AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

PUTRA LEWOINGU MENCARI KEBENARAN HISTORIS

Terbit: 04 Juli 2007
Oleh: Rafael Raga Maran, M. Hum, Drs.

Salam Lewoingu
Esai ini ditulis untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Pater Nar Hayong, SVD dalam artikel berjudul "Kebenaran Historis Bersama Orang Lewoingu." Sebelum muncul di eputobi.net, artikel itu sudah saya baca di kantor saya di Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat. Pater Nar mengirim artikel itu ke alamat e-mail saya. Dari apa yang disampaikan oleh Pater Nar dalam artikelnya itu, saya menemukan beberapa pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari saya. Dan dalam esai ini, saya coba menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu, yang mudah-mudahan dapat memenuhi sebagian dari rasa ingin tahu Pater Nar dan para peminat sejarah Lewoingu lainnya tentang problem-problem historis tertentu, yang muncul ketika kita mendiskusikan sejarah kebudayaan Lewoingu.

Tidak ada pretensi pada saya untuk menjawab secara tuntas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam artikel tersebut. Tetapi mengingat bahwa kebenaran merupakan suatu proses dialogal, maka jawaban-jawaban yang saya kemukakan dalam esai ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pencarian kebenaran bersama orang Lewoingu itu. Melalui proses diskursif seperti yang kita lakukan melalui eputobi.net ini, saya yakin kebenaran bersama itu, dan jati diri kelewoinguan kita, dapat kita temukan dan aktualisasikan kembali. Dengan demikian, diskusi sejarah Lewoingu yang kita lakukan selama ini menjadi suatu proses yang sangat bermakna.

1. Siapa Pencipta Nama Lewoingu

Tentang nama Lewoingu dan artinya, itu sudah saya kemukakan dalam "Catatan Kritis Untuk Nukilan Sejarah Lewoingu." Di sini saya hanya menambahkan, bahwa kata "lewo" itu memang istilah khas Lamaholot. Tetapi istilah "ingu" sama sekali tidak dikenal dalam bahasa Lamaholot dan dalam bahasa-bahasa lain di Flores. Istilah itu pun tidak ditemukan dalam protobahasa Flores. "Ingu" adalah istilah yang dikenal dalam bahasa Jawa, sejak zaman dulu hingga sekarang.

Lantas siapa yang menciptakan nama Lewoingu? Apakah penduduk asli, atau kelompok pendatang pertama yang diduga berdatangan dari Jawa akibat peperangan? Atau siapa?

Kiranya cukup jelas bahwa term "lewoingu" tidak berasal dari penduduk asli. Penduduk asli tentu mengenal kata "lewo". Tetapi sukar bagi kita untuk mengatakan bahwa mereka pun mengenal kata "ingu." Bisa saja penduduk asli pun pernah berkontak dengan orang-orang dari Jawa, misalnya di pasar Lewokoli'. Tetapi perlu diperhatikan bahwa orang-orang Jawa yang datang ke sana waktu itu lebih banyak menggunakan bahasa Melayu, yang pada masa-masa itu menjadi lingua franca di nusantara. Bisa diduga bahwa bahasa yang digunakan di antara sesama orang dari suku Jawa, yang waktu itu berdagang di pasar Lewokoli' adalah bahasa Jawa. Tetapi penggunaan bahasa Jawa di sana, lebih bersifat terbatas. Dengan demikian, sukar pula bagi penduduk asli di sana untuk mengenal kata "ingu." Jangankan penduduk asli di daerah kita, orang Sunda yang bertentangga dan yang kebudayaannya di sana sini bertumpang tindih dengan kebudayaan Jawa pun tidak mengenal kata "ingu."

Kalau begitu, apakah istilah "lewoingu" itu berasal dari kelompok pertama yang diduga berdatangan dari Jawa ke sana. Saya kira tidak juga. Mengapa tidak? Ada dua alasan yang dapat saya catat di sini. Alasan pertama, kelompok pendatang pertama yang diduga dari Jawa itu toh tidak langsung membentuk suatu model kehidupan bersama dalam suatu kampung yang cukup besar dibandingkan dengan kampung-kampung kecil yang sudah ada di daerah itu. Kelompok-kelompok itu menetap di lokasi-lokasi yang saling terpisah, di bukit-bukit dan puncak-puncak gunung di daerah kita. Memang, mereka bisa saling berinteraksi, tetapi masing-masing tempat tinggal mereka adalah lewo-lewo yang otonom. Pada waktu itu, lewo merupakan kampung keluarga. Model kampung semacam ini masih terdapat di beberapa daerah di Flores, antara lain di pedalaman Ende dan Ngada. Hal ini saya temukan waktu saya ke daerah Nangaroro dan Riti, dan waktu saya tinggal di Nangapanda selama enam bulan pada tahun 1975. Seluruh daerah yang termasuk Paroki Nangapanda, mulai dari pantai Selatan hingga pantai Utara, sudah saya jelajahi dengan berjalan kaki dan kadang-kadang berkuda, bersama pastor paroki Nangapanda waktu itu, yaitu Pater Jeremias Dewa, SVD. Di seluruh wilayah paroki itu hanya ada satu kampung yang cukup besar, yaitu Rajawawo. Kampung-kampung lainnya hanya terdiri dari "satu dua" rumah.

Alasan kedua, tampaknya tidak setiap kelompok yang diduga berdatangan dari Jawa itu adalah orang yang berasal dari suku Jawa atau yang fasih berbahasa Jawa. Seandainya mereka berasal dari suku Jawa, dan kalau mereka berdatangan sebagai kelompok, mereka mestinya membangun kampung, lingkungan permukiman baru di sana menurut tradisi budaya Jawa. Ke mana orang Jawa berpindah, di situ dia mampu menjawakan lingkungan hidup barunya, misalnya dengan memberikan nama tempat sesuai dengan nama tempat di daerah asalnya di Jawa, dan melakoni hidup sehari sesuai dengan adat istiadat kejawaannya. Tetapi hal ini tidak kita temukan di daerah kita. Orang Jawa itu sangat menjunjung tinggi asas kekeluargaan, asas kerja sama (gotong royong), apalagi ketika mereka berada jauh dari tanah asal mereka. Sejak zaman dulu, orang Jawa telah membentuk kehidupan bersama dalam tatanan sosial yang melibatkan banyak keluarga, banyak orang, yaitu dalam dusun-dusun dan desa-desa.

Jadi hipotesa bahwa nama "lewoingu" diberikan oleh kelompok pendatang pertama yang diduga berdatangan dari Jawa kiranya sulit dipertahankan. Kita perlu mencari hipotesa yang lain.

Lalu siapa yang menempa istilah "lewoingu"? Dalam "Catatan Kritis Untuk Nukilan Sejarah Lewoingu," saya sudah sempat menyinggung bahwa nama "lewoingu" itu ditempa oleh tokoh pendiri suatu model perkampungan baru, yang dapat menjamin keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan seluruh warganya. Tokoh itu adalah Gresituli. Saya sendiri belum dapat menentukan secara lebih jelas di tahun berapa Lewoingu mulai dibangun. Yang dapat dikatakan sekarang ialah bahwa pembangunan Lewoingu itu dimulai sekitar 14 (empat belas) generasi yang lalu, dihitung dari generasi kita.

Menurut saya, ada satu petunjuk penting yang dapat dijadikan dasar bahwa Gresituli menjadi pemimpin pendirian Lewoingu, yaitu adanya benteng batu, yang mengelilingi Dumtana dan Dumbata. Dulu benteng batu itu cukup tinggi dan tertata rapih, dengan dua pintu utama, satu untuk keluar-masuk warga Dumtana, dan satu lagi untuk keluar-masuk warga Dumbata. Pintu itu disebut Mada. Mada di Lewoleing dijaga oleh suku Lewoanging dan Wulogening. Mada di Lewowerang dijaga oleh suku Wungung Padung.

Sehubungan dengan adanya benteng batu itu, coba kita perhatikan, mana ada benteng untuk kampung-kampung lainnya di sekitar kampung kita tempo doeloe? Di pulau Flores, ada pula kampung-kampung tertentu, antara lain kampung Bena di Ngada, dan kampung Hewokloang di Maumere, yang juga dilindungi dengan benteng batu. Perlu dicatat bahwa Bena adalah tempat tinggal pemimpin adat masyarakat setempat, yang sangat disegani. Dewasa ini Bena menjadi salah satu objek wisata budaya yang terkenal di Ngada.

Sementara itu sistem pembangunan kampung-kampung atau desa-desa di pulau Jawa tidak mengenal benteng batu seperti itu. Di Jawa, benteng dibangun hanya untuk melindungi kompleks istana raja. Di Flores Timur dan sekitarnya, benteng dibangun untuk melindungi istana raja Larantuka dan istana raja Sagu.

Benteng juga dibangun oleh para pedagang Portugis dan Belanda untuk melindungi kepentingan binis mereka di tempat-tempat tertentu di nusantara. Tetapi orang-orang Portugis dan Belanda tidak membangun benteng untuk melindungi suatu kampung. Mereka membangun benteng untuk melindungi kompleks tertentu, sesuai dengan kepentingan dagang yang harus dilindungi dari ancaman musuh.

Kiranya jelas bahwa "benteng" adalah suatu ide yang berasal dari atas, dari pemimpin yang sudah tahu betul arti benteng bagi keamanan dan perlindungan bagi suatu komunitas sosial. Dan tak perlu diragukan lagi, bahwa pembangunan benteng batu di Lewoingu itu dilakukan atas kehendak dan perintah Gresituli. Hanya pemimpin yang sangat berwibawa yang dapat mewujudkan pembangunan benteng batu semacam itu.

Saya melihat ada kaitan erat antara konsep "ingu" dan konsep "benteng" (bliko). Bukankah lewo yang dibangun untuk memelihara dan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan perlu dilindungi dengan benteng batu (bliko dari wato) yang kokoh? Yang tinggal bersama di dalam bliko tentu akan merasa lebih tenang, ketimbang yang tinggal di luar bliko itu.

Selain Koke Bale, benteng batu itu merupakan simbol persatuan yang sangat kokoh. Jika Koke Bale ada dua, benteng batu yang kokoh itu hanya ada satu, untuk melindungi dua komunitas sosial, yang bersatu dalam Lewoingu.

2. Arti Kononatif dan Arti Denotatif Term Lewoingu

Kiranya sudah jelas arti konotatif term "lewoingu." Hal ini sudah saya jelaskan dalam "Catatan Kritis Untuk Nukilan Sejarah Lewoingu". Di situ sudah dijelaskan bahwa Lewoingu adalah kampung yang memelihara, merawat, mendidik, membentuk setiap warganya menjadi orang-orang yang baik. Selanjutnya kita akan melihat arti denotatif dari term "lewoingu". Yang jadi pertanyaan ialah term lewoingu itu mencakup kampung-kampung mana saja? Berdasarkan situasi kampung dan desa sekarang, term "lewoingu" mencakup Eputobi, Riang Duli, Riang Kung (dulu ada Riang Wolor, yang terletak di sebelah barat Riang Kung), dan Lewolaga. Di awal pembentukannya, term "lewoingu" mencakup Dumtana, Dumbata, lalu Sarabiti, dan Waihali, serta riang-riang kecil lainnya yang jarang disebut.

Sebutan Dumbata Lewoingu Sarabiti Waihali, yang juga sering muncul dalam doa-doa dalam upacara adat Lewoingu itu, pun melambangkan persatuan yang erat antara komunitas yang satu dan komunitas lainnya. Meskipun beda lokasi tinggal, tetapi mereka adalah satu dalam Keluarga Besar Lewoingu. Tapi rangkaian nama-nama itu bisa mengundang pertanyaan seperti ini: Mengapa Dumtana kok tidak disebut? Apakah Dumtana tidak tercakup dalam konsep "lewoingu"?

Dumtana justru merupakan cikal bakalnya Lewoingu. Sehingga mustahil kita dapat membayangkan adanya Lewoingu tanpa adanya Dumtana. Jika demikian, mengapa yang disebut hanya Dumbata Lewoingu Sarabiti Waihali? Rangkaian nama-nama yang menjadi satu itu bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk dapat mengatakan bahwa sebutan itu tidak berasal dari masa-masa awal Lewoingu. Sebutan itu muncul di kemudian hari, setelah komunitas Dumbata (Lewowerang) tampil sebagai kekuatan yang boleh dikata lebih dominan dan agresif dalam banyak urusan. Ciri ini terungkap dalam semboyan: "Kiko rio-rio, kayo' bunga bali, au' matang wara" ("Kuat seperti kayu pohon bunga bali, keras bagai buku-buku bambu"). Sampai sekarang sifat agresif orang-orang Lewowerang itu masih tampak jelas di kampung kita Eputobi.

Dari rangkaian nama-nama di atas pun kita bisa mengetahui bahwa Sarabiti dan Waihali itu berafiliasi dengan Dumbata. Saribiti dan Waihali pun merupakan bagian yang sah dari Lewoingu.

Dalam perkembangan lebih lanjut, term Lewoingu pun sempat mencakup pula desa-desa lain seperti Leworook, Tuakepa, Tenawahang, Lewoluo, Lewolala, Sukutukang, Palue, Pukaunu, Boru, Hewa, dan Henga' di Nebe. Belum terhitung Riang-Riang kecil yang tak perlu disebutkan satu per satu di sini. Jadi, cukup jelas bahwa Lewoingu pernah memiliki pengaruh yang kuat di kawasan yang kini mencakup dua kecamatan (Titehena' dan Wulanggitang), bahkan sempat pula melintas hingga ke Henga' yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Sika. Seandainya tidak ada pemimpin yang sangat berwibawa di Lewoingu, pengaruhnya tidak mungkin menyebar ke berbagai daerah tersebut.

3. Gresituli: Pendiri, Pemimpin Lewoingu

Pemimpin Lewoingu yang sangat berwibawa itu adalah Gresituli. Tampilnya Gresituli sebagai sang pendiri dan pemimpin Lewoingu, yang sangat berwibawa merupakan kenyataan yang dapat dituturkan dengan jelas.

Tentang Gresituli, memang masih ada hal-hal tertentu, yang belum dapat diceriterakan dengan jelas, antara lain tentang negeri asalnya, orang tua kandungnya, dan tentang strata sosialnya. Yang ada baru hipotesa-hipotesa yang masih perlu diuji dan diuji lagi kekuatannya. Tetapi kisah perjalanannya bersama adiknya yang bernama Keropong Ema, dari tanah Jawa ke arah timur hingga sampai dan menetap di daerah kita, dapat dituturkan dengan mudah. Terkait dengan perjalanan itu, dapat dituturkan pula tantangan-tantangan apa yang dihadapi oleh Gresituli dan Keropong Ema. Siapa yang pernah membantu mereka ketika menghadapi musuh yang menyerang mereka, pun dapat disebutkan. Namun membentangkan semua itu satu per satu di sini, bukan maksud esai ini. Tunggu saja tanggal peluncuran Sejarah Gresituli.

Yang perlu kita pehatikan ialah, bahwa Gresituli dan Keropong Ema adalah nama-nama dari dua orang yang berbeda. Nama pendiri Lewoingu itu bukan Gresituli Keropong Ema, tetapi Gresituli. Sumber yang dipakai oleh penulis nukilan "Sejarah Lewoingu Kampung Eputobi" tampaknya tidak tahu kata-kata yang dilontarkan oleh Gresituli waktu dia berhasil memanah seekor rusa jantan di padang perburuhan sekitar Ile Bele'eng. Waktu itu dia tidak menyerukan "Go Gresituli Keropong Ema". Yang dia serukan adalah "Kopong Go Gresituli, Mamung Goeng Keropong Ema" ("Aku Gresituli, Adikku Keropong Ema").

Mengapa nama adiknya pun ikut diserukan? Itu tidak lain karena adiknya adalah orang yang sangat berarti baginya terutama dalam perjalanan yang penuh tantangan dan bahaya dari Jawa hingga Hewa di Flores Timur. Kedua orang kakak beradik ini sangat jago dalam menghadapi perang darat. Sehingga musuh-musuh yang mereka hadapi dengan mudah dapat dikalahkan. Dalam hal kekuatan dan ketangkasan perang darat, Keropong Ema memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan kakaknya. Tetapi kadang-kadang si adik kurang perhitungan juga. Dalam hal pengaturan strategi untuk melumpuhkan musuh, Gresituli adalah jagonya. Peristiwa tragis (pembunuhan Keropong Ema) di Hewa (tepatnya di Waiula), seperti sudah saya kemukakan dalam "Catatan Kritis Untuk Nukilan Sejarah Lewoingu," tidak terlepas dari kekurang-cermatan perhitungan si adik itu. Tapi okelah, itu sudah terjadi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah sang pendiri Lewoingu.

Setelah peristiwa tragis di Hewa itu, Gresituli meneruskan perjalanannya ke arah timur. Menjelang tenggelamnya mata hari, dia sampai di Ile Kehue'. Dari situ dia pun sempat menengok dan melayangkan pandangannya ke arah Hewa. Lalu, seakan berbicara dengan adiknya yang terkubur di sana, dia mengatakan,

"sekarang engkau sudah tidak ada lagi, aku akan meneruskan perjalanan ini ke arah matahari terbit."

Ini tentu suatu pernyataan simbolik. Perjalanan itu akhirnya membawa Gresituli sampai ke Lewokoli'. Dan di sekitar pasar Lewokoli' itulah hari-hari pertamanya di tanah baru dia lalui, berbaur dengan para pedagang dari Jawa dan Cina. Interaksinya dengan para pedagang itu berlangsung lancar, karena bahasa mereka cocok. Karena tinggal di sekitar Lewokoli' itulah, maka dia pun dapat menjalin hubungan baik dengan pihak Paji. Bahkan dia pun menikah dengan anak Paji. Setelah itu baru kisahnya berlanjut ke Lewowato, dan seterusnya itu. Banyak orang Eputobi tidak tahu tentang ini. Karena, mereka langsung terkecoh dengan ceritera tentang penemuan seorang bayi laki-laki, yang masih lengkap dengan ari-ari, di Tana Beto.

Gresituli tidak pernah tinggal di Lewohari. Kalau dia tinggal di Lewohari, orang Lewohari mestinya tahu pula siapa namanya. Kalau ada orang Lewohari yang menyebut demong tawa nubung barang atau disingkat demong tawa, dan kalau sebutan itu untuk Gresituli, maka sebutan itu justru menunjukkan bahwa mereka baru mengenal dan mengerti siapa itu Gresituli setelah dia tampil sebagai pemimpin Lewoingu. Mereka tentu tahu arti kata tawa, nubung, dan barang. Tetapi saya ragu, apakah mereka tahu arti kata demong. Banyak orang di kampung kita yang hanya bisa menggunakan istilah demong, tetapi tidak tahu artinya. Kata demong itu berasal dari kata demang, yang berarti penguasa wilayah. Selain itu kata demang juga berarti sesepuh (yang dituakan). Di Jawa Demang adalah penguasa wilayah, yang terkenal, dan dianggap memiliki kekuatan sakti. Demang adalah orang yang disegani di daerahnya.

Sira Demon (menurut ucapan orang Lewoingu Sira Demong) adalah sebutan untuk Raja Larantuka. Nama setiap anak laki-laki turunan Raja Larantuka diembeli pula dengan Demon, artinya pemimpin, raja yang berkuasa di wilayah Flores Timur dan sekitarnya. Dalam marang mukeng di Lewoingu pun terdapat bait yang menyebut Sira Demon Pagon Molan, yang berarti: Dia adalah Pemimpin Kuat Nan Sakti. Sira itu berasal dari bahasa Kawi (bahasa Jawa Kuna), artinya: dia. Demon, artinya: pemimpin, atau raja. Pagon berarti kokoh atau kuat. Molan berarti orang sakti.

Lagi-lagi kita melihat bahwa dalam sebutan itu (Sira Demon Pagon Molan) pun dapat ditemukan jejak-jejak pengaruh bahasa Jawa terhadap kebudayaan Lamaholot, yang berpusat di istana Raja Larantuka. Pengaruh itu pun tampak dalam marang mukeng di Lewoingu.

Kalau demong merupakan sebutan orang Lewohari untuk Gresituli, itu menandakan bahwa mereka mengakui Gresituli sebagai pemimpin Lewoingu. Dan saya kira memang demikian adanya. Kalau tradisi lisan tertentu berusaha mengaburkan atau ingin menghilangkan peranan Gresituli sebagai pendiri Lewoingu, itu tak jadi soal. Karena, tradisi lisan hanyalah salah satu dari sekian banyak data sejarah lainnya. Di Lewoingu terdapat data-data sejarah lain yang tak bisa diingkari, seperti koke, tanah, tradisi kepemimpinan berdasarkan otoritas tradisional, benteng batu, kuburan, dll. Data-data itu berbicara secara apa adanya kepada kita, bahwa Gresituli adalah pemimpin Lewoingu.

4. Lewoingu adalah Hasil Musyawarah Mufakat Suku-suku

Menekankan pentingnya peranan Gresituli sebagai pemimpin Lewoingu, itu tidak berarti bahwa suku-suku lain tidak berandil dalam pembentukan sejarah kebudayaan Lewoingu. Sejak dini, suku-suku lain pun berperanan penting. Lewoingu itu dibangun berdasarkan persetujuan dan musyawarah bersama dari suku-suku yang pada waktu itu masih hidup tersebar di kampung masing-masing. Musyawarah bersama itu tentu di bawah kepemimpinan Gresituli. Atas persetujuan bersama, suku-suku itu bersatu, hidup bersama sebagai satu keluarga, yaitu Keluarga Lewoingu. Ada suku-suku yang membentuk hidup bersama di Dumtana, ada suku-suku yang membentuk hidup bersama di Dumbata. Persatuan itu sangat diperlukan karena mereka menghadapi musuh bersama, yaitu Paji.

Tetapi ada suku yang menolak untuk hidup bersama di Lewoingu, meskipun sudah diajak untuk ikut serta dalam hidup bersama di Lewowerang. Tidak jelas apa alasan penolakannya. Yang jelas, suku itu lantas berada di luar benteng batu.

Persatuan Lewoingu, yang mencakup persatuan di Lewoleing dan Lewowerang, diperkuat dengan pengembangan sistem kepemimpinan bersama. Kita sudah tahu bahwa di Lewowerang, di bawah kepemimpinan Sani, putra bungsu Gresituli, dibentuk kepemimpinan bersama yang melibatkan delapan suku utama, yaitu 1) suku Ata Maran, 2) suku Kebele'eng Kelen, 3) suku Kebele'eng Koten, 4) suku Amalubur, 5) suku Lamatukan, 6) suku Wungung Kweng, 7) suku Lewo Hayong, dan 8) suku Kumanireng Blikololong. Dan apa tugas masing-masing suku ini dalam tatanan adat di Lewowerang kiranya sudah jelas juga. Selain delapan suku ini, masih terdapat suku-suku lain, yaitu suku Kumanireng Blikopukeng, suku Lewo Hayong Witiwareng, suku Wungung Padung, suku Wungung Kehule, suku Lewo Ema Lere'eng, suku Sogemakin, suku Lewo Manuk, suku Wungung Beoang.

Di Lewoleing terdapat suku Lewoema, yang terdiri dari Lewoleing dan Dowengone'eng, suku Wulogening, suku Lewoanging, suku Muking, suku Useng Hule (yang sudah tidak ada lagi keturunanannya).

Selain itu masih terdapat dua suku lagi yang termasuk Lewoingu, yaitu suku Bentu (Betu) dan suku Kelasa. Waktu pertama datang ke Lewoingu, tepatnya ke Dumbata, orang-orang dari kedua suku ini membawa jala. Mereka adalah nelayan. Karena itu, mereka diberi tugas untuk menjaga pantai. Untuk itu mereka diberi tempat tinggal di Lewokroko' di Lewolaga.

Dalam perkembangan selanjutnya hingga ke masa kita hidup sekarang ini, bergabung pula dengan Lewoingu, yang sudah terbagi dalam Lewolaga, Eputobi, Riang Duli dan Riang Kung, suku-suku lain. Ada yang datang ke desa-desa tersebut melalui jalur perkawinan, ada yang melalui jalur lainnya. Menarik bahwa orang-orang lain yang mau ikut bergabung di "Lewoingu" dapat diterima dengan baik.

Pembicaraan ringkas tentang suku-suku ini mau menandaskan bahwa musyawarah mufakat merupakan metode yang menentukan pembangunan kebudayaan Lewoingu. Musyawarah mufakat senantiasa mengandaikan dua syarat, yaitu 1) adanya orang atau pihak yang berinisiatif untuk memfasilitasi diadakannya musyarawarah yang melibatkan berbagai pihak terkait, dan 2) adanya orang-orang yang mau duduk bersama untuk menyepakati perwujudan persatuan dalam perbedaan. Jadi jelas bahwa nilai persatuan itulah yang mendasari jalan musyawarah mufakat tersebut di atas. Persatuan itu pula yang menjadi fundasi bagi perwujudan keamanan, kebaikan, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan di tanah Lewoingu.

Nenek moyang kita telah mengajari dan memberi teladan kepada kita tentang betapa pentingnya nilai persatuan dalam perbedaan. Karena prinsip itu pula, maka nenek moyang kita pun tetap memberikan ruang bagi perbedaan, bahkan pertentangan pendapat. Buktinya, mereka yang tidak mau bergabung langsung dengan Lewoingu yang baru dibentuk waktu itu pun tetap dihormati.

5. Catatan Penutup

Yang menarik untuk diperhatikan ialah bahwa konsep persatuan yang dikembangkan oleh para pendiri Lewoingu itu bersifat inklusif, bukan eksklusif. Persatuan yang mereka kembangkan itu bersifat terbuka dan mampu menerima keluarga-keluarga lain yang ingin bergabung dengan mereka di Lewoingu. Baik suku-suku yang menjadi tiang utama Lewoingu, maupun suku-suku lain yang datang lebih kemudiaan, mereka sama-sama sepakat untuk membangun kehidupan bersama yang dinamis di Lewoingu. Masing-masing suku itu diberi hak hidup dan hak untuk melangsungkan kehidupannya di bumi Lewoingu, dengan batasan-batasan moralitas adat istiadat yang telah disepakati bersama. Itu sudah terjadi sejak masa-masa awal Lewoingu. Dan ciri itu pun terus menampakkan diri secara jelas dalam sejarah kebudayaan Lewoingu, hingga mencapai kurun zaman abad ke-20.

Berdasarkan persatuan itu pula, masalah apa pun yang terjadi di Lewoingu, konflik apa pun yang sempat meletup antara pihak-pihak tertentu di tanah Lewoingu, dapat diatasi dengan baik. Konflik-konflik sosial di Lewoingu dipicu, antara lain oleh adanya kleim-mengkleim pemilikan atau batas newa nurak, keributan intern suku tertentu, juga dipicu oleh motivasi-motivasi psikologis, yaitu hasrat berlebih-lebihan di kalangan tertentu untuk berkuasa. Padahal sejarah Lewoingu telah membentangkan secara jelas jalur-jalur kekuasaan adat. Dalam sejarah Lewoingu, tampuk-tampuk kekuasaan adat yang dipegang secara kolektif oleh suku-suku tertentu itu tidak pernah dipergunakan secara destruktif. Selama ini, kekuasaan adat itu sungguh-sungguh diabdikan demi kemakmuran, kebaikan, dan kesejahteraan Lewotana.

Kalau akhir-akhir ini banyak orang Eputobi mulai menyadari pentingnya prinsip UING TOU, prinsip itu hendaknya tidak hanya dibicarakan, tapi harus sungguh-sungguh mulai direalisasikan dengan sikap sederhana dan rendah hati, dengan berani mengakui kekeliruan kalau kekeliruan itu memang pernah terjadi, berani memaafkan pihak-pihak lain yang dianggap bersalah, berani tidak iri dan benci terhadap orang-orang lain hanya karena mereka memiliki status dan peranan sosial-historis tertentu, berani menerima dan mengakui kelebihan dan kekurangan orang lain, berani berbuat baik terhadap sesama, berani berdamai dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan Lewotana, dan berani mempercayakan hidup kita sepenuhnya pada Tuhan Allah, bukan pada kuasa gelap. Jika itu dilakukan, maka kita sebagai putera-puteri Lewoingu, dengan sendirinya dibenarkan baik dihadapan Lewotana maupun di hadapan Lera Wulang Tanah Ekang.

Pada dataran historis yang nyata kita dapat memulainya dengan memperlakukan kebenaran sebagai suatu proses dialogal, bukan sebagai suatu proses monologal, dalam suatu kebenaran historis tentang kelewoinguan kita.

Salam Lewoingu kepada anda semua yang membaca esai ini. Mohon maaf kalau ada kata-kataku yang salah.

Sumber Primer:

Sejarah Gresituli, seperti dituturkan oleh Bernardus Sani Ata Maran (Sani Nubahang) kepada anak-anaknya (E. Tonu Maran, Longginus Laba Maran, Plasidus Nuba Ata Maran, Yustina Jawa Maran, Claudius Dalu Maran, Rafael Raga Maran, Imelda Gute Maran, Yoakim Gresituli Ata Maran, Margareta M. Maran).

Sejarah Gresituli, seperti dituturkan oleh Bernardus Sani Ata Maran kepada cucunya yang pertama (Bernardus Yosef Sani Maran).

Catatan Berdasarkan Riset Sejarah Lewoingu yang dibuat oleh Rafael Raga Maran.

Sumber Sekunder:

Catatan berdasarkan observasi terbatas adat istiadat Lamaholot di Larantuka yang dilakukan oleh Imelda Gute Maran.

Informasi pembanding dari luar lingkungan Lewoingu dan Lamaholot (di Flores), diperoleh penulis dari J. W. Pedor.

Informasi Pembanding dari lingkungan budaya Jawa diperoleh penulis dari: Theresia Wartini, Sugeng Gunadi, Daliman, dan M. Prihendratmoko.

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS