AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

OPINI-OPINI:

PRA-PERADILAN

TRAGEDI BLOU 

ADVENT

UU PORNOGRAFI...

BALAI BAHASA...

MAURICE BLONDEL

PEND. HUMANISTIK

BISNIS UBI KAYU

KEKERASAN MEDIA

LAHAN KERING...

LAUT

PEMBANGUNAN NTT

GIZI BURUK

SERBA-SERBI...

ALDIRA....

KEMBALI...

EMAS....

YANGTERSIRAT

 

SERBA-SERBI DESA LEWOINGU

Oleh: P. Bernard Hayong SVD

   
Serba-serbi merujuk pada pelbagai variasi, keberagaman, bisa juga perbedaan.  Saya memilih menggunakan term atau istilah “serba-serbi” dalam tulisan ini bertolak dari satu kumpulan informasi tentang Desa Lewoingu, sebagaimana yang disajikan dalam web eputobi.net. Sebagai warga Desa Lewoingu yang sudah lama berada di luar kampung halaman, kerinduan untuk membaca informasi tentang kampung halaman adalah satu kerinduan emosional. Satu memori intermezzo ditengah rutinitas harian.  Tentu saja benar-tidaknya informasi ini dan gaya penulisannya    tergantung juga dari sikon (situasi dan kondisi) personal  dan intensi (tujuan) di balik tulisan itu. Karena itu setiap tulisan yang ada mesti dikritisi untuk mengambill sikap yang tepat, dan tidak terjebak dalam menciptakan persoalan baru.  Ada beberapa isu yang  sempat terbetik dalam sajian serba-serbi informasi ini antara lain:

1. Blok barat dan blok timur

Penggunaan istilah “blok” dalam hal ini blok barat dan blok timur menunjukkan pemisahan antara dua kelompok atau kubu  dalam satu desa ; Lewoingu.  Dimana  persisnya  titik pemisah, titik batas  yang membedakan dua blok ini tidak jelas.  Menggunakan term “blok” bisa melahirkan satu  bentuk generalisasi akan kelompok manusia dalam satu wilayah, dalam hal ini Desa Lewoingu.  Blok barat dan blok timur atau (ra yang lali papang  atau ra yang teti papang) jelas memperlihatkan satu pemisahan, satu pembedaan. Sesuatu yang dibedah-bedahkan secara sangat gampang melahirkan permusuhan. Tapi benarkah demikian yang terjadi di Desa Lewoingu?  Benarkah  semua orang yang “lali papang” (bagian barat) menjadi musuh bebuyutan dari “ra yang teti papang” (bagian timur). Benarkah “ra yang teti papang” semuanya membenci “ra yang lali papang”?  Mungkin segelintir orang, segelintir suku saling bermusuhan. Tapi yang segelintir itu tidak bisa digeneralisir menjadi  satu blok timur atau satu blok barat.  Penggunaan blok barat dan timur bisa menjadi racun, yang memecahbelah, yang mengadu-domba masyarakat di Lewoingu. Mungkin bagi orang-orang kita yang sekarang tinggal di desa, mereka tidak merasakan adanya blok barat dan blok timur.  Mungkin mereka hanya tahu bahwa ada sekelompok orang saling membenci dan bermusuhan  karena ini dan itu dan untuk ini dan itu.

2. Masyarakat yang satu dan sama

Tahun 2005, ketika saya menyempatkan diri untuk pertamakalinya menghadiri acara renovasi rumah adat di lewooking (kampung lama), saya terkesan akan satu kenyataan ini; bahwa sebelum tiap suku masuk dalam  rumah adat (rumah induk) untuk goleng mukang dan duduk di tiang rumah adat, mereka berkumpul di tempatnya (rumah sukunya) masing-masing, yang berada di sekitar rumah induk. Rumah adat sebagai rumah induk Lewoingu berada persis di tengah-tengah lewooking. Di tempat/rumah suku ini, tiap suku menyiapkan segala sesuatunya; menyiapkan makanan, dan segala yang diperlukan untuk upacara di rumah induk. Ada satu nilai yang mau digambarkan yakni, bahwa persatuan ke dalam dalam rumah tangga, dalam tiap suku adalah tanda kesuksesan dan kebersatuan semua suku Lewoingu.  Semua urusan kedalam  mest diberesi sebelum melakukan ritus di rimah induk.

Dalam seluruh rangkaian proses upacara adat ini, para tetua adat adalah pemimpin yang resmi. Mereka menjalankan “jabatan kepemimpinannya”. Semua masyarakat adat Lewoingu mendengarkan dan bahkan taat kepada kepemimpinan mereka dalam hal adat.  Itu di rumah adat dan dalam hal yang berkaitan dengan ADAT. 

Kalau di gereja, dalam kaitannya dengan urusan rohani, para imam (pastor paroki, tim pastoral ) dan para pembantunya (di stasi-stasi adalah ketua stasi) adalah orang-orang yang dipercayakan dan mendapat panggilan untuk menjalankan tugas kepemimpinan dalam urusan kerohanian. Semua warga (dalam hal ini umat stasi Eputobi) dipanggil untuk mempercayakan diri akan kepemimpinan mereka. Umat punya tangungjawab untuk mendengar “para pemimpin rohani” di bidang kerohanian. Itu di gereja dan semua yang berurusan dengan Gereja.
       

Dalam bidang pemerintahan, Kepala desa dan para perangkatnya adalah orang yang mendapat kepercayaan untuk memimpin, mengatur dan melayani semua kesejahteraan dan kelestarian hidup warga desanya. Dan warga desa mempercayai perannya sebagai pemimpin dan pelayan dalam urusan kepemerintahan. Maka di desa Lewoingu, sekali lagi subyeknya adalah tetap orang yang sama; Warga desa Lewoingu. Itu di desa dan semua yang berurusan dengan kepemerintahan.  

Di sini kita temukan tiga elemen dengan peran dan fungsi “kepemimpinan” yang berbeda; urusan adat, urusan kerohanian (gereja), urusan kepemerintahan (desa).  Tapi yang menjadi subyek pelayanan (dan bukan obyek) adalah  SATU dan SAMA : Warga/umat/masyarakat yang berdiam di Lewoingu.  Sekarang  apa yang penting dari ketiga elemen dengan peran yang berbeda ini? Peran ketiganya memang beda dan harus dibedakan, karena essensi dari tiga unsur itu  berbeda.  Tapi karena subyek pelayanan dari tiga elemen di atas itu satu dan sama (orang Lewoingu), maka ada unsur yang membangun satu KESATUAN, mesti ada unitas. Kesatuan bukan berarti keseragaman. Karena keseragaman lebih pada satu pemaksaan unsur yang berbeda untuk tunduk dalam kesamaan. Orang yang menghendaki keseragaman menghidupi konflik  internal, karena terjadi benturan. Benturan terjadi karena setiap hal yang berbeda dipaksa untuk berada dalam forma (bentuk) yang sama. Di sini akan ada konflik, karena kita memaksa supaya semuanya sama dan hidup dalam keseragam. Memaksakan keseragaman berarti memangkas, mengeliminasi, menghilangkan, melenyapkan setiap kekhasan, keunikan, perbedaan. Semua yang berbeda, yang tidak sepaham dan sependapat dengan saya, akan saya habisi. Inilah motto keseragaman. 

Peran yang berbeda dari tiga fungsi elemen dalam satu masyarakat (adat-gereja dan pemerintah) tidak melahirkan satu keseragaman, tapi unitas, kesatuan.  Dan kesatuan itu hidup dan lahir dari diversitas, dari keanekaragaman, dari pelbagai perbedaan. Kesatuan menghargai setiap bentuk perbedaan dan keunikan. Karena hanya dengan adanya perbedaan, adanya kemungkinan untuk kesatuan.  Orang yang tidak sanggup melihat perbedaan dan tidak sanggup menghidupi perbedaan,  ia menjadi budak kediktatoran dan bukan pahalawan demokrasi.
Karena itu adalah keliru jika sebagai pemimpin (entah di bagain adat sebagai tetua adat, entah di bagian gereja sebagai pastor atau ketua stasi, atau bagian pemerintahan sebagai kepala desa) mengklaim bahwa perannya jauh lebih penting dari yang lain.  Adalah kesahan fatal jika salah satu dari pemimpin ketiga elemen ini memangkas kebebasan subyek yang sama (dalam hal ini warga/umat/masyarakat adat Lewoingu) untuk tunduk hanya pada bidangnya dan masa bodoh atau melepaskan tanggung-jawab pada bidang yang lain.

Sebagai warga/umat/masyarakat di Lewoingu, masing-masing kita adalah 100%  umat Allah (gereja Eputobi), kita adalah 100 % warga Desa Lewoingu, 100 %  masyarakat adat Lewoingu. Pemimpin Gereja (pastor dan pembantunya termasuk ketua stasi), pemimpin pemerintahan (kepala desa dan perangkatnya), serta tetua adat, ANDA kalian  adalah bagaikan “lika telo” (tiga tungku batu) bagi sebuah “kluba” (kendi untuk menanak nasi sampai matang). “Kluba” yang berisi beras dan air, akan menghasilkan masakan yang matang bahkan enak dan tidak mentah kalau “lika telo” berada pada posisinya yang tepat dan saling menyandang. “Kluba” yang longjong bentuk dasarnya, tidak bertahan di atas satu batu. Ia juga tidak cukup dengan dua batu. Ia butuh tiga batu untuk bertahan diatasnya. Maka semangat tiga tungku adalah juga satu semboyan tipe kepemimpinan di desa kita.  
Ingat; jangan bangunkan keseragamaan tapi hidupkanlah kesatuan yang lahir dari perghargaan atas perbedaan.
          

3. Pelayanan pastoral

Membaca tulisan di Blog Atamaran yang diberi judul: “Maju terus, kita bela Romo-Romo MSF di Paroki Lewolaga, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur ”, saya kuatir bahwa cita-cita kita untuk mempertahankan sistem “tiga tungku” seperti yang saya gambarkan di atas akan dihancurkan. Niat luhur untuk menghargai karya pastoral Romo-Romo MSF memang patut kita dukung. Tetapi niat ini tidak boleh ditunggang oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang membuat kita menjadi tidak obeyektif dalam menilai persoalan. Teriakan umat yang kritis terhadap karya pastoral Romo-Romo MSF kini sudah menjadi rahasia umum, bukan hanya di stasi kita Eputobi, tetapi hampir di seluruh wilayah paroki kita. Teriakan ini harus didengar dan disikapi secara jujur.

Terbit: 12 Maret 2008

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS