AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

LIVE CAM

BERITA-BERITA

FOTO-FOTO

VIDEO

BUKU TAMU NEW

BUKU TAMU  OLD

 

SEJARAH  SUKU  MANUK

(Khususnya di Tanah Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali)

 

Pengantar

Suku Manuk  di  desa  Lewoingu  dan desa-desa sekitarnya antara lain desa Lewolaga dan Tenawahang, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur,   kemudian menyebar ke  desa-desa lain bahkan sampai ke  seluruh  Nusantara dan  dunia, adalah suku  yang  lahir dari rahim seorang perempuan yang terbuang,  kemudian diselamatkan, dan  dalam persembunyiannya  ia dikenal  dengan  nama  Barek Manukeng - Barek Manuk (Barek yang mempunyai  Ayam ) , karena ia mempunyai ayam peliharaan yang sangat banyak.

           

Dari rahim perempuan  yang terbuang inilah,  lahir  seorang anak laki-laki bernama Apadike yang  kemudian  pemunculannya   di depan publik Lewotanah  begitu memikat hati para  tetua adat, para Kabeleng raya dan seluruh suku matang. Di hadapan para kabeleng raya,  tetua adat  yang sedang  berkumpul  bersama seluruh suku matang  membangun  Koke  Dungbata, Apadike tampil  menarikan tarian hedung yang meliuk-liuk.  Meskipun masih sangat belia, dia tidak gentar sedikit pun  untuk  menari  (hedung) di tengah-tengah tempat perhelatan adat (ia namang tukang),  pada momentum yang sangat penting dan bersejarah itu,  karena  memang  ibunya Barek Manukeng  (nama aslinya Barek Ata Maran)  sudah mempersiapkannya untuk  tampil  supaya dikenal dan memperkenalkan diri   kepada semua  suku  yang sedang  membangun Lewo tanah,” Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali.

 

Apadike Sebagai Cikal Bakal Suku Manuk

 

Apadike terlahir dari seorang ibu bernama Barek.  Barek berasal dari keluarga  Suku Atamaran (salah satu suku kabeleng lewotanah).  Barek menjalin hubungan cinta dengan  Lawe  dari Suku Lamatukan   atau  Suku Tukan.  Suku Tukan juga  termasuk Suku  Kabelen dalam artian suku yang memiliki hak  atas tanah/wilayah/daerah tertentu dan berperanan dalam urusan adat.  Suku-suku Kabele’eng  terdiri dari  Koten,Kelen,Hurin/Tukan, Maran.  

 

Hubungan cinta antara Barek  Ata Maran dan  Lawe  Tukan rupanya  tidak  direstui oleh keluarganya,  terutama saudara  laki-lakinya.  Mereka tidak suka dengan Lawe  oleh karena berbagai alasan  sehingga  bila  saudari peremmpuan mereka Barek  tetap nekat  berhubungan dengan Lawe,  maka  mereka  akan  menentangnya, bahkan  mengancam  akan menenggelamkan  saudari mereka/ bine rae’ng  Barek  ke  laut.   Tetapi dasar Cinta,  Barek  tidak takut  menjalin asmara  dengan Lawe  meskipun nyawa jadi taruhannya.  Cinta memang mengalahkan segalanya.  Demi cinta seseorang berani mengorbankan nyawanya.  Barek tetap nekad menjalin hubungan dengan Lawe  yang akhirnya membuat dirinya hamil.  Ketika  sudah hamil besar dan diketahui oleh saudara-saudaranya,  Barek  dicercah habis-habisan.  Tak ada  sedikitpun  pengampunan  untuk Barek. Saudara-saudaranya  membawa Barek  untuk kemudian diikat dan dibuang  ke laut. Sebuah hukuman kejam yang tidak  sesuai dengan kesalahan  dipandang dari sisi manapun. Bersyukurlah Tuhan tidak menghendaki rencana ini  terlaksana.  Dalam perjalanan ke laut, di tengah perjajalanan, mereka bertemu dengan  seorang bapak  dari  Suku Emar.  Bapak  dari Suku Emar ini   mengatakan kepada  mereka, “Untuk apa sendiri membuang “binek” atau saudari perempuan?, lebih baik berikan kepada saya yang akan membuangnya”.  Mereka (saudara laki-laki Barek) menerima permintaan itu lalu menyerahkan Barek  kepada Bapa Suku Emar  tersebut.  Namun  Bapa dari Suku Emar  tersebut  sungguh berhati mulia.  Beliau tidak tega membuang  seorang wanita yang sedang mengandung.   Dia  kemudian membelokkan arah  perjalanan bukan ke laut, melainkan  melewati  newa/wilayah Umuriang, Batu,  Bugurianeng dan seterusnya ke  sebuah tempat bernama Waiua.  Di Waiua,  Barek  dititipkan ke nenek Midi Kwen yang berdiam di sana.  Barek tinggal  bersama nenek Midi  sampai melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Apadike. Di tempat persembunyiannya  bersama nenek Midi Kwen,  Barek   dengan susah payah membesarkan anak laki-lakinya itu. Ia memelihara banyak ayam dan  orang dari mana-mana   kalau membutuhkan ayam mereka pasti ke Waiua untuk membelinya sehingga  Barek  tidak lagi  dikenal sebagai Barek Maran  tetapi  Barek Manukeng atau Barek Banuk (Barek yang  punya ayam).   Karena itu  putranya Apadike juga  dipanggil  Apadike Manuk.  Jadi   nama Suku Manuk bermula dari  nenek Barek yang oleh karena memiliki banyak ayam  maka  dijuluki Barek Manukeng  yang kemudian anaknya Apadike serta  keturunan sampai saat ini  pun memakai nama  Manuk sebagai  nama Suku.

 

Apadike  Wai’sare,  Seorang Putra yang Memikat, dan  membawa kesejukan

 

Ketika  Boli  Wawe’ meang dari Suku Kabele’eng Kelen, penggagas pembangunan rumah adat Dungbata, dengan suku-suku Kabele’eng lain serta seluruh suku matang sedang  membangun Koke/rumah adat Dungbata,   Barek  Manukeng  tidak mau  putranya  tidak terlibat dalam  moment bersejarah itu.  Ia  “merias”  (agong baro’) anaknya  Apadike yang masih muda belia dengan pakaian adat,  dan senjata, dengan ikat kepala berhiaskan buluh ayam jantan pilihan, lalu mengutus anaknya  untuk  tampil di  tengah upacara adat yang sangat  penting, sebagai tonggak sejarah berdirinya  Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali.   Meskipun masih sangat belia,  Apadike  tampil dengan tarian/hedung  yang meliuk-liuk  bagai prajurit muda yang gagah berani dan menyenangkan.  Karena  penampilannya yang memukau  itu,  para tetua adat baik dari suku kabele’eng maupun suku-suku lain bertanya-tanya, “siapa  gerangan  anak kecil  yang  menari  bagai prajurit  yang gagah berani, meliuk-liuk  “ia namang tukang itu?” (ditengah-tengah  tempat perhelatan adat itu?).  Mereka bertanya –tanya, “anak siapa?  Dan dari suku mana?”   Apadike terus menari dan  pada akhirnya  setelah ditelusuri, barulah diketahui  Apadike adalah anak  dari  Barek Manukeng   yang sesunggunhnya  adalah Barek Maran (saudari perempuan dari suku Atamaran) yang juga saat perhelatan adat itu ada dalam barisan suku kabereng raya.  

 

Berkat penampilan Apadike yang memikat itu,  oleh  para Kabele’eng,  Apadike  dianugerahi   tambahan  nama, yakni :  Apadike Waisare , terjemahan bebasnya, Apadike pembawa kegembiraan, semangat kekeluargaan dan menyejukan hati).  Oleh karena kehadiran Apadike dalam momentum bersejarah itu, maka  sejak itu  pula  Suku Manuk  diakui sebagai salah satu suku  yang  diikutsertakan  untuk  mengambil bagian dalam  upacara  pembangunan  rumah adat/Koke bale di Lewotanah.  Suku Manuk  diserahi tanggungjawab  menanggung  seekor  hewan  kurban /umeng yang disebut “ Witimau “ (seekor kambing  jantan) dalam upacara  pembangun rumah adat Dungbata, mulai pertama  didirikan sampai saat ini. 

 

Dalam setiap upacara adat  di Koke bale/rumah adat,   umeng  witimau (hewan kurban berupa kambing jantan) itu harus disembelih dan dibagi ke seluruh suku matang., supaya semua yang hadir dalam upacara adat  diliputi dengan hati yang gembira, penuh semangat  kekeluargaan  dan sejuk.  Semua suku matang harus mendapatkannya.  Karena itu  untuk   memastikan  semua   yang hadir dalam upacara adat  sudah mendapat   pembagian  daging  witimau,  maka selalu ada  yang “teriak” atau mengingatkan dengan kata-kata seperti berikut,  “Oh… witimau gole kae le wati?”, yang artinya dapat diterjemahkan secara bebas: “Apakah daging  kambing borban (untuk membuat  hati   gembira, penuh semangat kekeluargaan   dan  kesejukan)  sudah   diterima semuanya  atau belum?  Bila belum terima,  harus diusahakan supaya semua bisa menerimanya.  Kalau semua sudah menerima  maka acara boleh dilanjutkan sesuai  tatalaksana   upacara  adat  sampai  selesai.

 

Penutup

 

Sejarah singkat ini saya tulis apa adanya seperti yang dituturkan oleh  Bapak saya Yohanes Sani Manuk  (pemegang kendali rumah besar/rumah adat suku Manuk saat ini) dengan niat baik tanpa ingin mengaburkan sesuatu yang bernilai sejarah atau melukai perasaan siapa pun. Bila ada kekeliruan, maka dengan besar hati saya siap menerima koreksi atau masukan dari para orang tua dan  semua anak suku Manuk dan  dari siapa saja  yang tahu lebih baik tentang sejarah suku kami, untuk meluruskan/memperbaikinya, sehingga menjadi catatan sejarah yang  benar dan bisa dipertanggungjawabkan.   

 

Akhirnya saya  mau menutup tulisan ini dengan sebuah ungkapan  khas suku Manuk: yang selalu dikatakan oleh Kakek saya Naya,  ketika ia sudah mimum arak dan  saat - saat bahagia di kala pesta,  yakni “Apadike waisare…, knube sare go labeng, soru sare go lewa”  yang  dapat saya artikan secara bebas dengan sedikit penafsiran sebagai berikut:, “Apadike pembawa semangat kekeluargaan  dan kesejukan, dengan parang/penah yang tajam dan bersahaja saya bisa membersihkan semua “ranting-ranting” (masalah/rintangan) dan dengan “kapak yang tajam” (akal dan kebijaksanaan nan luhur)  saya dapat membelah/memecahkan semua  “tumpukan kayu” (tumpukan persoalan)  yang ada.   Semoga Tuhan memberkati!

Terima kasih!

 

Teriring Salam

Blasius Naya Manuk, S.Pd.  ( tinggal di  Denpasar-Bali ).

E-mail : blasmanuk@yahoo.com

 

 Catatan tambahan:

 

 

SUKU BEOANG

SUKU MANUK

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS