AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

QUO VADIS?

PERMOHONAN

PANITIA

KEPUTUSAN

PELINDUNG

   

MENGENAL SANTU PIUS X - PELINDUNG SDK EPUTOBI

Catatan Pendahuluan:

Pada bulan Agustus 2008, SDK St. Pius X di Eputobi-Lewoingu, Kab. Flores Timur - NTT - Indonesia merayakan yubileum 50 tahun kelahirannya. Dari rentang usianya yang ke-50 ini SDK San Pius X telah melahirkan dan berhasil mendidik putra-putri Lewoingu untuk menjadi manusia intelektual, manusia beradab dan berbudaya, dan yang mengabdi dalam pelbagai bidang kehidupan, entah di desa Lewoingu sendiri maupun di luar Desa Lewoingu, bahkan sampai seantero dunia.
Dalam rangka perayaan yubileum emas keberadaan SDK St. Pius X di Eputobi ini, saya memperkenalkan profil dan riwayat hidup Santu Pius X yang telah dijadikan pelindung sekolah ini.

Si Bepi Kecil

Santu Pius X, yang bernama asli Giuseppe Melchiorre Sarto, di lahirkan di Raise, Venetto -Italia-Utara pada tanggal 2 Juli 1835. Bepi, demikian di sapa kaum familinya, lahir dari pasangan Giovanni Battista Sarto (Yohanes Pembabtis Sarto) dan Margherita Sanson. Ia adalah anak kedua dari 10 bersaudara. Sejak kecil, Bepi sudah terbiasa membantu pekerjaan ayahnya, yang adalah seorang tukang sortir, penjaga gedung pemerintahan (satpam). Ia membantu ayahnya membersihkan aula, merapihkan ruang kantor atau membawa pesan kepada orang tertentu. Bepi kecil terkenal sebagai seorang yang kuat, berani, sederhana, baik hati. Semenjak kecil ia sudah dibekali sang ibu dengan iman Katolik untuk mengenal gereja sebagai rumah Allah dan menyadari rumah mereka sebagai gereja manusia. Ia suka akan sekolah, senang belajar, cepat memahami ajaran para gurunya. Di sekolah ia selalu mendapat juara dalam kelasnya. Dia disenangi oleh teman-temannya karena suka menolong, selalu terbuka kepada semua orang. Ia selalu berusaha untuk menggembirakan teman-temannya. Keberaniannya menjadikan ia sering ditunjuk sebagai pemimpin oleh teman sepermainannya. Ketika berumur 11 tahun Bepi menerima komuni pertama.

Kecintaan akan sekolah

Iman yang ditanamakan kedua orangtuanya menjadikan si Bepi kecil tertarik akan kehidupan religius. Karena itu ia meminta restu orang tuanya untuk melanjutkan studinya sebagai seorang imam. Mulanya, sang ayah, Yohanes Sarto berkeberatan dengan pilihan Bepi, karena ternyata sang ayah secara diam-diam telah merencanakan Bepi untuk mewarisi perkerjaannya. Apalagi Bepi dari kecil sudah membantu pekerjaannya, lagi pula kakak lelaki Bepi telah meninggal. Di tengah situasi yang demikian, kehadiran dan kelembutan seorang ibu adalah rahmat tersendiri. Sang ibu sanggup meyakinkan ayah Bepi untuk merestui niat luhur anak mereka. Dengan bantuan pastor parokinya, Romo Tito Fusarini, Bepi akhirnya memulai studinya di Seminari kecil di Castelfranco, yang berjarak 7 km dari kampungnya. Tapi kecintaannya yang luhur untuk menjadi imam membuat Bepi tidak pernah mengeluh capek berjalan kaki pergi - pulang ke sekolah sejauh 7 km.

Sebagai satu cara penghematan sewaktu berjalan ke sekolah, Bepi tidak mengenakan sepatu. Dia menggantungkan sepatunya di bahunya. Makanan sehari-harinya adalah roti, keju dan kentang, yang di siapkan ibunya. Sepulang dari sekolah ( yang biasanya malam hari), Bepi tidak mengenal istirahat, ia langsung melanjutkan pelajaran Bahasa Latin. Tiga tahun pendidikannya di seminari kecil dilewatinya dengan hasil yang sangat luar biasa. Dalam ujian tahun terakhir di seminari, Bepi adalah murid terbaik, lulusan terbaik, dari 43 calon untuk seminari diosesan di Treviso. Ia kemudian melanjutkan studi filasafat, teologi dan humaniora di Seminari diosesan di Treviso.

Perjalanan studi Bepi untuk menjadi imam, bukanlah tanpa persolan. Ia berasal dari keluarga sederhana. Penghasilan orang tua yang sebulan 15 lire (mata uang Italia tempo dulu) dengan 10 orang anak dalam keluarga, bukanlah perkara gampang bagi keluarga Bepi. Apalagi membiaya Bepi di seminari. Kegelisahan keluarga akan nasib studi di seminari ini, ternyata menjadi kegelisahan sang pastor paroki yang mendukung perjalanan panggilan Bepi. Romo Tito lalu mencari bantuan beasiswa pada seminari di Padua. Bepi akhirnya dipindakan dari seminari diosesan di Treviso ke seminari di Padua dengan bantuan beasiswa dari seminari Padua. Dalam surat jawaban untuk ke seminari di Padua, pemimpin seminari menulis kata-kata berikut untuk Bepi; "Dalam keadaan berlutut, Bepi, bersyukurlan kepada Tuhan atas rencanaNya terhadap dirimu. Engkau akan segera mengikuti pendidikan di Seminari Padua, engkau juga, seperti saya akan menjadi seorang imam".

Sebulan kemudian Bepi di kenakan pakaian calon imam (jubah). Sejak saat itu saudara-saudarinya tidak lagi menyapa Bepi dengan sapaan "tu" (engkau) tetapi sebagai "voi" (bentuk forma "anda"), sebagai tanda penghormatan dan penghargaan status barunya sebagai calon imam.

Calon Imam di Seminari Padua

Seminari Padua, tempat di mana Bepi menjalankan pendidikan calon imam didirikan oleh Kardinal Gregorio Babarigo, yang kemuadian menjadi Paus Gregorius. Ketika masuk di Seminari Padua, Bepi langsung merasa "at home" (betah). Ini adalah awal yang baik baginya untuk berkonsentrasi pada studinya yang semakin banyak dan bervariasi. Di sini ia dididik untuk membentuk watak, kepribadian, iman dan cinta akan panggilannya. Kemampuan intelektualnya yang bagus diperlihatkannya di seminari ini. Ia menjadi begitu pandai dan cepat menangakap les-les yang sukar seperti bahasa Latin dan Yunani. Ia tahu baik tentang kesusatraan Italia. Kemampuan daya nalarnya yang tinggi menjadikan ia, seorang murid terbaik dalam bidang filsafat. Pada liburan musim panas tahun pertamanya di seminari, ia kembali ke kampung halamnanya untuk mengunjungi keluarga dan sanak saudaranya. Di tengah keluarganya ia menunjukkan sikap dan perilaku sebagai seorang calon imam yang baik hati dan juga kepada semua warga kampung. Mereka sangat mencintai dia. Ketika liburan musim panas yang kedua, ia tidak lagi melihat ayahnya, Giovanni Battista, yang meninggal tanggal 4 Juni 1852.

Tahun 1854 Giuseppe memulai tahun keempat studi teologinya di Padua. Sebagai seorang student teologi, ia membaca banyak informasi tentang Bapak-Bapak Gereja, mendalami Thomas Aquinas. Di bidang musik ia belajar lagu-lagu gregorian, yang kemudian pada masa pontifikalnya sebagai Paus, ia menghidupkan lagu-lagu Gregorian sebagai lagu gereja. Ia bahkan di pilih menjadi konduktor atau dirigen koor di seminari.

Pada tangal 19 September 1857 Giuseppe di tahbiskan menjadi sub-diakon dan menjalankan pastoral diakonant di parokinya sendiri, Treviso. Setahun kemudian, 27 Pebruari 1858 dia ditahbiskan menjadi diakon. Tanggal 18 September 1858, pada umur 24 tahun, dengan dispensasi dari bapak paus, ia di tahbiskan menjadi imam di gereja Castel Franco. Hari berikutnya, 19 September 1858, ia mempersembahkan ekaristi perdananya di kampung halamannya, Riese.

Kapelan di Tombolo

Satu bulan setelah dithabiskan sebagai imam, pastor Bepi di beri tugas menjadi kapelan (pastor pembantu) di Tombolo, di sekitar pegunungan Alpen bersama Romo Antonio Costantini. Di tempat ini sang imam muda Giuseppe dengan senang hati dan penuh dedikasi melayani kaum miskin di daerah pegunungan. Ia mudah bergaul dan cepat akrab dengan umat yang sederhana. Ia mengajarkan katekese. Ia meneguhkan iman umat akan Kristus dalam kotbah-kotbahnya, dalam percakapan-percakapan pribadi dengan mereka. Dia membantu di sekolah dasar sebagai guru. Ia bermain bersama anak-anak. Kebaikannya membuat banyak orang miskin datang kepadanya. Ia memberikan kepada mereka apa yang ia miliki. Kalau dia tidak memiliki uang, ia memberi makanan atau pakainnya kepada orang miskin.

Pengalaman hidupnya di paroki pegunungan ini menyadarkan dia bahwa, memahami kehendak Allah berarti hidup bukan untuk diri sendiri tetapi hidup bagi orang lain. Menjadi imam berarti menjadi milik semua orang. Di tengah kesibukkannya sebagai imam muda, semangat doa dan studinya tidak hilang. Doa brevir harian tetap di jalankannya. Ia mendalami teologi, ajaran bapak-bapak gereja dan studi Hukum Gereja. Kepribadiannya yang menarik, lahir juga dari pengakuan pastor parokinya, Romo Costantini. Dalam salah satu kesempatan pastor paroki menulis sebagai berikut; Mereka mengirim saya seorang pembantu, pastor muda yang langsung mengambil tugas dan tanggung-jawab seorang pastor paroki; Dia seorang yang giat, tekun dan bersemangat, penuh kebaikan pada setiap orang, saya mengakui bahwa saya dapat belajar banyak dari dia. Kebanggaan sang pastor paroki akan imam muda Giuseppe bermuara pada di berinya banyak kesempatan kepada Giuseppe muda untuk juga berkotbah di tempat -tempat lain seperti Katedral Trevizo dan paroki Salzano. Rupanya ini adalah salah satu bentuk promosi pastor parok bagi imam mudanya.

Pastor Paroki Salzano

Sembilan tahun sebagai kapelan di Tombolo, Giuseppe di angkat sebagai pastor paroki di Salzano, dengan jumlah umat sekitar 2000. Sebagai pastor paroki ia semakin memperoleh tanggung-jawab berat dan menuntut satu kerja keras. Di tempat ini pun ia mengabdi selama 9 tahun, sebelum diangkat menjadi dewan keuskupan di Treviso. Seiring tingkatan jabatan yang semakin tinggi, beban tanggun-jawab semakin berat; tanggung-jawab pastoral, pengemban doktrin gereja diantara tantangan anti kekristenan dan perkembangan teori ilmu pengetahuan. Ia juga mempelajari dokumen-dokumen penting gereja dan mengaplikasikannya dalam pastoral praktis. Diantara pelbagai kesibukannya ini, rasa humornya tetap menjadi sajian kegembiraan diantara para seminaris, para guru di seminari dan pegawai di kantornya.

Uskup Mantua

Setelah mengabdi selama 9 tahun di keuskupan Treviso, Giuseppe Sarto kemudian terpilih menjadi Uskup Manta pada bulan September 1884. Kerendahan hatinya tampak ketika menerima berita pengangkatannya sebagai uskup. Ia merasa bahwa tugas ini terlalu berat untuk dia. Dia menulis surat kepada Paus Leo XIII mengungkapkan keberatannya. Tetapi Bapa suci menulis; Jika umat Mantua tidak mencitai sang gembala baru, mereka tidak sanggup mencintai siapapun, karena monsiyur Sarto adalah seorang uskup yang penuh cinta".

Uskup Sarto akhirnya menerima tugas kegembalaannya sebagai seorang uskup. Ia mengembangkan pastoral, katekese, pendalaman iman, menyelengarakan sinode keuskupan. Keramahannya tetap dia tunjukkan kepada setiap orang yang bertamu kepadanya. Suatu hari, di pagi-pagi buta, dia didatangi seorang lelaki tua dari Milan yang hendak mengadakan penelitian tentang Manta. Sang uskup Sarto menerima tamunya, merayakan ekaristi bersama, dan kemudian dia sendiri menuju dapur menyiapkan kopi pagi untuk tamunya. Sebagai uskup, ia tetap mendukung pembinaan calon imam di seminari keuskupannya. Sesekali ia memberikan les kepada para siswa seminari, mengajak mereka berdiskusi. Di Mantua dia menghadapi problem imigrasi dari luar Mantua dengan sabar hati. Ia berusaha memahami kondisi kaum imigran dan tetap mencintai mereka sebagai sesama manusia.

Kardinal Patriarka Venezia

Rupanya angka 9 adalah angka keramat bagi Paus Pius X. Setiap tugasnya di jalankan selama 9 tahun. Kali ini juga setelah 9 tahun menjad uskup Mantua, dia di pilih oleh Paus Leo XIII menjadi patriarka Venezia pada bulan Juni 1893. Sebelum Uskup Sarto di karuniai gelar patriarka, dia di "baptis" menjadi kardinal. Ketika menjadi partiarka Venezia, ketegangan antara gereja dan negara sangat terasa, termasuk di Venezia. Kardinal Sarto menyadari gejolak disharmoni relasi antara negara dan gereja. Ada gerakan anti klerikal (imam dan biarawan-biarawati dalam gereja Katolik). Sebagai Kardinal di wilayah ini, ia coba membangun satu relasi harmonis, membangun iman kaum Katolik di tengah tantangan sosialisme dan liberalisme Italia. Tetapi kepribadiannya yang baik dan dikenal masyarakat luas membuat dia secara sangat mudah melakukan pendekatan personal dengan para pemimpin pmerintahan di Venezia. Ia mengembangkan aktivitas sosial corak kristiani, memperdalam iman umat dalam liturgi dan perayaan sakramen, mengembangkan devosi dan pendalaman Kitab Suci. Dalam setahun, yakni tahun 1895, nampak bahwa kota Venezia memperlihatkan corak kekristenan dalam aspek kehidupan publik. 26 Juli 1903 Kardinal Sarto meninggalkan Venezia setelah mengabdi 9 tahun, untuk mengikuti konklaf (pemilihan paus yang baru) untuk menggantikan Paus Leo XIII.

Konklaf

Meskipun kardinal Serto hidup dan berkarya di luar tembok Vatikan, namanya sudah di sebut-sebut sebagai salah seorang kandidat penganti Paus Leo XIII. Bahkan namanya cukup termasyur seperti kandidat lainnya, kardinal Mariano Rampolla, yang waktu itu menjabat sebagai sekretaris Paus Leo XIII. Konklaf atau upacara pemilihan paus dibuka pada tanggal 31 July 1903. Dalam perjalanan dari tempat penginapannya di "Collegio Lombard" ke Vatikan untuk konklaf, teringatlah ia kata-kata seorang bruder awam Jesuit, bernama Tacchini, yang pernah mengatakan kalimat ini kepadanya di Mantua, "Engkau sudah menjadi seorang kardinal, kemudia patriarka Venezia, kemudian Paus". Acara konklaf di mulai pada malam hari, 31 Juli 1903.

Dalam acara pemilihan pertama, Kardinal Rampolla memperoleh 24 suara, Kardinal Gotti memperoleh 17 suara, dan kardinal Sarto hanya mendapat 5 suara, dan 16 suara dinyatakan abstain. Pada tahap pemilihan yang berikutnya Rampolla memperoleh 29 suara, Gotti memperoleh 16 suara, Sarto memperoleh 10 suara dan 7 suara abstain. Pasa hari kedua pemilihan, Rampolla memperoleh 30 suara, Gotti memperoleh 9 suara dan Sarto memperoleh 24 suara. Melihat perolehan suaranya yang semakin melonjak, Kardinal Sorte meminta para kardinal untuk tidak memilihnya, karena ia merasa tidak memiliki potensi sebagai seorang paus. Pada hari ketiga proses pemilihan, Kardinal Sorte sudah menempati posisi pertama dengan 27 suara dan berhasil menggeser Rampolla pada posisi kedua dengan 24 suara, Gotti ; 6 suara dan abstain 5 suara. Sidang dewan konklaf lalu meminta pernyataan dari Kardinal Sorte atas hasil pemilihan ini. Ketika utusan mencari dia untuk memeintakan pendapatnya, Kardinal Sarto di temukan dalam Kapela sedang berdoa sambil meneteskan air mata. Dia sungguh seperti Yesus dalam kelam malam Getsemani bergulat antara menerima kehendak Allah atau tidak. Kepada utusan yang datang menemuinya di kapela, sambil meneteskan air mata, ia menolak untuk dipilih menjadi paus. Kendati Kardinal Sarto menolak menjadi calon Paus, dalam upacara pemilihan hari keempat, ia memperoleh 35 suara, sementara Rampolla ; 16 suara dan Gotti; 7 suara. Pada hari kelima pemungutas suara, Kardinal Sarto memperoleh 50 suara, dan dengan perolehan suara ini dia dinyatakan terpilih sebagai paus. Menyadari bahwa ia terplih dalam konklaf ini, Kardinal Sarto pun berujar, " Saya menerima ini sebagai sebuah salib".

Paus Pius X

Sebagai paus, ia memilih nama Pius X. Kardinal Macchi lalu mengumumkan dari balkon basilica St. Petrus di Roma kepada kerumunan umat di "Piazza San Pietro" (lapangan basilica St. Petrus), " Habemus Pontificem/papam" (Kita sudah memiliki paus). Mendengar itu bersorak riang umat diriringi dentangan lonceng-lonceng gereja di Kota Roma. Beberapa menit setelah pengunguman ini, sang paus baru, Pius X memberikan berkat perdananya, tetapi bukan dari balkon Basilica St. Petrus, melainkan dari dalam gereja dengan maksud bahwa ketidaksetujuan dengan Kerajaan Italia akan dilanjutkan selama persolan Roma belum diselesaikan. Sebagai Paus ia memilih motto; "Instaurare Omnia in Cristo" (Untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus, Efesus 1: 10)

Pada tanggal 4 Oktober 1903 Paus Pius X mengeluarkan ensiklik pertamanya berjudul, " E supremi apostolatus" (Kerasulan Tertinggi). Pada tanggal 2 Pebruari 1904 ia memaklumkan ensikliknya yang kedua yang di abdikan dalam sebuah dogma tentang Keperawanan Maria. Tanggal 15 April 1905 ia mengeluarkan satu ensiklik lain tentang katekese.

Setelah menjadi pemimpin umat Katolik Roma sedunia selama 12 tahun, Paus Pius X akhirnya menghembuskan napas terakhirnnya di Roma pada tanggal 20 Agustus 1914.
@@@@@@

Roma, 4 Maret 2008
P. Bernard Hayon, SVD

Catatan:
Di sari dari Pius X : A Country Priest, terj. Thomas J. Tobin dari judul asli, Pio X, Un Prete di Campagna, oleh Igino Giordani. Penerbit, The Bruce Publishing Company, Milwaukee, America, 1954.

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS