Padung, Lewohera, karena di saat marang, wujud musyawarah mufakatnya dibacakan knutu knatak semua suku anak negeri, agar generasi mudanya 'hiing noi pakeng newang'.

Bagaimana kalau saya sarankan agar keturunan Gresituli menyamakan semua persepsi dalam cinta dan persaudaraan sehingga hanya punya satu versi cerita dalam sesama saudara, baru kita diskusi? Tapi sejarah membuktikan bahwa keturunan Isak dan Ismail hingga detik ini pun masih terus berperang. Mestinya orang Lewoingu belajar dari konflik keturunan Isak dan Ismail di Timur tengah itu untuk melakoni kembali 'the new spirit of Gresituli for today' dari pada hukung bading berisa baeng tentang 'the forgoten fortune' yang membuat kita hidup sekarang dan tidak punah dibabat Paji. Syukur (mestinya) kepada Lerawulang Tanaekang melalui bakti dan abdi Lewotana.