AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

OPINI-OPINI:

PRA-PERADILAN

TRAGEDI BLOU 

ADVENT

UU PORNOGRAFI...

BALAI BAHASA...

MAURICE BLONDEL

PEND. HUMANISTIK

BISNIS UBI KAYU

KEKERASAN MEDIA

LAHAN KERING...

LAUT

PEMBANGUNAN NTT

GIZI BURUK

SERBA-SERBI...

ALDIRA....

KEMBALI...

EMAS....

YANGTERSIRAT

 

ALDIRA DAN JATHROPA, RIWAYATMU KINI

Oleh: Zefirinus K Lewoema

 

Lahir di Riangbaring, Flores Timur 4 April 1975. Saat ini masih tercatat sebagai seorang PNS di Kantor Camat Wulanggitang, Flores Timur. Alumni Centre for European Studies di University of Maastricht, The Netherlands (2007). Saat ini sedang menekuni program Master dalam bidang Management of Agro-Ecology and Social Changes dengan spesialisasi Komunikasi dan Politik Pertanian di Wageningen Unversity and Research Centre, The Netherlands. 


KONON, di tanah Flobamora pernah hidup dua gadis jelita. Seorang bernama Uwe, seorang lagi sering disapa Padu. Ini nama khas mereka di kawasan ujung Nusa Bunga. Di kawasan lain pun kedua gadis itu begitu tersohor lantaran Uwe sangat sakti dalam urusan penyediaan makanan lokal. Sementara itu Padu pun tak kalah pamornya, dia begitu bersinar di malam hari sehingga kehadirannya sangat penting untuk mengusir kegelapan malam. Kedua gadis ini saling melengkapi dan memberi kesejahteraan bagi para penduduk Flobamora kala itu.

Suatu ketika, karena alasan politik dan ekonomi, kedua gadis itu terdepak dari kawasan Flobamora. Tinggalah dongeng-dongeng yang setia menghiasi kerinduan setiap insan Flobamora. Tak disangka- sangka, di tahun 2007 dan 2008, bumi Flobamora dikejutkan dengan kembalinya dua srikandi idaman itu. Untuk beberapa waktu, warga Flobamora pun bersorak gembira menyambut kedatangan kedua gadis impian itu. Sayang sekali kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Kedua gadis itu memang tambah 'cantik', namun tidak seanggun dulu lagi. Mereka sudah mengganti nama. Padu datang dengan nama bekennya : Jathropa. Sementara Uwe pun tak kalah menornya, dia memilih nama Aldira, sebuah nama yang sempat memecahkan rekor dalam sayembara "Siapa Hebat" di tanah Jawa. 

Kalau dulu mereka rela tidur di atas batu, makan jagung titi, jagung bose, re'bok, serta minum dari tetesan embun, bertegur sapa dalam bahasa Lamaholot, Sikka, Belu dan bahasa lain di seantero Flobamora, maka sekarang mereka sudah berani 'tampil beda'. Beberapa petani tua yang pernah hidup di zaman Padu dan Uwe berjaya spontan menyeletuk, "Luar biasa Si Padu dan Si Uwe. Sudah pakai nama Jathropa dan Aldira, eh, bawaannya pun tidak main main. Tangan kanan memegang juknis, tangan kiri memegang juklak. Ratusan pejabat pusat hingga daerah pun dibuat kerepotan mempersiapkan kedatangan mereka. Dengar-dengar, mereka berdua minta miliaran rupiah untuk membuat mereka "betah" di tanah asalnya". 

Aldira dan jathropa dirindukan kedatangannya, namun malah merepotkan karena sudah berubah penampilan. Harian Pos Kupang beberapa kali memuat berita gagalnya proyek jathropa di tiga kabupaten di NTT. Tidak terbilang berapa biaya yang terbuang percuma untuk proyek spektakuler ini. Sementara rumor ubi kayu aldira pun tak kalah ramainya. Konflik yang muncul akibat gagalnya proyek aldira di Manggarai Barat pun mengundang pengambil kebijakan di sana untuk segera memberikan klarifikasi. Lebih tajam lagi, Pos Kupang edisi 6 Februari 2008 memberitakan kontroversi aldira (ataupun varietas dengan nama lainnya) yang masih menjadi polemik di kawasan Lumbung Beras NTT ini. 

Mengapa berpolemik? 

Polemik adalah gejala sosial yang muncul sebagai reaksi atas satu atau beberapa kebijakan publik yang tidak memberikan kepuasan bagi masyarakat. Di ranah yang kurang lebih sama, polemik muncul karena stakeholders sebagai yang berkepentingan secara langsung dengan kebijakan-kebijakan tersebut tidak dilibatkan secara intensif dari tahap awal. Gaya kebijakan top-down semacam ini sangat lumrah selama periode 1950-1990, ketika orang masih fanatik dengan paradigma berpikir bahwa dalam siklus pembangunan adalah hal yang wajar-wajar saja jika perubahan dan inovasi dianggap sebagai sesuatu yang dapat 'direncanakan' (Havelock,1973). Menetapkan tujuan dan hasil akhir di masa mendatang secara jelas (sehubungan dengan masalah pada saat program ditetapkan) pada titik awal dianggap sangat berguna dan sangat mungkin untuk secara rasional menyusun langkah demi langkah (petunjuk pelaksanaan, juklak) secara terperinci hingga titik akhir, yakni hasil yang diharapkan (outcomes). Inilah model perencanaan berbasis proyek yang masih mengacu pada pola lama. Leeuwis (2006) menyebut pola ini sebagai 'blue print planning and problem solving'. Dengan asumsi bahwa jika orang mengikuti tiap tahapan proyek secara saksama dan rasional, maka mereka akan memperoleh hasilnya pada waktu yang direncanakan pula. 

Proyek aldira dan jathropa rupanya tidak jauh-jauh dari penerapan gaya rational decision making theory sebagaimana dicirikan di atas. Maka tidak heran, policy making yang masih mengacu pada paradigma lama akhirnya mengundang polemik. Sederhana saja alasannya, karena sudah out of date.

Memahami perilaku petani

Polemik tentu saja penting dalam kerangka kontrol sosial. Hal yang paling penting dari pengalaman ini adalah bagaimana mengambil benang merah dari polemik-plemik tersebut serta belajar dari kegagalan-kegagalan tersebut, ketimbang memajukan sejumlah mekanisme pembenaran diri. Pembenaran diri justru merupakan langkah mundur dari suatu kebijakan karena ada indikasi menutup diri dari segala peluang konfirmasi dan klarifikasi atas indikasi-indikasi pelanggaran yang terjadi. Agaknya kita perlu mencontohi orang Belanda yang selalu memegang prinsip: dalam hal apa saja jika ditemukan halangan maka tidak ada langkah mundur, yang ada hanyalah negosiasi belaka. 

Suatu ketika, penulis menanyakan alasan kegagalan proyek pengembangan jathropa curcas di NTT kepada seorang rekan yang saat ini sedang mengambil program doktoral khusus bidang jathropa curcas di universitas tempat penulis belajar. Santai saja rekan itu menjawab, "Well, itu karena belum ada pabrik pengolah sehingga masyarakat kurang antusias menanam jathropa". Penulis sejenak berpikir, sesederhana itukah persoalannya? 

Ketika aldira dan jathropa gagal di NTT, maka petani sebagai salah satu dari sekian pelaku proyek tersebut mendapat sorotan yang cukup tajam. Namun mengkambinghitamkan petani dalam kasus ini rasanya kurang santun. Rolling dan Kuiper (1994), dua profesor kawakan di Negeri Belanda dalam bidang sosiologi pertanian, mengemukakan model analisis tindakan petani. Model ini bermula dan akan bermuara pada 'understanding why farmers do what they do'. Model ini menekankan bahwa sukses atau gagalnya para petani tergantung pada keyakinan mereka akan kebenaran tindakan secara fisik dan sosial, niat untuk mencapai tujuan, percaya bahwa mereka sanggup melakukan, dan yakin bahwa mereka diperbolehkan melakukan apa yang harus dilakukan. 
Kalau begitu, ternyata gagalnya proyek bukan karena persoalan pabrik belaka, namun kondisi multidimensi yang mengelilingi petani sebagai agen terdepan. 

Ganti paradigma ganti model

Gagalnya proyek jathropa dan aldira merupakan cermin gagalnya penyesuaian diri terhadap paradigma pembangunan yang baru. Beberapa literatur international mendefinisikan paradigma sebagai dominant way of thinking in certain period of time. Secara singkat, sejauh ini telah terjadi perubahan drastis dari paradigma yang mengawali pola pembangunan top-down berkiblat modernisasi menjadi pola pembangunan bergaya bottom up (dependency). Akhirnya kedua pola ini dimodifikasi menjadi pola interactive dengan gaya multiplication yang tidak hanya mementingkan produksi dan konsumsi dalam terminologi ekonomi, namun juga menekankan filosofi dari tindakan manusia serta representasi dari stakeholders yang ada. Dari kacamata interactive communication, gagalnya proyek aldira dan jatropa bisa jadi karena beberapa hal :
1. Karena kecendrungan merumuskan tujuan proyek berdasarkan persepsi-persepsi yang hanya relevan dengan 'kekinian' proyek saat itu. 
2. Kurang antisipasi terhadap kemungkinan dan kondisi kurang kondusif yang dipengaruhi oleh faktor luar.
3. Terlalu mengacu kepada mekanisme logis dan menekankan komunikasi satu arah.

Pola komunikasi interaktif sebagai pola terbaru dalam komunikasi pertanian mengacu pada argumen bahwa pendekatan proses managemen perubahan dan inovasi perlu diasosiasikan sebagai proses interaktif dan partisipatif sebagai model intervensi komunikasi. Peranan komunikasi tidak sekadar menjual atau mengimplementasi tujuan, kebijakan dan inovasi, tetapi diharapkan dapat menyumbang pada terciptanya tujuan kebijakan yang tepat, dengan inovasi-inovasi yang berkaitan erat dengan masyarakat sebagai stakeholders (Van Woerkum et al., 1999). 

Sehubungan dengan proyek aldira dan jathropa, pendekatan interaktif sangat penting untuk membuka akses timbal balik di antara stakeholders. Pendekatan interaktif juga terbukti mampu meningkatkan keterlibatan serta rasa memiliki dalam proyek. Jika dua hal terakhir ini benar benar dimiliki para petani dan stakeholders lainnya, bukan tidak mungkin jika aldira dan jatropa, dongeng yang tak mampu meninabobokan, berubah menjadi kisah yang tidak sekadar 'mampu mengantar tidur', namun juga mengandung nilai-nilai heroik. *

 

(Opini Pos Kupang, 28 Februari 2008)

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS