AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

CATATAN KRITIS UNTUK NUKILAN SEJARAH LEWOINGU

Terbit: 5 Juni 2007
Oleh: Rafael Raga Maran, M. Hum, Drs.

Mulanya hanya desas-desus yang merambat dari kuping ke kuping. Akhirnya kini muncul jua. Itulah artikel SEJARAH DESA LEWOINGU KAMPUNG EPUTOBI. Hebatnya, ia langsung nongol di dunia maya, internet, hasil karya bangsa-bangsa berperadaban super. Canggihnya, ia tampil di situs khusus, eputobi.net. Kampung kita kini menjadi bagian tak terpisahkan dari gegap gempita revolusi digital, yang sedang melanda dunia. Jelas, itu suatu lompatan besar.

Tapi, terus terang, apa yang kubaca dalam nukilan sejarah di eputobi.net itu membuat aku geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak? Selain terdapat kekurangtelitian, misalnya dalam pertimbangan etimologis tentang kata lewoingu, di dalam nukilan sejarah itu pun terdapat pula ceritera-ceritera yang, menurut saya, patut didekati ulang secara kritis-rasional. Ceritera-ceritera itu tidak memiliki akar-akar historis, yang kuat. Ini nampak dalam ceritera tentang adegan-adegan awal dalam pembentukan kultur Lewoingu.

Kalau sekarang anda melihat catatanku ini pun ikut berkelana melalui eputobi.net, itu lantaran adanya panggilan serentak tanggung jawab historisku sebagai anak Lewoingu' untuk mengajak kita melihat sejarah kita secara lebih utuh. Untuk itu kita pun perlu terbuka terhadap berbagai tradisi lisan yang bertutur tentang sejarah Lewoingu. Ceritera-ceritera tentang adegan-adegan penting pada masa silam itu perlu kita dekati secara kritis rasional. Sehingga kita pun dapat menemukan keutamaan-keutamaan atau kearifan-kearifan yang menjadi prinsip hidup para nenek moyang kita. Menggali dan menghidupkan kembali keutamaan-keutamaan, kearifan-kearifan Lewoingu tempo doeloe, sebenarnya tidak sukar. Sebab, memori kita, pada dasarnya, masih menyimpan, dengan cukup baik, kisah-kisah seputar masa awal pembentukan suatu kultur bernama Lewoingu itu. Bahkan, dalam memori kolektif kita pun masih terekam dengan jelas tokoh-tokoh penentu sejarah kebudayaan Lewoingu. Pilihan-pilihan tindakan mereka di masa silam telah membentuk adegan-adegan penting, penuh makna, dalam tahap awal sejarah Lewoingu. Kisah-kisah dramatis, yang mereka rancang di masa silam itu perlu kita dekati secara rasional.

Catatan ini dibuat untuk memberi masukan kepada para peminat sejarah Lewoingu, terutama kepada pihak-pihak yang berusaha membukukannya. Sehingga karya yang mereka hasilkan dapat menjadi modal pencerahan bagi generasi muda Lewoingu sekarang dan di masa-masa depan. Catatan ini merupakan awal dari suatu upaya yang selama ini kami lakukan, yaitu usaha untuk membuka dimensi pemahaman baru yang lebih canggih tentang nilai-nilai khas Lewoingu. Nilai-nilai itulah yang selama ini menjadi fundasi kultural-spiritual bagi para nenek moyang kita.

Namun menanggapi seluruh bentangan sejarah seperti terpampang dalam eputobi.net bukanlah maksud catatan ini. Di sini, saya membatasi diri untuk memberikan respons kritis-rasional, pertama, terhadap pertimbangan etimologis kata Lewoingu, dan beberapa kata lainnya; kedua, terhadap ceritera-ceritera tertentu, yang bagi saya, lebih bersifat dongeng ketimbang historis; dan ketiga, terhadap penyebutan nama-nama tertentu, yang menurut saya keliru. Fokus catatan ini adalah pada adegan-adegan awal, ketika kebudayaan Lewoingu mulai ditempa.

Pertimbangan Etimologis yang Keliru

Menarik bahwa nukilan "sejarah lewoingu kampung eputobi" itu dibuka dengan kata Lewoingu. Tetapi dalam pertimbangan etimologis yang tersaji di situ terdapat kesalahan-kesalahan serius. Bahwa kata Lewoingu berasal dari dua akar kata, yaitu lewo dan ingu, itu sudah jelas. Dan bahwa kata lewo berarti kampung, itu pun sangat jelas. Tapi dugaan pertama bahwa kata ingu berasal dari kata inja dalam bahasa Jawa, itu merupakan suatu keanehan. Sungguh! Apalagi dikatakan pula bahwa kata inja berarti inang. Mana ada kata inja dalam bahasa Jawa? Bahasa Jawa tidak memiliki kata inja.

Dalam bahasa Jawa, terdapat kata ingu yang berarti pelihara. Dari kata ingu, tebentuk kata kerja pasif diingu, artinya dipelihara, dirawat. Kata kerja aktifnya ngingu, artinya memelihara. Kalau diucapkan secara lisan, terdengar tekanan pada huruf u, yang kalau diterjemahkan dalam bentuk tulisan, maka nampak seperti ini: ingu'.

Jika anda setuju bahwa kata ingu berasal dari bahasa Jawa, maka kata lewoingu merupakan gabungan dari kata lewo (kampung) dari bahasa Lamaholot dan kata ingu (pelihara) dari bahasa Jawa. Jika pertimbangan etimologis ini diterima, maka kata lewoingu dapat didefinisikan sebagai kampung di mana setiap warganya dipelihara, dirawat, dididik, dibentuk menjadi orang-orang yang baik. Atau, secara aktif, lewoingu adalah kampung yang memelihara, merawat, mendidik, membentuk setiap warganya menjadi orang-orang yang baik.

Yang menjadi pertanyaan bagi kita ialah: Mengapa untuk memberi nama suatu kampung, di daerah Flores Timur, diperlukan kata-kata dari dua bahasa yang berbeda? Sang penempa istilah lewoingu rupanya sangat menguasai kosa kata bahasa Jawa. Kalau dia bukan seorang yang berasal dari suku Jawa, paling kurang dia adalah pengguna aktif bahasa Jawa. Setelah berulangkali berinteraksi dengan orang-orang Lamaholot, dia pun tentu bisa berbahasa Lamaholot. Jelas bahwa dia itu tahu arti kata lewo. Tapi lewo apa? Itu yang jadi persoalan bagi dia. Tentu saja dia ingin memberikan nama yang khas bagi lewo yang mau dibangun. Ini wajar mengingat lewo yang ingin dibangun itu tidak sama dengan lewo-lewo yang ada pada waktu itu. Karena dia tidak menemukan nama yang khas dalam bahasa Lamaholot, maka dia menggunakan istilah ingu dari bahasa Jawa untuk menjadi nama lewo, yang waktu itu masih baru. Jadilah Lewoingu, suatu nama yang hingga kini kita gunakan.

Pilihan kata ingu, sebagai nama lewo, bukan pilihan sembarangan. Orang yang memilih nama itu pun bukan orang sembarangan. Pilihan nama itu dibuat dengan sadar dan sengaja, berdasarkan latarbelakang dan konteks historis pada masa itu. Penempaan nama Lewoingu itu berkaitan erat dengan kenyataan konflik serta perang yang berkobar pada masa itu, entah konflik antar-suku, entah perang kubu Demong melawan kubu Paji, yang dimenangkan oleh kubu Demong. Meskipun tampil sebagai pemenang, pihak Demong mengalami sendiri bahwa perang melawan Paji itu merupakan suatu pengalaman yang mengerikan serentak menakutkan. Pengalaman mengerikan itu menyadarkan kelompok-kelompok, yang sebelumnya tinggal terpisah satu dari yang lain itu, untuk membangun suatu tatanan sosial budaya bersama. Tapi upaya ke sana tetap membutuhkan waktu untuk berpores hingga menemukan bentuknya yang khas. Di balik keberhasilan perang melawan Paji, dan di balik keberhasilan pembentukan tatanan sosial budaya bersama, yang bernama Lewoingu itu, senantiasa diandaikan adanya sang tokoh, sang pemimpin. Dan dalam memori historis kita, masih segar tersimpan nama sang tokoh itu, sang pemimpin perang, sang pemimpin pembangunan tatanan sosial budaya Lewoingu. Dia adalah Gresituli. Tak ada satu pun tradisi lisan yang, secara jujur, berkisah tentang adegan-adegan historis itu, yang tidak mengacu pada nama Gresituli.

Okey. Jika pertimbangan etimologis untuk kata lewoingu di atas dapat diterima, maka kemungkinan kedua tentang asal usul kata ingu, dalam nukilan sejarah Lewoingu, seperti terpampang pada eputobi.net itu tidak diperlukan. Patut diperhatikan, bahwa kata ingu tidak bisa dikait dengan inyu atau inyo, apalagi dihubung-hubungkan pula dengan kata ninyo dalam bahasa Portugis dan Spanyol. Saya tidak tahu dari mana kata ninyo itu dipungut. Setahu saya, tidak ada kata ninyo dalam bahasa Spanyol. Tetapi ada kata nin (artinya: anak, anak laki-laki kecil) dalam bahasa Spanyol. Dan saya tidak melihat adanya hubungan etimologis antara kata ingu dan kata nin . Sementara dalam bahasa Portugis, ada kata filho, yang berarti anak laki-laki. Jadi kata ingu itu tidak dapat dikaitkan pula dengan bahasa Portugis. Betul, ada beberapa orang Portugis pernah mampir dan tinggal beberapa lama di kampung kita tempo doeloe. Itu terjadi pada tahun 1696. Tetapi perlu diperhatikan, bahwa nama Lewoingu dibentuk jauh sebelum kedatangan mereka.

Selain itu, coba perhatikan kata Dung Bata dan Dung Tanah. Dari mana kata-kata itu berasal? Dalam nukilan sejarah Lewoingu di eputobi.net, Dung Bata dipadankan dengan Tung Bata, dan Dung Tanah dipadankan dengan Tung Tanah. Tanpa disadari, dengan cara demikian penulis sejarah Lewoingu itu mengajak kita menyimpang jauh dari arti sebenarnya kata-kata itu. Kata dung dan tung tak ada hubungannya sama sekali. Kata dung tidak dikenal dalam bahasa Lamholot tempo doeloe. Kata dung pun tidak dikenal dalam bahasa Jawa.

Yang ada dalam bahasa Jawa adalah kata dum yang berarti bagi rata. Dari kata dum terbentuk kata ngedum, artinya membagi rata (membagi secara adil), dan kata ngedumi, artinya memberi bagian. Dalam penggunaan sehari-hari, terjadi perubahan bunyi dari dum menjadi dung. Ini hal yang lazim dalam masyarakat kita. Coba perhatikan kata Adam sebagai nama orang. Apakah anda selalu mengucapkan kata adam, dengan bunyi suara persis bunyi suara ketika kita mengucapkan huruf-huruf yang membentuk kata itu. Bukankah huruf m pada kata Adam pun seringkali diucapkan dengan suara sengau? Dalam kehidupan sehari-hari, anda pun sering membunyikan kata Adam dengan Adang. Misalnya, Adang sega kae' le wati'? (Adam sudah datang atau belum?).

Kalau dum berarti bagi rata, (maksudnya membagi sesuatu secara adil), yang jadi pertanyaan bagi kita ialah apa yang mau dibagi secara adil itu? Jawabannya adalah Tana dan Bata. Jelas bahwa kata tana dalam bahasa Lamaholot itu sama artinya dengan kata tanah dalam bahasa Jawa. Tetapi tana yang terdapat dalam kata Dumtana, yang kemudian menjadi dungtana itu pun mengandung arti simbolik, yaitu sumber rejeki bagi kelangsungan hidup sehari-hari. Tanpa tana, tak ada rejeki. Tana melambangkan rejeki. Jadi term Dung Tanah (seharusnya: Dumtana) berarti pembagian rejeki sehari-hari secara adil. Bagi siapa? Ya, bagi setiap warga yang membentuk kehidupan bersama di Dumtana.

Lantas apa yang mau dibagi secara adil di Dung Bata (seharusnya Dumbata)? Yang mau dibagi secara adil adalah Bata. Kata bata, dalam bahasa Jawa, mengacu pada bahan bangunan yang terbuat dari tanah liat yang dibentuk persegi panjang dan dibakar sampai menjadi merah. Mengapa bata? Anda perlu tahu, bahwa bata adalah barang, bahan yang sejak masa kuno sudah dipakai untuk membangun rumah tinggal dan bangunan lainnya antara lain di Jawa. Tetapi yang dimaksud tentu bukan bata dalam artian fisik semacam itu. Yang dimaksud di sini adalah kata bata dalam artian simbolik, yaitu rumah. Rumah adalah tempat, lingkungan di mana seorang anak manusia pertama kali dibentuk, kemudian dihidupi, ditumbuh-kembangkan hingga menjadi dewasa, masing-masing dengan kepribadian yang khas. Tanpa rumah, anda tidak dapat menjadi manusia yang manusiawi. Tanpa rumah anda akan menjadi orang yang luntang-lantung tak karuan. Di suatu rumah, orang-orang membangun kehidupan bersama secara nyata.

Mengapa kepada yang satu dibagi Tana, dan kepada yang satu lagi dibagi Bata? Apakah ada hubungan antara Tana dan Bata? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu menengok situasi sehari-hari di masing-masing bagian kampung itu, yaitu di Dumtana dan di Dumbata. Di Dumtana kehidupan sehari-hari berlangsung lebih damai, lebih tenang ketimbang keadaan sehari-hari di Dumbata. Komunitas Dumtana hidup sebagai suatu keluarga besar dalam suasana yang lebih harmonis ketimbang di Dumbata. Di situ persatuan antar-warganya terjalin dengan baik. Dalam keadaan damai itu mereka lebih memfokuskan perhatian pada upaya mencari rejeki sehari-hari, dengan menggarap tanah, dengan mengiris tuak, dll. Upaya semacam itu harus dilakukan secara adil, agar harmoni sosial sehari-hari tidak terganggu. Pendek kata, rejeki yang berasal dari tanah harus dibagi secara adil. Rupanya prinsip itu, yang hingga kini menjadi pegangan masyarakat di Riang Duli (kampung Lewoleing), sehingga suasana di kampung itu pun tampak lebih harmonis ketimbang suasana kehidupan sehari-hari di Eputobi (kampung Lewowerang).

Sedangkan di Dumbata, situasi hidup sehari-hari serba "panas." Sering terjadi konflik di antara suku-suku yang tinggal di situ. Meskipun satu komunitas, para anggotanya sering bekelahi satu sama lain. Praktis tidak ada kedamaian di situ. Mereka belum mampu membangun suatu tatanan sosial budaya yang harmonis. Maklum, sebelum tinggal di Dumbata, masing-masing mereka tinggal tercerai berai di puncak-puncak bukit atau gunung di sekitar daerah kita sekarang. Sehingga egoisme dan sukuisme lebih mengemuka dalam praktek kehidupan sehari-hari mereka di Dumbata. Konflik demi konflik terjadi dari hari ke hari. Situasi ini jelas membahayakan kehidupan bersama. Sementara pedoman hidup bersama belum terbentuk secara jelas. Untuk menjamin terwujudnya suatu kehidupan bersama yang damai, yang ditandai dengan persatuan konkret di antara suku-suku itu, maka Gresituli mengutus Sani menjadi pemimpin pendamai di Dumbata. Berbekalkan Uluwai' yang diberikan Gresituli, Sani memprioritaskan proyek pembangunan "Rumah Bersama," rumah bagi satu keluarga, yaitu "Keluarga Dumbata." Suku-suku yang membentuk komunitas itu sendirilah yang harus menjadi bahan-bahan bangunan (bata-bata) utama bagi "Rumah Bersama" itu atau "Rumah Keluarga" itu. Dari situlah, kata bata kemudian mengalami pergeseran arti hingga mengacu juga pada tiang rumah. Delapan suku, menjalankan tugas yang sama, yakni menjadi delapan "tiang pokok" dari rumah yang satu dan sama, yaitu "Rumah Keluarga Dumbata." Delapan suku termaksud adalah Ata Marang, Kebele'eng Keleng, Kebele'eng Koteng, Amalubur, Lamatukang, Wungung Kweng, Lewohayong, dan Kumanireng Blikololong. Persatuan dari kedelapan suku inilah yang menjadi modal kultural utama bagi terwujudnya kehidupan yang lebih damai di Dumbata. Inilah cikal bakal perkembangan asas gotong royong dan kekeluargaan di Lewowerang.

Latarbelakang inilah yang menjelaskan mengapa ada delapan tiang untuk Koke Bale (Rumah Bersama Yang Kokoh) di Lewowerang. Pembagian tugas secara adil pun nampak jelas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Lewowerang. Tanpa persatuan yang damai itu, mustahil rejeki dari tanah Lewowerang dapat dibagi secara adil juga.

Jadi jelas bahwa Tana dan Bata itu berkaitan satu sama lain pada tataran simbolik. Pada tataran empiris, rupa Tana dan Bata berbeda. Tapi Bata itu dari Tana, dan pada saatnya nanti akan menjadi Tana kembali. Maka pada tataran simbolik, atau katakan saja pada tataran spiritual, kedua barang itu mengacu pada arti yang sama, yaitu kehidupan. Tana mengandaikan adanya rejeki. Rejeki mengandaikan adanya Tana. Keduanya sama-sama mengandaikan adanya kehidupan manusia di muka bumi ini. Dan kehidupan itu harus dipelihara, dirawat dengan baik, dalam kebersamaan yang damai dan harmonis. Rejeki menjadi urusan yang gampang untuk ditangani, bila hidup bersama yang damai dapat diwujudkan di Dumbata. Toh tanah telah tersedia di berbagai tempat.

Pada tataran spasial (ruang), terdapat dua kampung. Tetapi pada tataran simbolik, kedua kampung itu satu, yaitu Lewoingu. Jadi dengan kata Lewoingu, dikotomi antara Lewoleing dan Lewowerang pun dengan sendirinya lenyap. Dalam kata Lewoingu, dua kampung menjadi satu lewo. Maka dalam kata Lewoingu selalu terkandung tugas bersama bagi setiap warga lewo yang satu (dari dua belahan, dua belahan yang menjadi satu), yaitu TUGAS UNTUK SALING MEMELIHARA, SALING MERAWAT AGAR HIDUP KITA SEBAGAI MANUSIA di bumi ini sungguh-sungguh MEKAR BERKEMBANG SEBAGAI MANUSIA ADANYA. Agar tujuan itu tercapai, ada syarat utama yang harus dipenuhi yaitu, PERDAMAIAN yang MEMPERSATUKAN kita yang sebelumnya berasal dari suku-suku yang tinggal terpisahpisah satu dari yang lain.

Ceritera tentang Penemuan Seorang Bayi Laki-laki

Jika pertimbangan etimologis yang terpapar di atas ingin diteruskan, maka kita tidak bisa menemukan adanya kaitan antara nama Lewoingu dan penemuan seorang bayi laki-laki, konon oleh Botabewa. Istilah Tanah Beto, pertama-tama tidak mengacu pada tanah tempat Gresituli dilahirkan. Tanah Beto, adalah istilah yang mengacu pada tempat di mana pemuda Gresituli pernah bertemu dengan seseorang, atau bisa juga lebih dari satu orang. Orang-orang itu tentu sehari-hari beraktivitas di sekitar tempat pertemuan itu. Lalu pada suatu hari mereka kedatangan seseorang yang baru mereka kenal namanya di kemudian hari, yaitu Gresituli. Ingatlah baik-baik, kata beto dalam bahasa daerah kita tidak hanya berarti lahir. Kata itu pun berarti tiba, datang. Dengan demikian, mudah bagi kita untuk mengatakan bahwa pada waktu itu Gresituli tiba, atau datang di tempat yang sekarang disebut Tana Beto. Jadi jelas bahwa kita tidak dapat mengatakan: Tana Beto adalah tempat kelahiran Gresituli. Karena, kata lahir berarti ada, hadir pertama kali di muka bumi ini setelah seorang bayi keluar dari kandungan ibunya. Lebih masuk akal, bila dikatakan bahwa Gresituli lahir di negeri asalnya yang jauh sekali dari Tana Beto. Jadi Botabewa tidak pernah menemukan seorang bayi laki-laki, yang di kemudian hari dikenal dengan nama Gresituli.

Memang tidak tertutup kemungkinan bahwa orang yang dijumpai Gresituli di tempat itu adalah Botabewa dan Nuhorehing. Tetapi kemungkinan itu tidak perlu menggiring kita kepada kesimpulan bahwa Botabewa adalah orang pertama yang dijumpai Gresituli. Memperhatikan lokasi aktivitas orang-orang pada masa itu, kita bisa mengatakan bahwa sebelum mencapai Tanah Beto, Gresituli melewati terlebih dahulu tempat-tempat lain yang menunjukkan adanya permukiman dan aktivitas lain, yang terkait dengan usaha mereka untuk mencari rejeki kehidupan sehari. Misalnya, ada permukiman Paji di Lewokaha dan Lewokoli', ada pula pasar yang cukup ramai di dekat Lewokoli'. Boleh jadi, yang pertama dijumpai oleh Gresituli di daerah itu tempo dulu adalah orang-orang Paji. Ini sesuai dengan arah perjalanan Gresituli sebelum mencapai Tana Beto, yaitu dari arah Barat ke Timur, lalu ke Utara.

Seluruh isi ceritera tentang penemuan seorang bayi laki-laki itu mengisyaratkan, bahwa Tanah Beto adalah nama yang baru dikenal di kemudian hari, setelah Gresituli tampil sebagai pemimpin terkemuka, baik dalam medan perang melawan Paji, maupun dalam pembangunan tatanan sosial budaya Lewoingu. Ketika seseorang belum tampil sebagai orang yang terkenal, orang-orang biasanya tidak berkepentingan untuk mengatakan kepada pihak lain bahwa mereka mengenal dia yang terkenal itu. Omongan semacam itu biasanya muncul setelah orang termaksud menjadi terkenal, apalagi menjadi sangat terkenal.

Berdasarkan studi kami tentang sejarah Lewoingu, kami mengetahui sejarah Gresituli dengan cukup baik. Maka dengan mudah pula bagi saya untuk mengatakan di sini, bahwa ceritera tentang penemuan seorang bayi laki-laki oleh Botabewa itu tidak memiliki akar-akar historis. Ceritera itu berbau dongeng.

Kalau mengamati isi ceritera itu dengan teliti, anda bisa menemukan arah yang menarik dari ceritera itu. Mungkin hal ini tidak disadari oleh si perancang ceritera. Anda perlu tahu, bahwa arti ceritera yang berbau dongeng tidak bisa langsung kelihatan dari kata-kata yang dipakai untuk menempa suatu ceritera. Artinya harus dicari dibalik kata-kata yang diucapkan. Untuk mengetahui artinya diperlukan suatu proses hermeneutis (metode tafsir) yang canggih, bukan sembarang tafsir. Orang perlu belajar sungguh-sungguh agar sanggup menjadi ahli tafsir, yang handal. Jika isinya didengar dan disimak dengan cermat, pesan pokok ceritera itu bukan mengarah pada "penemuan dan pemeliharaan si bayi laki-laki" oleh Botabewa dan Nuhorehing. Warta yang ingin disampaikan melalui ceritera itu adalah sebagai berikut: sang tokoh, Gresituli memang orang hebat, orang besar, bahkan orang sakti pada zamannya. Tapi, bagiku, dongeng tak diperlukan untuk mengakui kebesaran sang tokoh historis.

Mana ada seorang manusia historis, yang sudah menjadi seorang pemuda, ketika berangkat dari negeri asalnya, tiba-tiba berubah menjadi seorang bayi, hanya untuk muncul dan hidup di suatu kampung, yang kemudian disebut Lewoingu'? Seandainya bayi yang dimaksud itu adalah Gresituli, mengapa ia harus memberi nama untuk dirinya sendiri. Mengapa orang yang menemukannya, yang konon merawat dan memeliharanya tidak memberinya nama, plus suku seperti yang mereka miliki? Sewaktu aku di SMA, ada seorang temanku bernama Nama Tidak. Tetapi tak ada orang tua yang tidak mau memberi nama untuk anaknya, meskipun si anak hanyalah seorang anak pungut. Dan mengapa mereka pun tidak mengurusi adat perkawinannya?

Dari ceritera di atas, kita pun bisa melihat bahwa si pendongeng tidak mengenal Gresituli. Dari sini, kita juga dengan mudah bisa menebak bahwa si penceritera rupanya tidak pernah tinggal satu rumah dengan Gresituli. Bisa saja mereka pun pernah bertemu dengan Gresituli. Tetapi pertemuan itu terjadi hanya selintas. Karena hanya selintas, mereka pun tidak saling memperkenalkan nama. Sehingga mereka yang dtemuinya pun tidak tahu siapa namanya. Demikian pula sebaliknya. Pertemuan adalah hal yang wajar dalam hubungan antar-manusia. Dan orang yang sudah dewasa seperti Gresituli, yang sudah biasa menghadapi dan mengatasi bertubi gelombang, badai tantangan, terutama dalam perjalanannya dari tanah Jawa ke arah timur, tentu tahu dan mampu mengembangkan cara hidup mandiri di daerah yang kemudian disebut Lewoingu. Ia tidak membutuhkan orang tua asuh, karena dia bukan bayi kecil. Waktu itu dia sudah menjadi pemuda yang dewasa.

Ceritera tentang 7 (Tujuh) Suku

Yang juga berbau dongeng adalah ceritera tentang 7 (tujuh) suku, yang konon lebih dulu membangun tujuh rumah masing-masing, di tempat yang sekarang disebut Dung Bata, menurut versi nukilan sejarah lewoingu di eputobi.net. Ada pun ketujuh suku itu adalah suku Koteng, Amalubur, Kumanireng Blikololong, Kumanireng Blikopukeng, Lamatukang, Sogemaking, dan Wungung Kweng. Dituturkan bahwa pembangunan rumah-rumah mereka di Dung Bata adalah untuk mengamati gerak gerik Gresituli serta isteri dan anak-anaknya. Mereka ingin tahu alasan mengapa pihak yang diamati itu memutuskan untuk tinggal di Lewowato. Diceriterakan pula bahwa setelah mengetahui bahwa dia dan keluarganya dalam pengamatan ketujuh orang itu, Gresituli dan anggota-anggota keluarganya, malah bergeser posisi makin mendekat, makin mendekat, kemudian membangun rumah di sebelah Selatan dekat Dung Bata.

Waktu membaca ceritera itu, dalam diriku timbul pertanyaan-pertanyaan berikut. Kalau ketujuh suku, yang konon bisa kompak untuk membangun lebih dulu rumah-rumah mereka di tempat yang kemudian disebut Dung Bata, untuk mengamati gerak-gerik Gresituli dan anak-anaknya, mengapa mereka kok tak bisa kompak untuk mengangkat seorang pemimpin bagi komunitas mereka yang baru itu. Mengapa yang menjadi pemimpin pendamai bagi mereka adalah Sani, anak Gresituli? Kalau suatu suku kecil saja membutuhkan seorang kepala suku, apalagi suatu grup yang anggotanya terdiri dari beberapa suku. Grup itu mestinya membutuhkan seorang pemimpin karismatis, sehingga sungguh-sungguh disegani dan dipatuhi. Bukankah pemimpin pun diperlukan untuk menjamin terlaksananya tugas bersama demi terwujudnya kebaikan bersama, kemakmuran bersama, kesejahteraan bersama? Jika komunitas 7 (tujuh) suku itu sudah lebih dulu dibangun di Dung Bata, sebelum Gresituli dan anak-anaknya membangun permukiman mereka di Dung Tanah, mestinya penugasan Sani menjadi pemimpinan di Lewowerang mendapat perlawanan sengit, kalau perlu digagalkan, karena dianggap ikut campur dalam urusan intern ketujuh suku itu. Apalagi sebelumnya, mereka mempunyai kecurigaan yang besar terhadap gerak-gerik Gresituli dan anak-anaknya. Lalu, kalau ada 7 (tujuh) suku yang lebih dulu bermukim di sana, mengapa Koke Bale Lewowerang bertiangkan 8 (delapan). Bukankah 7 (suku) + 2 suku lagi (dari Raga=Ata Marang; dan dari Boli=Kebele'eng Keleng) sama dengan 9 (sembilan) suku. Kemana tiang yang satu lagi dipasang. Apakah ada tiang yang harus dibuang? Konsep ini jelas tidak sesuai dengan prinsip persatuan penuh damai, yang melandasi pembangunan tatanan sosial kultural Lewoingu.

Dan kalau anda cermati sungguh-sungguh isi ceritera tentang 7 (tujuh) suku, dalam nukilan sejarah di eputobi.net, anda pun bisa menemukan bahwa ada di antara mereka yang tidak menjadi "tiang utama" dari Koke Lewowerang. Lalu tiba-tiba masuk pula suku Wungung Padung, sebagai penangung kap atau penutup atap Koke. Ini aneh. Itu berarti apa? Itu merupakan tanda bahwa si penceritera tidak tahu apa-apa tentang adegan di seputar pembagian tugas pembangunan Koke Bale Lewowerang.

Menarik bahwa ceritera baru muncul belakangan ini. Dalam studi yang kami lakukan selama ini, belum pernah ditemukan ceritera yang semacam itu. Rupanya, ceritera itu tentang 7 (tujuh) suku itu baru berusia "kemarin sore." Ceritera itu sengaja disusun, guna melengkapi ceritera tentang penemuan seorang bayi laki-laki itu tadi. Tetapi si penceritera yang berasal dari era Lewoingu kontemprer itu lupa bahwa isi dongengnya kali ini pun justru mengafirmasikan kehebatan sang tokoh: Gresituli. Ia terjebak pada skenario rancangannya sendiri.

Kiranya perlu anda ketahui, bahwa orang pertama yang beraktivitas di tempat yang sekarang disebut Lewookineng adalah Subang Seng. Tidak ada lagi keturunan Subang Seng yang tersisa. Asap api yang dipasang Subang Seng inilah yang, pada suatu hari, mengundang Gresituli untuk datang ke tempat, yang sekarang kita sebut Lewookineng. Setelah mengetahui bahwa tempat di sekitar situ cocok menjadi tempat permukiman, Gresituli dan anak-anaknya lalu merintis pembangunan tempat tinggal di daerah yang kemudian disebut Lewoleing. Dari situlah sejarah kebudayaan Lewoingu dengan segala kekhasannya mulai digodok secara nyata, lalu akhirnya berhasil dibangun bersama dengan tokoh-tokoh dari suku-suku, yang menginginkan persatuan, kedamaian, keamanan, kebaikan, keadilan sosial, dan kebenaran di bawah kepemimpinan Gresituli dan putera-puteranya. Yang dikembangkan oleh Gresituli dan anak-anaknya di Lewoingu adalah suatu model kepemimpinan kolektif (kepemimpinan bersama). Model kepemimpinan ini melibatkan tokoh-tokoh dari suku-suku utama, entah itu di Lewoleing, entah itu di Lewowerang. Tradisi kepemimpinan bersama itu berhasil dipertahankan selama berabad-abad. Baru belakangan ini, terdapat upaya dari "gerakan politik lokal" tertentu di Lewoingu yang ingin mengubah model kepemimpinan bersama itu.

Terbentuknya dua komunitas, yaitu Dumtana dan Dumbata, itu tak bisa ditafsirkan sebagai dua kampung yang berbeda. Pembentukan dua komunitas itu, lebih disebabkan oleh tuntutan praktis, yaitu bahwa di dalam kenyataan Lewoingu merupakan himpunan dari berbagai komunitas keluarga dengan watak kepribadian serta ulah tingkah yang berbeda-beda. Mereka itu belum pernah mengalami suatu model kehidupan bersama yang solid, yang melibatkan suku-suku lain, berdasarkan suatu norma sosial bersama. Rupanya komunitas di Dungtana (Lewoleing) lebih mampu mengembangkan suatu model hidup bersama yang cukup ideal pada masa itu, berdasarkan prinsip persatuan, kedamaian, keadilan, keamanan, dan kebenaran. Model itulah yang kiranya diupayakan untuk diterapkan pula di Lewowerang, dan ternyata berhasil, meskipun tetap saja godaan untuk kembali ke masa lalu, ke masa ketika masing-masing mereka "berjalan sendiri-sendiri."

Dumtana dan Dumbata. Memang ada dua komunitas, tetapi sebenarnya ada satu kampung, yaitu Lewoingu. Rancangan dua tapi satu, satu tapi dua itu pun sebenarnya nampak jelas, kalau anda mengamati tata ruang permukiman di Lewookineng. Di sana anda temukan dua komunitas, dua Koke. Tetapi di antara dua komunitas itu pun terdapat suatu pelataran yang cukup luas, yang dalam bahasa kita disebut Namang. Sepintas lalu pelataran itu seakan-akan memisahkan Dumbata dari Dumtana, tapi sebenarnya melambangkan persatuan juga. Karena justru di situ, anggota-anggota dari dua komunitas itu bisa saling bertemu dalam suasana penuh kegembiraan. Di pelataran itu tak pernah dibangun tembok pemisah antara Dumtana dan Dumbata.

Dua Nama yang Berbeda

Selain hal-hal di atas, terdapat pula hal lain, yang terasa sangat menganggu, waktu aku membaca nukilan sejarah Lewoingu di eputobi.net. Di situ nama Gresituli disamakan dengan nama Keropong Ema. Sejarah menunjukkan bahwa Keropong Ema adalah adik kandung dari Gresituli. Ia mati dibunuh di Hewa. Kerisnya diambil oleh pembunuhnya. Sampai sekarang barang itu masih disimpan di Hewa. Jelas, Gresituli tidak identik dengan Keropong Ema.
Lalu masih ada satu lagi. Nama isteri Gresituli, yang dari Lewokoli' itu bukan Nogodua, tetapi Nogogunung.

Catatan Penutup

Menyusun sejarah Lewoingu tempo doeloe dapat menjadi suatu pekerjaan yang sangat mengasyikkan. Dikatakan mengasyikkan, karena selalu ada tantangan bagi kita untuk membuka selubung demi selubung yang menghalangi kita untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada periode awal pembentukan sejarah kebudayaan kita. Kita pun selalu ditantang untuk menyinari kegelapan masa lalu dengan terang akal budi serta daya imajinasi kreatif. Dan kalau kita tak sabar dalam upaya itu, kita bisa tergoda untuk menempuh jalan pintas agar hasilnya cepat tersajikan ke medan publik.

Kita kerapkali ingin tergesa mencapai suatu hasil. Tapi hasil yang kita peroleh dari suatu ketergesaan dalam penyusunan sejarah adalah sejarah yang aneh. Dengan demikian, kita pun menjadi bagian dari penutur dongeng tentang masa lalu kita sendiri. Fakta dan fiksi memang bisa bercampur baur. Tetapi tidaklah etis bila, momen-momen masa silam yang masih dapat dijangkau oleh daya imajinasi kreatif kita itu dijadikan ceritera fiktif. Padahal, tidak ada yang mustahil bagi pikiran yang terbuka.

Tanggapan atas artikel ini dapat disampaikan ke:
ragamaran@yahoo.com

Atau bagi yang ingin agar tanggapannya dipublikasikan, kirim saja copinya ke arnold@eputobi.net

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS