AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

DARI SEJARAH PALSU KE KEJAHATAN KEMANUSIAAN

Oleh Rafael Raga Maran

(Dikutip dari website Atamaran tanggal 3 April 2008)

Pada mulanya adalah kata-kata palsu. Ya, kata-kata yang tidak sesuai dengan kenyataan. Meskipun tidak sesuai dengan kenyataan-kenyataan historis, rangkaian kata-kata palsu itu dipandang, oleh segelintir orang di Eputobi, sebagai suatu narasi historis tentang perjalanan masyarakat Lewoingu, di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Apa yang tadinya berupa narasi lisan, kemudian dialihkan menjadi narasi tulisan. Dari narasi tulisan, seperti tampak dalam "Tanggapan buat Blog Ata Maran", kita dengan mudah melihat bahwa narasi itu dirangkai dengan kata-kata sangat kotor, penuh penghinaan dan fitnah terhadap pihak lain, serta penuh dusta. Sehingga, pada dirinya sendiri, narasi itu gagal menjadi narasi historis. Dalam sejarah umat manusia, tak pernah ada narasi historis dengan ekstremisme kata-kata yang demikian kasar. Padahal narasi itu, konon, disusun untuk memberikan versi yang benar tentang sejarah Lewoingu ketimbang versi lainnya. Tetapi mungkinkah kebenaran historis dapat dicapai melalui penggunaan kata-kata jorok dan penuh tipu daya itu?

Dusta yang diucapkan dengan kata-kata sangat kotor itu langsung memperlihatkan kepada kita apa motivasi yang mendasari maksud perangkaian kata-kata itu. Nada iri hati dan kebencian primordialistik nyaring terdengar di seluruh "Tanggapan buat Blog Ata Maran." Itulah ekspresi dari rasa frustrasi yang terendam dan terendap selama ini dalam diri segelintir orang, yang berambisi untuk menjadikan diri sebagai penguasa tertinggi adat Lewowerang-Lewoingu. Tetapi ambisi tersebut akhirnya gagal terjawab oleh sejarah. Mengapa? Karena sejarah memang punya cara khas untuk melahirkan pemimpin yang fit and proper test untuk zamannya.

Masyarakat manusia membutuhkan pemimpin. Dalam tradisi masyarakat adat, dari zaman ke zaman, pemimpin lahir bukan berdasarkan pilihan rakyat, melainkan berdasarkan pengakuan akan kepemimpinan seseorang atau sekelompok orang. Dan pengakuan itu bukan tanpa dasar. Dasarnya jelas, yaitu karisma dan kompetensi real seseorang dalam mewujudkan apa-apa yang terbaik bagi masyarakatnya. Pada diri pemimpin karismatis orang menemukan harapan hidupnya.

Keluarga-keluarga atau pun suku-suku pada masa awal pembentukan Lewoingu tidak melakukan voting untuk memilih Grestuili sebagai pemimpin mereka. Karisma dan kemampuan realnya dalam melakukan apa-apa yang terbaik sesuai dengan kebutuhan zamannya membuat Gresituli dengan sendirinya diakui sebagai pemimpin Lewoingu. Tradisi kepemimpinannya kemudian diwariskan kepada anak-cucu keturunannya dari zaman ke zaman. Model kepemimpinan tradisonal itu diakui selama  beberapa abad, karena terbukti efektif dalam memelihara tata hidup penuh damai dan sejahtera. Baru pada dasa warsa pertama abad ke-21, model kepemimpinan adat itu ingin dibongkar, bahkan ingin dihancurleburkan oleh pihak-pihak yang selama ini memelihara bara iri dan benci kepada pihak yang berdasarkan tradisi adat Lewoingu menjadi pemimpin tertinggi.

Sejarah Lewoingu dengan jelas membuktikan bahwa suku Lewolein, Doweng One'eng dan Ata Maran tidak pernah menimbulkan kekacauan atau huru-hara dalam masyarakatnya. Suku-suku itu pun tidak pernah berkasak-kusuk untuk memecah-belah persatuan sosial budaya masyarakatnya. Tanpa perlu berkoar-koar, suku-suku itu berusaha merawat dengan baik kehidupan masyarakatnya dengan cara damai. Karena memang itulah cara yang diajarkan oleh para leluhur mereka. Itulah salah satu nilai luhur yang tetap mereka junjung tinggi. Bagi kami, menghargai kehidupan, menghormati hak hidup orang lain, itu merupakan suatu kewajiban asasi. Tidak hanya itu. Ketika kehidupan orang lain diancam untuk dimusnahkan, kami mau maju untuk membelanya. Dalam urusan semacam itu, kami tak perlu rakut akan risiko-risikonya. Itulah jiwa dan hati nurani kami. Nenek moyang kami mengajarkan kepada kami untuk mengembangkan budaya pro-kehidupan, bukan budaya pro-kematian.

Ketika Gresituli dan para leluhur kami lainnya dihina oleh pihak-pihak tertentu, seperti terjadi pada Jumat, 12 Mei 2006, kami merasa lucu. Rupanya, di Lewoingu masih ada saja orang atau pihak yang mengharapkan kucing bertanduk. Padahal kucing tidak akan bertanduk. Penghinaan dan fitnah itu kemudian muncul secara tertulis dalam "Tanggapan buat Blog Ata Maran." Dan kami pun sekali lagi dihadapkan pada dagelan yang tak lucu itu. Bahkan kali ini, kami pun merasa kasihan dengan orang-orang, yang bertingkah seperti pungguk yang merindukan bulan itu. Kalau bisanya cuma menghina, memfitnah, menyebarluaskan dusta, dan mencaci-maki orang atau pihak lain, siapa yang mau mengakui anda sebagai pemimpin. Apalagi, orang-orang pun sudah tahu bahwa sepak terjang aneh anda itu didasari oleh sikap iri hati dan benci terhadap pihak yang anda maki-maki itu. Orang merasa heran dengan ambisi anda yang tak masuk akal, yaitu ingin mengubah peritiwa-peristiwa masa lalu dalam sejarah kebudayaan Lewoingu.

I. Gresituli tidak dilahirkan di Tana Beto

Anda tak pernah bisa kembali ke masa lalu dan mengubah peristiwa-peristiwa sejarah sesuai dengan selera pribadi atau kelompok anda yang hidup pada masa sekarang ini. Karena itu, sejarah Gresituli di Lewoingu pun tak bisa dimulai dengan penemuan seorang bayi di Tana Beto.  Gresituli tidak dilahirkan di Tana Beto. Mengapa? Kisah itu tidak cocok dengan rekam jejak perjalanannya (bersama adiknya bernama Keropong Ema) dari tanah Jawa hingga mencapai Lewokoli' di bumi Flores Timur. Dalam perjalanannya itu, Gresituli pernah berjumpa dengan seseorang bernama Hatang. Hatang adalah seorang pelaut, yang menolong Gresituli dan Keropong Ema dalam suatu pertempuran di Jawa. Setelah berhasil memenangkan pertempuran itu, mereka sama-sama bersepakat untuk bergerak ke arah timur. Tetapi jalan yang mereka tempuh berbeda. Gresituli dan adiknya menempuh jalan darat. Sedangkan Hatang menempuh jalan laut. Sebelum berpisah, Hatang memberikan sebuah cincin kepada Gresituli sebagai tanda persahabatan sekaligus tanda pengenal. Jika suatu hari kelak mereka berjumpa, entah di mana, cincin itulah tanda pengenalnya. Hatang kemudian tiba dan menetap di Wolo. Dari Hatang inilah lahir suku Hera di Wolo. Cincin pemberian Hatang yang dikenakan oleh putra sulung Gresituli, waktu dia melakukan kegiatan progung di  Wolo membuat Hatang mau menjodohkan anak puterinya dengan putra Gresituli itu. Cincin itu akhirnya mempertemukan Hatang dan Grestuli.

Memang, manusia adalah makhluk yang mengalami evolusi. Tetapi tidak pernah terjadi dalam sejarah evolusi manusia, bahwa seseorang yang sudah dewasa dapat berubah menjadi seorang bayi, kemudian tumbuh dan berkembang lagi menjadi manusia dewasa, menjadi tua lalu meninggal. Gerak evolusi dengan arah mundur ke belakang semacam itu hanya mungkin terjadi dalam imajinasi manusia. Gerak evolusi  mengikuti arah gerak waktu. Waktu tak mengarah ke masa lalu, tetapi ke masa depan. Kalau waktu mengarah ke masa lalu, maka anda pun perlu bersiap-siap untuk kembali menjadi seorang bayi. Maka kita pun dengan mudah dapat menilai bahwa ceritera tentang penemuan seorang bayi di Tana Beto itu bukan ceritera sejarah, melainkan suatu legenda.  Itu adalah legenda tentang sang tokoh yang memang legendaris. Jika ada pihak yang berpendirian bahwa penemuan bayi oleh Botabewa itu merupakan suatu peristiwa historis, itu tentu bukan bayi bernama Gresituli. 

Sang tokoh itu dipandang legendaris karena dia mampu melakukan hal-hal yang tak dapat dilakukan oleh orang-orang lain di daerah itu pada zamannya. Dia adalah tokoh utama yang menentukan kekalahan Paji Lewokoli' dan sekitarnya. Kehebatannya dalam hal ini diakui oleh Raja Larantuka. Maka, Raja Larantuka pun tidak pernah menganggap Lewoingu sebagai bawahannya. Raja Larantuka memandang Lewoingu sebagai mitra. Selain itu, Gresituli pun terkenal sebagai pemersatu suku-suku yang sebelumnya hidup terpisah-pisah, dalam komunitas keluarga masing-masing. Dia adalah pelopor pembangunan suatu tatanan sosial budaya baru, yang diberinya nama Lewoingu. Dialah tokoh yang menjamin keamanan dan ketenteraman hidup masyarakatnya. Berkat Gresituli dan anak-anaknya, maka nenek moyang penulis "Tanggapan buat Blog Ata Maran" pun memperoleh tempat dan hak adat tertentu di komunitas Dumbata-Lewoingu. Nenek moyangnya itu diajak oleh nenek moyang Ata Maran untuk hidup dan mengembangkan diri dalam suatu bentuk kehidupan bersama yang lebih aman, karena dilindungi oleh benteng batu yang kokoh (bliko). Dari situlah lahir nama suku Kumanireng Blikololong. Dan hak adat tertentu yang mereka miliki itu pun diberikan oleh pemimpin Dumbata-Lewoingu. Sedangkan yang satunya lagi disebut Kumanireng Blikopukeng, karena ketika diajak untuk bergabung dengan Dumbata-Lewoingu, nenek moyang mereka tidak mau. Jadinya, mereka berada di luar benteng batu, yang melindungi Lewoingu. Itulah sebabnya, yang Blikopukeng itu pun tidak memiliki hak adat apa pun di Dumbata-Lewoingu.

Setelah berhasil mengalahkan Paji, Gresituli menjadi tuan tanah. Dia tidak memperoleh tanah berdasarkan pemberian oleh suku tertentu. Yang jelas, tanah dari setiap kelompok Paji yang dikalahkannya menjadi miliknya. Gresituli tidak memperoleh tanah dan hak edeng dari Kumanireng. Betul, Gresituli dan keluarganya pernah tinggal di Lewowato (Lewato). Tetapi Lewowato pada masa itu bukan milik Kumanireng. Pada masa itu, Lewowato adalah bagian yang sah dari wilayah pemerintahan Paji yang berpusat di Lewokoli'.  Lewohari' pada masa itu berada di bawah kekuasaan Lewokoli.'  Pemerintahan Lewokoli' mencakup juga Lewokukung. Pendek kata, semua perkampungan Paji  di daerah itu berada di bawah pemerintahan Lewokoli'.

Sebagai pusat pemerintahan, Lewokoli' merupakan kampung dengan jumlah penduduk paling banyak ketimbang jumlah penduduk di kampung-kampung Paji lain di sekitarnya. Di situ perekonomian berkembang, dimotori oleh pasar yang ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang, termasuk para pedagang Cina dan Jawa. Barang dagangan mereka antara lain perhiasan berupa kalung terbuat dari perak atau emas, gelang perak, piring, mangkok, sendok, dll.

Di Pasar Lewokoli' itulah, Gresituli pertama kali tiba, kemudian membaur dengan pedagang-pedagang dari Jawa dan Cina. Di salah satu bagian dari kampung Lewokoli' itulah Gresituli tinggal. Dia tidak pernah tinggal di Lewohari'. Pada masa itu Lewohari' tidak memiliki nilai strategis baik dari segi politik maupun ekonomi. Seorang Gresituli yang sudah banyak makan asam garamnya politik di tanah Jawa tentu tidak sembarangan memilih tempat tinggal. Dia tentu memilih tinggal di tempat yang memiliki nilai-nilai strategis. Dia tidak pernah ber-ibu-bapakan Kumanireng. Ceritera tentang posisi Kumanireng sebagai ema-bapa (ibu-bapa') bagi Gresituli adalah suatu fiksi. Fiksi itu sengaja dibuat setelah pihak Kumanireng Blikopukeng menyadari bahwa mereka ternyata tidak memiliki hak adat apa pun di Lewoingu. Padahal dalam perkembangannya, Lewoingu berhasil tampil sebagai suatu kekuatan yang disegani di kawasan Flores Timur. Karena itu, mereka pun menyelipkan fiksi itu ke dalam sejarah Lewoingu, lantas mengkampanyekannya dari zaman ke zaman, seakan-akan fiksi rekaan mereka itu merupakan suatu ceritera sejarah.

Karena sering berinteraksi dengan pihak Paji, Gresituli lalu kecantol dengan puteri Paji Lewokaha, kemudian dengan puteri Lewokoli'. Perkawinannya dengan Nogogunung dari Lewokoli' membawa dia masuk langsung dalam pusat pemerintahan Paji di daerah itu. Karena memiliki karisma dan kemampuan lebih dalam hal strategi perang, Gresituli tampil sebagai tokoh yang disegani di kalangan Paji. Pihak Paji berharap Gresituli dapat menjadi bagian dari kekuatan mereka untuk melawan musuh. Hal ini sangat penting bagi Paji di Lewokoli' dan sekitarnya. Mengapa?

Perlu dicatat di sini bahwa orang-orang Paji yang bermukim di Lewokoli' dan sekitarnya itu adalah keturunan para pengungsi yang berasal dari pulau-pulau seperti Solor, Adonara, dan Lomblen. Karena kalah melawan pihak Demon di pulau-pulau tersebut, mereka mengungsi ke Flores Timur daratan. Pengalaman kekalahan dalam perang melawan Demon membuat mereka merasa perlu untuk mewaspadai terulangnya kemungkinan itu. Apalagi pada masa itu di wilayah Kerajaan Larantuka di Flores Timur daratan pun mulai timbul gerakan anti-Paji. Maka pihak Paji Lewokoli' pun menaruh banyak harapan pada Gresituli.

Tetapi harapan pihak Paji di Lewokoli'  agar Gresituli bersekutu dengan mereka akhirnya tidak terpenuhi. Visi dan kalkulasi politik Gresituli berbeda dengan visi dan kalkulasi politik pihak Paji. Gresituli tanggap terhadap perkembangan politik di wilayah Kerajaan Larantuka. Karena itu, Gresituli pun memutuskan untuk keluar dari lingkaran pemerintahan pusat Paji di Lewokoli'.  Ia dan keluarganya tinggal di Lewowato. Keputusan ini tentu mengecewakan kubu mertuanya. Hubungan antara Gresituli dengan pihak keluarga mertuanya di Lewokoli' mulai renggang ketika pihak Lewokoli' mulai bersikap kasar terhadap anak-anak Gresituli. Waktu anak-anak Gresituli berkunjung ke Lewokoli', pihak Lewokoli' melempari mereka dengan batu.  Setelah mengetahui kejadian itu, Gresituli lalu merasa bahwa hubungan baik dengan Lewokoli' tak bisa dipertahankan. Kemarahan pihak Paji Lewokoli' terhadap Gresituli tampak mencolok ketika mereka secara arogan merusak pohon-pohon lontar yang digunakan oleh Gresituli untuk mengiris tuak. Bambu-bambu yang dijadikan wadah penampung tuak manis pun ikut dirusak oleh orang-orang Paji Lewokoli'. Pendek kata, mereka berusaha merusak salah satu mata pencaharian Gresituli dan keluarganya.

Pihak Paji tampaknya lupa, bahwa pada masa itu posisi mereka di Lewokoli' dan sekitarnya pun mulai terancam oleh politik perang melawan Paji yang ditempuh oleh Kerajaan Larantuka. Kerajaan Larantuka adalah Kerajaan Demon. Raja Larantuka, sebagai pemimpin Demon, mengobarkan perang melawan Paji. Momentum itu pun dimanfaatkan secara efektif oleh Gresituli dan para pendukung setianya. Satu per satu kubu Paji dihancurkan, mulai dari Lewokoli', kemudian ke Lewokaha, dan seterusnya. Setelah kekuatan pusat Paji di Lewokoli' diremukkan, dengan cara khas Gresituli, orang-orang Paji di kampung-kampung sekitar Lewokoli' pun buru-buru melarikan diri. Ada yang melarikan diri ke daerah sekitar Ile Mandiri, lalu ke Tanjung Bunga. Ada yang melarikan diri ke Adonara, Solor, dan Lomblen. Ada yang melarikan diri, tetapi kembali lagi dan menyamar sebagai orang Demon dan tinggal di Lewoingu. Mereka ini kembali karena tidak tahu lagi harus mengungsi ke mana. Agar klop dengan kehidupan masyarakat setempat, mereka pun menggunakan nama suku tertentu, yang dikenal dalam masyarakat Demon di Flores Timur.

II. Hule, Siapa Dia?

Dalam kancah perang melawan Paji di Lewoingu, nama Hule patut disebut. Dia adalah salah seorang pejuang Lewoingu, dan berjasa dalam mengalahkan Paji. Dia adalah orang Kebele'eng Koten, yang karena mengusir Paji dari Lewokoli' dan sekitarnya kemudian terdampar di Lomblen. Setelah mengalami kesulitan untuk kembali ke Lewoingu, dia akhirnya menetap di sana. Dia menikah dengan perempuan setempat lalu melahirkan keturunan yang disebut Suku Kotan. Setelah tinggal beberapa lama di sana, ada maksud dalam dirinya untuk kembali ke Lewoingu. Tetapi dia khawatir, kalau kembali ke Lewoingu, dia dituduh sebagai pengkhianat.

Ceritera bahwa Hule menghamili Kene' adalah suatu ceritera yang sungguh palsu. Juga merupakan suatu kepalsuan ketika diceriterakan, bahwa gara-gara kasus tersebut, Gresituli mengamok dan menimbulkan banyak korban. Gresituli tidak pernah mengamok dan membunuh orang-orang Demon yang dipersatukannya dalam komunitas budaya Lewoingu. Penggunaan istilah kiko rio-rio, kako rao-rao . di Lewowerang bukan karena amokan Gresituli. Istilah itu mengacu pada kenyataan bahwa keluarga-keluarga atau suku-suku yang diajak untuk membentuk kehidupan bersama di Lewowerang-Lewoingu itu masih suka berantam. Di antara mereka belum terjalin hubungan sosial yang harmonis. Kebiasaan suka berantam itu masih terbawa-bawa sampai sekarang ini.

Kalau Gresituli sungguh-sungguh mengamok, tatanan sosial budaya Lewoingu tak terbentuk, karena mengalami kehancuran sejak  dini akibat amokannya. Dengan mudah Gresituli dapat menghancurkan musuh-musuh yang berusaha menghancurkan kehidupannya, kehidupan keluarganya, dan kehidupan para pendukungnya. Tetapi Gresituli tidak pernah mengamok dan menghabisi orang-orang yang diharapkannya membangun hidup bersama dalam suasana aman dan damai dalam suatu kampung yang diberinya nama Lewoingu.

Bahwa cucu Gresituli bernama Kene' sempat dijodohkan dengan orang dari Kebele'eng Koten, itu ya. Jodoh menjodohkan adalah hal yang lazim terjadi pada masa itu. Bahkan pada masa sekarang pun, jodoh menjodohkan itu masih kita temukan di berbagai komunitas sosial budaya. Tetapi jodoh menjodohkan pada masa dulu itu dilakukan di bawah kendali hukum adat yang ketat. Meskipun sudah dijodohkan, tetapi kalau orang merasa tidak cocok satu sama lain, ya perkawinan antara kedua orang yang dijodohkan itu tidak bisa dilaksanakan. Itu yang terjadi dengan Kene'. 

Bahwa Kene' kemudian menikah dengan Sani, putera bungsu Gresituli, itu pun terjadi secara resmi, melalui proses adat. Anda jangan heran dengan kejadian tersebut. Di Jawa, dan di komunitas budaya lain pun bisa terjadi perkawinan di antara seorang pria dan seorang wanita yang masih berhubungan darah dekat

III. Raga dan Boli adalah anak Sani

Dari perkawinan Sani dengan Kene' lahirlah Raga dan Boli. Karena Raga asli anak Sani, maka dia mewarisi tradisi kepemimpinan Sani sebagai Raya Lewowerang-Lewoingu. Dan ini sungguh-sungguh sesuai dengan adat istiadat masyarakat yang menganut sistem patriarkat. Dalam sistem patriarkat, apalagi yang diberlakukan secara ketat seperti di Lamaholot, khususnya di Lewoingu, anak laki-laki yang lahir dari garis keturunan perempuan tidak dapat mewarisi tradisi suku dan tidak dapat juga mewarisi tradisi kepemimpinan adat. Ingatlah baik-baik bahwa hukum adat patriarkat di Lewoingu diberlakukan secara ketat, demi terjaminnya tertib dan harmoni sosial.

Dan dalam tradisi sosial budaya religius, seperti yang berlaku di Lewoingu, yang menjadi pemimpin masyarakat itu sekaligus menjadi imam dalam upacara keagamaan. Dan dalam tradisi patriarkat di Lamaholot, tradisi kepemimpinan sosial budaya dan religius itu diwarisi oleh putra sulung. Karena Raga adalah putra sulung Sani, maka dia yang mewarisi tradisi kepemimpinan tertinggi sekaligus menjadi imam bagi masyarakat Lewowerang-Lewoingu.

Jadi, ceritera bahwa Raga Ata Maran itu anak Hule Koten adalah suatu dongeng murahan. Dongeng itu sengaja diciptakan untuk memenuhi ambisi politik kontemporer dari segelintir orang, yang ingin menampilkan diri sebagai penguasa tertinggi adat budaya Lewoingu. Dalam rangka itu, mereka berusaha mencari-cari pembenaran historis. Maka disusunlah suatu ceritera fiktif, bahwa Raga Ata Maran bukan anak Sani, melainkan anak Hule Koten.

Di satu pihak, dongeng itu dimaksudkan untuk melecehkan dua suku , yaitu suku Ata Maran dan suku Kebele'eng Koten. Di pihak lain, dongeng itu mengidolakan oknum tertentu dari suku Kebele'eng Kelen. Pihak Kebele'eng Kelen yang mengerti silsilahnya, tahu bahwa Raga dan Boli adalah anak sah Sani. Dan mereka sama-sama tahu persis mengapa ada dua bagian (dong rua) di rumah Ling Pati. Adanya dua bagian di rumah Ling Pati itu bukan karena Raga dan Boli memiliki ayah yang berbeda. Ada alasan lain, yang diketahui secara jelas oleh orang-orang Kebele'eng Kelen sendiri, sehingga terjadi pembagian bagian rumah di Ling Pati, Lewoingu itu. Hanya oknum-oknum tertentu dari suku Kebele'eng Kelen, yang tidak tahu sejarah, dan karena itu kini menjadi pengkhianat, yang kemudian terpengaruh oleh dongeng ciptaan seseorang yang di masa lalu mengalami frustrasi, karena gagal tampil sebagai tokoh adat yang disegani di Lewoingu. Tetapi tidak terlalu lama lagi, oknum-oknum Kebele'eng Kelen yang kini berkhianat itu pun akan menyesali kekeliruan mereka dalam menentukan sikap. Mereka akan menyesal, karena pada akhirnya mereka pun akan tahu sendiri, bahwa mereka berpihak pada oknum dari suku mereka yang ternyata melakukan kejahatan. Oknum dimaksud tidak akan membawa sesuatu yang baik bagi mereka. 

Memang cukup memprihatinkan, bahwa dari keturunan Gresituli sendiri, terdapat oknum-oknum yang menjadi pengkhianat, bahkan menjadi perusak kampung halaman sendiri. Ada keturunan Gresituli yang terlibat dalam gerakan untuk merusak tatanan sosial budaya yang dibangun oleh nenek moyang mereka juga. Mungkin karena didorong oleh ambisi menggebu untuk tampil sebagai penguasa adat di Lewowerang bahkan di Lewoingu, oknum-oknum itu pun tak malu untuk ikut dalam gerakan pemalsuan sejarah Lewoingu, yang dimotori oleh oknum dari suku lain di Eputobi. Rupanya sejarah palsu itu mereka perlukan, yakni sebagai alat pembenar pencapaian ambisi tersebut. Sejarah palsu itu pun menjadikan batas tanah di tengah kampung Eputobi sebagai salah satu mata rantainya. Sebelum kasus Senin, 10 April 2006, mereka sudah menyebarkan informasi palsu ke seluruh pelosok Eputobi, bahwa pihak Ata Maran merampas tanah Kumanireng dan Lamatukan. Setelah mendengar itu, datanglah dari suatu tempat seseorang asal Eputobi. Dia datang untuk menemui salah seorang tokoh Ata Maran. Kepada tokoh Ata Maran itu, dia bilang, "Kita perlu luruskan sejarah." 

IV. Seruan "nabi gadungan"

Berdasarkan sejarah palsu itu, mereka menilai suku Ata Maran sebagai suku yang sangat berdosa di Lewoingu. Karena itu, si penulis "Tanggapan buat Blog Ata Maran" pun merasa perlu untuk melantangkan seruan ke seluruh dunia, "Bertobatlah Ata Maran." Itulah seruan yang dikumandangkan oleh seorang "nabi gadungan." Dengan seruannya itu, si "nabi gadungan" menempatkan diri sebagai orang suci, utusan Tuhan, dengan misi mempertobatkan suku Ata Maran. Anggota suku Ata Maran dia pandang sebagai orang-orang yang sangat berdosa, karena itu perlu melakukan pertobatan agar dapat  memperoleh keselamatan.

Tetapi si penulis "Tanggapan buat Blog Ata Maran" lupa bahwa seruannya itu dibuat berdasarkan rasa iri hati dan sikap benci. Dia beriri-hati karena Suku Ata Maran mampu memberikan kontribusi-kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat dan kebudayaan Lewoingu dari abad ke abad. Perasaan iri dan sikap bencinya tampak mencolok dalam seluruh tulisannya berjudul "Tanggapan buat Blog Ata Maran" itu. Dalam tulisannya itu bertaburan kata-kata sangat kotor, penuh fitnah, penuh penghinaan, penuh caci maki, penuh omong kosong, penuh tipu daya. Dari kata-kata semacam itu, kita dengan mudah melihat apa yang sesungguhnya terdapat dalam alam pikiran dan hatinya.

Kata-kata, atau katakan saja bahasa adalah ekspresi  verbal dari pikiran. Kata-kata kotor berasal dari pikiran yang kotor. Lebih dari itu, kata-kata kotor itu berasal dari hati yang kotor. Kata-kata yang penuh tipu daya itu berasal dari pikiran yang penuh dusta.

Dari kata-kata sangat kotor dan jorok yang bertaburan dalam "Tanggapan buat Blog Ata Maran" kita dengan mudah melihat bahwa seruan "Bertobatlah Ata Maran" itu tidak memiliki arti. Di Eputobi dan sekitarnya, seruan "nabi gadungan" itu bahkan menjadi bahan tertawaan. Mengapa? Karena, apa yang dia katakan dan serukan itu tidak relevan; karena tidak sesuai dengan kenyataan sejarah selama ini. Para warga masyarakat beradab di Eputobi dan sekitarnya mengatakan, "Tulisan itu dibuat oleh orang yang sudah kehilangan akal sehat, karena itu asal bicara." 

Arogansinya kelihatan mulai dari penilaiannya bahwa Petrus Nuba Ata Maran dan anaknya bernama Bernardus Sani Ata Maran itu pembohong dalam hal pemilikan tanah sampai pada ceriteranya tentang dukun Maumere dan sms gelap itu. Nuba Ata Maran dinilai sebagai si lancang edeng, padahal Nuba Ata Maran tak pernah lancang edeng. Bukankah sistem pemilikan tanah di Lewoingu dengan batas-batasnya yang jelas sudah ditetapkan sejak zaman dahulu kala? Raja Larantuka pun menghargai Nuba Ata Maran sebagai salah seorang  pemimpin adat Lewoingu. Waktu peresmian jalan negara di Lewolaga pada tahun !935, Raja Larantuka menyuruh Nuba Ata Maran melakukan edeng dengan hewan korban seekor kerbau. Edeng itu tidak bisa dilakukan sembarang orang. Di Lewoingu, hanya para pemimpin adat tertentu yang berhak melakukan itu.

Si penulis "Tanggapan buat Blog Ata Maran" pun asbun (asal bunyi) ketika dia berbicara tentang mundurnya Akim Maran dan kawan-kawannya dari posisi dan tugasnya di desa Lewoingu. Bahwa ada perbedaan pendapat di seputar proses pemilihan anggota legislatif untuk Kabupaten Flores Timur pada tahun 2004, itu memang ya. Tetapi pengunduran diri Akim Maran dan kawan-kawannya dari posisi dan tugas di desa Lewoingu memiliki alasan yang jauh lebih mendasar ketimbang sekedar perbedaan pendapat politik. Yang tidak disetujui Akim Maran dan kawan-kawan adalah penggunaan cara-cara yang tidak sesuai dengan peraturan oleh si Mikhael Torangama Kelen. Pada waktu itu, kampanye partai-partai politik, termasuk kampanye Partai Demokrat dapat dilakukan di Lewoingu, tanpa ada gangguan. Dan itu dapat dibuktikan. Protes atas tata cara perizinan bagi kampanye Partai Demokrat waktu itu dibuat secara resmi melalui mekanisme politik yang disediakan oleh peraturan yang ditetapkan oleh negara ini. Tidak ada rongrongan vulgar terhadap Mikhael Torangama Kelen oleh Akim Maran dan kawan-kawan dalam kasus tersebut dan dalam kasus-kasus lainnya. Coba anda buktikan, kapan dan di mana serta di hadapan siapa saja, Akim Maran dan kawan-kawan pernah merongrong Mikhael Torangama Kelen dan kawan-kawannya secara vulgar. Justru hal sebaliknya yang terjadi. Dan itu gampang sekali untuk dibuktikan. 

Anda perlu tahu, bahwa almarhum Akim Maran itu termasuk salah satu anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Cabang Flores Timur, yang cukup disegani. Banyak orang Flores Timur, di luar lingkungan Lewoingu pun menaruh respek terhadap tugas pengabdian pada masyarakat yang diembannya selama ini, melalui jalur PDIP. Itulah sebabnya, partainya pun ingin mengorbitkan dia sebagai salah satu calon legislatif dalam pemilu 2009 mendatang. Untuk itu dia pun telah dipersiapkan untuk mengikuti program kaderisasi yang diadakan pada bulan September 2007 di Jawa Barat. Tetapi program itu akhirnya tak dapat dijalaninya, karena dia dibunuh oleh panjahat-penjahat Eputobi pada 30 Juli 2007. Ketika masih hidup, tokoh-tokoh politik penting di Larantuka dan dari pulau lain di NTT pun pernah datang menemuinya di Eputobi. Mobil plat merah EB 2, misalnya, mampir juga di Eputobi. Seorang tokoh politik yang pernah mau mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur NTT dalam pilkada mendatang pun datang ke Eputobi untuk menemui Akim Maran.Tetapi bagi penulis "Tanggapan buat Blog Ata Maran," Akim Maran adalah cacing tanah, suatu penghinaan yang hanya layak diucapkan di lingkungan masyarakat tidak beradab. Bahkan Akim Maran pun disebutnya anjing. Jelas sekali kelihatan siapa sesungguhnya orang ini.  

Lantas dia pun mengarang-ngarang ceritera tentang dukun Maumere dan sms gelap. Dari ceriteranya tentang dukun Maumere, kita dapat mengetahui bahwa dia sendiri yang berurusan dengan dukun yang bersangkutan. Bukankah dia sendiri yang mengakui bahwa dia dihubungi oleh dukun dari Maumere itu? Dia yang berurusan dengan orang yang disebutnya dukun, RRM yang dituduhnya membayar dukun dengan uang Rp 2,000,000 (dua juta rupiah). Saya harap dia dapat membuktikan tuduhannya yang  ngawur itu. Suruh dia menanyakan kepada dukun tersebut, Apakah dia pernah berurusan dengan RRM? Tanya kepada dukun itu, kapan dan di mana RRM pernah membayar dia untuk menyantet orang.

Dari ceriteranya kita juga jadi tahu kegemaran dia bermain sms. Anehnya, lawan main sms-nya adalah orang yang tidak dia kenal. Kalau asyik bermain sms dengan orang, ya kenalilah dengan jelas siapa lawan main sms-mu. Masa anda sampai begitu asyik bermain sms dengan orang, tapi anda sendiri kok tidak tahu siapa lawan main anda. Lalu celakanya, setelah mabok gara-gara sms, orang lain yang dituduh. Saya yakin, suatu waktu dia akan terjerat sendiri oleh kegemarannya ber-sms. Mudah-mudahan musim penjeratan itu datang lebih cepat agar masyarakat Lewoingu dan masyarakat NTT pun tahu siapa sesungguhnya dia itu. Banyak orang di NTT sekarang ini sudah tidak sabar menunggu tibanya musim itu.

Lalu penilaian dia bahwa buku karya RRM itu merupakan hasil copy paste karya orang lain, itu hanya menunjukkan bahwa si penulis "Tanggapan buat Blog Ata Maran" tidak mengerti cara kerja akademik, dalam hal ini tata krama penulisan buku ilmiah. Dan kekurangan pengalamannya dalam hal itu membuat dia pun asal bunyi dalam membuat penilaian atas suatu karya ilmiah. 

Meskipun penuh dengan caci maki dan kebohongan, saya toh tetap mau membaca tulisannya itu dengan tenang. Dan saya pun akhirnya mengerti bahwa tulisan itu dibuat oleh seorang "nabi gadungan," dengan tujuan utamanya ialah memaki-maki orang, memfitnah orang, dan mengecoh orang dengan kata-kata dusta. Memang, hanya itu yang dapat dilakukan oleh seorang "nabi gadungan." Ketika ditantang dengan fakta-fakta, cermin yang memantulkan bayangan dirinya ingin diremukkannya agar bayangan dirinya yang sesungguhnya tak tampak di hadapannya. Tetapi justru pada cermin yang telah remuk, tampaklah kepingan-kepingan remukan bayangan dirinya. Jadi, anda mau pilih yang mana?

V. Kejahatan kemanusiaan

Selasa, 31 Juli 2007, seluruh Lewoingu digemparkan oleh kematian Akim Maran. Jenazahnya ditemukan di dalam parit di bawah sebuah deker di Blou, yang terletak di antara Wairunu dan Lewolaga di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Meskipun pihak tertentu di Eputobi menyebarluaskan informasi bahwa kematian Akim Maran disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, banyak orang yang merasa yakin bahwa kematian Akim Maran adalah akibat pembunuhan. Beberapa orang Eputobi, yang berada di lokasi penemuan jenazah Akim Maran memberikan kesaksian yang membuat banyak orang percaya bahwa kematiannya bukan karena kecelakaan lalu lintas.

Tetapi masih menjadi teka-teki yang perlu dijawab, yaitu bagaimana Akim Maran dibunuh, apakah dengan santet atau dengan kekerasan fisik? Pada mulanya, kedua kemungkinan itu sama-sama memiliki pendukung di berbagai kalangan masyarakat Lewoingu. Tetapi melalui penyelidikan secara luas dan mendalam, yang mencakup olah tempat kejadian perkara, pengumpulan dan pengolahan berbagai informasi terkait, penemuan barang-barang bukti, dan petunjuk dari arwah Akim Maran sendiri, akhirnya ditemukan suatu alur ceritera yang jelas, yang pada akhirnya dapat membawa kita pada kesimpulan, bahwa pada Senin malam 30 Juli 2007, Akim Maran dihadang, lalu dikeroyok secara brutal hingga meninggal. 

Meskipun penalarannya banyak mengalami kemacetan, hal-hal tertentu yang disajikan dalam tulisan berjudul "Tanggapan buat Blog Ata Maran" cukup berarti dalam proses pembongkaran kejahatan yang menyebabkan kematian Akim Maran. Banyak orang tidak menyadari bahwa kejahatan kemanusiaan yang menimpa Akim Maran itu bermula dari sejarah palsu, seperti yang ditulis dalam "Tanggapan buat Blog Ata Maran." Versi sejarah palsu itu dipakai sebagai sarana untuk mencuci otak segelintir orang Eputobi, yang selama ini terkenal berambisi untuk menampilkan diri sebagai penguasa Lewoingu. Dengan adanya versi sejarah palsu itu, mereka merasa memiliki landasan historis yang kuat untuk mengobrak-abrik tatanan adat budaya Lewoingu yang sudah berusia beberapa abad dan terbukti efektif dalam menjamin terwujudnya suasana hidup aman dan damai di Lewoingu.

Sejarah palsu semacam itu yang menjadi dasar bagi mereka untuk melakukan pelanggaran adat pada hari Senin, 10 April 2006. Sejarah palsu itu pula yang menjadi dasar bagi mereka untuk berkoar-koar tak karuan pada tanggal 12 Mei 2006 di kantor desa Lewoingu. Versi sejarah palsu itu pula yang membuat mereka berani mengkleim bahwa mereka berhak atas tanah yang dimiliki oleh Lewolein, Doweng One'eng, dan Ata Maran. Sejarah palsu itu pula yang meradikalkan sikap mereka terhadap pihak Ata Maran, yang selama ini mereka pandang sebagai orang-orang berdosa yang patut mereka hukum. Dalam kerangka itu, tampil pula dari kelompok itu seorang "nabi gadungan" yang secara lantang mendesak agar Ata Maran bertobat. Memang seperti itu perilaku orang yang sedang dihantui oleh bayangan dirinya sendiri. 

Selama ini kita berusaha untuk menemukan alur kisah kejahatan yang menyebabkan kematian Akim Maran. Dan di sana sini kita mengalami kesulitan, karena berlakunya mekanisme tutup mulut atau karena gerakan penggelapan berbagai informasi yang berkaitan dengan kematian Akim Maran, di beberapa kalangan. Di hari-hari awal, setelah kematian Akim Maran, cukup banyak orang yang mau memberikan informasi secara apa adanya tentang berbagai hal, yang membantu kita untuk dapat mengetahui nama orang-orang yang membunuh Akim Maran. Tetapi di kemudian hari, setelah menyadari bahwa urusannya berkaitan dengan aparat kepolisian, mereka yang tadinya mau berbicara secara apa adanya menyangkali sendiri ucapan yang pernah mereka lontarkan. Penyangkalan mereka pun disebabkan oleh adanya intimidasi dan ancaman dari para penjahat itu terhadap mereka. Tetapi di dalam "Tanggapan buat Blog Ata Maran," kita dengan mudah menemukan adanya rancangan kejahatan terhadap pihak Ata Maran. Bahkan dengan bangga, penulis "Tanggapan buat Blog Ata Maran" mengakui bahwa kematian Akim Maran disebabkan oleh kepasa' (sumpah adat) yang dilakukan oleh suku Kumanireng pada hari Jumat malam, 19 Mei 2006. Dari kata-katanya tentang kepasa' dan dari penilaiannya terhadap Akim Maran sebagai cacing tanah dan anjing, kita dengan mudah bisa menilai siapa sesungguhnya orang ini..

Keikutsertaannya dalam paduan suara, yang menyanyikan lagu bahwa kematian Akim Maran karena kecelakaan lalu lintas secara jelas mengindikasikan bahwa dia dan mereka yang berada di kampung Eputobi itu memang berada dalam satu barisan. Bagi kami dan pihak-pihak yang sudah sangat berpengalaman dalam menangani perkara kejahatan berdasarkan petunjuk dari arwah korban kejahatan yang bersangkutan,  apa yang dikatakan oleh arwah Akim Maran benar adanya. Kami sudah meneliti dengan cermat kecocokan antara apa yang dikatakan oleh arwah Akim Maran dan kenyataan-kenyataan empiris yang ada. Bahkan berdasarkan petunjuk arwah Akim Maran, kita dapat menemukan adanya dimensi faktual lain, yang sebelumnya belum ditemukan. Kaitan logis antara informasi yang satu dengan informasi-informasi yang lain, antara fakta yang satu dengan fakta-fakta yang lain dalam kasus kejahatan tersebut tampak jelas sekali. 

Dalam sejarah pembongkaran kasus-kasus kejahatan tanpa saksi dan tanpa bukti-bukti konkret, mediator arwah korban kejahatan yang bersangkutan sering kali diperlukan. Dalam kasus tertentu, arwah korban kejahatan itu sendiri datang dan berbicara tentang penyebab kematiannya. Ini sudah berulang kali terjadi. Dan tak ada satu pun arwah berbohong dalam urusan semacam itu. Ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Kecocokan antara apa yang disampaikan arwah Akim Maran dan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan sudah berhasil dibuktikan secara ilmiah. Jadi, orang-orang yang namanya disebut oleh arwah Akim Maran sebagai penyebab kematiannya agar bersiap-siap untuk menerima kenyataan. Para dalang dan penasihat intelektualnya pun perlu bersiap-siap untuk menghadapi kenyataan, sesuai dengan peran-peran nyata yang mereka lakukan dalam merancang dan menyukseskan proyek kejahatan pada Senin malam, 30 Juli 2007. 

Perlu anda ketahui, bahwa makin lama makin banyak orang yang bosan dengan bantahan demi bantahan dari orang-orang yang jelas terindikasi sebagai pelaku kejahatan tersebut. Penyangkalan-penyangkalan mereka, sangat dangkal dan murahan. Mereka mengira, semua orang di Eputobi  dan sekitarnya dapat dibodohi.   Mereka mengira, semua aparat kepolisian di negara ini dapat dikibuli melalui cara pendekatan mereka. Penyangkalan demi penyangkalan para penjahat dan dalang mereka merupakan bagian dari kebodohan mereka sendiri. Penilaian bahwa arwah Akim Maran berbohong merupakan bagian dari kebodohan itu pula. Justru setelah kematiannya seseorang tak dapat lagi berbohong, karena di sana tak berlaku lagi dimensi ruang waktu-duniawi yang menghalangi kemampuan manusia untuk mengetahui sesuatu secara apa adanya. Dalam kehidupan setelah kematian, tidak berlaku lagi kebohongan, karena segalanya menjadi nyata dengan sendirinya, secara apa adanya. Di sana, apa yang dikatakan identik dengan kenyataan. Di sana tak ada jarak sedikit pun antara pikiran dan fakta. Di sana tak berlaku lagi masa lalu, masa sekarang, dan masa depan yang dikerangkakan dan karena itu dikerangkengkan oleh ruang dan waktu duniawi.

Jadi mengatakan arwah Akim Maran berbohong merupakan suatu kebohongan, suatu upaya pembodohan. Ini merupakan bagian dari trik-trik murahan untuk "menyucikan diri" sekaligus untuk mengelakkan diri dari tanggung jawab hukum. Tetapi saya yakin, kali ini mereka benar-benar akan kehilangan energi untuk terbang menjauh dari tanggung jawab hukum, yang memang pantas mereka pikul. Masyarakat Lewoingu kini sedang menunggu datangnya musim pertanggunganjawaban tersebut. Selanjutnya, masyarakat Lewoingu pun akan menyaksikan parade pemberantasan kejahatan di kampung Eputobi. Ada tangan-tangan yang akan diborgol, ada orang-orang yang akan digiring ke kantor polisi, lalu dijebloskan ke dalam sel-sel yang tersedia di sana. Dan ada pula air mata yang tumpah ruah. Tetapi yang tumpah ruah itu adalah air mata kesia-siaan. Pada hari-hari itu nanti, dukun-dukun santet yang mereka andalkan selama ini pun tak lagi berkuasa untuk menahan gelombang pembersihan kejahatan di kampung Eputobi. 

VI. Apa salah dia sehingga dia dibunuh?

"Dia tidak bersalah apa-apa tapi dibunuh. Apa salah Akim Maran, sehingga dia dibunuh?" Kata-kata semacam itu sering diucapkan oleh orang-orang Eputobi, yang merasa sangat kecewa dengan kenyataan, bahwa di Eputobi ternyata terdapat orang-orang yang berperilaku barbarik. Di antara para barbar itu terdapat orang yang seharusnya menjadi sepuh, tetapi malah menjadi pelopor kasak-kusuk untuk menghabisi orang atau pihak lain. Ada pula orang yang seharusnya menjadi pengayom warga Eputobi, tetapi malah menjadi pemimpin pelaksanaan proyek kejahatan. Ada yang digembar-gemborkan sebagai orang pintar, tetapi malah menjadi penghasut dan penasihat proyek kejahatan. Ada yang tampak rajin berdoa, tetapi malah terus-menerus berusaha menutup-nutupi kejahatan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Ada yang pernah tampil sebagai pengkotbah di gereja stasi Eputobi, tetapi malah ikut menjadi perancang proyek kejahatan.

Mulanya, orang-orang Eputobi merasa heran dan bertanya-tanya, "Mengapa ada orang Eputobi, yang nekad berbuat jahat seperti itu?" Tetapi sekarang, para warga masyarakat beradab di Eputobi dan sekitarnya telah paham betul ceritera di balik kenekadan tersebut. Banyak orang Eputobi dan sekitarnya kini tahu ceritera: "Dari sejarah palsu ke kejahatan kemanusiaan." Nafsu mereka untuk merebut kekuasaan adat dan untuk mempertahankan kekuasaan politik yang korup telah mendorong mereka untuk nekad membunuh orang yang tidak bersalah itu. Kenekadan semacam itu hanya kita temukan padanannya dalam lingkungan masyarakat barbarik.***

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS