AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

KEBENARAN HISTORIS BERSAMA ORANG LEWOINGU

Terbit: 27 Juni 2007
Oleh: P. Bernardus Subang Hayong, SVD

1. Catatan Pendahuluan

Nukilan Sejarah Lewoingu yang di tulis Drs. Yakobus D. Beoang, sebagaimana kita temukan dalam www. eputobi.net boleh di lihat sebagai "bahan mentah" untuk penulisan sebuah sejarah tentang desa Lewoingu. Dari informasi lisan berupa wawancara dan warisan ceritra para pendahulu, Drs. Yakobus D. Beoang menghimpun dan menulisnya untuk kita. Tentu ada banyak informasi yang berberda antara apa yang di dengar dari penutur yang berbeda, dan coba direkam dalam penulisan nukilan sejarah dengan sumber lain, sebagaimana dalam tanggapan Opu Rafael Maran (sebuah tangapan dengan analisa metode hermeneutis atas informasi (materi yang disajikan Kak Kobus) dan "Nimbrung Diskusi" dari Kak Don Kumanireng (22 Juni 2007).

Membaca ketiga tulisan ini (versi Kak Kobus, Opu Rafael, dan Kak Don ), sebagai anak tanah Lewoingu dari generasi yang paling kemudian (tahun 1975, tahun kelahiran saya di desa Lewoingu) ada banyak hal yang membangkitkan rasa kuriositas (ingin tahu), tetapi juga mendambahkan satu pencerahan atas Sejarah Lewoingu. Karena itu tulisan saya lebih sekedar suatu rangkaian pertanyaan yang bisa di diskusikan bersama, bertolak dari diversitas informasi tentang sejarah Lewoingu, dan term-term (istilah) serta makna simbolis dan makna fungsional dari sebuah sejarah Lewoingu bagi masyarakat Lewoingu.

Di atas pijakan filosofi para nenek moyang kita tobo hama-hama rae korke bale, kita berdiskusi, bertukar pikiran dan membagi informasi yang saya dengar dan yang kamu dengar untuk mencari pemahamn bersama, untuk mepelajari perbedaan, sebagaimana yang ditekankan kak Don Kumanireng.

Kebenaran hampir pasti lebih dari satu orang, itu pun kalau yang lebih dari satu orang itu, tidak pernah bersekongkol untuk memutarbalikan kebenaran. Kebenaran itu tidak memiliki senjata, senjata kebenaran adalah kebenaran itu sendiri. (P. Joseph Pianiazek SVD)

2. Nama Lewoingu : lewo dan ingu

Dari nukilan sejarah desa Lewoingu ada praduga etimologis bahwa nama "ingu" berasal dari kata Jawa, "inja". Dengan demikian ada dugaan bahwa pemberian nama "ingu" ini oleh kelompok pendatang pertama yang di duga berdatangan dari Jawa akibat peperangan.

Persoalan:

a. Dalam nukilan sejarah di sebutkan bahwa sebelum pendatang dari Jawa ini memasuki wilayah Lewoingu sudah ada penduduk asli (Ile yadi), yakni Metinara Kopong Todoh yang mendiami Asirani atau Ile Hinga. Dengan demikian dapat disimpukan bahwa suku-suku pendatang pertama, bukanlah yang pertama mendiami daerah Lewoingu.

b. Kalau benar pendatang periode pertama ini adalah suku-suku yang berdatangan dari Jawa, apakah mereka adalah orang Jawa, ataukah orang luar Jawa yang menetap di Jawa kemudian mengungsi (lari keluar dari Jawa sebagai akibat peperangan? Kalau mereka toh orang dari Jawa, munginkah ada kemiripan dan kesamaan nama-nama seperti: suku Werong Hegong Pito, Pusi Bera dan Subang Ile, Subang Pulo dan Ebe Laka, dengan nama Jawa (kuno) umumnya? Penyelidikan atas kesamaan bunyi dan penuturan sebuah kata (term) adalah satu persyaratan penting membuat kesimpulan sehubungan dengan makna etimologis dan keterhubungannya dengan bahasa yang lain.

c. Kalau toh pendatang itu berlayar dari Jawa hingga mereka menetap di Lewoingu, itu berarti mereka telah melewati banyak tempat persinggahan. Karena itu mungkinkah ada keterhubungan antara perjalanan mereka, tempat-tempat persinggahan dan pemberian nama "Lewoingu"?

d. Pertimbangan etimologis dan analisa term "ingu" dari Opu Rafael Maran bisa dipertimbangkan dalam konteks memaknai term ingu sebagaimana uraian dalam tanggapan tersebut. Tetapi merujuk pada tanggapan Opu Rafael bahwa kemungkinan kecil term ingu berasal dari bahasa Spanyol atau Portugis, karena term ini sudah digunakan sebelum kedatangan beberapa orang Spanyol tahun 1696, tetapi bagaimana penggunaan term ini, oleh siapa, dan dalam arti apa, tidak di jelaskan Apakah bisa di gali informasi tentang penggunaan kata ini sebelum tahun 1696 sebagaimana dalam tanggapan Opu Rafael Maran?

e. Term dung (m) dan bata. Analisa etimologis, dan pemberian makna dari Opu Rafael Maran sungguh mendalam, lebih masuk akal serta memberi satu landasan historis bagi eksistensi masyarakat Lewoingu. Proses penuturan dan kebiasaan berbahasa tentu saja ; bisa menghilangkan atau menambahkan huruf -huruf tertentu kata-kata tertentu pula, dan ini terjadi pada semua bahasa di dunia; seperti nama-nama suku kita Tukan(g), Kelen(g), Hayon(g), Kwen(g). Tapi persoalannya adalah bahwa seluruh penjelasan etimologis term "dung(m)" dan "bata" ini juga bertitik tolak dari bahasa Jawa, yang sebelumnya dipertanyakan Opu Rafael. Karena itu pertanyaan yang sama mesti di teruskan: sejauh mana kemungkinan kebenaran kalau suku-suku pendatang ini berasal dari Jawa? Persoalan lain bagaimana kita melihatkemungkinan pemberian nama Lewoingu ini dalam keterhubungan dngan kampung-kampung tetangga lain, yang sudah terbentuk sebelum Lewoingu? Bagaimana kita mepertimbangkan etimologis dan makna kata Lewoingu dalam hubungan dengan trio desa sekarang ; Lewolaga -Eputobi-Riangduli. Apakah Lewoingu berarti ketiga desa ini dan bukan saja Eputobi dan Riang Duli?

f. Nama desa titeng Dung Bata Lewoingu Sarabiti Waihali. Satu nama yang tidak hanya panjang, dan punya nuansa sastra, tetapi saya yakin ada makna tersendiri yag bagi saya sendiri masih "buta" (belum tahu), mengapa mesti dibubuhkan juga Sarabiti Waihali. Apa makna yang terkandung di balik pemberian nama ini?

3. Misteri Gresituli

Nukilan Sejarah Lewoingu (Kak Kobus) dan tanggapan (Opu Rafael) mendeskripsikan secara berdeda figur Gresituli juga arti nama Tanah Beto. Gresituli di temukan dalam sosok bayi oleh Bota Bewa di tempat kerja yang kemudian di pungut dan di pelihara Bota Bewa dan Nuho Rehng. Proses penemuan sampai beranjak remaja tidak ada informasi tentang pemberian nama kepada "Gresituli", sampai suatu ketika, konon, ia menyebut satu nama "Gresituli Keropong Ema" ketika berhasil memanah seekor rusa jantan. Dalam Nukilan Sejarah Lewoingu, sebutan ini kemudian di "baptis" menadi nama anak temuan Bota Bewa.

Beberpa pertimbangan :

a. Nama adalah tanda, tanda mengidentikan dan memberi kekhasan pada sesuatu atau seseorang. Nama, karena itu adalah pengenal. Pada manusia pemberian nama tidak sekedar pengenal idetitas tetapi eksistensi (keberadaan) seseorang dengan kepribadiannya yang menbangun seluruh realitas seorang manusia. Dari nama ada kemungkinan untuk berkomunikasi, karena tanpa nama komuinikasi tidak berjalan. Saya berbicara atau menyebut sesuatu kalau ia punya identitas, tanda untuk disebutkan, bahkan kendati sesuatu itu asing, orang berusaha menggunakan simbol yang membantu lawan bicara untuk memahami maksud yang hendak diungkapkan, yang denganya kita beri tanda.

b. Kalau sejak penemuan bayi (Gresituli) itu hingga keberhasilannya memanah seekor rusa jantan, tidak ada informasi tentang nama si anak temuan itu, bagaimana komunikasi antara anak temuan itu dengan Bota Bewa dan Nuho Rehing ketika si anak "ajaib" itu sudah mulai berbicara. Bagaimana mereka memanggil anak itu, sampai ia beranjak remaja?

c. Penyebutan kata "Gresituli Keropong Ema" ketika sang anak berhasil memanah rusa jantan, dapat di interpretasi sebagai satu ungkapan spontan dan ekspressi kegembiraan, kebangaan pada moment tersebut, seperti kalau kita terantuk (waktu tite todote), hampir pasti secara spontan kita mengucapkan kata-kata tertentu, seperi: seperti "emang taing", atau: "Santa Maria", dll. Tetapi setiap bentuk ucapan spontan seperti bukanlah sesuatu yang baru pertama ketika seseorag megucapkannya. Kita hanya mengucapkan suatu kata tertentu yang sudah pernah kita dengar, kita rekam dalam alam bawah sadar kita, dan akan mucul secara spontan dalam situasi tertentu.

d. Dalam tanggapannya, Opu Rafael Maran, menepis cerita penemuan "Grestuli" oleh Bota Bewa dalam sosok seorang bayi kecil yang sedang menangis. Bertolak dari analisis hermeneutis tentag aktivitas dan perjalanan Gresituli, disimpulkan bahwa Gresituli adalah seorang tokoh historis yang hebat, figur pemimpin yang melakukan pengembaraan dan sampai akhirnya tiba di Lewoingu dan menetap di sana, bahkan mendirikan korke di Lewoleing. Dengan demikian, asal muasal si Gresituli tidak diketahui secara pasti. Dan kita generasi Lewoingu sekarang mau menimba beberapa warisan kepribadian, keutamaan dan ketokohan seorang Gresituli tempo doeloe, antara lain pioner pemersatu suku-suku untuk membangun satu "komunitas" hidup. Nilai ini yang mau kita terus upayahkan sebagai warisan bernilai dalam sejarah tentang Lewoingu. Tetapi bagaimana kita menyatukan persepsi dan menilai kebenaran historis tentang Gresituli ini?

e. Soal penulisan nama pelaku dala cerita, atau tokoh-tokoh penting juga dari dua versi (nukilan dan tangapan) adalah berbeda, misalnya; Bota Bewa, Nuho Rehing (dalam nukilan ditulis dua kata, terpisah), sedangkan dalam tanggapan hanya satu kata ; Botabewa, Nuhorehing. Mana yang benar?

4. Para suku dan perannya di rumah adat

Sebelum kemunculan Gresituli sudah ada tujuh (7) suku yang menghuni wilayah Ile Asirani yakni; Koteng, Amalubur, Kumanireng (Blikolong dan Blikopukeg), Lamatukang, Sogemaking dan Wungung Kweng. Ke tujuh suku ini sepakat membangun tujuh rumah degan maksud mengintai perilaku Grestuli. Tetapi toh tidak ada yang mencurigakan sampai Gresituli bersama ketiga anakya (Doweng, Dalu, Sani) membangun korke di Lewoleing.

Ada beberapa point yang melahirkan rasa ingin tahu saya:

a. Apakah ketujuh rumah yang di bangun oleh ke tujuh suku di atas menjadi cikal bakal pembangunan korke? Karena tidak disebutkan soal pembanguan rumah adat di Lewo Werang selain tujuh rumah yang di bangun untuk mengawasi perilaku Gresituli.

b. Bersama perjalanan waktu, terjadi kawin mawin hingga melahirkan turunan (suku). Yang menarik adalah perkawinan ke tiga anak Gresituli ini menurunkan suku-suku turunan baru. Perkawian Dalu, mewarisi turunan Doweng Oneng, perkawian Doweng mewarisi turunan suku Lewoema, perkawinan Sani mewarisi Raga (Ata Marang) dan Boli (Kebeleng Kelen).

Pertimbangan :
Dari hasil perkawinan anak-anak Gresituli dan warisan suku-suku, hanya hasil perkawinan Sani, yang menurunkan suku Ata Maran (Raga) dan Kelen (Boli) yang mendapat tanngungjawab di korke atau rumah adat): Boli atau Kebeleeng Keleng bertanggung jawab atas tiang utama yag di pajang di sebelah utara bagian depan bangunan. Raga atau Ata Marang bertangungjawab pada tiang kedua di sebelah utara. Pertanyaan:

1. Mengapa hanya turunan Sani yang mendapat tanggungawab pada tiang rumah adat? Sementara turunan dari Dalu (Doweng Oneng) dan turunan Doweng (Lewoema) tidak mendapat pembagian tangungjawab dari salah satu tiang?

2. Lewohayong dan Wungungpadung
Kedua suku ini dalam nukilan sejarah tidak disebutkan secara jelas dalam arti apakah mereka ini datang kemudian dan bergabung bersama suku-suku lain yang sudah menetap terlebih dahulu. Tetspi kemudian disebutkan bahwa dalam pembagian tanggungjawab kedua suku ini mendapat bagian seperti : Lewohayong bertangungjawab pada tiang ujung sebelah selatan dan Wungung Padung mendapat tugas kap atau penutup rumah adat. Lalu bagaimana dengan suku-suku lain yag datang kemudian sesudah pendirian rumah adat, dan menetap di Lewoingu? Bagaimana keterlibatan mereka dalam segala urusan adat?

3. Lewoleing menjadi inspirator bagi lewowerang
Dari nukilan sejarah di ketahui bahwa Gresituli adalah inspirator sekaligus membangun korke bersama ketiga anaknya di Lewoleing. Setelah itu Sani yang menetap di Lewowerang mengumpulkan orang-orang yang menetap terlebih dahulu di Lewowerang untuk membangun rumah adat. Tetapi konsep dua rumah adat di Lewoleing dan Lewowerang ini boleh dikataka "two in one", sebagaimana yang ditegakan Opu Rafael dan Kak Don Kumanireng. Dalam aspek manakah keduanya menjai satu dan dalam hal apa keduanya indipenden dalam keterhubungan dengan urusan adat?

5. Sekedar ide ; Perayaan 75 tahun Desa Lewoingu di tahun 2010?

Membaca dan mengamati diskusi yan sudah dan sedang digalakan tentang sejarah desa Lewoingu, saya percaya bahwa semua masyarakat Lewoingu mengimpikan satu kebenaran historis akan sebuah Lewoingu di masa lampau (in the past), yang kemudian menjadi titik pijak, titik tolak pembelajaran kita, untuk mempertegas warisan leluhur pendahulu itu dalam realitas kemajemukan suku, dan pengalaman hidup bersama sekarang (in the present, now), kemudian, bagaimana kita, generasi sekarang mewarisi satu kebenaran bersama tentang hakekat (eksistensi, ciri dan kekhasan) Lewoingu dan masyarakat Lewoingu untuk membangun masa depan bersama juga, dei generasi (anak-anak Lewingu) mendatang (in the future).

Bertolak dari asumsi dan keyakinan ini, saya menganjurkan untuk kita semua berpikir bagamana bisa merayakan peringatan hari ulang tahun desa Lewoingu yang ke-75 pada tahun 2010. Perhitungan tahun 2010 bertolak dari data kepemimpinana di Eutobi/ Lewoingu yang sebenarnya sudah mulai jauh sebelumnya, tetapi secara administratif baru di mulai pada tahun 1935 dengan adaya Kepala Kampung pertama Bpk Nuba Atamarang (cfr Nukilan sejarah di www.eputobi.net ). Karena itu moment yang sedang kita siapkan sebagai 50 thn SDK Eputobi di lihat sekaligus sebagai upacara pencanangan untuk perayaan akbar 2010. Untuk maksud ini (perayaan 75 tahun desa Lewoingu di tahun 2010), maka seluruh proses penulisan sejarah yang sudah di mulai Kak Yakobus Beoang (dalam rangka imamat perak Pater Konrad Beoang) dan diskusi seputar sejarah Lewoingu, bisa di gali dan di dalami bersama untuk menghasilkan sebuah kebenaran hitoris bersama desa Lewoingu, yang kita persembahkan dalam tahun 2010, tetapi juga moment kenangan 25 thn imamat P Konrad tahun 2009. Bagaiamana tanggapan anda?

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS