AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

Senin, 13 September 2010

Dumbata Lewoingu Sarabiti Waihali

 

Setelah menulis tentang “Dungtana Pota Wato Pota Ile Hone Woka,” saya sebenarnya ingin menulis tentang “Dumbata Lewoingu Sarabiti Waihali.” Tetapi keinginan itu tidak langsung direaliasasikan setelah saya memposting tulisan tersebut ke http://atamaran2.blogspot.com. Baru sekarang ini tulisan tentang “Dumbata Lewoingu Sarabiti Waihali” itu dapat saya susun dan saya posting ke alamat situs tersebut. Istilah Dumbata sama artinya dengan istilah Dungbata.

Susunan kata: Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali seringkali menjadi kebanggaan orang-orang Eputobi-Lewoingu. Rangkaian kata-kata itu tertera di tugu Selamat Datang di kampung Eputobi, tugu yang berhiaskan pula dengan patung dua ular. (Patung ular yang satu menghadap ke utara, yang satu lagi menghadap ke selatan. Kedua patung ular itu melambangkan kekuatan jahat. Kehadiran dua patung ular itu tidak cocok dengan rangkaian kata-kata tertera di atas. Setelah mengetahui adanya dua patung ular yang dipajang di tugu Selamat Datang itu, banyak orang baru menyadari bahwa dengan dibangunnya tugu tersebut, kampung Eputobi pada dasarnya telah diserahkan kepada kekuatan jahat). 

Perangkai kata-kata tersebut berusaha menekankan bahwa termasuk pula dalam komunitas Dungbata di Lewoingu adalah kelompok Sarabiti dan Waihali. Rangkaian kata-kata itu mengikuti pola kata-kata yang sering digunakan oleh raja Larantuka yang berbunyi, Kota Sarabiti Gege Waihali. Siapa perangkai Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali? Hingga kini tak ada sumber yang dapat memberikan jawaban yang akurat atas pertanyaan tersebut. Yang jelas istilah Lewoingu dan istilah Dumbata berasal dari Gresituli. Tetapi Gresituli tidak menempa rangkaian kata-kata Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali. Kata-kata itu dirangkai oleh orang lain setelah mereka mengetahui adanya rangkaian kata-kata Dungtana Pota Wato Pota Ile Hone Woka.

Dari fakta bahwa Sarabiti adalah nama tempat tinggal kelompok Wungung Kweng, kita dapat memperoleh sedikit petunjuk bahwa rangkaian kata-kata tersebut rupanya berkaitan dengan suku tersebut. Tetapi tidak dapat dipastikan bahwa suku tersebut yang menempa rangkaian kata-kata tersebut. Sementara itu Waihali adalah nama suatu tempat yang letaknya berhadapan dengan Mada (Pintu Gerbang) Lewowerang. Waihali adalah nama yang berbau Timor. Tetapi tidak jelas bagi saya, apakah di Waihali pernah tinggal keluarga tertentu. Dari sumber tertentu saya memperoleh informasi bahwa di situ pernah terdapat sumber air.

Perlu diperhatikan bahwa ketika Gresituli dan beberapa suku pendukungnya bermukim di Lewoingu tepatnya di Dungtana, dan ketika komunitas Dungbata mulai terbentuk, Werong Hegong dan keluarganya tinggal di Waiua. Werong dan Hegong adalah nama dua orang kembar siam. Di kala senggang, Gresituli bertandang ke rumah Werong Hegong di Waiua. Dalam menyikapi masalah yang berkategori pelanggaran adat istiadat, mereka sering saling berkoordinasi untuk mengambil langkah yang dianggap tepat untuk mengatasi masalah yang timbul. Gresituli dan Werong Hegong antara lain bersepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi orang yang mengganggu isteri orang. Dalam urusan semacam itu Gresituli pun dapat bekerja sama dengan orang-orang dari kelompok Paji yang tidak memusuhinya. Tampak di sini bahwa tidak semua orang dari kelompok Paji diperangi oleh Gresituli. Yang diperanginya adalah orang-orang Paji yang mengancam keselamatan keluarganya dan keselamatan kelompok-kelompok sosial yang bersekutu dengannya. Dalam perang melawan Paji, Werong Hegong memainkan peranan penting. Karena memiliki tali persahabatan yang baik dengan Gresituli, maka Werong Hegong dan keluarga mereka pun bergabung dengan komunitas Dungbata (Lewowerang). Keturunan Werong Hegong adalah Hokeng Kweng dan Geroda Kweng (Geroda Keneeng) dan anak-anak mereka. Karena mengetahui sejarah, maka Hokeng Kweng pada tahun 2006 dan Geroda Kweng pada tahun 2007 pernah mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak mau ikut-ikutan dalam kelompok yang melakukan pelanggaran adat pada tahun 2006 itu. Tetapi setelah itu, saya sendiri tidak tahu lagi seperti apa sikap mereka, terutama terhadap kasus pembunuhan Yoakim Gresituli Ata Maran.

Lantas dari mana nama Sarabiti berasal? Sarabiti adalah nama yang dipakai oleh suku Wungung Kweng di luar keturunan Werong Hegong. Dengan ini saya mau mengatakan bahwa suku Wungung Kweng di Eputobi itu berasal usul berbeda. Jika Hokeng Kweng dan Geroda Kweng dan anak-anak mereka berasal dari Werong Hegong, anak-anak dari almarhum Geroda Beleeng dan anak-anak almarhum Lalang Kweng berasal dari daerah sebelah timur kota Larantuka. Sebelum bergabung dengan komunitas Dungbata di Lewoingu, keluarga Wungung Kweng di luar keluarga Werong Hegong itu tinggal di tempat yang diberi nama Sarabiti. Tetapi tidak jelas apakah nama Sarabiti ini berkaitan dengan nama Sarabiti yang terungkap dalam rangkaian kata-kata Kota Sarabiti Gege Waihali tertera di atas. Dan hingga kini belum ada sumber yang dapat menjelaskan apakah kelompok tersebut yang merangkai kata-kata Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali atau bukan. Seandainya rangkaian kata-kata itu berasal dari kelompok tersebut, maka dengan kata-kata itu mereka berusaha menegaskan bahwa kelompok Sarabiti adalah bagian yang tak terpisahkan dari Dungbata yang di Lewoingu itu. Penegasan ini penting artinya bagi kelompok ini terutama dalam menyikapi situasi yang tidak aman akibat perang Demong melawan Paji. Kata Waihali dalam rangkaian kata-kata tersebut tampaknya hanya ditambahkan saja. Kebetulan letak Waihali berhadapan dengan Mada Lewowerang. Sebelum menginjakkan kaki di gerbang Dungbata, mereka melewati Waihali. Kata Waihali mengingatkan kita pada kata Waihali dalam rangkaian kata-kata Kota Sarabiti Gege Waihali.

Tampak jelas bahwa rangkaian kata-kata itu tidak mencakup persatuan semua kelompok yang membentuk komunitas Dungbata-Lewoingu. Mungkin karena itu, maka beberapa pakar sejarah lisan Lewoingu merasa tidak terlalu sreg dengan penggunaan rangkaian kata-kata tersebut. Dengan merangkai kata-kata Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali, si perangkai berusaha memasangkannya dengan rangkaian Dungtana Pota Wato Pota Ile Hone Woka. Tetapi arti simbolik dari rangkaian Dungtana Pota Wato Pota Ile Hone Woka jauh lebih mendalam ketimbang arti rangkaian Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali. ***

Rabu, 10 Februari 2010

Jejak Santo Fransiskus Xaverius di Lewolaga, Lewoingu, Flores Timur

Oleh Rafael Raga Maran

 

Di Lewolaga, Lewoingu, di Flores Timur terdapat suatu mata air yang disebut Wai Beta. Kata “wai” berasal dari bahasa Lamaholot yang berarti air. Kata “beta” berasal dari bahasa Maluku berarti saya. Jadi “Wai Beta” berarti “Air Saya” atau “Airku.”

Mengapa kata “beta” yang berasal dari bahasa Maluku itu dipakai untuk menamai air yang sumbernya terletak di dekat pantai Lewolaga di daerah Lewoingu di Flores Timur? Apakah karena ada orang dari Maluku yang memberi nama untuk air dimaksud? Jawabannya: tidak; bukan orang Maluku yang memberi nama untuk air itu.

Di balik nama itu terdapat suatu kisah tentang perjalanan misioner Santo Fransiskus Xaverius ke Maluku. Santo Fransiskus Xaverius dijuluki sebagai penginjil terbesar setelah Santo Paulus. Pada tahun 1540, misionaris Yesuit itu ditugaskan oleh Santo Ignatius Loyola, berdasarkan permintaan Raja Portugal, untuk menjadi Pewarta Injil di daerah jajahan Portugis di Asia. Pada tanggal 7 April 1541, dia bertolak dari Lisbon, Portugal, dengan kapal Santiago. Dari Agustus 1541 hingga Maret 1542, dia tinggal di Mosambik Afrika. Pada tanggal 6 Mei 1542, dia tiba di Goa, India. Setelah tiga tahun menyebarkan Injil di India, Santo Fransiskus Xaverius melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dalam rencananya, dari Malaka dia akan berlayar ke Makasar. Pada akhir September 1545, dia tiba di Malaka di Semenanjung Malaya. Makasar dijadikan tujuan, karena ketika berada di Goa, dia mendengar kabar bahwa Makasar membutuhkan seorang imam.

Tetapi sewaktu di Malaka Santo Fransiskus Xaverius mendengar kabar yang tidak baik dari Makasar, maka rencana ke Makasar dibatalkan. Pada tanggal 1 Januari 1546 Santo Fransiskus Xaverius bertolak dari Malaka menuju Ambon dengan kapal dagang. Pelayarannya ke Ambon ditempuh melalui rute selatan, yaitu melalui pesisir Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores. Dari Flores Timur, kapal berbelok arah menuju kepulauan Maluku. Pada pertengahan tahun 1546 Santo Fransiskus Xaverius tiba di pulau Banda. Dari situ dia berlayar ke Ambon.

Di Ambon terdapat tujuh desa yang penduduknya beragama Katolik. Santo Fransiskus Xaverius mempermandikan kurang lebih 1.000 orang Ambon dan mempersiapkan kedatangan imam-imam baru. Pada bulan Juli 1546, dia berangkat ke Ternate. Selain berkarya di Ternate, Santo Fransiskus Xaverius juga berkarya di Halmahera dan Morotai. Sekembalinya dari Morotai dan Halmahera, dia masih berkarya di Ternate hingga sesudah Paskah tahun 1547. Dari Ternate dia kembali ke Ambon. Di Ambon dia mendirikan sebuah gereja kecil dan menobatkan banyak orang berdosa. Dari Ambon dia kembali ke Malaka.

Dalam perjalanan pulang ke Malaka, Santo Fransiskus Xaverius singgah di Lewolaga, Flores Timur. Di Lewolaga tepatnya di tempat yang kemudian disebut Wai Beta, Santo Fransiskus Xaverius mewartakan Kabar Gembira (Injil) dan membaptis sejumlah orang. Tradisi lisan di Lewoingu menuturkan bahwa Wai Beta adalah nama yang diberikan oleh Santo Fransiskus Xaverius untuk air yang digunakannya untuk membaptis orang-orang yang bersedia dibaptis. Sebelum kedatangan Santo Fransiskus Xaverius, di situ belum ditemukan sumber air tawar. Untuk kepentingan pembaptisan, Santo Fransiskus menggunakan tangannya untuk mengorek sedikit tanah di situ, lalu keluarlah air tawar. Setelah muncul air, dia memberinya nama Wai Beta yang berarti Air Saya atau Airku.

Kata “beta” itu berasal dari bahasa Maluku. Bahasa itu yang digunakan oleh Santo Fransiskus Xaverius selama dia berkarya di Ambon, Ternate, Halmahera, dan Morotai. Maka tak heran bila dia pun menggunakan kata Wai Beta untuk air tersebut di atas. 

Perlu dicatat pula di sini bahwa sebelum kedatangan Santo Fransiskus Xaverius di Lewolaga, kampung Lewoingu sudah terbentuk. Pada waktu itu nama Lewolaga belum dikenal. Lewolaga yang berarti kampung besar itu baru dikenal di zaman penjajahan Belanda. Tetapi jelas bahwa tempat yang disinggahi oleh Santo Fransiskus Xaverius pada tahun 1547 itu termasuk wilayah Lewoingu. Dengan kata lain bumi Lewoingu pernah menerima kedatangan seorang misionaris Yesuit yang dijuluki sebagai penginjil terbesar setelah Rasul Paulus. Dan Wai Beta adalah saksi kedatangannya. ***

Sumber tentang perjalanan Santo Fransiskus ke Maluku:

Da França, Antonio Pinto, Pengaruh Portugis di Indonesia, Jakarta: Sinar Harapan, 2000.

Heuken, A, SJ dkk, Sejarah Gereja Katolik di Indonesia, Jakarta: CLC, 1971.

http://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Xavier

Sumber tentang asal usul Wai Beta:

Tradisi lisan masyarakat Lewoingu.

Sabtu, 12 Desember 2009

Wato Sina Yawa di Lewoingu, Flores Timur


Oleh Rafael Raga Maran

Di Lewoingu terdapat sebuah barang berupa batu yang diberi nama Wato Sina Yawa. Kata “wato” berarti batu. Kata “Sina” berarti Cina. Kata “Yawa” berarti Jawa. Istilah Sina Yawa yang digunakan orang Lamaholot pada masa itu mengacu pada orang Jawa dan Cina. Selain itu istilah Sina Yawa juga dipakai untuk mengacu pada pulau Jawa.

Sejak era pra-Lewoingu, para pedagang kelontong dari pulau Jawa sudah berdagang di Lewokoli’ dan sekitarnya. Mereka terdiri dari orang Jawa dan orang Cina. Mereka menjual barang-barang yang dibutuhkan oleh penduduk setempat antara lain pigang (piring) dan mako (mangkuk). Aktivitas perdagangan di daerah itu sempat terhenti di masa perang penumpasan Paji. Seusai perang dan setelah Lewoingu terbentuk denyut nadi perdagangan kembali berdetak. Barang-barang tersebut dan barang-barang lain kembali diperjualbelikan. Dan keberadaan barang-barang seperti pigang dan mako pun direkam dalam marang mukeng (doa) Lewoerang-Lewoingu. Dalam marang mukeng tertentu disebutkan kata-kata pigang Sina mako Yawa (piring Cina mangkuk Jawa).

Tetapi Wato Sina Yawa adalah istilah yang tidak berkaitan dengan orang Jawa dan Cina. Wato Sina Yawa itu berkaitan dengan kedatangan beberapa orang Portugis di Lewoingu pada penghuyung abad ke-17. Wato Sina Yawa adalah nama sebuah batu yang terletak di tepi barat pelataran (namang) yang membentang antara Koke Lewoleing dan Koke Bale Lewowerang. Pada batu itu terpahat tulisan yang menunjukkan tanggal kedatangan beberapa orang Portugis di Lewoingu. Itulah Prasasti Lewoingu, yang bertahunkan 1699. Prasasti itu dibuat oleh Monteiro. Sebelum kedatangan Monteiro dkk, batu itu tak punya nama.

Tidak ada informasi yang sangat jelas tentang siapa sesungguhnya Monteiro dan kawan-kawan dan untuk apa mereka datang ke Lewoingu. Tetapi dari tradisi lisan yang berbicara tentang fungsi Wato Sina Yawa, kita dapat menemukan sedikit petunjuk yang memungkinkan kita dapat menduga bahwa di antara mereka terdapat imam Katolik. Tradisi lisan dimaksud bekaitan dengan persiapan perang.

Jika Lewoingu hendak berperang melawan musuhnya, para pemuka adat tidak hanya membuat upacara yang dimaksudkan untuk mencari alasan yang benar untuk berperang. Mereka juga mengingatkan kepada para prajurit Lewoingu bahwa perang yang akan dikobarkan itu adalah perang demi kebenaran. Karena itu siapa pun yang hendak maju ke medan perang haruslah bersih hatinya. Prajurit yang selama ini melakukan kesalahan perlu membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ikut maju ke medan perang. Untuk itu para pemuka adat menyuruh orang yang bersangkutan pergi ke Wato Sina Yawa. Di situ dia mengakui segala dosanya dan memohon pengampunan dari Lera Wulang.

Seseorang yang bersalah tetapi nekad maju ke medan perang tanpa melalui proses penyucian diri terlebih dahulu akan menjadi korban pertama keganasan musuh. Sejarah perang berbicara seperti itu. Karena itu ritus penyucian diri menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian ritus persiapan menghadapi perang demi kebenaran dan keadilan. Dalam hal ini Wato Sina Yawa dijadikan tempat penyucian diri.

Yang jadi pertanyaan ialah mengapa Wato Sina Yawa dijadikan tempat penyucian diri? Penggunaan Wato Sina Yawa sebagai tempat penyucian diri rupanya dimulai sejak kedatangan Monteiro dkk ke Lewoingu. Imam Portugis yang datang ke situ menggunakan batu di pinggir barat pelataran itu sebagai tempat pengakuan dosa. Dugaan tentang kedatangan imam Portugis itu diperkuat oleh kenyataan adanya selembar kain piala yang dipakai dalam perayaan ekaristi. Kain yang menjadi salah satu perlengkapan misa itu tentu dibawa oleh seorang imam. Selama beberapa abad kain itu disimpan di rumah suku Lewoleing. Kain itu ikut terbakar ketika rumah suku Lewoleing terbakar beberapa dekade lalu.

Berdasarkan dugaan di atas kita pun dapat membuat dugaan lain, yaitu bahwa tujuan kedatangan Monteiro dkk ke Lewoingu adalah untuk menyebarkan agama Katolik. Dan batu yang kemudian diberi nama Wato Sina Yawa itu dijadikan tempat pengakuan dosa. Imam itu termasuk di antara lima belas misionaris yang bekerja di daerah Flores Timur sejak tahun 1679. Pada tahun terakhir dari masa tugasnya di Flores Timur, yaitu pada tahun 1699, imam itu mampir di Lewoingu.

Siapakah nama imam itu? Apakah imam itu bernama Monteiro? Kita tidak memiliki informasi yang jelas tentang nama imam itu. Yang jelas setelah Monteiro dkk meninggalkan Lewoingu Wato Sina Yawa dijadikan tempat “pengakuan dosa” oleh masyarakat Lewoingu ketika mereka mempersiapkan diri menghadapi perang.

Selain Wato Sina Yawa, di Lewoingu pun terdapat suatu prasasti lain yang juga dipahat oleh orang Portugis. Tetapi prasasti itu sudah tertimbun tanah. ***

Minggu, 22 November 2009

Knutu Knata tentang asal usul Gresituli

Oleh Rafael Raga Maran

 

Dari mana kita bisa mengetahui bahwa Gresituli berasal dari Jawa? Jawabannya jelas, yaitu dari Gresituli sendiri. Tentang asal usulnya, Gresituli sendiri menuturkan dalam bentuk knutu knata (penuturan dengan bahasa yang indah) sebagai berikut,

Lewo goeng niang Yawa pukeng, tanah goeng niang Sina nimung

Ile goeng niang brusung tana tawa, woka goeng niang kerebo manu gere

Lewo goeng Gresik tana Yawa, tana goeng kesiang ekang boyang

Knutu knata tertera di atas secara jelas menceriterakan bahwa Gresituli itu berasal dari Yawa Sina (Sina Jawa). Kata pukeng dan nimung yang digunakan dalam knutu knata itu menegaskan bahwa dia sungguh-sungguh berasal dari Jawa, yang oleh orang Lamaholot biasa disebut Sina Yawa. Dalam knutu knata itu disebut pula nama ile (gunung) woka (bukit)nya, yaitu brusung tana tawa dan kerebo manu gere. Lalu secara eksplisit disebutkan nama kampungnya, yaitu Gresik di tanah Jawa.

Isi knutu knata tersebut bertentangan dengan isi dongeng Tana Beto. Kalau anda mempelajari knutu knata dan marang mukeng (doa menurut agama asli), anda tidak menemukan adanya bait-bait yang bertutur bahwa Gresituli itu lahir di Tana Beto dan ditemukan serta dipelihara oleh Bota Bewa dan Nuho Rehing. Meskipun terdapat upaya untuk merangkai kata-kata yang dapat dijadikan knutu knata yang disebut juga gata guna membenarkan dongeng tersebut, tetapi upaya itu mengalami kegagalan. Upaya itu nampak dalam susunan kata-kata seperti ini,

Go betok prae koting bala pukeng, bura rae wato tonu lolong

Susunan kata-kata ini tidak berasal dari Gresituli, tetapi dari si pendongeng. Dengan kata-kata tersebut, si pendongeng ingin meyakinkan para pendengarnya, bahwa tokoh bernama Gresituli itu lahir di bawah sebuah pohon beringin yang disebut koting bala atau dia muncul dan berada pada wato tonu (batu padi). Tetapi si pendongeng lupa bahwa yang dia tuturkan itu hanyalah suatu ceritera rekaan imajinasinya. Ceritera itu sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan tentang asal usul Gresituli.

Dongeng yang berceritera bahwa Gresituli lahir di Tana Beto dan dipelihara oleh Bota Bewa dan Nuho Rehing itu baru dirangkai setelah Gresituli tampil sebagai pemimpin tersohor di Lewoingu. Jelas bahwa dongeng itu tidak berasal dari lingkungan keluarga Gresituli, tetapi dari luar lingkungan keluarganya. Dongeng itu dirancang untuk dijadikan mitos tentang asal usul tokoh yang menjadi pemimpin Lewoingu itu, tetapi rancangan itu mengalami kegagalan. Dongeng itu dibuat oleh orang yang tidak mengenal Gresituli.

Dongeng Tana Beto itu tidak berbicara tentang asal usul Gresituli. Dongeng itu mengekspresikan keinginan pendongeng untuk menampilkan diri sebagai pemimpin dan penguasa Lewoingu. Dengan dongeng itu si pendongeng berusaha menyembunyikan kenyataan yang berkaitan dengan asal usul Gresituli. Selain itu dia pun berusaha mengecilkan peran sentral Gresituli dalam pembangunan Lewoingu. Tetapi, karena asal usul Gresituli dan peran sentralnya dalam pembangunan Lewoingu merupakan kenyataan-kenyataan yang tak terbantahkan, maka upaya itu pun mengalami kegagalan.***

Jumat, 06 November 2009

Komentar-komentar itu menyesatkan dan menjijikkan

Oleh Rafael Raga Maran

 

Apakah anda sudah membaca komentar-komentar atas tulisan-tulisan anda tentang sejarah Lewoingu? Komentarnya ramai lho…

Jelas sudah, meskipun terlambat saya membacanya. Maklum, saya tidak sering berkunjung ke alamat situs internet yang memuat komentar-komentar itu? Oh ya, yang anda maksud adalah komentar-komentar yang ditulis oleh Boli Kelen Pankras itu ‘kan?

Iya! Bagaimana sikap anda sendiri atas komentar-komentar semacam itu? Si komentator mensinyalir bahwa orang lain sudah bosan dengan ceritera anda. Katanya, semakin banyak anda menulis semakin banyak orang yang tidak bersimpati kepada anda?

Ya, komentar-komentar semacam itu ditulis oleh orang yang secara pribadi merasa alergi kalau realitas-realitas sejarah tertentu diungkapkan secara apa adanya. Padahal kalau kita berbicara tentang sejarah, kita perlu kemukakan fakta-fakta terkait. Sejarah tak dapat dibicarakan secara kompromistis guna memenuhi selera pribadi atau selera pihak tertentu. Jika seseorang tidak suka dengan isi catatan-catatan sejarah yang saya buat, itu urusan pribadi dia. Menjadi lucu, kalau ketidaksukaan subjektifnya itu lalu digeneralisasi seakan-akan banyak orang lain pun menjadi bosan dengan isi tulisan-tulisan termaksud dan mereka menjadi tidak bersimpati kepada penulisnya. Catatan sejarah itu dibuat bukan untuk menarik simpati.

Yang penting bagi saya ialah bahwa melalui tulisan-tulisan itu para pembaca dapat belajar sesuatu. Di dalam kenyataan kolom Diskusi Sejarah Lewoingu (atamaran2.blogspot.com) diakses oleh banyak orang. Dengan membaca artikel-artikel yang saya tulis itu, para pembaca yang netral dapat melihat siapa yang memutarbalikkan sejarah Lewoingu, siapa yang mengemukakan kebenaran sejarah Lewoingu. Suka atau tidak suka, blog atamaran sudah menjadi salah satu blog yang populer.  Di dalam kenyataan, si komentator itu sendiri tetap membaca tulisan-tulisan saya tentang sejarah Lewoingu itu. Artinya, dia tidak bosan membaca tulisan-tulisan saya tentang sejarah Lewoingu. Kalau dia tidak membacanya, dia tentu tidak bisa membuat komentar-komentar atas tulisan-tulisan saya.

Oke! Tapi komentar-komentar itu mengandung tuduhan yang cukup serius terhadap anda. Anda dituduh memperlebar permusuhan di lewotana (kampung halaman). Anda dinasihati untuk tidak menjadikan masa lalu sebagai alat penghancur lewotana. Apa tanggapan anda?

Baik! Tuduhan semacam itu merupakan salah satu bentuk pengkambinghitaman. Saya sendiri tidak heran dengan penggunaan cara semacam itu. Selama ini, cara semacam itu telah digunakan oleh komplotan yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan serta kehancuran di lewotana sana. Mereka yang menyebabkan kerusakan serta kehancuran di lewotana, tetapi orang lain yang dituduh sebagai pelakunya. Mereka yang membunuh orang, tetapi orang lain yang dituduh sebagai pelakunya. Mereka yang memecahbelah persatuan dan kesatuan lewotana, tetapi orang lain yang dituduh sebagai pelakunya. Mereka yang membunuh orang, tetapi orang-orang lain yang dituduh sebagai pelakunya.

Yang mereka kambinghitamkan adalah orang-orang yang dipandang sebagai musuh mereka. Jika mereka menganggap anda sebagai lawan atau musuh, maka mereka pun bisa mengkambinghitamkan anda kapan saja. Karena membela upaya pemutarbalikkan fakta-fakta sejarah Lewoingu yang dilakukan oleh saudara sepupunya, si komentator itu pun melancarkan tuduhan palsu, bahwa saya menginjak-injak harga diri sukunya dan memperlebar permusuhan di kampung halaman. Si komentator itu lupa bahwa dengan komentar-komentarnya itu dia telah menjadi bagian dari orang-orang yang menyebarkan kebohongan publik. Hal ini menjadi jelas ketika dia itu sewot setelah membaca tulisan saya yang antara lain mengatakan bahwa Ling Pati itu rumah induk suku Ata Maran dan Manu Jagong adalah rumah induk suku Kebele’eng Keleng. Sikap penolakannya terhadap kata “pemberian” yang saya gunakan dalam konteks pembicaraan tentang Rie Limang Wanang Koke Bale Lewowerang-Lewoingu merupakan suatu keanehan besar.

Si komentator itu pun lupa bahwa masa lalu telah dimanupulasi sedemikian rupa  oleh saudara sepupunya untuk menciptakan permusuhan dengan pihak kami di kampung. Sekarang setelah kenyataan-kenyataan tertentu yang berkaitan dengan sejarah mereka diungkapkan secara apa adanya, dia pun berusaha melawan dengan cara mengkambinghitamkan saya.

Tetapi jelas bahwa, cara semacam itu tak akan berhasil. Masyarakat di seluruh kawasan Lewoingu dan sekitarnya tahu siapa saja yang menghancurkan kampung Eputobi dan siapa saja yang berusaha menjaga serta merawat kelestarian dan kedamaian kampung tersebut. Anda lihat sendiri ‘kan mereka mendramatisasi dan mempolitisasi isi tulisan-tulisan saya sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan seakan-akan saya yang memulai permusuhan dengan mereka. Padahal oknum-oknum dari sukunyalah yang memulainya. Kebohongan-kebohongan yang mereka sebarluaskan itu tidak boleh didiamkan. Membiarkan kebohongan-kebohongan semacam itu terus berbicara berarti membiarkan apa-apa yang selama berabad-abad terbukti baik dirusak dan dihancurkan. Ya, karena mengemukakan dimensi-dimensi tertentu dari sejarah Lewoingu yang sudah diketahui oleh masyarakat Lewoingu, mereka menuduh saya memperlebar permusuhan. Dengan cara itu, mereka berusaha mempertahankan pendapat-pendapat mereka yang bertentangan dengan sejarah Lewoingu yang sedang didiskusikan itu.

Coba tunjukkan kata-kata mana yang saya pakai untuk menginjak-injak suku si komentator itu. Bukankah isi komentar-komentarnya itu yang justeru menimbulkan permusuhan dengan pihak kami?

Selain menyesatkan, isi komentar-komentarnya itu pun menjijikkan. Saya kira anda tahu sendiri mengapa dikatakan menyesatkan dan menjijikkan. Dengan kata-kata yang menjijikkan itu dia telah menggunakan buku tamu eputobi.net sebagai media untuk mempropagandakan kepentingan pribadinya berdasarkan kebohongan-kebohongan yang disebarluaskan oleh saudara sepupunya. Penulisan komentar-komentarnya di buku tamu eputobi.net itu dimotivasi oleh kepentingan primordialistik, bukan dimotivasi oleh kebutuhan akan persatuan dan kesatuan di lewotana. Kalau dia secara tulus ikhlas memperjuangkan persatuan kesatuan di lewotana, dia tidak perlu memberikan komentar-komentar dengan menggunakan kata-kata yang norak semacam itu. Kami sama sekali tidak membutuhkan simpati dari orang semacam itu. Dalam perjalanan sejarahnya sejak masa kuno hingga kini, suku Ata Maran tidak pernah mengalami kekurangan simpati dan dukungan real dari berbagai pihak.

Ya. Komentar-komentar itu disertai pula dengan kata-kata keras yang ditujukan kepada anda. Apa tanggapan anda?

Bagi saya, barang yang keras itu mudah patah, mudah hancur, mudah remuk. Orang yang mengeluarkan kata-kata yang keras pun mudah hancur juga. Dan pada waktunya nanti, orang yang menuduh tanpa dasar itu akan kena batunya juga. Kita akan terus menyaksikan sampai di mana kemampuan dia dan mereka untuk melancarkan tuduhan semacam itu, sampai di mana pula kekerasan kata-kata dia dan mereka itu kuat bertahan. Biarlah mereka itu patah dan hancur oleh tuduhan palsu dan kekerasan kata-kata mereka sendiri. 

Oke! Sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan lain yang ingin saya ajukan kepada anda. Tetapi apa yang telah anda katakan sudah cukup bagi saya. Sebelum pamit dari hadapan anda, saya ingin berpesan, Maju terus pantang mundur demi kebenaran dan keadilan. Jangan takut! ***

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS