AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

CATATAN KRITIS UNTUK NIMBRUNG DISKUSI SEJARAH LEWOINGU

Terbit: 30 Juni 2007
Oleh: Rafael Raga Maran, M. Hum, Drs.

Menarik bahwa belakangan ini kian tumbuh minat di kalangan anak-anak Eputobi untuk mendiskusikan sejarah Lewoingu. Terlepas dari adanya pro dan kontra pendapat, di antara kita, kemampuan untuk memahami sejarah Lewoingu secara lebih utuh, kiranya perlu terus diasah. Tujuannya ialah memberikan pemahaman yang lebih canggih kepada generasi muda Lewoingu sekarang dan di masa depan tentang hakekat dan tujuan keberadaannya di dunia ini. Mengapa pemahaman semacam ini penting artinya bagi generasi muda? Tidak lain karena dalam sejarah Lewoingu dapat ditemukan harta karun budaya yang bernilai tinggi, kreasi para nenek moyang kita. Nilai-nilai luhur itu, secara sepintas, sempat saya singgung dalam catatan kritisku untuk nukilan sejarah Lewoingu tempohari. Nilai-nilai luhur itu yang mesti kita gali. Lalu, kita reaktualisasikan dalam konteks kehidupan kelewoinguan kita sekarang dan di masa-masa mendatang. Sehingga nama besar Lewoingu tidak sekedar menjadi nostalgia bagi generasi tua yang sebentar lagi akan berlalu.

Dalam alur pikir itu, saya gembira membaca artikel "Nimbrung Diskusi Catatan Kritis Nukilan Sejarah Lewoingu", karya Bapak Drs. Don Kumanireng, yang kini sedang tayang di eputobi.net. Saya gembira, karena masih ada perdebatan di antara kita mengenai beberapa hal penting yang berkaitan dengan sejarah Lewoingu. Jika masih ada kemampuan untuk mempersoaljawabkan sesuatu, dan jika masih ada ruang bagi perbedaan bahkan pertentangan pendapat tentang hal-hal yang dipandang penting, itu merupakan sinyal bahwa kebenaran menjadi tujuan ekplorasi historis yang sedang dilakukan oleh pihak-pihak terkait, termasuk oleh penulis artikel ini. Catatan penting yang harus diperhatikan dalam hal ini ialah bahwa yang kita cari bukanlah suatu kebenaran mutlak, melainkan suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Jika taruhan utama dalam diskusi sejarah Lewoingu adalah suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, maka metode pencapaiannya haruslah tepat. Versi kebenaran rasional itu mustahil dicapai kalau kita menggunakan pendekatan "tambal-sulam" seperti nampak dalam "Nimbrung Diskusi Catatan Kritis Nukilan Sejarah Lewoingu." Bagiku, apa-apa yang disajikan dalam artikel tersebut hanyalah serpihan-serpihan pikiran yang dibangun tidak berdasarkan suatu pijakan historis yang kokoh. Apalagi artikel itu pun dibumbui dengan pernyataan-pernyataan hebat tanpa alasan yang memadai. Jelas, bahwa pada dirinya sendiri, artikel itu miskin akan argumen-argumen yang meyakinkan. Bahkan artikel itu pun mengandung sejumlah informasi yang keliru serta salah baca atas apa yang saya sajikan dalam "Catatan Kritis Untuk Nukilan Sejarah Lewoingu Kampung Eputobi."

Marang Mukeng Yang Tak Pernah Diucapkan Sani, Nuba, Gena

Penulis "Nimbrung Diskusi Catatan Kritis Nukilan Sejarah Lewoingu" tampaknya ingin memperlihatkan kebolehannya dalam hal "koda kiring". Dia sempat mengutip sepenggal sastra kiwaneng sebagai berikut:

Subang Pulo Ratu Noeh Subang Wara Brahang Tana, no'ong kakang papa'ang aring lola'ang Ebe Laka Beang Keli Sari Buga Glaka Arang, tobo pia Hari Lama Rebo, pae pia Rebo Lama Lina. Inang go Bota Bewa pana nai gute kayo, opa herung no'ong bai, one'eng huk matik sare deing nala bote bai sadik nala dukong nubung. Nete tiro niang Lewo lau Hari Lama Rebo, niang lau Rebo Lama Lina, opa nele tuho dukong lela liwu. Bai nele tawa bele ka' na'ang hogo beta, nubung nele gere blola ya' na'ang mereng rua....... dst............ Tula wuhu deke gala ...... dst.

Dalam beberapa baris setelah kutipan itu dia pun mengatakan begini:

"Yang dicetak miring itu MARANG. Itu bukan dongeng. Sastra kiwaneng itu diucapkan juga oleh bapaknya ari Rafael, yaitu: Sani, yang diucap pula oleh bapaknya Sani yaitu: Nuba dan diucap pula bapaknya Nuba yakni Gena, dan demikian seterusnya sampai kembali lagi ke nama Sani sang Uluwai itu. Tetapi Sani sang Uluwai itu toh bukan the founding fathers of marang. Jauh sebelum Sani dan bapaknya Gresituli, sastra kiwaneng, no'ong kae."

Bagiku, apa yang terpapar di atas merupakan kata-kata yang hebat. Tetapi sayang seribu sayang, kata-kata itu hanya suatu permainan lidah yang tak bermakna. Mengapa tak bermakna? Tidak lain, karena Sani, Nuba, dan Gena, tiga tokoh Ata Maran, tidak pernah mengucapkan marang versi cetak miring itu. Ingatlah bahwa Sani Nubahang meninggal pada hari Kamis, tanggal 11 Oktober 2001 dan dimakamkan pada tanggal 13 Oktober 2001. Sebelum Sani Nubahang meninggal, sebagian besar marang versi Ata Maran, yang merupakan marang asli di Lewowerang, sudah dialihkan dalam bentuk tulisan oleh salah seorang anaknya. Dan saya sendiri termasuk yang paling sering memepelajarinya. Dalam dokumen marang yang kami miliki, kami tidak menemukan marang versi cetak miring di atas. Dan jangan dikira bahwa Sani Nubahang tidak tahu versi marang asli dalam upacara adat yang berkaitan dengan Koke Bale Lewowerang.

Dalam mempelajari dan mendalami marang mukeng, anak-anak Sani Nubahang pun menggunakan nara sumber dari suku-suku lain, termasuk beberapa orang dari suku Kumanireng. Bapak-bapak dari suku Kumanireng yang bisa marang pun jelas-jelas mengakui bahwa marang itu milik suku Ata Maran. Pengakuan itu paling jelas kudengar pada hari Sabtu tanggal 29 bulan September tahun 2001. Sebelum itu, sejak tahun 1970-an, saya sendiri pun sudah sering berdiskusi dengan bapak-bapak Kumanireng dan bapak-bapak lain tentang banyak hal yang berkaitan dengan sejarah Lewoingu. Dan selama enam bulan di tahun 1979, saya terlibat secara intensif dalam diskusi-diskusi tersebut di kampung Eputobi. Lalu sedikit diskusi pada bulan September tahun 1992. Dan pada bulan Juni 2004, saya masih menanyakan arti kata "lewoingu" kepada salah seorang bapak Kumanireng. Jawabannya, ya, seperti yang terpahat di "Nukilan Sejarah Lewoingu Kampung Eputobi" itu. Dan pada bulan Juni 2006 saya pun sempat mendiskusikan pula aspek-aspek tertentu dari sejarah Lewoingu dengan beberapa pihak di Eputobi. Saya pun beberapa kali sempat melakukan observasi atas situasi permukiman di Lewookineng. Termasuk di sini adalah mengamati arsitektur Koke, benteng batu, kuburan, dan prasasti yang dipahat oleh orang Portugis, dll.

Dengan mengatakan bahwa ada versi marang Ata Maran yang merupakan versi asli di Lewowerang-Lewoingu, itu jelas mengandaikan bahwa masih ada versi-versi marang lainnya. Seandainya di Eputobi masih terdapat versi-versi marang lain, itu tentu bukan marangnya Ata Maran. Yang masih perlu diteliti ialah apakah setiap suku di Lewoingu memiliki versi-versi marang sendiri-sendiri juga. Bahwa setiap suku memiliki syair lisan tentang sukunya, itu jelas.

Yang juga jelas ialah, bahwa di berbagai komunitas budaya Lamaholot yang mengenal marang, marang tidak boleh dibawakan sembarang orang. Di Belogili, orang dari suku Koten bertugas sebagai pembawa marang. Dalam tatanan adat mereka, Koten adalah suku pemimpin. Di Solor, orang dari suku Niron yang bertugas sebagai pembawa marang. Di ibukota Kabupaten Flores Timur, pembawa marang adalah orang dari suku da Silva. Suku da Silva itu aslinya dari Ama Maran (suku Maran). Maka mereka pun menyebut diri da Silva Ama Maran.

Di kampung-kampung Lamaholot di mana terdapat suku Maran, maka orang dari suku inilah yang bertugas sebagai pembawa marang. Itu misalnya terjadi di Leworahang, Riang Koli', Kawaliwu, Riang Kroko', Turu Beang, Waibalun, Waiwadang, dll. Dalam komunitas-komunitas Lamaholot di Lembata, istilah marang tidak dikenal. Tetapi di sana pun terdapat doa yang strukturnya memiliki kemiripan dengan apa yang dalam bahasa kita disebut marang.

Sebagai catatan tambahan, dapat disebutkan bahwa sebagai nama suku, Maran pun terdapat di bumi Papua. Di Jakarta, sekian tahun lalu, ada putera dari Papua yang menjelaskan bahwa dia berasal dari suku Maran. Katanya, di Papua, suku Maran itu termasuk suku yang kecil. Kalau sekedar nama, Maran itu ternyata dikenal juga di Vietnam, India, Eropa, Kanada, Amerika Serikat. Di NASA di Amerika Serikat, pernah bekerja seorang astronom bernama Steve Maran. Di negeri Paman Sam pun terdapat seorang pakar HAM bernama Rita Maran, dan masih ada Maran-Maran lain, ada yang terkenal sebagai supermodel, ada lagi yang terkenal sebagai penulis buku.

Lantas di Lewoingu? Kita semua sudah tahu, bahwa pembawa doa dalam upacara-upacara adat adalah orang dari suku Maran. Maka orang dari suku ini disebut Ata Maran. Dari suku ini, tugas pembawa marang dipercayakan juga kepada pihak lain, termasuk kepada pihak Kumanireng, dan lainnya. Demi apa? Demi persatuan kesatuan lewotana. Perlu anda ketahui, bahwa kalau seseorang sering menghadiri upacara adat di Lewoingu, dan kalau dia cukup berbakat, maka lama-lama dia bisa mengucapkan marang mukeng. Karena, di dalam upacara-upacara adat, peserta upacara tidak hanya pasif mendengar, tetapi di sana sini dia pun ikut mengucapkan bagian-bagian tertentu dari marang mukeng, bersahutan dengan sang pemimpin doa. Ya, seperti waktu kita menghadiri perayaan ekaristi di gereja itulah.

Siapa Penyusun Marang Mukeng Lewowerang?

Kiranya jelas bahwa sebagai doa, marang tidak hanya dikenal di Lewoingu tetapi di berbagai komunitas sosial Lamaholot. Marang adalah doa yang dikemas dalam gaya puisi. Dengan kata lain, marang adalah syair religius. Artinya, ia adalah salah satu bentuk sastra lisan. Yang jadi soal ialah apakah sastra lisan itu identik dengan marang? Jelas tidak.

Selain marang, masih terdapat bentuk-bentuk sastra lisan lain yang bersifat profan. Dan tiap suku memilikinya, entah dalam bentuk syair lisan, entah dalam bentuk hikayat, entah dalam bentuk lainnya.

Bahwa sudah ada sastra lisan lainnya, sebelum adanya marang, itu itu pun tak soal. Karena inti persoalan kita bukan mana yang lebih dulu ada, sastra lisan atau marang mukeng? Inti persoalan kita ialah, bahwa kita orang-orang terpelajar pun tak bisa membedakan marang dari sastra lisan lainnya. Dan itu terjadi juga dalam artikel "Nimbrung Diskusi Catatan Kritis Nukilan Sejarah Lewoingu." Karena distingsi di antara konsep-konsep itu kurang diperhatikan, maka terjadilah peremehan peranan Sani sang pendamai Lewowerang, dalam kata-kata, "… Sani sang Uluwai itu toh bukan the founding fathers of marang." Kalau begitu siapa pencipta marang.

Dalam sejarah Lewoingu, Sani itu yang menugaskan anaknya bernama Raga yang membawakan doa. Apakah penugasan itu tanpa dibekali sedikit pun dengan kemampuan marang dari si pemberi tugas. Sani dan anaknya Raga itulah penyusun marang resmi di Lewowerang.

Peremehan peranan Sani, tokoh pendamai di Lewowerang, bisa terjadi, karena marang disamakan dengan sastra kiwaneng pada umumnya. Marang adalah doa yang dikemas dalam gaya sastra, khususnya dalam gaya puisi, tetapi tidak setiap sastra adalah marang. Distingsi konsep-konsep itu perlu diketahui. Kekurangtelitian dalam hal ini bisa berdampak pada ketidakvalidan jalan pikiran.

Tahu Sejarah, Tahu Kebenaran

Orang Lewoingu adalah orang yang menjadikan kebenaran sebagai pedoman dan orientasi hidupnya. Maka bagi orang Lewoingu, kebenaran adalah segala-galanya. Dalam perkara apa pun, termasuk dalam perang, kebenaran adalah taruhannya. Bagi orang Lewoingu, yang benar itu pasti menang, yang tidak benar itu pasti kalah. Bisa saja terjadi dalam suatu perkara, bahwa untuk sementara yang tidak benar tampil sebagai pemenang. Tetapi cepat atau lambat akan ketahuan jelas, bahwa kemenangannya adalah semu.

Tampaknya sejarah punya cara unik untuk menyatakan kebenaran otentik. Ini tidak mengherankan, mengingat kebenaran historis itu tak bisa dibantah-bantah oleh siapa pun. Karena kebenaran itu tersimpan rapih dalam sejarah, maka pengetahuan tentang sejarah merupakan jalan utama, bagi orang Lewoingu, untuk mengetahui kebenaran itu. Pendek kata, bagi orang Lewoingu, tahu sejarah berarti tahu kebenaran. Secara negatif, tidak tahu sejarah berarti tidak tahu kebenaran.

Pengetahuan tentang sejarah itu pun menentukan perilaku hidup kita sebagai orang Lewoingu. Tahu sejarah berarti tahu tentang status dan peranan kita masing-masing, tahu tentang tugas dan tanggung jawab kita masing-masing terhadap lewotana. Tahu sejarah berarti tahu etika sosial Lewoingu. Maka sejak masa kuno, orang-orang tua kita sering mengajak kita untuk berkaca pada sejarah. Dengan demikian kita tidak bicara seperti orang yang sedang mengigau di siang bolong. Dengan demikian perilaku kita tidak arogan.

Dan dari mana pengetahuan tentang sejarah Lewoingu berasal? Kiranya perlu diperhatikan bersama bahwa sejarah Lewoingu itu menyangkut masa lampau orang-orang Lewoingu, yang ingin kita ketahui dan kita mengerti dari posisi kita sekarang. Sumber pengetahuan historis kita ialah data-data peninggalan masa lampau. Data-data itu mencakup kesaksian orang-orang Lewoingu dari periode sejarah tertentu, misalnya berupa rumah suku, koke bale, tanah, kuburan, karya seni, tradisi lisan, sastra lisan, upacara keagamaan, tradisi kepimpinan adat berdasarkan otoritas tradisional, dan lain-lain. Dan kiranya jelas bahwa kita yang hidup pada era digital ini tak bisa mengubah kenyataan tentang data-data itu. Yang patut kita lakukan sekarang ialah memberikan penafsiran yang diharapkan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Untuk itu, tidak cukup kalau kita hanya mengandalkan satu dua sumber saja. Tidaklah memadai kalau kita hanya mengandalkan tradisi lisan tertentu saja. Pendek kata, semua data tersebut dan data-data lain yang tidak disebut di sini perlu diperhatikan.

Mati-matian mengandalkan sumber tertentu saja, apalagi mati-matian mempertahankan kebenaran versi sejarah berdasarkan sumber lisan tertentu saja dapat berujung pada ceritera sejarah yang aneh seperti pernah saya singgung dalam tanggapan 1 di eputobi.net. Pada tataran perilaku, orang yang memutlakkan versi lisan tertentu tentang sejarah Lewoingu dengan mudah melecehkan peranan tokoh-tokoh penting dalam pembentukan sejarah kebudayaan Lewoingu, termasuk peranan Gresituli dan anak-anaknya.

Kalau kebudayaan Lewoingu sudah terbentuk jauh sebelum keberadaan Gresituli dan anak-anaknya, kapan sejarah kebudayaan Lewoingu mulai ditempa. Dan tokoh-tokoh manakah, yang memelopori penempaannya? Perlu dicatat bahwa nama-nama suku di Lewoingu saja baru dikenal segera setelah tatanan adat Lewoingu berhasil dibentuk. Nama-nama suku di Lewoingu itu terkait erat dengan pembagian tugas menurut adat istiadat yang baru dibentuk itu. Suku adalah identitas keluarga dalam konteks Keluarga Besar Lewoingu.

Di kemudian hari keluarga mana pun yang ingin bergabung dengan Keluarga Besar Lewoingu akhirnya memiliki nama suku juga. Memang memiliki nama suku itu lebih baik ketimbang tidak memiliki nama suku. Nama suku memudahkan interaksi sosial dalam masyarakat Lewoingu. Nama suku juga memudahkan koordinasi ke bawah ke atas, ke kiri ke kanan dalam berbagai urusan bersama di Lewoingu. Masing-masing suku itu ibarat keping-kepingan dari suatu mosaik Lewoingu yang indah.

Lantas siapa yang meremehkan suku-suku lain? Baik di atas kertas maupun dalam praktek, kami tidak pernah meremehkan suku-suku lain di Lewoingu. Dalam catatanku terdahulu, saya hanya menekankan bahwa setiap komunitas atau masyarakat itu membutuhkan pemimpin. Bahkan dengan tegas, saya mengatakan bahwa Gresituli dan anak-anaknya membentuk model kepemimpinan kolektif dari abad ke abad. Kekurangtelitian membaca catatan kritisku itu bisa berakibat pada kekeliruan dalam penilaian terhadap sesuatu hal yang dikatakan di sana.

Bagiku, nampak jelas bahwa "Nimbrung Diskusi Catatan Kritis Nukilan Sejarah Lewoingu" digarap berdasarkan keminiman pengetahuan tentang sejarah Lewoingu. Saya ragu apakah pernah penulis artikel tersebut mengadakan suatu riset yang cukup sistematis atas berbagai data sejarah Lewoingu seperti tersebut di atas. Kurang pengetahuan tentang sejarah Lewoingu itu bisa membuat kita hanya mampu mengemukakan serpihan-serpihan pendirian tanpa dukungan argumentasi yang rasional. Dari situ bola panas pun bisa muncul. Ya kan?

Dari Mana Datangnya Bola Panas?

Ini pertanyaan yang menarik. Dalam menjawab pertanyaan itu, kita perlu jujur dan realistis terhadap diri kita sendiri dan kepada lewotana (kepada masyarakat Lewoingu). Kita perlu memeriksa batin kita masing-masing, untuk melihat, jangan-jangan kita sendiri yang ikut-ikutan menggulirkan bola panas itu.

Oh ya, sekarang saya jadi ingat, siapa-siapa dan dari pihak-pihak manakah dalam sejarah Lewoingu yang suka mengacau, bahkan yang bermaksud memusnakan pihak lain. Salah satu penemuan saya ialah, bahwa bola panas yang paling mutakhir digulirkan dari TK Eputobi pada tanggal 10 April 2006, kemudian semakin digulirkan lagi dari kantor desa Eputobi pada hari tanggal 12 Mei 2006. Dan nyaris digulirkan lagi pada tanggal 19 Mei 2006.

Di kantor desa eputobi, pada tanggal 12 Mei 2006 itu, hadir pula seorang anak Lewoingu bergelar doktorandus. Coba tanyakan kepada pak doktorandus itu, apa saja yang dia ucapkan dan bagaimana pula sikap dia dalam menghadapi pihak yang ingin berdialog secara baik-baik sehubungan dengan kasus pelanggaran tata adat pada tanggal 10 April 2006 pagi itu. Saya harap dia tidak melupakan apa-apa saja yang pernah dia ucapkan di kantor desa Eputobi itu, dan bagaimana pula ulah tingkahnya pada hari itu. Kristianikah kalau kita menghina-hina orang lain di muka umum, di hadapan rakyat Eputobi dan Riang Duli?

Lalu 13-18 Juni 2006, saya berada di kampung Eputobi. Peristiwa 10 April 2006 dan peristiwa 12 Mei 2006 ternyata sungguh-sungguh meresahkan warga Eputobi. Mereka khawatir terjadi konflik dalam skala besar antara pihak Ata Maran versus pihak Kumanireng dan pendukungnya. Mereka khawatir, mereka akan terjepit di tengah kalau konflik besar terjadi. Bagaimana dengan kami yang di tengah ini? Itulah pertanyaan yang dilontarkan beberapa kali kepadaku. Kepada mereka, saya bilang:

"Tenang saja. Nenek moyang kami mengajarkan kami cara-cara terbaik untuk mengatasi semua itu. Dan kami, anak-anak Ata Maran, Lewoleing, dan Doweng One'eng tahu cara menghadapi mereka dengan cara kami. Semua keturunan Gresituli berada pada posisi untuk meredam konflik yang mengacau-balaukan keharmonisan hidup di Lewotana, dengan cara khas kami, yaitu cara tanpa kekerasan."

Banyak orang mengatakan kepada saya bahwa dalam sejarah Lewoingu pelanggaran adat semacam itu baru kali ini terjadi. Demikian pula halnya dengan batas tanah di tengah kampung eputobi itu, baru di tahun 2006 itu dipersoalkan oleh pihaknya pak doktorandus. Bagi kami, 2006 merupakan tahun yang lucu sekali, karena di tahun itu orang-orang tertentu tidak tahu lagi apa tugas dan peranannya dalam tatanan adat istiadat masyarakat Lewoingu. Rupanya mereka dirasuki oleh ide-ide reformasi yang kebablasan gaya Indonesia, sehingga tatanan adat yang sudah terbukti menjamin terwujudnya persatuan kesatuan di Lewowerang selama beberapa abad pun mau dihancurkan juga. Padahal penghancuran adat istiadat merupakan penghacuran identitas budaya lokal, yang berarti penghancuran martabat kita sebagai orang Lewoingu. Dalam bahasa HAM, penghancuran adat istiadat lokal merupakan salah satu bentuk penindasan HAM berat. Berat man…

Catatan Penutup

Seperti halnya tulisanku terdahulu, tulisan ini pun kubuat bukan untuk mempertahankan posisi sebagai Ata Maran turunan Sani anak Gresituli. Tujuanku adalah:

untuk memberikan masukan kepada para peminat sejarah lewoingu, terutama kepada pihak-pihak yang berusaha membukukannya, agar

….. karya yang mereka hasilkan dapat menjadi modal pencerahan bagi generasi muda Lewoingu sekarang dan di masa-masa depan.

Sebagai masukan, pihak-pihak yang dimaksud boleh menerima, boleh tidak menerimanya. Bagiku, diterima atau tidaknya masukan-masukan itu tidak berpengaruh pada fakta-fakta historis yang dapat dianalisis secara rasional. Bahwa dalam sejarah pun muncul dongeng-dongeng, hikayat-hikayat, itu tak jadi soal. Tetapi kebenaran historis mesti digali dan dianalisis berdasarkan berbagai data yang ada, bukan dari sumber berupa tradisi lisan tertentu saja.

Sedangkan dongeng-dongeng, hikayat-hikayat, sebagai karya sastra, pertama-tama tidak dimaksudkan untuk melaporkan fakta-fakta sejarah. Dongeng-dongeng dan hikayat-hikayat lebih berfungsi sebagai "bumbu-bumbu penyedap rasa," yang dimaksudkan untuk memberikan efek fantastis dari kejadian-kejadian tertentu di masa lalu. Selain itu dongeng-dongeng dan hikayat-hikayat pun berfungsi sebagai pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan suatu acara pesta.

Dalam penulisan sejarah, dongeng, hikayat, dan syair perlu diperhatikan juga. Tetapi karya sastra semacam itu tidak bisa langsung dialihkan menjadi sejarah. Karya sastra itu mesti dianalisis dengan menggunakan pendekatan hermeneutis yang canggih.

Pada akhirnya, saya pun harus mengatakan begini: kurangnya pengetahuan tentang sejarah Lewoingu membuat kita salah tingkah. Itu bisa membuat kita semakin menjauhkan diri dari kebenaran khas Lewoingu. Pesanku, mari belajar sejarah Lewoingu dengan pikiran yang sungguh-sungguh terbuka. Sehingga kebenaran yang menjadi tujuan pencarian kita itu dapat kita temukan.

Sumber Primer:

Catatan tentang Sejarah Ata Maran yang dibuat oleh Yustina Jawa Maran berdasarkan penuturan Bernardus Sani Ata Maran.

Catatan tentang sejarah Gresituli yang dibuat oleh Bernardus Yosef Sani Maran berdasarkan penuturan Bernardus Sani Ata Maran.

Catatan-catatan Lapangan dari riset yang dilakukan oleh Rafael Raga Maran.

Nuba Ata Maran, Plasidus, Arti dan Tujuan Perkawinan Menurut Adat Lewoingu, Skripsi Sarjana Muda, Ruteng: Akademi Pendidikan Katekis, 1983.

Nuba Ata Maran, Plasidus, Marang Mukeng, Hasil Riset, 1973.

Tradisi Lisan Sejarah Ata Maran, seperti dituturkan oleh bapak-bapak Ata Maran dari generasi ke generasi. Tradisi lisan ini kami peroleh langsung dari Bernardus Sani Ata Maran, G. Gena Ata Maran, Y. Doweng Ata Maran.

Sumber Sekunder:

Campbell, Richard, Truth and Historicity, Oxford: Clarendon, 1992.

Copi, Irving M., Introduction to Logic, New York-London: The MacMillan Company & Collier-MacMillan Limited, 1972.

Fernandez, Inyo Yos, Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Flores, Kajian Linguistik Terhadap Sembilan Bahasa Di Flores, Ende: Nusa Indah, 1996.

Oleona, Ambrosius dan Bataona, Pieter Tedu, Masyarakat Nelayan Lamalera dan Tradisi Penangkapan Ikan Paus, Depok: Lembaga Glekat Lefo Tanah, 2001.

Maran, Rafael Raga, Manusia dan Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.

Sumber lisan berasal dari Yosef Hayon, yang banyak mengadakan riset tentang bahasa dan kebudayaan Lamaholot.

Verhaak, C. dan Haryono Imam, R., Filsafat Ilmu Pengetahuan, Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu, 1989.

Zoest, Aart van, Fiksi dan Nonfiksi Dalam Kajian Semiotik, Jakarta: Intermasa, 1991.

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS