AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

BERITA-BERITA

FOTO-FOTO

VIDEO

BUKU TAMU NEW

 

Eputobi.net, 30 Desember 2010:

Ceritra akhir tahun:

Ketika Kierkegaard hidup sebagai mahasiswa di Kopenhagen, beliau mengalami peristiwa berikut: suatu hari dengan sebuah keranjang penuh dengan pakayan kotor  dia berjalan menelusuri lorong kota untuk mencari tempat cuci. Di depan sebuah toko dia melihat sebuah papan pengumuman yang terpampang di kaca jendela dengan tulisan: „Disini pakayan anda di cuci dan disetrika“.

Tanpa berpikir panjang Kierkegaard membuka pintu dan masuk kedalam ruangan. Seorang gadis pelayan menyapanya dengan ramah dan menanyakan maksud kedatangannya. Kierkegaard memberikan keranjang berisi pakayan kotor kepada si gadis. Dengan sekulum senyum dibibir gadis itu mengembalikan keranjang pakayan dan berkata dengan sopan: „Maaf tuan, anda keliru besar! Di sini bukan tempat cuci pakayan!“

„Mengapa bukan?“, tanya Kierkegaard heran, „Di jendela terpampang tulisan – Di sini pakayan anda di cuci dan disetrika!“

„Anda benar!“ jawab gadis itu, „tetapi ini bukan tempat cucian melainkan pabrik pembuat papan pengumuman yang bertuliskan: Di sini pakayan anda dicuci dan disetrika“

Doa: Tuhan, tolonglah kami agar dalam tahun yang akan datang  semua papan pengumuman yang kami miliki bukan hanya sekedar reklame tetapi benar-benar di isi dengan nafas kehidupan. Amen.

Eputobi.net mengucapkan selamat menyambut tahun baru 2011 buat semua pengunjung dimanapun anda berada. Semoga tahun baru membawa semangat baru bagi kita untuk mengisi kata-kata yang terucap ataupun yang tertulis dengan perbuatan nyata.

Eputobi.net, 29 Desember 2010:

Pada bulan November 2010 SMA TITEHENA memperoleh sumbangan dana lagi dari umat paroki St. Sixtus Pollenfeld dan St. Johannes Pemandi Wachenzell. Dana tersebut dikumpulkan oleh anak-anak yang berjalan dari rumah ke rumah sambil membawa lanterna dan menyanyikan lagu tentang Santu Martinus. Pengelolaan dana tersebut sudah dilakukan dengan baik dan bertanggungjawab. Sebagian kecil dimanfaatkan untuk membayar utang pembangunan yang masih dipikul sekolah. Sebagian besar dana dimanfaatkan untuk merampungkan pembangunan empat ruangan kelas. Meskipun pintu dan jendela harus menunggu uluran tangan berikut, para tukang yang terdiri dari 9-14 orang akhirnya menyelesaikan pekerjaan plester, mateks dan cat konsen pada tanggal 22 Desember 2010. Berikut ini ditampilkan beberapa foto pelaksanaan pembangunan gedung sekolah dan hasilnya saat ini. Bantuan selanjutnya untuk pintu, jendela, meja, kursi dan perpustakaan sekolah masih sangat diharapkan dari kita semua yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan generasi muda.

 

 

Eputobi.net, 10 Juli 2010:

Satu informasi penting untuk warga Lewoingu di mana saja: aula yang direncanakan dalam rangka perayaan emas SDK Eputobi dan yang sudah juga mulai dibangun (fondasi) akan segera dilanjutkan karena teman-teman dan penderma saya sudah menyiapkan dana untuk paling kurang bisa sampai atap. Sedangkan untuk lantai dan semua perlengkapan di dalamnya (alat-alat rekreasi dalam bagi anak-anak dan kaum muda, perpustakaan, perlengkapan band, dll) akan dicarikan kemudian. Andaikan ada alumni SDK ini atau anggota warga Lewoingu, atau juga teman-teman dan simpatisan lain yang ingin melihat masa depan anak-anak kita lebih baik dari hari ini, ingin memberikan sumbangan, kontaki saja P. Konrad Kebung, SVD, Provinsialat SVD Ende, Jln. Katedral no. 05, Ende 86312 - Flores-NTT (cellphone: 081 339 300 429 atau 081 339 593 739 atau email: konradsvd@yahoo.com dan kebungb@yahoo.com

 

Menurut rencana aula itu akan diperlengkapi dengan:

1. Alat-alat rekreasi dalam rumah (lapangan badminton, meja pingpong, dan semua peralatan rekreasi lain seperti: catur, kartu, halma, ular tangga, dll). Karena ada lapangan badminton maka kuda-kuda direncanakan pakai besi dan agak tinggi.

2. Perpustakaan dan ruang baca: sudah ada sekitar 600-an buku dari beberapa penerbit ada pada saya untuk kepentingan ini.

3. Ruang musik/band: untuk kaum muda/i dan warga desa Lewoingu.

4. Kursi-kursi untuk kepentingan aula tapi juga untuk disewakan; juga meja-meja untuk semua kepentingan di atas termasuk rapat-rapat dan seminar.

 

Hari Kamis, 1 Juli yang lalu saya ingin matangkan hal ini dengan nong Mikel, kepala desa tapi saya dapat informasi bahwa dia ada di Kupang. Saya lalu bicarakan ini dengan nong Don Kumanireng, sekretaris desa Eputobi untuk pelbagai urusan dan kerjasama demi kepentingan masyarakat dan anak-anak kita ke depan. Tentu agar pimpinan desa bekerja sama dengan panitia pembangunan, kepala SDK, Komite Sekolah, dll.

Ada penderma saya yang ingin memberi sumbangan tapi mereka mau melihat sendiri dulu keadaan dan lokasi aula itu. Mereka akan datang dari Belanda bulan Nopember ini dan diharapkan saya ada di tempat untuk mengantar mereka.

Kalau semua rencana ini jadi, maka saya meminta supaya kita berusaha agar sedapat mungkin orang-orang di desa kita juga bisa mendapat sesuatu dari pekerjaan itu: misalnya batu merah kita usahakan beli di tempat, juga beberapa kebutuhan lainnya. Kami juga berencana untuk memesan kelompok tukang tertentu yang bertanggung jawab atas pembangunan itu dan kiranya semuanya selesai pada waktunya.

 

Kita berdoa agar rencana besar ini bisa diselesaikan pada waktunya dan membawa banyak manfaat untuk kita semua.

 

Salam selalu

 

P.Konrad Kebung, SVD

Ende, 04 Juli 2010

Eputobi.net, 22 Desember 2009:

Ceritra Natal dari Konga

Pada tanggal 19 Desember 2009, Will Buang, seorang ayah beranak satu, mengendarai sepeda motor tanpa SIM (Surat Ijin Mengemudi) melintasi sebuah  ruas jalan di desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur.  Perbuatan melanggar peraturan lalulintas ini sempat menelan korban seekor anjing piaraan.  Mungkin karena belum mahir mengendarai motor atau karena sengaja, sang bapak sempat menabrak anjing betina milik keluarga Sebastianus Lowa.

Sebastianus Lowa ialah seorang petani sederhana yang mencari nafkah hidupnya sehari-hari dengan bekerja di sawah. Untuk menambah penghasilannya dan memberi makan istri dan ketujuh anaknya Sebastianus mengiris Tuak dan memasak arak untuk dijual.  Pada hari Sabtu tanggal 19 Desember 2009 seperti biasa Sebastianus dan keluarganya berada di sawah untuk bekerja. Sekitar pukul tiga sore, ketika mereka kembali dari sawah , mereka mendapati sejumlah orang muda di desa  Konga yang sudah sibuk membakar anjing piaraan Sebastianus untuk disantap bersama. Bagi istri Sebastianus, tindakan orang-orang ini sangat tidak etis,  karena tanpa sepengatahuan pemiliknya, dalam hal ini, Sebastianus Lowa dan istrinya, orang-orang ini berani mengambil anjing yang tertabrak motor ini dan membakarnya untuk dijadikan daging yang nantinya akan disantap sendiri.

Sebagai orang yang berpendidikan mestinya kita mengerti reaksi istri Sebastianus yang nota bene hanya memiliki ijasah SMP. Sang istri langsung mengungkapkan rasa tidak puasnya dihadapan orang-orang yang secara terang-terangan merampas hak kepemilikan mereka atas anjing piaraan keluarga.  Sayang bahwa pengandaian umum untuk orang-orang berpendidikan ini justru tidak berlaku di desa Konga, khususnya untuk beberapa orang berpendidikan di sana. Mereka justru beramai-ramai mengeroyok istri korban dengan nasihat-nasihat yang amat tidak logis untuk diterima akal sehat. Ibu Yeye, seorang guru sekolah dasar di sana, malah tidak tanggung-tanggung mengatakan bahwa istri Sebastianus ialah orang bodoh dan mencercai dia sebagai seorang pengacau.  Demikian juga seorang bidan Desa yang brinisial Bidan Aci secara arogan menasihati istri Sebastianus Lowa untuk tidak hanya memperhatikan anjing miliknya tetapi juga harus memperhatikan dan mengunjungi si penabrak anjing, pengendara sepeda motor yang belum memiliki SIM.

Selain berhadapan dengan kedua orang intelektual di atas, Istri Sebastianus Lowa juga harus berhadapan dengan sejumlah besar orang Konga yang lain, yang menilainya sebagai sumber pengacau. Lebih parah lagi ialah bahwa ayah penabrak sendiri datang kedepan rumah Sebastianus Lowa dan berteriak serta menuntut keluarga Sebastianus untuk membongkar tempat memasak arak di atas tanah di samping rumah Sebastianus Lowa. Halaman rumah sebastianus memang sangat sempit karena itu lewat restu pemiliknya , Bapak Kobus Buang, ayah penabrak, Sebastianus memasak arak di atas tanah kosong di samping rumahnya. Karena merasa bahwa tindakan anaknya Willi Buang menabrak anjing milik Sebastianus Lowa tidak ditolerir begitu saja oleh istri Sebastianus, sang ayah langsung mencabut ijin usaha sambilan yang dilakukan Sebastianus Lowa di atas tanah kosong miliknya.

Kini Sebastianus tidak bisa lagi meneruskan pekerjaan sambilannya karena merasa dimusuhi oleh para tuan tanah di Konga. Istri Sebastianus sudah melaporkan kejadian ini ke Polisi di Lewolaga. Panggilan pertama dan kedua dari Polisi hanya dipenuhi oleh dua orang, yakni Ayah Will Buag, Bapak Kobus Buang dan seorang yang berinisial Om Nisu. Sampai dengan berita ini diturunkan, tokoh intelektual seperti seperti Ibu Yeye dan sejumlah orang lain yang ikut mengeroyok istri Sebastianus Lowa dengan nasihat-nasihat sok alim mereka, belum memenuhi panggilan polisi. Kita berharap agar Polisi-Polisi kita di Lewolaga mampu menegakan rasa keadilan yang menjadi hak Sebastianus Lowa dan keluarganya. Tanpa rasa keadilan ini, kami yang ikut prihatin atas kejadian ini, tidak bisa merayakan Natal, sebagai sebagai sebuah pesta damai.

Eputobi.net, 19 Desember 2009:

Kecerahan dan kegembiraan bisa terbaca dari wajah kedua orang tua yang mendampingi putra „Lama Manu“ yang satu ini, Siprianus Suban (ISNO), saat diwisuda sebagai sarjana teknik angkatan 2009 Universitas Flores, di Ende Indonesia, pada tanggal 15 Desember yang lalu. Dengan seragam wisuda yang tampak seperti para pelawak di musim karnaval Eropa, Siprianus Suban menyatakan rasa syukur atas prestasi pribadinya dan terutama atas rahmat Tuhan yang memberi dia kesabaran dalam belajar dan hidup sederhana sebagai mahasiswa.

Setelah melewati tahun-tahun penuh kerikil tajam dan tanda tanya panjang, keberhasilannya ini memang patut disyukuri bukan hanya oleh kedua orang tua tetapi oleh seluruh anggota keluarga dan sahabat kenalannya.

Salah seorang yang setia mendampingi dan mendukung Siprianus ialah si buah hati, Getris Rimba, gadis manis asal Paga, Flores NTT, jebolan sekolah tinggi milik para suster ursulin di Ende, tahun 2007. Rencana kedua orang muda ini, Isno dan Getris, untuk membangun keluarga mereka masih terbentur pada sulitnya kemungkinan untuk mendapatkan tempat kerja yang layak. Selama belajar Siprianus pernah bekerja sebagai guru bantu di sebuah Sekolah Menegah Pertama di Ende dengan honor sebesar Rp. 200.000 per bulan. Sementara Getris Rimba sendiri pernah mengaduh nasib sebagai kuli di beberapa perusahan kecil di Ende. Salah satu pekerjaan tak terlupakan yang sempat di geluti Getris ialah sebagai pembantu di sebuah tempat pembuatan Roti di Ende, dengan gaji Rp. 300.000 per bulan.

Selain mengadu nasib di beberapa tempat, keduanya menjadikan kamar kos mereka yang berukuran 3x4 m˛ bukan hanya sebagai tempat belajar tetapi juga sebagai tempat menerima pesanan untuk mengetik skripsi atau tulisan-tulisan para mahasiswa senasib. Tetapi karena komputer keluaran tahun 1998 yang mereka pakai tidak bisa diperbaiki lagi, pekerjaan sambilan inipun tidak bisa dilanjutkan.

Keberhasilan Isno menyelesaikan studi di UNFLOR ENDE memang merupakan sebuah momen yang layak disyukuri. Tetapi tanda tanya besar masih menghantui kedua pasangan muda ini: „Adakah tempat bagi kami untuk bekerja sesuai dengan pendidikan kami?“

 

ISNO & GETRIS

Eputobi.net, 09 Desember 2009,

Pada hari Sabtu tanggal 5 Desember 2009 telah diserahkan uang sebesar Rp. 36 Juta kepada Pimpinan Sekolah SMA Titehena, Titus G. Emar, disaksikan oleh para guru dan siswa. Uang tersebut merupakan sumbangan umat Paroki Santu Sixtus Pollenfeld dan Paroki Santu Yohanes Pemandi Wachenzell, di Bayern, Jerman Selatan. Seperti sudah diberitakan sebelumnya, dalam rangka memperingati hari pesta Santu Martin, anak-anak Jerman dari kedua paroki tersebut berjalan dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan sumbangan bagi orang-orang yang membutuhkan. Menurut rencana, sumbangan ini merupakan pemberian tahab pertama, yang akan bisa dilanjutkan bila urusan pemanfaatannya transparan, sekurang-kurangnya bagi semua pihak yang mengelola SMA TITEHENA. 

Kebijaksanaan yang ditempuh dalam memanfaatkan uang ini hendaknya dilakukan dengan kepala dingin lewat pembicaraan terbuka dan tidak menjadi ajang pertengkaran antara pihak-pihak yang berkepentingan. Sikap main kuasa dan mau menang sendiri hendaknya dihindari karena akan memperburuk citra sekolah yang hendak kita bangun bersama. Demikian pula hendaknya dihindari pengelolaan keuangan dengan sistem tertutup, karena hal ini hanya memancing orang untuk berspekulasi tentang kejujuran pihak-pihak yang berurusan lansung di lapangan.

Berikut ini beberapa Foto acara serah terima yang dilakukan oleh Siprianus Suban kepada Kepala sekolah SMA Titehena, Bapak Titus G. Emar, disaksikan oleh sejumlah guru dan siswa.

Eputobi.net, 17 November 2009

SANKT MARTIN DAN SMA TITEHENA LEWOLAGA

 

 
Setiap tanggal 11 November liturgi Gereja Katolik mengajak kita memperingati Santu Martin, Uskup Tours, Prancis, yang hidup pada abad ke empat sesudah Masehi. Karena lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga militer, Martin kemudian masuk dinas militer dan menjadi seorang serdadu yang terkenal berani dan gagah perkasa. Dalam sebuah perjalanan dinas militernya di musim dingin, diceritrakan bahwa Martin berjumpa dengan seorang pengemis yang kedinginan di tepi jalan. Melihat sang pengemis yang merintih meminta tolong, Martin tidak segan-segan mengambil pedangnya dan membagi mantel hangat miliknya menjadi dua lalu memberikan sebagian kepada sang pengemis.

Setelah kembali ke Kamp Militer, Martin tidur kelelahan dan bermimpi bahwa Jesus datang mengunjunginya, mengenakan Mantel yang diberikan Martin kepada si Pengemis. Yesus mengucapkan terimakasih kepada Martin atas kebaikannya. Pengalaman ini mendorong Martin untuk mengenal Jesus lebih dekat lagi.

Karena itu pada usianya yang ke 18 Martin memutuskan untuk meninggalkan dinas militer kebanggaanya dan kebanggaan keluarga. Ia mulai belajar mengenal orang Kristen, membaca Kitab Suci dan menghidupi pesan-pesan cintakasih yang ia temukan di dalam Kitab Suci. Kebaikan Martin kepada orang miskin dan sederhana kemudian menjadi sangat terkenal di seluruh pelosok Prancis sehingga ia dianjurkan oleh penduduk kota Tours sndiri untuk menjadi Uskup. Sebagai Uskup Martin sangat dicintai dan dihargai oleh umatnya karena ia tetap mempraktekan hidup sederhana dan tetap mencintai sesamanya. Uskup Martin meninggal tanggal 8 November 397 dan dikuburkan pada tanggal 11 November 397 

Sankt Martin sudah meninggalkan dunia ini lebih dari 1600 tahun yang lalu. Tetapi ceritra tentang kebaikannya masih senang diceritrakan setiap tahun pada bulan November, sampai dengan hari ini. Tindakan cintakasih yang dilakukan Sankt Martin terhadap pengemis sering diperagakan pada hari pestanya dan sudah menjadi tradisi tak terpisahkan dari acara tahunan di desa-desa Jerman.

Untuk memperingati Sankt Martin di Paroki saya saat ini, setiap tahun diselenggarakan acara pengumpulan dana untuk siapa saja yang membutuhkan. Dana ini biasanya dikumpulkan oleh anak-anak usia taman kanak-kanak yang berjalan dari rumah ke rumah membawa lanterna dan menyanyikan lagu tentang Sankt Martin. Keluarga-keluarga Jerman biasanya membuka pintu rumah mereka, mendengarkan lagu anak-anak yang datang ini dengan penuh perhatian lalu memberi sejumlah uang untuk tujuan yang sudah ditentukan oleh dewan Paroki. Tahun ini dana yang terkumpul akan diberikan bagi SMA TITEHENA di Paroki Lewolaga. Mudah-mudahan anak-anak sekolah dan guru-guru SMA Titehena Lewolaga serta orang tua dan semua yang terlibat dalam pendidikan tahu menghargai pemberian ini dan memanfaatkanya untuk kepentingan pendidikan generasi muda kita. Saat berita ini diturunkan, anak-anak parokiku sudah mengumpulkan sekitar 3000 Euro. Selamat menanti datangnya rezeki ini dan marilah kita saling mendoakan.

Eputobi.net, 21 Oktober 2009:

Para pengunjung eputobi.net yang budiman, salam jumpa lagi buatmu semua dimanapun anda berada. Hari ini telah dimuat lagi beberapa artikel yang ditulis oleh Bapak Rafael Raga Maran dan Bapak Marsel Sani Kelen. Bagi mereka yang belum sempat menyimak tulisan mereka di blog, silahkan klik pada bagian sejarah dan bagian opini dari eputobi.net. Selamat membaca dan selamat berdiskusi dengan kepala dingin!

Eputobi.net, 22 Agustus 2009:

Seputar 17 Agustus 2009

Ceritra tentang kegiatan masyarakat desa Lewoingu dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI yang ke 64 baru-baru ini masih hangat dibicarakan dewasa ini di Eputobi. Bagi yang belum sempat mendapatkan  informasi langsung dari Kampung, berikut ini ulasan singkat buat anda:

Dalam rangka memeriahkan HUT kemerdekaan RI  yang ke 64, desa kita mengadakan bermacam-macam kegiatan yang berpusat di tengah kampung, di dekat lorong ke Gereja Eputobi. Di depan rumah sekertaris Desa Eputobi, Bpk. Donatus Kumanireng, dibangun sebuah tenda utama,  sebagai pusat kegiatan akbar ini. Mulai tanggal 2 Agustus 2009 sampai dengan tanggal 18 Agustus 2009 orang-orang Eputobi dan sekitarnya berbondong-bondong mengunjungi pasar malam, tempat dijualnya berbagai makanan dan minuman serta barang-barang kebutuhan pokok yang lain. Selain membuka pasar malam, panitia perayaan 17 Agustus juga menyelenggarakan turnaman Bola Kaki, Bola Volley  serta beberapa malam hiburan.  Malam DOLO-DOLO yang menjadi salah satu bagian dari malam hiburan,  sangat mengesankan karena pantun-pantun yang dilantunkan mengungkapkan kerinduan besar orang-orang Eputobi untuk hidup rukun dan bersatu kembali. Hampir semua lapisan masyarakat di keempat dusun desa kita mengambil bagian aktif dalam kegiatan-kegiatan ini.  Salah satu kegiatan penting lain yang layak disebut ialah pawai keliling kampung pada tanggal 16 Agustus 2009 yang diikuti oleh berbagai kelompok umat. Pada tanggal 16 Agustus 2009 ini diselenggarakan juga sebuah misa kenegaraan, dipimpin oleh Rm. Ranis Teluma MSF yang kebetulan sedang berlibur di rumah keluarga di Tuakepa. Acara puncak tanggal 17 Agustus 2009 ditandai dengan pengibaran bendera di lapangan sepak bola Eputobi.  Kepala Desa  Lewoingu, Bpk. Michael Torang Amang Kelen bertindak sebagai sesepuh upacara. Malam penutupan semua kegiatan ini dibuat tanggal 18 Agustus 2009 dalam bentuk acara ramah-tamah dan makan bersama bagi seluruh masyarakat desa kita. Anggaran kegiatan ini bersumber dari sumbangan warga ditambah dengan sedikit bantuan dana dari Larantuka.  Proficiat untuk panitia penyelenggara! Proficiat untuk semua warga desa Lewoingu!

Eputobi.net, 19 Agustus 2009:

Bagi para peminat sejarah desa Lewoingu yang selama ini belum sempat mengikuti diskusi yang terjadi di Blog Bapak Rafael Raga Maran dan Blog Bapak Marselinus Sani Kelen, dipersilahkan untuk membaca semua tulisan mereka yang sudah dicopy ke www.eputobi.net, khususnya pada kolom SEJARAH DESA. Lihat tanggapan 10 dan selanjutnya! Selamat membaca dan selamat berdiskusi!

Eputobi.net, 5 Agustus 2009:

Para pengunjung eputobi.net yang budiman,

 

salah satu berita di buku tamu kita pada akhir Juni 2009 yang ditulis oleh nona Icha Hayon Daniwato sempat menyebutkan secara singkat
   
   
keberadaan saya di Kampung Eputobi.
Sentilan singkat yang tertulis di sana serta informasi tentang misa tengah malamku bersama keluarga tercinta di lewotana pada tanggal 29 Juni 2009 dinihari pkl. 00.30 WITA, benar adanya. Misa yang sedianya direncanakan pada hari Minggu sore tanggal 28 Juni 2009 dirumah keluarga Bapak Sina Emar tidak bisa di rayakan karena menurut Pastor Paroki Lewolaga saat itu, Romo Andre MSF, hal tersebut bertentangan dengan aturan pastoral yang berlaku di Keuskupan Larantuka. Sayang bahwa peraturan ini diterjemahkan secara brutal kedalam praktek kehidupan bergereja kita, tanpa mempertimbangkan situasi khusus yang membutuhkan fleksibilitas seorang gembala umat.

 

Sebagai pastor tamu di daerah sendiri, kita wajib menjunjung tinggi peraturan ini demi ketentraman kehidupan religius di wilayah paroki Lewolaga  dengan wakil-wakil umatnya yang kelihatan semakin komit terhadap aturan. Kita doakan, semoga pemimpin-pemimpin umat kita tidak lupa bahwa bukan manusia di ciptakan untuk peraturan melainkan peraturan diciptakan untuk manusia.

 

Tulisan ini tidak bermaksud membuka diskusi baru tentang kebijaksanaan pastoral yang kini diterapkan ataupun tidak diterapkan di Paroki kita. Sebetulnya saya cuma ingin berbagi ceritra tentang pengalaman berliburku baru-baru ini di Kampung kita tercinta, Eputobi. Lebih dari itu, saya ingin sedapat mungkin menyuarakan suara mereka-mereka yang sempat berkunjung ke rumahku. Sejak terbitnya website www.eputobi.net , saya hanya bisa menggunakan “kacamata” penulis-penulis lain untuk melihat kampungku. Liburanku sebulan telah memberiku kesempatan untuk melihat  Kampungku Eputobi dengan “kacamataku” sendiri, setelah hampir lima tahun tidak berkesempatan untuk kembali. 

 

Pertama: Tembok SELAMAT DATANG di pertigaan jalan masuk ke Kampung kita yang dibangun pada akhir tahun 2004 kini sudah retak dan akan runtuh kalau tidak segera diperbaiki. Jangan tanyakan kepada saya, mengapa belum genap lima tahun, tembok ini sudah terancam rubuh. Silahkan tanyakan kepada para pembangunnya dan kepada mereka yang bertugas merawatnya (kalau ada).

 

Kedua: Ada sebuah rumah kecil di belakang tembok SELAMAT DATANG sempat menarik perhatian saya karena bangunan kecil ini sudah menjadi taman baca bagi siapa saja yang berminat, terutama bagi anak-anak kita.  Nona Flori Kelen kini ditugaskan untuk mengatur aktivitas yang terjadi  di dalam gedung ini.

 

Ketiga: Jalan utama di desa eputobi masih tetap beraspal seperti yang saya saksikan lima tahun lalu. Yang berubah ialah lorong-lorong desa yang semakin rapih karena sudah disemenisasi dan dibuatkan jalur-jalur air disampingnya. Kampung Eputobi yang dulunya kering kini terlihat semakin hijau karena ditumbuhi bermacam-macam pohon, seperti Jambu Mente, Mangga, Kemiri, Asam, dll.

 

Keempat: Dewasa ini jarang kita temukan di Eputobi rumah penduduk yang beratapkan alang-alang. Hampir semua rumah beratapkan seng dan ada banyak rumah tembok baru yang besar, bagus dan berlantaikan keramik.

 

Kelima: Keramahan orang-orang di desaku!

Pada tanggal 4 Juli 2009, sekitar pukul 06.30 saya berjalan bersama tamu saya dari Jerman, Maximillian Heczey, dari ujung kampung Eputobi sebelah Timur sampai ke ujung kampung sebelah Barat. Kami disapa ramah oleh semua orang yang kami jumpai sepanjang jalan. Para gadis desa, anak-anak dan ibu-ibu muda yang berdiri dipingir jalan tempat pengambilan air tidak segan-segan memberikan salam dan berjabat tangan. Banyak yang ingin mengabadikan pertemuan ini dengan foto bersama dan bersendagurau. Keramahan ini memberi warna tersendiri kepada liburan saya yang awalnya terisi dengan sejuta rasa segan dan bermacam-macam tanda tanya. Keramahan ini juga kami alami saat pergi ke Gereja hari Minggu dan kembali dari sana. Keramahan ini kami alami juga pada malam hari tanggal 11. Juli, ketika secara spontan ikut begadang bersama sekelompok anak muda yang bernyanyi dibawah terang bulan, di salah satu sudut desa, untuk menyambut hari Minggu. Keramahan orang-orang muda Eputobi juga saya alami lewat ketidakcangungan mereka untuk membantu, saat saya mengalami kesulitan dengan mobil yang disewa.

 

Keenam: Wajah Gereja Eputobi semakin indah kalau dilihat dari luar. Di dalam Gereja sendiri tidak terlihat perubahan yang menyolok. Sebuah perayaan Ekaristi yang saya rayakan pada hari Minggu di dalam Gereja ini sempat dikunjungi oleh banyak umat.

 

Ketujuh:

Selama berada di Eputobi, saya sempat berbicara dengan banyak wakil umat, guru-guru, pemuka masyarakat dan pemerintah. Banyak orang merasa diperlakukan tidak adil dan suara mereka tidak didengarkan oleh para gembala umat. Ada banyak ketidakpuasan terhadap praktek jual beli barang yang di lakukan oleh Pastor Paroki di stasi stasi. Pelayanan sakramen kini terlalu kuat dikaitkan dengan kesediaan umat untuk membayar yuran paroki, sampai-sampai ada yang memberi istilah: “JUAL BELI SAKRAMEN” Perayaan-perayaan ekaristi hari Minggu kesannya menjadi kesempatan mengumpulkan derma dan bahan-bahan persembahan lain untuk dibawa ke pastoran. Diskusi-diskusi pastoral di tingkat dewan paroki dan dewan stasi sering tidak selesai kalau ada suara kritis yang muncul dari kalangan umat. Semakin banyak birokrasi baru diciptakan bukan untuk memudahkan tetapi justru untuk mempersulit umat.

 

Kedelapan: Bapak kepa

 
 
 

 

la desa Lewoingu, Michael Torang Amang Kelen, yang kita kenal namanya terutama dalam tulisan-tulisan dari Bapak Rafael Raga Maran, sebagai kepala komplotan penjahat Eputobi, sempat berkunjung ke rumahku pada tanggal 17 Juli 2009. Sharing pribadi yang kami mulai sebelum sarapan pagi hingga waktu menjelang makan siang sempat mengetuk hati saya untuk paling kurang menulis kembali beberapa kalimat yang sempat beliau ucapakan berikut ini: “Nong Tuang, terus terang, dari hati yang dalam, lera wulang di matang noiro`, go berani bersumpah demi hidupku, demi lewotanah, demi keluarga dan anak istriku, kame bengo Aking hala!
Demi Nama TUHAN! (membuat tanda salib). Untung go´eng apa… bengo Aking? Memang dia termasuk lawan politik, tetapi itu normal dalam kehidupan demokrasi. Lalu waktu peeng go di kepala desa terpilih kae. Kenapa go mesti ka´ang rona mata? Kejahatan apa yang ia lakukan terhadap saya sehingga ia pantas dibunuh? Nong Tuang (sambil menitikkan airmata)….., Saaaaaaaakiiiiit sekali hati ini, karena diperlakukan tidak adil. Saya alami sendiri betapa kejamnya nasib hidup ini. Kita mudah sekali dijebloskan dan dituduh seenaknya oleh orang-orang yang berkuasa ataupun beruang menjadi pelaku kejahatan yang tidak kita ketahui. Untung iman kami masih kuat dan kami masih percaya akan Lera Wulang Tanah Ekan yang terbuka matanya melihat penderitaan kami, penderitaan keluarga, penderitaan istri dan anak-anak kami. Meskipun kami alami juga perlakuan tidak adil dari pihak Gereja, yang kesannya menutup telinga terhadap suara kami. Kalau memang Yoakim itu benar-benar dibunuh, kami dukung sepenuhnya usaha pihak berwajib untuk menemukan siapa penjahat yang sebenarnya!”

 

Kesembilan: Sebelum meninggalkan Eputobi tanggal 20 Juli 2009, saya mengambil waktu pada hari terakhirku ini dengan berkunjung ke rumah Pende Pite (Piter Koten), yang kita kenal namanya sebagai saksi kunci dalam kasus kematian Almahrum Yoakim Maran. Kunjungan saya yang langsung disambut dengan tangisan oleh Enta Ero dan Pende Pite ini berlangsung lebih dari tiga jam. Pende Pite menuturkan panjang lebar penderitaan yang dia alami selama ditahan dan diperiksa. Saya sempat ikut menitikan air mata, ketika beliau lukiskan bagaimana ia mengunyah baju kausnya untuk menahan lapar karena tidak diberi makan. Inti dari semua ceritra panjangnya ialah pernyataan bahwa dia tidak bisa dipaksa untuk melihat dan membahasakan apa yang tidak ia lihat dan tidak ia alami.

 

Para pembaca yang budiman,

inilah sedikit sharing pengalaman yang bisa saya bagikan buat anda dari liburan saya di Eputobi baru-baru ini. Seperti sudah tertulis diatas, ini adalah hasil pandangan saya lewat “KACAMATA” saya sendiri yang jauh dari sempurna dan lengkap. Keberadaan tamu saya dari Jerman, Maximillian Heczey, ikut membatasi saya untuk melihat lebih teliti dan lengkap desa Eputobi dan orang-rangnya. Karena itu saya mohon maaf kalau ada yang merasa tidak diperhatikan dan mungkin diperlakukan tidak adil lewat kalimat-kalimat yang saya ciptakan diatas. Saya terbuka terhadap setiap pertanyaan dan kritik yang masuk.

 

Salam gelekat lewotana!

 

Arnold Manuk

 

Eputobi.net, 25. Mai 2009,

Menanggapi ucapan selamat yang diterima Pater Konrad SVD lewat website ini, beliau menulis email berikut buat eputobi.net dengan permintaan untuk diterbitkan secara singkat. Selamat membaca ucapan terimakasih, undangan, berkat dan harapan beliau untuk para pembaca, dimanapun anda berada:

 

 

   
Salam dan terimakasih atas semua ucapan selamat atas gelar guru besar (profesor) yang diberikan kepada saya. Memang ini sungguh merupakan kado luarbiasa untuk saya pada perayaan pancawindu STFK 23 Mei yang lalu sekaligus kado perak imamat saya. Memang jalan menuju tingkatan ini bukannya sesuatu yang amat sulit terutama bagi kami yang sungguh mengabdikan diri demi ilmu pengetahuan dan demi para mahasiswa kita, apalagi dengan pelbagai karya tulis ilmiah, dll. Namun proses ini melewati seribu satu macam urusan dan karena itu banyak orang menjadi tua dan mati tidak pernah memperoleh ini. Seharusnya saya sudah bisa mendapatnya sekitar 8-10 tahun yang lalu kalau ditilik dari jumlah KUM yang tersedia. Namun itulah proses di negara kita yang amat birokratis dan apalagi sekolah kita ini (
Red: STFK LEDALERO)adalah sekolah swasta.
Sampai hari ini di seluruh wilayah Kopertis Wilayah VIII baru terdapat tiga profesor: dua orang di Undiknas Bali dan saya sendiri. Itu berari di NTT baru saya sendiri menyandang gelar profesor dari semua PTS yang ada.
 
Suatu tanda syukur bahwa Ama Lera Wulang dan Bapa Tana Ekan dan lango uma masih tetap mendampingi saya. Ini juga suatu cara go kete narang lewotanah blola dan bisa menjadi peluang refleksi untuk anak titeng wakaeng yang kini tengah menekuni studi mereka masing-masing. Yang jauh lebih penting bukannya gelar atau pangkat tetapi hati yang siap mengabdi dan mengabdi dengan tulus bahkan siap menyerahkan segala sesuatu dan termasuk diri kita untuk kepentingan banyak orang lain.
Saya yakin orangtua dan keluarga saya dan seluruh masyarakat Lewoingu dan wilayah kita akan amat gembira kalau ra baing tentang ini....lewo te milang-milang dan penuh dengan kekacauan tapi hae bisa mencapai tingkat akademik paling tinggi dalam dunia pendidikan.
 
Gelar Profesor ini sebenarnya sudah dikeluarkan bulan Februari lalu tapi saya baru ditelpon dari DIKTI melalui Kopertis minggu lalu dan mereka baru serahkan SK di Ledalero 23 Mei yang lalu.
Pengukuhan profesorship ini akan dibuat sekitar Agustus atau September mengingat saya tengah sibuk dengan perayaan perak imamat, juga karena selama Juli dan Agustus para frater kami masih berlibur. Saya juga musti punya kesempatan menyiapkan suatu pidato pengukuhan menjadi profesor.
 
Juga dari tempat ini saya mengundang kaka ari, opung paing, ina bine wakaeng yang baing kae bahwa akan ada perayaan perak imamat goeng teti lewo, silahkan dengan gembira datang dan ambil bagian dalam kebahagiaan saya di kampung halaman. Go yakin lewo titeng akan kebanjiraan manusia dari mana-mana dan pasti akan mengukir sejarahnya yang amat khas. Pemda Sikka dan masyarakat dari Sikka bersama penghuni Ledalero (utusan-utusan) pasti akan berarak menuju kampung kita, Pemda Larantuka, juga akan ada banyak orang datang dari wilayah Ende dan Ngada, bahkan juga sejumlah tamu saya akan datang dari Jawa, USA (orang indonesia yang tinggal di sana), juga seorang utusan penderma dan teman-teman saya dari Jerman akan hadir di sana.
 
Hanya ini saja berita yang ingin saya sampaikan kepada P. Arnold dan semua teman pencinta website ini.
Berkat Tuhan selalu dan berkat saya yang khusus kepada anda kalian dalam misa syukur saya 2 Juni, tepat 25 tahun saya menjadi imam Tuhan dan imam Gereja.
 
Salam Manis
P. Konrad Kebung SVD
 
  • Untuk Membaca berita-berita sebelumnya silahkan KLIK DISINI.

 

ARSIP BERITA:

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS