AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

LIVE CAM

BERITA-BERITA

FOTO-FOTO

VIDEO

BUKU TAMU NEW

BUKU TAMU  OLD

 

Sejarah Suku Wungung Beoang

(Oleh. P. Konrad Kebung SVD)

    

Sejarah suku Wungung Beoang - dari cerita lisan - bermula dari seorang Leki. Dari kawin mawin dan anak pinak, pria ini menurunkan Botaamang, Bumi, Ora dan Kaya. Merekalah bapa dari suku Wungung Beoang sekarang ini. "Beoang amang Kwoka kakang adalah Leki Botaamang Bumi Ora Kaya." Sebagai bapak suku, perjalanan hidup, perilaku dan jalinan hubungan dengan sesamanya di masa lalu kiranya perlu disimak. Maksudnya agar nilai-nilai, keutamaan-keutamaan dan kearifan mereka di masa lampau dapat dipelihara, diolah dan dikemas dalam ziarah zaman ini untuk menjadi modal, daya dorong dan pegangan moral anak keturunan di masa depan. Nilai-nilai dan kearifan mereka diharapkan menjadi tali pengikat anak suku Beoang, pria atau wanita, kecil atau besar, kapan dan dimana saja mereka berada.
    

Tulisan ini mengangkat perjalanan hidup dan peristiwa-peristiwa Beoang amang kwoka kakang dan keturunannya hingga saat ini. Berdasarkan sumber yang sangat terbatas nukilan sejarah ini dibuat menurut tempat persinggahan dan domisili.

Dari Sina Yawa menuju Keroko Pukeng

    Menurut ceriteta dan berdasarkan namanya "Beoang" yang mirip dengan ungkapan Tionghoa yang umumnya diakhiri dengan 'ng', suku wungung Beoang berasal dari daerah Tonkin, daerah bersejarah di Vietnam atau Indocina. Masyarakat setempat menyebutnya Sina Yawa dan yang dimaksudkan adalah Cina Jawa. Konon di daerah ini terjadi musibah perang. Tidak diketahui secara tepat perang apa, siapa melawan siapa dan kapan terjadinya. Karena peperangan itu banyak orang mengungsi ke tempat yang relatif lebih aman. Gelombang pengungsi yang bakal menurunkan suku wungung Beoang mengungsi ke arah Timur dan menetap di daerah sekitar gunung Kwoka di wilayah antara kabupaten Sorong dan Manokwari, Papua. Pengungsi ini lama menetap di sini. Itulah sebabnya dalam ungkapan asli suku ini disebut 'Be'oang amang Kwoka kakang.' Maklum, masyarakat tradisional sering mengidentifikasikan diri, kelompok atau suku dengan gunung tertentu yang ada di sekitarnya.
    

Dari Kwoka gelombang pengungsi ini berpindah ke tempat yang disebut 'Kroko puang pukeng, maha 'kela' limang'.Tempat ini diduga ada di pulau Seram, Maluku. Orang dari suku wungung Beoang yang datang ke tempat ini adalah Leki, asal usul suku wungung Beoang. Bersama dengan dia datang juga ke tempat ini pengungsi-pengungsi antara lain, Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa, Subang beleeng Gadugola Watotutu Olaamang, Balaamang Harukakang dan Kungteri Belawanata Tegalusi Maringguna. Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa menurunkan suku Lewohayong, Subang beleeng Gadugola Watotutu Olaamang menurunkan suku Lewohayong Daniwato. Balaamang Harukakang adalah cikal bakal suku Wulogening. Sementara Kungteri Belawanata beranak pinak dan menurunkan suku Lewoanging.
   

Di tempat ini, di Keroko Pukeng terjadi kawin mawin antara pengungsi dari Indocina. Leki kawin dengan gadis keturunan Subangpulo Purunawa dan melahirkan Botaamang, Bumi, Ora dan Kaya. Kungteri Belawanata kawin dengan gadis keturunan Leki. Perkawinan pasangan-pasangan ini memiliki arti penting dalam perjalanan selanjutnya. Perkawinan kedua pasangan di atas menjadi dasar dan titik tolak hubungan dan pembicaraan dalam urusan adat perkawinan selanjutnya, hingga kini. Suku Lewohayong keturunan Subangpulo menjadi ina ama pertama, sulung atau ina ama weruing dari suku wungung Beoang, keturunan Leki Botaamang Bumi Ora Kaya. Sementara keturunan Kungteri Belawanata yakni suku Lewoanging menjadi bine ana' awal, sulung atau bine ana' weruing dari keturunan Leki Botaamang yakni wungung Beoang.
   

Yang menarik adalah perkawinan antara Leki dengan gadis keturunan Subangpulo Purunama. Alkisah, pasangan suami isteri ini bersama Subangpulo Purunama memelihara seekor ulat. Namanya Ule Age yang bertempat di atas pohon merungge. Makanannya ialah belalang, serangga atau jenis binatang lainnya. Mereka juga memelihara seekor anjing yang diberi nama Sidigawe. Anjing jantan ini sangat tertarik dengan Ule Age di atas pohon. Ia menggonggong sambil mengangkat ekor dan mengais kaki sebagai tanda simpati pada ulat ini. Mereka juga membuat tali jerat dan tali busur untuk kepentingan berburu. 'Pau aho' laking lekang uha' lihang hari kui.'

Dari binatang-binatang piaraan ini, Ule Age membawa cerita panjang. Ulat ini bertambah besar. Warnanya sangat menawan. Karena itu sang isteri coba meniru motif dan warna ulat ini pada motif dan warna tenunannya. Namun malang tak dapat ditunda untung tak dapat diraih. Binatang yang besarnya seperti gunung ini membawa keprihatinan warka Keroko Pukeng. Ulat ini menjadi buah bibir masyarakat setempat. Suatu ketika ule age makan korban. Mulai dari binatang piaraan sampai anak manusia dimangsa dan ditelannya. Warga panik. Masyarakat resah. Pemelihara dan pemilik binatang pun gelisah.

Adalah Kungteri Belawanata Tegalusi Maringguna. Ia coba berinisiatif. Maksudnya menenangkan warga Keroko Pukeng. Ia menembak ulat ini dengan bedilnya namun tidak berhasil. Bedilnya patah. Ia tak habis akal. Cara lain ditempuh. Kali ini dengan membakar Ule Age. Gagal lagi. Sampai alat pembakar habis terpakai ule age tidak mati terbakar.

Situasi kampung bertambah panik. Bertolak dari situasi ini di satu pihak dan sadar akan pentingnya hubungan baik dengan sesama; sadar pula akan pentingnya keamanan, ketenangan dan kedamaian warga di pihak yang lain, Subangpulo Purunama dan Leki Botaamang bertekad membunuh sendiri binatang piaraan yang luar biasa besar itu. Mereka mulai dengan upacara yang disebut 'mula atau ada ro.' Dua batang bambu diikat dengan bulu ayam pada satu ujungnya. Dan lubang pada ujung yang lain ditiup, dipompa atau dikipas supaya bulu ayam bergerak. Gerakan bulu ayam inilah yang menyalakan api. Dengan api yang menyala ini Ule Age dapat terbakar dan mati. Benar terjadi bahwa Ule Age ini mati. Baunya menyebar ke mana-mana di seluruh pelosok kampung. Badannya hancur mencair. Lebih dari itu, cairannya mendatangkan air bah, belebohong lebo. Keroko Pukeng tergenang air dan terbenam. Sampai di sini riwayat Keroko Pukeng maha' kela limang.


Dari Keroko Pukeng (kembali) ke Sina Yawa

Air bah membuka sejarah baru. Sejarah lama hilang tinggal kenangan. Keroko Pukeng perlahan tenggelam. Masyarakatnya mengungsi mencari tempat huni baru. Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa bersama Subang beleeng Gadugola Watotutu Olaamang dan lain-lainnya sudah mendahului keluar dari Keroko Pukeng.
Ada yang mengungsi menyelamatkan diri dan keluarga dengan batang kelapa dan pinang. Ada yang selamatkan diri dengan batang pohon yang terapung. Dan ada pula yang keluar dengan perahu. Mereka pergi meninggalkan B'oang amang Kwoka kakang di Keroko Pukeng yang nyaris hilang tergenang air, cairan Ule Age.

Kampung itu semakin tenggelam. Air makin dalam. Kini giliran Leki Botaamang Bumi Ora Kaya meninggalkan bekas kampung halamannya. Dengan perahu mereka keluar dari Keroko Pukeng. Haluannya diarahkan ke arah Barat, mengikuti arah perjalanan Subangpulo Purunama, sang mertua. Badai dan gelombang datang hadang menerpa. Leki Botaamang, si pengemudi tak hilang akal. Diambilnya telur dan beras lalu dibuang ke dalam laut ibarat memberi makan kepada makhluk yang lapar mengamuk. Ombak meredah. Laut pun menjadi teduh.

Perahu terus melaju. Siang berganti malam. Panas berganti dingin. Suatu saat sampailah mereka di Sina Yawa, maksudnya Jawa. Di sana mereka berjumpa dengan orang Jawa bergigi putih dan orang Tionghoa bermata sipit. Di sini mereka berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang Jawa, pembuat cincin, dan orang Tionghoa, pemahat giring-giring. Di tempat ini mereka menyaksikan cincin-cincin yang bergantungan di pinggir jalan dan giring-giring yang tertata di pelataran rumah. Sebagai tanda perkenalan dan persahabatan, orang Sina Yawa memberi cincin dan giring-giring kepada Leki Botaamang Bumi Ora Kaya. Cincin dikenakan pada jari Leki Botaamang. Sementara giring-giring diikatkan pada kaki Bumi Ora Kaya.

Barang-barang ini ternyata tidak menambat hati B'oang amang Kwoka kakang. Mereka malah tidak tenang tinggal di sini. Tujuan mereka belum tercapai. Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa belum dijumpainya. Karena itu mereka memutuskan untuk kembali ke arah Timur untuk mencari Subangpulo Purunama.

Dari Sina Yawa (Jawa) ke Tanah Nuhalolong Ekang Daniwato


Tali sauh ditarik. Perahu berlayar lagi. Haluannya diarahkan ke Timur. Siang berganti malam. Gunung dan pulau terlewati. Perahu makin ke Timur, ke ujung lewo pulo suku tana lema. Suatu ketika mereka berlabuh dan turun di pantai Sikka. Beberapa lama mereka tinggal di sini. Tak lama kemudian mereka memutuskan untuk melanjutkan pelayaran ke arah Timur. Suatu pagi mata mereka memandang ke darat. Perahu diarahkan mendekati daratan itu. Mereka bertanya pada orang yang ada di pantai tentang keberadaan Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa.

Dari pantai terdengar jawaban: "Orang yang dicari itu ada di sini, di tanah nuha lolong ekang daniwato." Semua yang ada dalam perahu tampak gembira. Perahu segera dilabuhkan di bibir pantai. Mereka turun dari perahu ke darat. Hati ingin bertemu orang yang dicari. Kaki melangkah mendekat. Mereka bertemu Subang beleeng Gadugola Watotutu. B'oang amang Kwoka kakang memutuskan untuk tinggal di sini. "Tobo plau ekang tanah nuho lolong, pae plau ekang daniwato.'

Saat menetap di ekang Daniwato (desa Daniwato sebagai pemekaran dari desa Nusadani sekarang), keturunan Leki Botaamang Bumi Ora Kaya kawin dengan anak gadis keturunan Subang beleeng Gadugola Watotutu Olaamang. Empat orang putra lahir di sini. Mereka adalah Kebung, Buto, Pehang, Beda. "Yadi go Kebung Buto dewa go Pehang Beda."

Dari Ekang Daniwato menuju Kwoka Lewobele

Setelah beranak pinak di tanah nuha lolong ekang Daniwato, Leki Botaamang Bumi Ora Kaya berpindah lagi. Lantaran belum mendapatkan Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa, ekang Daniwato pun ditinggalkannya. Dengan perahu mereka berlayar ke Utara. Haluan diarahkan menuju gunung, menyusur pantai Kawalelo wato motong dan Mulawato. Akhirnya sampailah mereka di Bama lamadikeng doko waihomo.
Di sini, di Bama lamadikeng mereka melabuhkan perahu. B'oang amang Kwoka kakang pun turun. Bertanyalah mereka kepada orang setempat: 'Tahukah kamu tentang Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa? Apakah mereka tinggal di sini? Atau ke manakah mereka telah beranjak?" Jawaban yang diperoleh ialah bahwa mereka sudah lebih dahulu berangkat, entah ke mana.

Leki Botaamang Bumi Ora Kaya serta Kebung Buto Pehang Beda memutuskan untuk tinggal sementara di Bama lamadikeng. Di sini terjadi lagi kawin mawin dan anak pinak. Salah satu putra keturunan Leki Botaamang kawin dengan gadis Beribe Lewoyama Tapo Riangsina. Menurut tuturan, gading dan kambing yang diberi kepada pihak Beribe melampaui kesepakatan. Sebagai ganti kelebihan itu, bapa-bapa suku wungung Beoang ini mengambil tanah, gute' tanah ekang, pile' ning lagang.

Hari-hari berlalu berganti bulan dan tahun. B'oang amang Kwoka kakang pindah lagi. Dari Bama lamadikeng mereka berjalan ke arah Barat, dan sampailah mereka di Kwoka, suatu kampung besar nan padat penduduk. 'Kwoka lewo bele' gering kaya aya'. Kampung ini terletak di daerah Walang, wilayah Lewokluo sekarang. Kwoka saat itu diperintah oleh raja Botungnara dan Babalewo. Ketika mereka berada di sini berkobarlah perang. Botungnara dan Babalewo melawan raja Kobe lewobele Kmau' Rianggeka. B'oang amang Kwoka kakang terlibat dalam perang ini. Mereka berpihak pada Botungnara dan Babalewo. Dalam situasi perang ini Leki Botaamang Bumi Ora Kaya bertemu dengan Subangpulo Ratunoe, Subangwara brahang tanah di pihak Kobe lewobele.

Perang terus berkecamuk. Raja Kobe berhasil dibunuh. Kwoka dibakar. Dengan demikian kemapanan hidup di kampung besar ini mulai sirna. Penduduknya hingar bingar mencari tempat perlindungan yang aman. Leki Botaamang Bumi Ora Kaya dan anak keturunannya pun meninggalkan Kwoka lewobele gering kaya aya'.

Dari Kwoka menuju Dung Bata Lewoingu Sarabiti Waihali


Tidak lama B'oang amang Kwoka kakang tinggal di Kwoka. Kampung besar ini sudah menjadi puing. Bapa-bapa suku wungung Beoang beranjak lagi. Mereka berjalan ke arah Barat. Ketika tiba di Ongentata mereka bertemu orang setempat dan bertanya lagi tentang Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa. "Orang-orang itu sudah tiba dan menetap di Dung Bata Lewoingu Sarabiti Waihali", demikian jawaban yang diperoleh.
    

B'oang amang Kwoka kakang terus saja berjalan. Suatu saat mereka tiba di suatu dataran sebelah Timur Gleko. Dataran itu bernama Blebo. Mereka tinggal di sini. Tidak lama berselang terjadi air bah, belebohong lebo di tempat ini. B'oang amang Kwoka kakang hijrah lagi. Mereka berjalan melewati Gleko menuju Epu' Kdanga di wilayah Waiua. "Tiro rae Kdanga lolong rebong, tada' rae rita lama renga.' Di tempat baru ini mereka tinggal, bekerja kebun, iris tuak, berburu dan memasang jerat.
    

Suatu ketika terjadi suatu pertemuan. B'oang amang Kwoka kakang bertemu dengan Sira Demon Pagong Molang, ata kabeleeng dari Dung Bata Lewoingu Sarabiti Waihali di sekitar Epu' Kdanga. Terjadi dialog, komunikasi dua arah. Dari tanya jawab dan percakapan itu masing-masing menarik kesimpulan. Ada beberapa kesimpulan dari pihak ata kabeleeng; bahwa orang-orang itu adalah pendatang baru yang mempunyai keunggulan. Mereka mempunyai perangkat berburu seperti busur, anak panah dan tali jerat (lihang lekang). Mereka memiliki anjing pemburu yang handal (wuhu aho'): Bang datong lodo lolong. Selain itu, mereka, Leki Botaamang Bumi Ora Kaya dan keturunannya memiliki kemampuan untuk mengusir hama penyakit baik yang menyerang manusia maupun tanaman, terutama padi dan jagung (ohong bohok). Sementara itu B'oang amang Kwoka kakang mendapat kesimpulan dan kepastian bahwa Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa sudah ada dan menetap di Dung Bata, Lewowerang.
    

Sira Demong Pagong Molang membawa B'oang amang Kwoka kakang ke Lewowerang. Ketika tiba di kampung baru inilah, Doweng, Dalu dan Sani serta penduduk Ile yadi yakni Metinara Kopong Todoh memberi tempat kepada penduduk baru ini. 'Ningpati dang pukeng, prae gawe laga' knawe' matang. Subang mukeng manu' marang, Kmau Boli Duru Meko, Gena' gere kraga wanga, Kung Sani Sedu Doweng.' Di tempat ini pula Leki Botaamang Bumi Ora Kaya bertemu dengan Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa.
    

Sira Demong Pagong Molang sudah tahu bahwa B'oang amang Kwoka kakang mempunyai wuhu' aho' dan lihang lekang. Karena itu kepadanya diserahkan suatu tempat di Puso lolong gelong bao lama bangeng, di daerah Riang beleeng sekarang. Lokasinya kurang lebih 500 meter ke sebelah Utara Lewowerang. Anak kedua (tukang- tengah) dari Boli dipercayakan untuk menemani kelompok pendatang baru ini di Riang.
    

Di tempat baru ini, Leki Botaamang Bumi Ora Kaya dan anak keturunan mereka menetap dan membangun kehidupan baru bersama dengan Subangpulo Purunama Kopongpati Lanayawa dan anak keturunannya serta anak keturunan Boli. Di tempat ini pula B'oang amang Kwoka kakang mendapat tugas dari ata kabeleeng. Pertama, menebang hutan, mengolah dan menggarap tanah di daerah pegunungan di sebelah Utara, tempat yang angker. Karena itu, B'oang amang Kwoka kakang dan keturunannya sampai kini memiliki newa-newa di lokasi sebelah Timur Leworook. Karena itu pula, oleh ata kabeleeng B'oang amang Kwoka kakang disebut kayo' tale'. Pakeng go kayo' noong tale' lai go newa noong nura'. Tugas kedua, mengingformasikan pada kesempatan pertama kepada ata kabeleeng di Lewowerang manakala datang 'orang kuat' dari arah Leworook yang berniat membahayakan kampung halaman di Lewowerang. Bahkan B'oang amang Kwoka kakang diharapkan lebih dahulu menghadapi dan mengamankan 'musuh' atau orang-orang yang dipandang berbahaya bagi kampung halaman. Ketiga, dengan keunggulan wuhu' aho' dan lihang lekang, Leki Botaamang dan keturunannya diharapkan memberi dan menyumbang hasil buruannya kepada lewotanah, pau lewo gota tanah.
    

Di tempat ini, B'oang amang Kwoka kakang dan anak keturunannya mulai 'mula ro ada' merang' yakni alat penghidup dan penyala api serta penempa parang, anak panah dan berbagai senjata dari besi lainnya. Senjata dan alat pertanian pun dikerjakan. Dengan senjata dan alat inilah mereka mulai bekerja menghidupkan keluarga dan menunaikan tuas yang diterimanya dari ata kabeleeng.
   

Di sini, di Puso lolong gelong bao lama bangeng atau sekarang dikenal dengan nama Riang beleeng ini Leki Botaamang Bumi Ora Kaya, Kebung Buto Pehang Beda berkembang biak dan beranak pinak. Di sini mereka melaksanakan perintah dan amanat suci sang khalik: "Beranak cuculah dan bertambah banyak. Penuhilah bumi dan taklukanlah itu" (Kej. 1: 28). Di sini pula mereka memenuhi harapan para leluhurnya: "Yadi aya' dewa dene, bote bele' bua aya."
   

Hasilnya, hingga kini, akhir tahun 2005 terdapat 74 kepala keluarga atau 277 orang dari suku wungung Beoang. Mereka tersebar di tiga negara: RI, Singapura dan Malaysia. Di Indonesia mereka tersebar di 8 propinsi. Terbanyak ada di propinsi Nusa Tenggara Timur dengan 57 KK (78,08%) atau 212 (76,82%) jiwa. Dari 57 KK ini, 36 KK (63,16% ada di Eputobi dan Riangduli, desa Lewoingu (21 KK, 69 jiwa) serta Lewolaga (15 KK, 38 jiwa). Tempat ini menjadi pusat suku wungung Beoang. Sisanya tersebar. Di daratan Flores lainnya 31, 58% atau 18 KK dan Lembata 5,26% atau 3 KK.
   

Sementara itu 17 KK (21, 92%) dari seluruh KK wungung Beoang atau 65 jiwa (23,19%) tersebar di 7 propinsi lainnya. Kalimantan Timur termasuk Malaysia 6 KK atau 22 orang. Daerah khusus Ibukota dan Banten 4 KK atau 19 jiwa, 3 KK atau 10 jiwa ada di propinsi Jawa Timur. Di propinsi Riau ada 2 KK atau 7 jiwa. Sulawesi Selatan 1 KK dengan 4 jiwa dan Bali 1 KK dengan 3 jiwa.
    

Anak-anak suku wungung Beoang hidup dan bekerja dalam berbagai bidang. Mereka menjalankan keahliannya dalam berbagai profesi. Terbanyak petani. Ada guru dan dosen. Ada nelayan. Ada pegawai negri sipil dan polri. Ada kontraktor dan wirausaha (pedagang eceran). Dan ada pula yang bekerja sebagai pegawai atau menjadi karyawan/karyawati pada perusahan-perusahan swasta.

 

Pohon Keturunan (Silsilah) Suku Wungung Beoang: dalam bentuk naratif

    Dari sejarah suku Wungung Beoang di atas tercatat dengan jelas nama-nama para pendahulu suku wungung Beoang. Mereka adalah Leki, Botaamang, Bumi, Ora, Kaya, Kebung, Buto, Pehang, Beda. Ada 9 nama. Bagaimana perjalanan hidup, kawin mawin dan anak pinak mereka menyusul generasi-generasi selanjutnya tidak diketahui secara pasti.
    Dari ceritera, keturunan suku wungung Beoang sampai pada generasi tertentu tercatat nama HADA Beoang. Tidak diketahui berapa orang saudara/inya dan siapa mereka. Konon Hada menikah dengan seorang gadis dari suku Lewohayong Amatukang. Perkawinan ini melahirkan 3 orang anak. Seorang pria: BUMI Beoang dan 2 orang wanita: Yawa dan Letek Beoang. Yawa menikah dengan pria suku Keleng dari Lewotobi dan menurunkan Dole, Nusa, Emi dan Moko Keleng. Sementara Letek dipinang pemuda suku Wungung Talar dari Tuakepa yang melahirkan batu atau nuba nara.

BUMI, putera tunggal Hada menikah dengan seorang gadis dari suku Kumanireng Blikopukeng. Perkawinan ini melahirkan 6 orang anak. Semuanya pria. Mereka adalah Dole sebagai anak sulung, menyusul Kiaamang sebagai anak kedua. Anak ketiga terlahir kembar: Sepulo dan Likuwatang Beoang. Sepulo menjadi anak ketiga sementara Likuwatang menjadi anak keempat. Anak kelima bernama Nuho Beoang dan anak keenam diberi nama Hada Beoang yang meninggal saat masih muda belia.

DOLE menikah dengan Nebo' Kumanireng. Empat orang anak lahir dari perkawinan ini. Dua pria dan dua wanita. Kedua wanita itu adalah Wetuang, yang menikah dengan Belawa Lamaoyang dari Lamika dan menurunkan Leki, Paman dan Nebo'. Wanita lainnya adalah Roma Beoang yang menikah dengan Nau wungung Padung dan menurunkan Dole, Waha, dan Leki. Sementara kedua pria putera Dole-Nebo' adalah Bumi dan Dalu Beoang. Bumi mempunyai dua orang isteri. Isteri pertama adalah Bota Lewohayong. Lima wanita dan lima pria lahir dari perkawinan ini. Kelima wanita itu masing-masing adalah: Lelu Beoang yang menikah dengan Lolong Wada dari Pukaunu; Sura Beoang yang menikah dengan Pedo Diaz dari Larantuka (sebelum dikaruniai anak, Sura lebih dahulu dipanggil menghadap penciptanya); Mongang yang meninggal saat masih muda; Barek Beoang yang menikah dengan Bao Lamamanuk dan melahirkan Puru Lamamanuk; Weteng Beoang yang menikah dengan Muda dan melahirkan Kasa (Sesudah Muda meninggal Weteng menikah lagi dengan Dalu Buang dan melahirkan Nebo'). Sementara kelima pria anak Bumi-Bota adalah:

=Hendrikus Kapitang Beoang yang menikah dengan gadis dari suku Jawa dan melahirkan 7 orang anak, 3 wanita (Lena, Yustina dan Ana) dan 4 pria (Petrus Bumi alias Pepet, Adrianus, Ayong dan Damianus). Dari keempat pria, Bapak Kapitang memperoleh 7 orang cucu (3 dari perkawinan Pepet, 3 dari perkawinan Adrianus dan 1 dari perkawinan Damianus).

=Sepulo Beoang yang meminang Sayo Kumanireng dan menurunkan Mongang, Domi Dalu, Mateus Bumi dan Aga Beoang. Domi menikah denan gadis suku Jawa dan melahirkan 7 orang anak, Mateus menikah dengan Paulina Pao dari Lewoawang dan melahirkan 7 orang anak, 3 pria dan 4 wanita. Aga tidak menikah.
=Pater Pius Kibo Beoang memilih menjadi biarawan, imam dan misionaris Sabda Allah (Societas Verbi Divini=SVD). Beliau menghabiskan seluruh waktu pelayanannya di kevikepan Boawae di Keuskupan Agung Ende. Paroki terakhir yang ia layani adalah Maukeli di daerah Nagekeo. Beliau meninggal di Rumah Sakit st. Elisabeth Lela karena kanker empedu pada 10 Januari 1993, dan dimakamkan di taman makam misionaris, Ledalero di Maumere, wilayah Sikka.

=Hada Beoang yang menikah dengan Noni Lewohayong dan melahirkan Ignas Dalu, Elisabeth Beoang, Kornelius, Ludgardis, Pankrasius, dan Marianus. Ignas meminang Tina dari Were, Mataloko, Ngada, dan melahirkan 2 anak pria dan seorang wanita. Elis tidak menikah. Kornelius meminang Nona Lewoema (de Ornay) dari Lewolaga dan melahirkan 3 orang anak wanita. Ludgardis dipinang pemuda dari Nagekeo- Ngada. Sementara Pankras dan Marianus meminang gadis dari suku Jawa. Pankras belum dikaruniai anak. Marianus menurunkan seorang pria dan seorang wanita.
=Soge Beoang yang menikah dengan Boleng Lewohayong dan melahirkan 3 orang anak perempuan.

Isteri kedua dari Bumi yang dinikahinya setelah Bota meninggal adalah Ene' Kumanireng. Perkawinan dengan Ene' melahirkan Likuwatang, Muko, Lito, Nebo' dan Belebang Beoang. Likuwatang menikah dengan Bulu Lewohayong dan melahirkan Frans, Sili dan Petrus Sugo. Muko dipinang Likuwatang Lamamanuk dan menurunkan Yosef dan Lisa Lamamanuk. Lito menikah dengan Lado Teluma dari Tuakepa. Nebo' menikah dengan Mat Atu. Setelah Mat Atu meninggal, Nebo' menikah lagi dengan Gre. Sementara Belebang menikah dengan Maria Hayong Daniwato dan melahirkan Bernardus, Theodora, dan Agnes. Sebelum resmi menikah dengan Maria, Belebang berhubungan dengan Lodang Koteng dan melahirkan Yosef Nama Beoang. Josef menikah dengan Roni dan melahirkan Son dan Lodang. Bernardus menikah dengan Lin Lewoema dan melahirkan Ola, Belebang dan Pepo.
Saudara dari Bumi yang bernama Dalu meninggal dunia saat masih muda.

Putera kedua dari Bumi adalah KIAAMANG. Kiaamang menikah dengan gadis Lewohayong dan melahirkan 2 orang pria dan seorang wanita.
Kedua pria itu masing-masing Pehang Beoang yang meninggal dalam usia muda dan Batang Beoang.
Batang menikah dengan Bulu Lewohayong dan melahirkan 2 wanita dan 4 pria. Kedua wanita itu adalah Barek Beoang yang dipinang Kia Lamatukang dan menurunkan Philomena, Ance, Yosef dan Bernadete Tukan. Saudara Barek adalah Tonu Beoang yang menikah dengan Theodorus Leki dan menurunkan Mery. Semenara keempat pria keturunan Batang-Bulu adalah:
-Arakiang Beoang yang meninggal dalam usia muda.
-Pole Beoang yang menikah dengan Maria Lewoema dan melahirkan Oa, Jewani (Yohanes), Aloysius, Yose, Gusti, Karni dan Sice. Oa tidak menikah. Aloysius menikah dengan Lusia dari Maukeli-Ngada dan melahirkan 4 orang anak. Yose menikah dengan wanita dari suku Dayak dan melahirkan 3 orang anak. Sementara Gusti meminang gadis dari Nobo' dan melahirkan 2 orang anak.
-Dalu Beoang yang menikah dengan Sili dari Sukutukang dan melahirkan Anton Abel, Pehang, Theus, Mikel dan Fin. Anton menikah dengan gadis dari Boru dan melahirkan 4 orang anak. Pehang meminang gadis dari Sukutukang dan melahirkan 2 orang anak. Theus menikah dengan gadis dari Sukutukang dan melahirkan 5 orang anak. Mikel belum menikah.
-Nuho Beoang menikah dengan Buku Kumanireng dan melahirkan Valentina, Vin, Yance, Eustakhius, Eti, dan Mikhael.
Valentina dipinang oleh Laurensius Lamatukang. Vin tidak menikah. Yance meminang Moni dan melahirkan 3 orang pria.
Tokhius menikah dengan Martha dari Kedang (Lembata) dan melahirkan seorang pria dan seorang wanita. Eti dipinang pemuda dari Manggarai. Sementara Mikhael menikah dengan gadis dari suku Jawa dan melahirkan seorang wanita.

Satu-satunya anak wanita dari Kiaamang adalah Prada Beoang yang dipinang Subang Lamatukang dan melahirkan seorang wanita: Bunga dan tiga pria: Siku, Hada, dan Kia yang menikah dengan sepupu kandungnya Barek, anak Batang Beoang.
Putera ketiga dari Bumi terlahir kembar yakni Sepulo dan Likuwatang.
SEPULO menikah dengan Lito Lewohayong dan melahirkan 4 pria dan 3 wanita. Keempat pria itu masing-masing:

1. Alm. Kebung Beoang sebagai putera sulung. Kebung menikah dengan Veronika Burak Hayong Daniwato dan menurunkan tiga pria: Frans Sepulo, Petrus Pole, dan Bala Beoang serta 3 wanita: Nebo', Lito dan Lelo Beoang.

- Frans Sepulo menikah dengan Theresia Bota Kumanireng dan menurunkan 4 pria dan 5 wanita. Keempat pria itu adalah Pius Kewerak, Philipus Kuda, Konrad Kebung dan Yakob Dere. Pius menikah dengan Maria Florensia Fernandez (+ 29 April 1999) dan melahirkan Melly yang dipinang Basuki Santosa dari suku Tionghoa (Madura); Edy meminang Femy Muda; Niko menikahi Wanty; Robert menikah dengan Yanti dari suku Jawa; Yati, Flot dan Ivon. Philipus meminang Elisabeth Kellen dan melahirkan Damasus yang menikah dengan Oa Tukan dari Tuakepa; Valentinus yang meminang Rin wungung Kehule; Elsy dipinang Paulus Kewaka dari Waimana; Katrin dipinang Papo Lewohayong; Mande dan Lili. Konrad Kebung memilih cara hidup sebagai biarawan, imam dan misionaris SVD. Yakob Dere meminang Nancy Bataona dari Lamalera dan menurunkan "Rio", Fren dan Cyko. Sementara kelima wanita anak Sepulo-Bota adalah Edeltrudis Tuto (Udis), Brigita Burak (Ita), Maria Caesilia Jawa (Mia), Yustina Telia (Tina) dan Florentina Bunga (Once). Udis dipinang Andreas Bukuamang Lewomanuk dan melahirkan Amsy, Ferdyn, Nyoman dan Arnold. Ita dipinang Dominikus Kewegeng Teluma dari Tuakepa dan menurunkan Ima, Trisno, Santy, Sensy, dan Oa Lusi.
Mia dipinang Andreas Bani dari Sumba Barat dan menurunkan Fritz Bani. Tina tidak menikah. Once dipinang Sirilus Seng Koting dan menurunkan Imel dan 'Ary'.

-Petrus Pole
kawin dengan Lodang Hera dan menurunkan Tomas, Darius, Rofinus, Sani dan Maria Beoang. Tomas menikah dengan gadis dari suku Jawa dan tidak dikaruniai anak. Darius menikah dengan Meronsi Kumanireng dan melahirkan Noe, Pepo, Andy dan Aflin. Rofinus meminang Stin Lewohayong dan melahirkan 4 orang anak. Sani menikah dengan gadis dari Lewotobi. Sementara Maria, puteri tunggal Pole-Lodang dipinang David Bule dan melahirkan 4 orang anak.

-Bala Beoang adalah putera bungsu Kebung-Bura. Bala menikah dengan Gute Lewohayong dan menurunkan Jewana, Yosef dan Theodora. Jewana dipinang Frans Bentu dan menurunkan 5 anak. Yosef meminang Rosa Kumanireng dan melahirkan Eman, Nus, dan Ben. Nus menikah dengan gadis dari suku Jawa dan melahirkan 2 orang anak, Eman dan Ben belum menikah. Sementara Theodora dipinang oleh Pena dari Nebe'-Sikka dan tidak dikaruniai anak.

-Nebo' menikah dengan Sepulo Lamatukang dan menurunkan Dalu, Sugo, Iku, Witak, Daniel, Wunga, Klara dan Dina.

-Lito yang menikah dengan Subang Lewoanging, menurunkan Anton Dalu, Golang, Lusia, Tenelema, Gertrudis, Martha dan Theresia.

-Lelo menikah dengan Sepulo Keleng dan menurunkan Tobias Torangamang, Sani, Barnabas, Simon, Eta dan Sana.

2. Lewa' Beoang sebagai putera kedua pasangan Sepulo-Lito. Lewa' menikah dengan Jawa Kumanireng dari Leworook dan menurunkan Yohanes Noku, Tomas Leki, Sepulo, Sedu, Nirong, Letek dan Lelo.

- Noku meminang Bulu Lewohayong dan menurunkan Longginus, Simon, Anton, Leo, Tony, Dina, Ice, Dete, Roni dan Klara. Longginus tidak menikah. Simon meminang Tina Lewohayong dan melahirkan Eng, Cu Tomi, dan seorang anak wanita. Anton menikah dengan Oli Lewohayong dan melahirkan seorang pria dan seorang wanita. Leo dan Tony belum menikah. Dina dipinang Anu Teluma dan menurunkan Besa, Mas, Tene, Edo, Ery, Lusi dan Johan. Ice menikah dengan Klemes Lamatukang dan menurunkan Imel, No, Marlen dan Esmi. Roni menikah dengan Yosef (Yo) dan melahirkan Son dan Lodang. Klara dipinang pemuda suku Dawan dari Lamawalang.

-Leki menikah dengan Oa Lusi Lewoema dan menurunkan Eustakhius, Ansel, Lawe, Ben, Dolos dan Oni. Kius meminang gadis suku Jawa (Solo) dan melahirkan seorang wanita. Ansel menikah dengan gadis Lewoema dan melahirkan seorang pria. Ben meminang Nece Lewoema dan melahirkan 2 orang pria. Lawe belum menikah. Sementara Dolos dipinang pemuda dari suku Kleden, Waibalun. Oni belum menikah.

-Sepulo menikah dengan Bali Lewohayong dan melahirkan 2 orang anak wanita. Mince yang dipinang Lambert Lelo dari Boru dan Rosalin dipinang Gaspar Teluma dari Tuakepa.

-Sedu menikah dengan Barek wungung Payong dari Leworook dan menurunkan Us, Adu, Sin, Tina dan Sensy. Us meminang gadis dari suku Dayak-Kadasan di Sabah, Malaysia dan melahirkan 4 orang pria. Adu menikah dengan Sinta Mukin dan melahirkan 2 pria dan seorang wanita. Sin dipinang Yosef Lamamanuk. Tina menikah dengan pemuda dari Kelike-Solor. Sensy dipinang pemuda dari Watubala.

-Nirong menikah dengan Biku Lamatukang dan menurunkan Longginus sebagai putera tunggal.

-Letek dipinang Petrus Pole Lamatukang dan menurunkan Agnes, Bidan dan Rely.
-Lisa tidak menikah.

3. Muda Beoang ialah putera ketiga pasangan Sepulo-Lito. Muda menikah dengan Maria dari Labuan Bajo dan melahirkan Sepulo, Hada, Gena', Rosa dan Yanse.

-Sepulo meminang Soda Lewoema dan melahirkan Anu, Domi, An, Mi, Si, Es, Merenti. Anu meminang Koni Kumanireng dan melahirkan Yano, Edi dan Ira. Domi meminang Nika Lewohayong dan melahirkan 3 orang wanita. An dipinang Lado Teluma dan menurunkan 3 pria. Si dipinang pemuda dari Nurabelen. Merenti menikah dengan Saka.

-Hada tidak menikah karena meninggal pada usia muda.
-Gena' meminang Lito Lewoema dan menurunkan Fin, Poce, Sius, Mary, Awi dan Mundu. Sius meminang Mery Lewohayong dari Wolo dan melahirkan seorang pria dan seorang wanita.

-Rosa menikah dengan Pehang Wulogening dan melahirkan seorang pria: Pite yang menikah dengan Dince Lewoema dan melahirkan 2 orang anak.
-Yanse dipinang Greng dan menurunkan 2 orang anak.

4. Dere Beoang sebagai putera bungsu. Dere menikah dengan Bunga Lewohayong dan menurunkan 3 orang anak wanita: Lito, Marta, dan Nika. Lito dipinang Kota Teluma dari Tuakapa dan melahirkan Nus, Ana dan Darius. Marta menikah dengan Mateus Goleng Keleng dari Leworook dan menurunkan Pius Bumi, Yohanes Serodi, Ance Dere, Beni, Marlin dan Lili. Nika, puteri bungsu Dere- Bunga, menikah dengan Sintu Tukan dan menurunkan Impi, Cin, Darius.
Keempat bersaudara putera Sepulo-Lito mempunyai seorang saudari yaitu Bulu Beoang. Ia menikah dengan Witak Koteng (Witak Beleeng) tanpa memperoleh keturunan sampai ia dipanggil menghadap penciptanya.

Putera Bumi, kembaran Sepulo bernama LIKUWATANG. Ia menjadi putera keempat dari Bumi. Likuwatang menikah dengan Muko Lewohayong dan melahirkan seorang pria: Bao dan seorang wanita: Jawa.

-Bao menikah dengan Waleng Lewohayong dari Lewokung dan melahirkan seorang pria dan 4 orang wanita. Pria itu adalah Likuwatang. Ia menikah dengan Noni Lewohayong dan melahirkan Agnes, Willem, dan Petrus. Agnes dipinang Yosef Lamamanuk dan melahirkan 3 orang pria. Willem menikah dengan Ros Lewoema dan melahirkan 3 pria dan 2 wanita. Petrus meminang An Lewohayong dan menurunkan seorang pria dan 2 orang wanita.

-Jawa Beoang menikah dengan Sina Lamamanuk dan melahirkan Gute yang menurunkan Yohanes Ola Kumanireng; Barek, Pamang, Blaong dan Likuwatang Lamamanuk.

Putera kelima Bumi bernama NUHO. Ia menikah dengan Lelo Kumanireng dan menurunkan seorang pria: Kewerak dan seorang wanita: Wunga Beoang.

-Kewerak meminang Lito Lewoema (Doweng Oneeng) dan melahirkan Kuku dan Nebo Beoang. Kuku menikah dengan Blaong Lewohayong dan melahirkan Teodorus Leki, Yosef, Simon Kebung Petrus, Beung Belewaeng, Krispinus Kaya, Samuel dan Nedis. Teodorus Leki menikah dengan Bongi Lamatukang dan melahirkan Lambert Beoang. Setelah Bongi meninggal, Leki menikah dengan Tonu dan melahirkan Mary yang dipinang Kobus dari Maumere. Simon menikah dengan Lence Lewohayong dan menurunkan Eman dan Sil. Eman meminang gadis dari Boawae-Ngada. Sementara Sil menikah dengan Lin dan melahirkan 2 orang anak wanita. Kris menikah dengan Lusi Kumanireng dan melahirkan 2 orang anak, seorang pria dan seorang wanita.
Samuel menikah dengan Theresia Hayong Doniwato dan melahirkan 5 orang anak. Petrus tidak menikah. Sementara Yosef meninggal saat masih muda belia. Sili menikah dengan Willem Witak Lamatukang dan melahirkan Isna, Konradus dan Kor.
Nedis dipinang Willem wungung Padung dan melahirkan 3 orang anak pria. Sementara Nebo, saudari Kuku Beoang dipinang Leki Lamaoyang dari Lamika dan menurunkan Reo, Anton, Lelo dan Lito.
-Wunga, saudara Kewerak dipinang Dosa Lamatukang dan melahirkan Hada, Sepulo, dan Likuwatang. Setelah Wunga meninggal Dosa menikah lagi dengan Beto wungung Kwen dan melahirkan Pati, Lelo, Pole dan Lagawuyo.

 

Dari Hada sampai P. Konrad Kebung, SVD tercatat 6 generasi.

 

 

SUKU BEOANG

SUKU MANUK

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS