AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

MENGAPA DUNG TANA POTA WATO PASANGANNYA POTA ILE HONE WOKA, DAN DUNG BATA LEWOINGU DIPASANGKAN DENGAN SARABITI WAIHALI.

oleh: Dony Kumanireng
Terbit: 1 April 2008

a) Metode-metode Hermeneutika Baru Menyentuh Sebagian Aspek Historis dari Suatu Dokumen Tertulis

Dasar pijakan pendekatan Rafel Maran dalam Catatan Kritis untuk Nukilan Sejarah Lewoingu di website eputobi.net adalah pendekatan Hermeneutis. Disana dia uraikan bahwa nama Dungbata Lewoingu merupakan perpaduan kata bahasa Jawa dan bahasa Lamaholot. Bahasa Jawa Rafel andalkan karena menurut dia: Gresituli tiba di Tanabeto sebagai orang yang telah dewasa. Dia lebih suka meminjam metodologi hermeneutis karena dia lebih percaya pada ahli hermeneutika macam Paul Ricour, Ferdinand de Saussure, Emilio Betti, Michel Foucault, Antonio Gramsci, John Hick, Wilfred Cantwell Smith, ketimbang percaya kepada marang bapak Kuku Beoang, bapak Wadang Kumanireng. Dua nama terakhir ini melalui proses GOBO’ PEK (pelantikan) oleh Atamaran di koke Lewowerang, baru melaksanakan tugas marang. Bahkan sampai wafat, bapak Wadang disapa bapak ‘imang/imam’.
Simpulan Rafel bahwa Gresituli “beto=tiba” di Tanabeto sebagai seorang pemuda Jawa yang sudah dewasa, melahirkan sejumlah pertanyaan kritis.

Pertama: Dari mana asal Gresituli? Pertanyaan ini jelas bisa dijawab, yakni Sinayawa. Jika thesis ini kita terima, maka kita menyetujui Gresituli itu bukan Demong melainkan Tenamao. Dan ini adalah penghinaan yang keji, langsung terhadap Gresituli serta seluruh keturunannya. Sebab dalam tradisi Lamaholot di seluruh Flotim, Lembata, dan Alor, ada dua kelompok asal manusia, yaitu TENA MAO atau ILE JADI. Sementara itu, dalam marang disebutkan bahwa:

Demong pe’eng betok rae koting bala pukeng,
Pagong pe’eng burak rae wato tonu lolong.
Betok lali tana haka, burak lali ekang gere
Betok na’ang bai eha’ang
Burak na’ang beda soka toya

Lerawulang melengkapinya dengan perangkat AONG WEDENG (lagu nina bobo bayi):

Weka keak teti pai
Wodong gorek lali dai
Lusi gileng teti pai
Lako hayang lali dai

Kedua:Apa alat transportnya; via laut / tenamao, apakah via darat / beto=muncul dari bumi, atau via udara/ penike kepi kedang (seperti hikayat Sabudora Yawa Lepang)?

Ketiga: Dengan siapa dia datang; apakah sendiri untuk berdagang, atau membawa pasukan?

Keempat: Bila datang sendiri untuk berdagang; apa nama jenis barang dagangannya, dan dengan siapa ia berdagang? Apakah dengan paji Lewokoli? Lewokaha? Tanaboting? Lamawulo? Wolomeang? Lewohari? Lewomuda? Asirani? Lewotapo?

Kelima: Bila datang dengan pasukan, maka siapa yang ditaklukan? Apakah dia menaklukan: paji Lewokoli? Lewokaha? Tanaboting? Lamawulo? Wolomeang? Lewohari? Lewomuda? Asirani? Lewotapo?

Keenam:  Berapa kali Grresituli “tiba”, dan mengapa “tiba”nya dia ke Tanabeto itu menjadi tonggak sejarah Lewoingu? (Tanabeto was a milestone for our history).

Semua pertanyaan itu tidak ditemukan satu pun jawabannya yang ada atau mungkin ada dalam isi syair-syair marang. Tak ada jawaban yang bisa ditemui dalam marang dimanapun. Baik marang di koke Lewolein, maupun Lewowerang. Tidak ada versi tersebut ditemukan di kalangan suku-suku keturunan Gresituli lainnya. Jadi apa acuan kita untuk menerima gagasan ini?

Simpulan Rafel, merupakan hasil tafsir atas etimologi kata Lewoingu dan Dumbata. Tafsiran itu muncul karena pola pikir yang mendasari analisis dia bukanlah pola pikir yang berkembang dalam tradisi marang di koke Lewowerang. Akibatnya dengan mudah pula dia nyatakan kalau ada dongeng di Lewoingu tentang Botabewa menemukan bayi yang kemudian bernama Gresituli. Bagi Rafel seolah-olah, para orientalis dan filsuf Barat itu adalah penunjuk jalan kebenaran bagi sejarah Lewoingu. Konotasi kalimat terakhir itu sbb.: ’Syair dalam marang rae koke Lewowerang, BUKAN penunjuk jalan kebenaran bagi sejarah Lewoingu. Sekaligus tersirat di dalam kalimat ini, afirmasi penyangkalan atas kebenaran marang’. Penyangkalan macam ini, sama resikonya sebagaimana Akim Maran RESO LANGO LINPATI (goyang rumah adat Linpati) yang berujung dengan OBA MATA YA’ (mati konyol) sesuai ucapan Gena Maran saat kejadian itu: “Nong, mo oba mata yo”. Dan hal itu pun sudah terjadi di Blou! Kini ahli Hermeneutika Eputobi ber-KTP DKI Rafael Raga Maran, menyebarkan ke seluruh dunia penghinaan langsung kepada Gresituli pribadi melalui eputobi.net. Maka kalimat yang sama ditugaskan kepada Doni Kumanireng untuk menulis: “Nong, mo oba mata yo”. Dan hal inipun akan terjadi any time any where, before or after you read this blog, oh poor Rafael. Percaya tidak percaya, terserahlah. Saya tak punya kepentingan sedikitpun. Siapa sih kamu itu?

Hal ini dapat dimaklumi, karena ketika B. Sani Maran hidup, yang mendapat karunia marang adalah bapak Kuku Beoang, menggantikan bapak Wadang Kumanireng. Di jaman kakek Rafel yaitu Nuba Maran hidup, bapak Wadang Kumanireng sudah marang, menggantikan Bolo Bele’eng. Bolo Bele’eng menggantikan kelake Mige Amalubur yang bertugas di jaman Gena (ayah Nuba, moyang Rafel) hidup. Kelake Mige cukup lama menjadi pejabat marang. Sebelum kelake Mige mendapat karunia marang, telah terjadi kekosongan sekitar dua sampai tiga generasi, dimana koke Lewerang eksis tanpa pengucap marang. Pada saat kekosongan itu dikenal sebuah adagium (kehere): “Menue Hera marang nawah’ng kae”. Menue Hera (narang kiwaneng sebagaimana nama alat pintal benang kiwaneng, bukan: Emanuel nama baptis) adalah seorang bapak dari suku Lewohera, merupakan tokoh marang tertua yang mampu saya lacak dari tradisi kita. Nama-nama tokoh sebagai pembawa marang di atas nama Menue Hera itu, walahualam.

Namun disini ingin saya lukiskan bahwa sejak Menue Hera, sampai bapak Kuku Beoang, tak ada satu pun suku Atamaran yang mendapat karunia (dan oleh karena itu bertugas) untuk marang rae koke Lewowerang. Artinya dari rangkaian nama orang yang bisa marang pada ahik koke untuk sekian generasi, ternyata tidak satu pun berasal dari suku Atamaran. Sejauh yang sempat saya catat, orang dari suku Atamaran terakhir yang bisa marang adalah Puru Maran. Beliau diperkirakan sebagai turunan lapis ke-7 atau ke-8, dari Raga putera Hule. Nah, begitu lama nenek moyang si Rafel anak dari B.Sani Maran ini terputus hubungannya dengan marang, sehingga anakcucu mereka Rafel, KABE LABE GAGE HAYA RUPANG ATA PLATE BENGANG (ngomong ngawur kayak orang demam panas tinggi).

Jadi dengan sangat mudah dimengerti bahwa cerita sejarah (termasuk knutuk knatak) Atamaran, yang sekarang ada di kalangan Atamaran sendiri, maupun yang tertulis sebagian dalam blog Rafel Maran, boleh jadi sudah jauh membias. Bias itu muncul bisa tanpa sengaja, bisa juga sengaja dipelintir karena tak ada lagi kendali rasa takut pada syair dan ritme sacral yang ada pada ritus marang tersebut. Maka seorang B. Sani Maran dengan anak-anaknya boleh bebas menginterpretasi. Bebas memelintir peristiwa Gresituli “beto = muncul dari tanah” dengan ‘beto = tiba pada suatu tempat’.

Sebagai implikasi dari suatu analisis hermeneutis: sah-sah saja ‘beto = tiba’. Tapi dimanakah frase-frase itu tergambar dalam syair-syair marang? Tidak ada sama sekali. Tak ada sedikitpun petunjuk tentang itu. Nonsense! Maka kita pun sah-sah juga, untuk menginterpretasi argument Rafel sebagai sebuah pemelintiran kisah sejarah Lewoingu masa silam. Disinilah letak, sakitnya perasaan hati orang kita Lewoingu yang membaca pendapat Rafel baik di eputobi.net maupun di blog Atamaran. Lebih sakit lagi justru konotasi pendapat orang ini: ’Syair dalam marang rae koke Lewowerang, BUKAN penunjuk jalan kebenaran bagi sejarah Lewoingu”. Maka lengkaplah kini. Sudah murtad terhadap Lerawulang, kini terungkap pula dia murtad tarhadap Tana ekang. Sili, le lia’ opa pelate mo baing ro mihi’. Arti harafiah: lombok atau halia, sehingga panasnya langsung lu rasa.

Dilain pihak, metode-metode hermeneutika, baik metode Betti maupun metode de Saussure, atau lainnya, belum menunjukan satupun karya yang utuh dan menyeluruh. Metode mereka, baru menyentuh sebagian aspek histories dari suatu dokumen tertulis. Bagaimana pula dengan kisah Gresituli yang hanyalah sebuah tradisi lisan? Saya berani mengadu bahwa, metode hermeneutika dalam bedah sejarah Lewoingu adalah suatu pendekatan yang gagal. Invalid. Tidak layak jadi acuan studi, walaupun ia ditulis oleh seorang ahli sejarah sekaligus ahli hermeneutika tersohor sekalipun.

b) Koke Lewolein sebagai Koke Kakang


Dalam tulisan terdahulu sudah saya singgung bahwa, methode pembangunan rumah oleh Gresituli di Dungtana adalah metode: tung tana pota wato (= latu wato tung tana). Hingga sekarang pun, orang Lewoingu sejak dulu, masih memakai metode itu untuk membangun rumah mereka. Jadi teori yang mengatakan bahwa kata dungtana berasal dari kata dumtana tidak punya landasan historis.
Saya juga harus mengakui, bahwa dengan bertolak dari tung tana belum mampu menjelaskan tung bata menjadi Dungbata Lewoingu secara lengkap. Tapi saya tidak sedang berniat membuka klinik hermeneutika di tulisan ini. Saya hanya mengemukakan bahwa ketika Gresituli mendirikan koke, koke tersebut tidak dikenal dengan nama koke Lewolein, tapi dengan nama koke Dungtana. Satu-satunya koke yang ada hingga saat itu, adalah koke Dungtana. Lebih dari 40-an tahun atau empat dekade kemudian baru berdiri koke Dungbata dilokasi bernama Ingu. Kata ingu tak diketahui artinya. Sama juga dengan nama: Dalu, Doweng, Sani, Boli, Subang, Doni, Pehang, Puru, dll. Ketika dilakukan ahik koke Dungbata di lokasi Ingu ini, barulah padanan kata Dungbata Lewoingu dalam opak selama tiongbaleng di namang bele’eng populer diucap sepanjang malam. Padanan Dungbata Lewoingu ini bertahan hingga anda membaca tulisan ini. Disini anda boleh berpikir dan berpendapat beda. Karena koke Lewoingu berdiri rae lewo werang, sehingga disebut juga koke Lewowerang. Lau lewo lein sudah berdiri koke kakang puluhan tahun silam dengan pembagian tugas yang jelas untuk Dalu dan Doweng.

Doweng duluan menikah, dan membangun rumah sendiri. Putri sulungnya Kene dan saudara-saudaranya tinggal bersama orang tua mereka Doweng di Dungtana. Dalu setelah menikah, tinggal di Bawakebung (dekat Riangkung kini). Dalam pembagian yang sangat adil terhadap laki-laki sulung dari kedua istrinya (Nogo Dua dari Lewokoli dan Ketopiwoli dari Lewokaha), Gresituli membagi hak kepada Dalu dan Doweng yang sudah menikah. Sani yang belum menikah, tidak dibebani tugas tertentu. Tapi dia pun tidak kurang hati, karena lurang na’eng aping mateng dera’.

c) Prahara dan lewo plate, keturunan Metinara pla’e dari Dungbata

Peristiwa itu bermula tatkala Kene, puteri Doweng, ketahuan hamil dengan Hule, seorang keturunan Metinara kopong todo. Mereka pemilik ile Hinga, tinggal di Dungbata. Faktor yang sangat mengecewakan keluarga Doweng dan keluarga besar Gresituli, adalah Hule sudah beristri, dan tidak bersedia menikahi Kene. Ia hanya melakoni apa yang (sangat dihaluskan) oleh nenek moyang kita, dengan ungkapan: Nuhung temo tewong, alo boleng boto. Dengan menggunakan istilah bahasa sekarang disebut: Hule nalang na’ no’ong Kene anak putri dari Doweng dan Peni Hera.

Maka keturunan Gresituli ngamuk, lalu membunuh (hampir) semua keturunan Metinara, baik laki-laki maupun perempuan, kecil besar sapu rata. Mereka lari meninggalkan Dungbata. Sebagian lari ke Lewomuda (lau Lewomikeleng papa), bawa dg ihik atang: Ile Hinga liting boleng woka pepag ado girek. Sampai di Lewomuda, mereka lota tambah ilenya Lewomuda, sehingga gatak ile Hinga berubah menjadi Hinga liting boleng, woka lota tarang pito.

Akibat peristiwa pembunuhan dan pengusiran keturunan Metinara tersebut, Weronghegong (suku Kwen), mau kembali lagi ke Sarabiti (kampung/ lewo asalnya teti Riangbele’eng papa teti). Sogemaking dan Lamatukan juga, mau kembali ke Lewomuda (lau Gomi). Alasan mereka kembali ke lewo asalnya, yakni karena lewo Dungbata alakeng, ile Hinga alakeng plae kae. Sebagai pendatang mereka juga mau kembali ke kampung asalnya, karena ile Hinga ihikeng atah’ng sudah tak ada lagi.

Mendengar semua penghuni Dungbata akan meninggalkan lokasi itu, maka Gresituli mengutus anak bungsunya Sani (yang masih bujang) ke Dungbata, untuk memohon agar opu paing kaka ari yang sudah berada di Dungbata, ake pana. Sani, noro kropong bele’eng kae, kaweng wati. Sani, diutus sambil membawa dua tugas. Yang pertama: tugas Uluwai mati sela untuk bikin acara lete rau ekang plate, lewo nele glete gluo, dan wao ka tobo tei hama-hama rae Dungbata. Yang kedua: tugas bersama penghuni Dungbata, untuk pota ile hone woka, pukeng ile Hinga tawa kese ka gere lere ka kae. Ile Hinga tawa kese ka, gere lere ka, karena ihikeng atah’ng sudah lari dari Dungbata.

Sikap Werong hegong, menanggapi ajakan uluwai Sani, adalah: “pe Sarabiti weli dahe’eng tou, ke, kame tobo pi Dungbata todi weli nato pai toong Sarabiti Waihali. Ini dilakoni dengan tetap menempatkan nuba dan ike kewa’a Wungungkweng yang bernama Plea mata mereng, Apu wai peni di Sarabiti. Sementara itu, Lamatukang dan Sogemaking tetap saja kembali ke Lewomuda membawa serta seluruh ike kewa’a ra’eng.
Ketika kropong bele’eng Sani tei rae Dung bata, lango naeng lika lurang aping mateng. Maka Sani, disarankan oleh ayahnya Gresituli untuk ‘gurung gawak’ Kene yang sedang hamil. Menaruh rasa simpati iapun bersedia menjalankan tugas itu sebagai suatu amanah. Maka ia (Sani), mengambil Kene, meskipun telah mengandung anak Hule keturunan Metinara yang sudah lari semuanya. Anak itu lahir dan diberi nama Raga. Setelah lepas susu, Raga tinggal dengan pamannya Dalu di Bawakebung dekat Riangkung.

Dalam perang melawan Mena’atang di Tewuang Umang, Dalu bertukar nama dengan Doweng, sehingga keturunan Dalu hingga kini dikenal sebagai keluarga suku Dowengone’eng. Raga putera Hule itu, hidup bersama pamannya Dalu sampai dewasa, kawin dan beranak pinak menurunkan Atamaran sekarang.

d) Pewarisan kewenangan Gresituli kepada turunannya

Setelah Raga tinggal bersama Dalu di Bawakebung sebelah Riangkung, Sani (ayah tiri Raga), mengambil Kene sebagai istri dan tinggal di Dungbata. Mereka memperoleh putera yang diberi nama Boli. Sebagaimana dalam tulisan saya terdahulu, perkawinan Sani dan Kene merupakan perkawinan insest, yakni perkawinan antara hubungan saudara yang masih sangat dekat (Sani sebagai F1 dari Gresituli, X Kene sebagai F2 dari Gresituli). Perkawinan seperti ini dapat menghasilkan kembali keturunan galur murni yang ada pada induk dari F1 (dibuktikan oleh hukum Mendel). Dengan kata lain, hampir seluruh potensi induk dari F1 (induk dari Sani yaitu: Gresituli) diover secara lurus kepada Boli. Jadi kalau kehebatan Boli setara Gresituli patut dipahami, dan dapat dibuktikan secara ilmiah.

Ada tiga kekuatan (ike kewa’a) yang mumpuni pada Gresituli, yakni: IKU HEGE LIMA BA’A (memiliki kekuatan dahsyat), SING GETANG DADING GAI (kemampuan sapu bersih lawan /penghambat), ULUWAI MATI SELA (menentramkan dan menata kembali). Dalam sejarah pertempuran-pertempuran melawan musuh, Dalu dan Doweng berbagi kemampuan untuk jadi satu dalam menghantam musuh. Doweng mewarisi IKU HEGE LIMA BA’A, sedang Dalu mewarisi SING GETANG DADING GAI. Penyatuan kekuatan kedua anak Gresituli ini, akan menjadi sangat dahsyat. Tapi Uluwai mati sela, diserahkan kepada Dalu, yang hingga sekarang dilakoni oleh Dowengone’eng. Uluwai Dowengone’eng hingga sekarang berfungsi dalam layanan masyarakat berkenaan dengan koke Lewolein.

Ketika Raga bertumbuh dewasa, sebagian ritus layanan Uluwai Dowengoneng dilakoni juga oleh Raga (sebagai anak lango one’eng). Ini berlaku dalam masa damai tanpa perang. Tapi itu bukan berarti pengalihan hak Uluwai dari keturunan Dowengone’eng kepada keturunan Raga. Jadi tidak benar juga kalau Atamaran pegang uluwai di koke Lewolein.
Setelah pengusiran keturunan Metinara, gresituli menyerahkan Uluwai juga kepada Sani, sebagai utusan untuk menentramkan dan menata kembali Dungbata, dalam konteks POTA ILE HONE WOKA, yang dilakukan oleh koke kakang DUNGTANA POTA WATO (belum ada koke di Dungbata).

e) Pewarisan sifat hereditas kekuatan Gresituli kepada Boli

Sejak dilahirkan hingga dewasa, Boli tinggal di rumah orangtuanya di Dungbata. Dalam pertumbuhan Boli, karunia-karunia istimewa Gresituli muncul dalam dirinya secara nyata. Boli pewaris Uluwai Mati Sela di Dungbata. Ini diwarisi langsung dari ayahnya Sani yang mendapat hak uluwai itu untuk Dungbata.

Saya harus tegaskan disini, bahwa Uluwai dari Sani diwariskan kepada Boli, bukan kepada Raga, karena darah yang mengalir dalam Raga bukan darah Sani. Memang menjelang tadu koke, Raga diajak untuk bertugas marang. Raga datang dari Bawakebung ke Dungbata, maka lango hag (rumah start) di Dungbata adalah rumah Boli, saudara tirinya, yakni lango Linpati. Bagi saya penegasan ini perlu, karena saya sendiri sudah mengalami pemelintiran terjadi di depan mata hidung saya.

Bagi anda para pembaca yang sempat hadir pada acara BETING KEMIE hari nebo se’ Nole Tukan (ibunda Oa Gani, ari Dus, tuang Tonce, oncu Kim Hayon) insiden pemelintiran Uluwai ini terjadi. Saya anggap salah kaprah saja. Tidak perlu ribut. Namun setelah Eputobi kucar kacir AKIBAT PELINTIRAN macam sekarang ini, saya akan berteriak keras langsung di hadapan anda yang mengulangi perbuatan ini di depan saya. Siapa pun anda! Masyarakat Eputobi jangan coba memelintir sejarah lagi. Cukup sampai dengan kekacauan-kekacauan yang seharusnya tidak perlu terjadi saat ini.

Dua ike kewa’a lain yaitu Iku hege Lima ba’a dan Sing getang dading gai, justru datang dengan sendirinya kedalam diri Boli. Hal ini dapat dijelaskan sbb.: potensi itu secara genotip sudah ada dalam diri Boli sejak lahir. Fenotipnya (f) akan muncul sebagai fungsi dari waktu (t), dan aktif saat Boli mencapai umur tertentu. Saya tidak perlu menjelaskan dengan grafik f-t disini, tapi dapat anda bandingkan dengan tanda sex sekunder pria. Gen kumis misalnya, baru mulai aktif setelah seorang laki-laki mencapai umur remaja. Begitu pula sifat-sifat turunan (hereditas) yang diwariskan pada Boli, baru mulai aktif setelah Boli mencapai usia tertentu. Jadi, ketiga kekuatan istimewa Gresituli, muncul seutuhnya dalam diri Boli, itu adalah suatu kepastian. Bukan suatu kemungkinan. Harap maklum. Disinilah letak beda kehebatan Boli dibanding dua pamannya: Dalu dan Doweng.
Kehebatan Boli yang didukung sepenuhnya oleh mitra-mitra dari Dungbata terus bersinar melalui berbagai sukses membantu pamanya Dalu dan Doweng di berbagai medan perang. Orang dari Dungbata yang patut disebut namanya adalah Werong Hegong (Wungung Kweng), Subangseng Bragi inang (sukunya sudah punah dan ri’e di koke Lewowerang diserahkan kepada Lewohayong).

f) Boli mendirikan Koke Dungbata di Lewoingu

Ketika Boli melihat kedua pamannya Dalu dan Doweng semakin tua, sementara secara praktis kepemimpinan di medan laga hampir seluruhnya dipimpin oleh Boli sendiri, maka Boli berinisiatif membangun koke di Dungbata. Inisiatif ini timbul terutama setelah Boli diserahi BALA SAKARAI (gading bernama Sakarai) sebagai simbol hunian Lewo ihikeng atah’ng. Tanpa koke Dungbata, bala Sakarai ini disimpan di rumah Boli, Linpati. Ia merasa bukan dia sendiri memenangkan pertempuran dimana-mana, melainkan bermitra dengan berbagai lewo.

Maka dengan para mitra dari suku-suku yang ada di Dungbata, Boli merundingkan pendirian koke di Dungbata. Suku-suku yang sudah ada di Dungbata saat itu Wungungkweng dan Soge Subangseng. Sementara Kumanireng masih di Lewohari, Lamatukang di Lewomuda. Maka Boli mendekati Lamatukang di Lewomuda, dan Kumanireng di Lewohari untuk bergabung di Dungbata. Singkat cerita Lewomuda dan Lewohari setuju serta mendukung penuh niat Boli tersebut. Sebagai penghormatan, Lamatukang diberi jabatan Hurik, dan Kumanireng mendapat Witi Dunia yaitu umeng untuk emabapa belo. Itu berlaku hingga sekarang, meskipun upaya pemelintiran juga terus dilakukan oleh orang tidak tahu adat.

Namun di Dungbata, tanah tempat akan dibangun koke, adalah milik Metinara yang terusir. Mereka masih di Lewomuda waipapa. Dilakukan musyawarah mufakat untuk kirim utusan ke Lewomuda, mengajak keturunan Metinara untuk kembali ke Lewoingu. Jawaban mereka: ”Kame rae di mesi no’ong uli untuk ola keriang kame’eng”. Tak ada suku di Dungbata yang punya uli ekang cukup untuk diberikan kepada orang lain. Tou di take, tou di take. Maka Kumanireng dari Lewohari, bersedia menjemput keturunan Metinara, dengan menyerahkan tanah Wololere’eng, untuk maksud tersebut. Tempat itu (Wolo lere’eng) hingga sekarang tetap dikelola oleh Kebele’eng Koten.

Terhadap kesediaan Kumanireng, maka rie Boli, berpasangan dengan rie Kumanireng hingga kini. Dua bukti itu sudah cukup jelas untuk Lewoingu dari generasi ke generasi. Tidak perlu dipelintir lagi. Percuma! Tapi kalau opu Pius Koten punya cerita lain, atau Kebeleng Koten punya cerita beda: ayo kita diskusi boleh, debat juga bisa. Tidak usah di Eputobi yang kepala desanya Mikel Torangama Kelen itu. Cari di Lewolaga, dekat kakang, atau di Riangduli dekat Lewolein, atau rae Koke sekalian sumpah.
Keturunan Metinara kembali ke Dungbata, kembali ke lewo leluhur, Bersama Boli memimpin lewo mulai dari koke lewo di lokasi ingu. Mungkin sejak ini, kata Lewoingu muncul. Mungkin juga ada term orang Lewomuda atau Waipapa punya kata lewo ingu, untuk orang yang akan kembali ke lewo leluhurnya? Silahkan diteliti.

Keturunan Metinara yang kembali ada dua orang. Yang kakak menurunkan suku Amalubur sekarang. Yang adik menurunkan kebele’eng Koten. Ketika Koke Lewoingu sudah berdiri, dan akan diadakan upacara sembelihan, sang kakak tobo teti dong wutung, lalu sampaikan kepada adiknya lali tanah: “Ari mo edeng pe tana, go ko’ong kelake pia dong wutung”. Sebagai kakak sulung pemberi restu, dia mengedarkan arak tanda restu kepada semua yang hadir. Logikanya mesti kakak yang edeng. Tapi mereka tidak cukup orang. Dengan demikian, tugas itu terus dilakoni hingga sekarang.

g) Sedikit mengenal Werong Hegong, leluhur Wungungkweng.


Mungkin, nama Werong Hegong tidak dikenal oleh banyak generasi Lewoingu belakangan ini. Dia nenek moyang suku Wungungkweng yang terus mendampingi Sani dan anaknya Boli tinggal di Dungbata, walaupun masih tetap pulang balik ke Sarabiti Waihali. Setelah Boli besar, dan mendirikan koke Dungbata, seluruh ihikeng atah’ng Sarabiti Waihali dipindahkan ke Dungbata, menempati lango Wungungkweng persis di samping Sani langung: lango Linpati. Itu pula sebabnya, lango Wungungkweng dengan lango Linpati: nio deki weking, dang buno pukeng (atap saling menikam, tangga satu tumpuan. Anda para peneliti, datanglah ke Lewo’oking dan lihat semua itu). Jadi memisahkan Dungbata Lewoingu dan pasangannya Sarabiti waihali merupakan juga suatu bentuk penyangkalan sejarah Lewoingu, dan merobek banyak perasaan. Beberapa kali saya temukan upaya orang tertentu yang meremehkan peran Wungungkweng dalam melaksanakan fungsi dan hak mereka dalam masyarakat.

Werong Hegong adalah salah satu satria Lewoingu yang menjadi mitra Dalu Doweng dalam berbagai peperangan. Mulai dari peperangan besar melawan mena’atang Tewuang umang, tekung Waitiu sampai melawan Paji Subang gere di Waimatang. Weronghegong adalah manusia kembar Siam yang bersatu punggung. Dua muka, yang satu membelakangi yang lainnya. Dengan kondisi ini, musuh dari muka maupun belakang, selalu dapat dipantau. Kelebihan lain, yaitu keduanyapun ahli pedang dan sakti mandraguna.

Dalam perang melawan Tewuangumang, kejayaan Dalu Doweng, bersama Werong Hegong mencengangkan banyak pihak. Itu pula sebabnya, tanah ex-wilayah Tewuang umang paling banyak dihibahkan ke Lewoingu hingga kini.
Untuk diketahui bahwa Tewuang umang itu markasnya Mena’atang yaitu manusia setengah biadab yang masih kanibalis. Mereka dikenal sebagai suanggi merah tanpa tandingan. Suatu hari, mereka menangkap seorang pemuda bernama Lahagitang. Ia dibunuh dan dimasak dagingnya untuk dimakan. Menunggu persiapan hidangan untuk disantap, lewatlah rombongan Meti Hoga (Meti saka lama nara, Hoga doke lama bera). Dia raja paji dari Kwuta (Kwuta haru bala, Klewang tana soge di pantai utara). Meti Hoga diajak mapir dulu minum tuak. Dalam percakapan menanti sajian, tertangkap isi percakapan bahwa lauk berupa daging anak muda Lahagitang yang sedang dimasak belum matang. Mendengar itu, Meti Hoga langsung pamit dan batal minum tuak bersama orang Tewuangumang. Ia pulang dan membawa wua’malu adok nara (sirih pinang minta dukungan perang) kepada hampir semua lewo di sekeliling Tewuang Umang.

Di Dungtana, wua’malu diterima oleh Gresituli dan mengutus kedua anaknya Doweng pemegang Iku hege lima ba’a dan Dalu membawa Sing getang dading gai. Werong Hegong “tang wuamalu” Meti Hoga di Sarabiti. Maka berangkatlah pasangan ike kewa’a Gresituli yang dahsyat dipegang anak-anaknya, dan manusia kembar siam Werong Hegong ke medan perang. Paduan Dungtana dan Dungbata ini, menguasai posisi silang (Utara, Selatan, Timur, Barat) sampai menghancurkan Tewuangumang. Perang Tewuangumang, adalah perang raya yang sangat dahsyat. Peran Werong Hegong, amat besar dan menentukan. Itu pula sebabnya, dimana-mana kebun NENGKLEUH’UNG atau BEDORING selalu ditempati Wungungkweng. Tapi ingat, tidak semua suku yang sekarang dipersatukan melalui koke Lewoingu, ikut dalam perang tersebut. Maka janganlah ikut-ikutan meremehkan orang lain seolah kamu itu orang hebat.

Masih ada perang besar lainnya yang dimenangkan oleh Dalu Doweng, dalam kemitraan dengan Werong Hegong, yaitu tekung paji Waitiu. Setelah Waitiu ditaklukan, masih tinggal satu saja lagi paji terakhir yang hebat yaitu paji Subang gere. Markasnya di Waioyang matang, sebelah Timur laut Lewolaga yang sekarang. Dalu Doweng mengatur serangan namun gagal mengusir Subang gere. Bahkan dalam pertempuran tersebut Werong Hegong terluka. Paji Subang gere, akhirnya dikalahkan oleh Wulogening dan Lewoanging. Mereka menguasai tanah Subanggere mulai dari Kelebo ude’eng sampai berbatasan dengan Lamawulo. Hengkangnya Tega Lamawulo dikalahkan Siratuna dari Lamika. Paji keluar dari wilayah Lewoingu selanjutnya hanyalah melalui baya.

Werong Hegong mundur dan menyepi ke Sarabiti, sementara lukanya terus membusuk sampai ule loka. Suatu hari, ia keluar dari Sarabiti, ke arah Umung, naik ke Wolo dan tidak dapat dilacak lagi. Sepeninggal Werong Hegong hampir tak ada lagi perang yang berarti dengan paji. Satria Lewoingu itu mati entah dimana tak diketahui kuburnya. Namun orang suku tertentu dari Lewokluo tahu kuburnya. Karena mereka melakukakan upacara “neka kuli, kehakang kamak” Werong Hegong. Meski demikian tempatnya dirahasiakan. Itu pula sebabnya, setiap akan ada perang dengan Lewokluo, Lewoingu sulit menang. Kalah “soga wangung”. Jalan terbaik, justru hidup secara damai dan berdampingan dengan Lewokluo.
h) Boli mengundang Raga untuk Marang di Koke Lewoingu

Ketika toking koke puna, saatnya tiba untuk tadu koke. Tadu koke yaitu, memasang ujung pangkal semua setelan komponen sesuai rancang bangun untuk didirikan. Ternyata tidak cocok (gruba hala). Mungkin ada yang salah. Untuk itu dilakukan “seba lirong” mencari tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Hasil “seba lirong” menyatakan bahwa Raga harus dipanggil dari kediamannya di Bawakebung/ Riangkung untuk bergabung. Maka Boli mengirim utusan kepada Raga untuk datang ke Dungbata. Raga setuju, dengan syarat bahwa saya pergi pun “tubo tale haga tarang go gehik nekeng, marang tonga Lerwulang beng nega Tana ekang, pe go tor’ng”. Maka jadilah sejarah koten, kelen, hurik, marang seperti sekarang ini rae koke Lewowerang. Bedanya bahwa hurik dipegang oleh suku yang nama sukunya sudah tetap: Lamatukang. Jabatan koten kelen, dan marang sejak saat itu menjadi nama suku bagi keturunannya.

Sebelum gere koke, Raga harus start dar rumahnya. Karena dia tidak punya rumah di Dungbata, sementara bersaudara tiri dengan Boli, maka sama-sama mereka start dari rumah Linpati dang pukeng, gawe rage kenawe matang. Meski demikian lika lurang masing-masing. Dalam gatak, aslinya disebutkan: LINPATI DANG PUKENG, GAWE RAGE KENAWE MATANG. Namun seiring perjalanan waktu, belakangan ini mode pelintiran gatak itu berbunyi: Linpati dang pukeng, Gena gele Raga wanga. Kemanakah arah pelintiran itu, para pembaca silahkan tebak sendiri.

i) Catatan Penutup


Saya berpendapat, bahwa gatak Lango Linpati dang pukeng dipasangkan dengan Gena gele raga wanga, adalah salah satu bentuk pemelintiran sejarah Lewoingu dari sejumlah pemelintiran lainnya yang ada sejak koke Lewoingu berdiri. Salah satu upaya pemelintiran berikut yang mulai diwacanakan oleh pihak-pihak tertentu adalah saat PA’U dalam acara adat kecil-kecilan, ada kelake tertentu yang hanya menyebut DUNGBATA LEWOINGU tanpa pasangan SARABITI WAI HALI. Hal ini melengkapi kebiasaan pemelintiran hak Uluwai yang menjadi milik Kebele’eng Kelen Lewoingu kepada Atamaran. Caranya adalah dengan memanggil Atamaran melakoni layanan Uluwai sebagaimana saya alami saat BETING KEMIE acara nebo se’ Nole Tukan, tanggal 26 Desember 2006 barusan. Itu sebuah kejahatan yang tidak patut kita tolerir lagi.

Lewo gole harus bersatu padu menentang model pemelintiran itu. Pemelintiran yang sama model tidak saja terjadi melalui beting kemie, bisa juga melalui teke’ manu/ to manu oleh ina ama. Ada bentuk lain yakni mempersoalkan suku yang belo witi dunia rae koke. Ada pula salah edeng, yakni karena sudah dipanggil maju, maka lakoni saja edeng, walau bukan tanah ulayatnya, atau garis keturunan perempuan.

Kita tinggalkan semua praktik-praktik salah kaprah itu. Kedepan kita harus berjalan di atas jalur yang benar. Kita juga menghimbau suku-suku atau oknum suku yang mengambil jalan pintas untuk meminta layanan adat pada jalur sesat agar kembali ke kitah adat budaya Lewoingu. Dengan begitu tidak terjadi tabrakan dengan sejarah maupun pandangan suku lain, karena pada dasarnya semua suku punya kaitan satu terhadap yang lain, berwujud paing napang, atau ilu laraneng, atau hepe manu dan lain-lain.

Sebelum lupa, ada persoalan fundamental yang harus direnungkan. Dimana-mana koke punya enam tiang. Setiap pasangan tiang melambangkan perpaduan paing napang antar suku secara tetap. Hal ini tergambar dalam filosofi pasangan paing napang sebagai berikut:

Paingtawa rae lewo, napang gere rae tana
Paing tika koke, napang perang namang
Paing tubung Lerawulang, napang ragang Tanaekang

Inilah simbol pasangan rie matang rae koke. Kita harus mendiskusikan, pasangan rie rae koke Lewoingu agar langgeng budaya kita dalam hidup di masyarakat kita ke depan.
Beberapa kekeliruan yang sudah terjadi oleh kesalahan dan kekeliruan para pemangku adat masa lalu, dalam bentuk perkawinan terbalik, atau perkawinan satu suku, dan lain-lain, kita tinggalkan. Sudahlah, mereka juga manusia. Tapi ke depan, harus ada tekad baru untuk memulai kembali ke jalan yang benar.

Semoga Tuhan memberkati kita.

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS