AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

HIPOTESIS – HIPOTESIS YANG GAGAL

DALAM SEJARAH LEWOINGU

 

Oleh: Dony Kumanireng

Terbit: 17 April 2008

 

  1. Tak ada Keropong Ema dalam nomenklatur Jawa

 

Konon ada seseorang dari Jawa, sudah dewasa tapi belum punya nama. Untuk sementara kita sebut saja: Narantake. Dia datang bersama adiknya, yang juga telah dewasa, dan bernama Keropong Ema. Sayang dia tewas sebelum sempat tiba di wilayah Lewoingu. Keropong Ema orang Jawa. Namun namanya dilabel merek Lamaholot. Saya sudah minta bantuan para pembaca untuk mencari seseorang anak laki-laki kelahiran Jawa, dari bapak ibu Jawa, masa kecil hidup di Jawa, besar di Jawa lalu bernama Jawa pula: Keropong Ema. Persis nama Lamaholot!

 

Mungkinkah itu? Coba cari di seluruh Jawa, untuk zaman sekarang. Atau zaman Budi Utomo, maupun zaman VOC. Atau zaman Mataram, Majapahit, Singosari, apa ada nama seperti itu? Tanya juga arwah Keropong Ema (kalau masih gentayangan), orang Jawa siapa yang telah memberi dia nama Lamaholot itu? Bila namanya Jaka Ema mungkin masih bisa dicari-cari alasan pembenar. Tapi nama dia itu Keropong Ema, bukan Jaka Ema. Hasil yang saya peroleh dari SMS yang masuk: NIHIL. Bahkan ada yang mengomentari: MUSTAHIL NAMA LAMAHOLOT DILABEL KEPADA ORANG JAWA. Itu salah satu bunyi SMS dari orang Lamaholot yang sudah beranak cucu di Jawa Timur.

Kalau demikian, maka kita harus ganti hipotesis:

Ø     Jika nama Lamaholot tidak dapat dilabel pada orang Jawa, maka orang Jawa bernama Keropong Ema itu fiktif.

Ø     Jika Keropong Ema fiktif, maka Narantake tinggal di Lewokoli itu fiktif.

Ø     Jika Narantake tinggal di Lewokoli itu fiktif, maka Narantake tiba di Tanabeto sebagai manusia dewasa adalah fiktif.

Ø     Jika Narantake tiba di  Tanabeto sebagai manusia dewasa adalah fiktif, maka penulis kisah itu berdusta atau dibohongi penuturnya.

Ø     Jika penulis kisah itu berdusta, maka harga jual kisah itu NOL MUTLAK.

 

Di titik nol mutlak, segala sesuatu berhenti bergerak. Partikel atom berhenti bergerak. Molekul zat, denyut kehidupan, anda yang membaca, komputer anda, kembali ke laptop anda, Tukul Arwana berhenti dari Empat Mata, Barcelona, Ronaldino juga berhenti bermain di Liga Spanyol. Ketika anda mengaku bahwa Demong pe’eng betok rae koting bala pukeng, rae dua’ Tanabeto, maka Ronaldino, Messi, Eto’o, kembali menghibur anda lewat Liga Champion. Tukul kembali ke laptop, Lewoingu kembali ke kitah, dan Eputobi kembali aman.

 

Kalau Atamaran sendiri menyangkal kebenaran marang maka sang pengacau dari DKI itu  akan terus gentayangan memanipulasi arwah adiknya, yang mati tanpa damai dengan sesamanya di Eputobi. Arwah itu tidak di Surga, tidak di Neraka, tidak juga di Api pencuci, tapi gentayangan sehingga mudah dimanipulasi. Dia akan me’replay’ adegan itu, sampai setan bisa membuktikan bahwa dia dibunuh oleh orang yang membencinya. Benci karena dia orang sukses dan sangat hebat di Eputobi.

 

Dalam ayat-ayat marang, masih disebutkan bahwa Anak Demon yang betok rae Tanabeto dan tinggal di Lewohari itu, digendong dan disusui di Lewohari dengan penuh rasa cinta, (TUHO DUKONG LELA’ LIWU). Dalam budaya Lamaholot istilah TUHO DUKONG LELA’ LIWU itu dikenakan pada bayi. Tidak pada orang yang saling bertemu di Tanabeto. Dan marang diucapkan secara lisan, mengulangi apa adanya tanpa tambahan atau pengurangan. Orang Lamaholot percaya bahwa marang yang ditambah atau dikurang, dikali atau dibagi, dipelintir atau dibelokan sedikit saja: akan berujung maut di Blou, di Jakarta, di Lampung atau di manapun, kapan pun, cepat atau lambat. Anda boleh mendustai siapapun, tapi anda tidak bisa menyangkal marang.

 

Saya yakin, si Rafel ini belum pernah mendengar, menyimak, dan memaknai marang dalam suatu situasi “live show”. Bapaknya B. Sani Maran juga tidak, karena beliau menganggap hal itu perbuatan orang kafir, sementara anaknya semua ada di Seminari Hokeng. Takut anaknya keluar dari Seminari. Jadi beliau tidak mungkin pergi ke koke mendengar marang. Maka diapun menyusun sendiri sejarah Gresituli versi imaginasi. Khayalan !

Sementara, dalam marang pun terungkap bahwa bayi yang di’bote’ itu:

 

“…..tawa bele ka’ na’ang hogo beta, gere blola ya’ na’ang mereng rua….”

(berkembang besar secepat esok, bertumbuh tinggi secepat lusa).

 

Dia lalu minta dibuatkan busur dan lembing (tula’ wuhu’ deke gala) dan mengalami proses belajar berburu. Ayat dalam marang berbunyi:

 

“ba’ang wuhu teti hananeng iyeng ahung lali leing,

ahung Sagaribu, Lakebala, Manuaning, Kanawolo”

 

 terjemahan harafiah sebagai berikut:

 

“Panggul busur diatas pundak, panggil anjing ikut di kakinya,

anjingnya bernama Sagaribu, Lakebala, Manuaning, Kanawolo”.

 

Supaya semua umat manusia tahu, bahwa anjing dengan nama: “Sagaribu, Lakebala, Manuaning, Kanawolo” itu adalah anjing Kumanireng dari Lewohari. Sifat alamiah anjing, yaitu setia pada tuannya tetapi galak pada orang asing. Jadi kalau Sagaribu, Lakebala, Manuaning, Kanawolo, setia kepada Anak Demon itu, maka dimana Anak demon itu tinggal? Tentu saja di Lewohari, bukan Lewokoli.

 

Suatu hari anjing Sagaribu, Lakebala, Manuaning, Kanawolo dibawanya ke hutan perburuan di ile Bele’eng, sampai dia memanah seekor rusa dan kahe’ mengucapkan “Kopong go Gresituli, mamung go keropomg Ema”. Disana ia memperkenalkan nama dirinya yang kita semua sebut hingga kini dan selama-lamanya: Gresituli Keropong Ema.

 

Dengan ini pula ingin saya tegaskan bahwa belum sekalipun dalam marang resmi di koke, ada orang yang mengucap “Kopong go Gresituli, mamung go’eng Keropong Ema”. Apalagi dengan penghayatan bahwa mamung go’eng itu sekampung dengan: Suharto, Budiono, Suwardi, Gatot, Bambang dan lain-lain. Dalam ‘taling marang’ (semacam paduan suara) siapapun yang bisa ‘taling’: Mamung go Keropong Ema dihayati sebagai persona yang sama dalam padanan sastra Lamaholot, bagi Kopong go Gresituli. Bukan persona lain yang hidup di Jawa.

 

Dia juga tidak memperkenalkan dirinya yang bernama Narantake di Pasar kota Lewokoli. Jadi yang datang di pasar Lewokoli adalah anonim. Apakah anjing-anjing Sagaribu, Lakebala, Manuaning, Kanawolo,itu di piara di Lewokoli oleh pemuda dewasa anonim? Anjingnya saja punya nama, wong tuannya koq tidak punya nama? Penalaran ini menunjuk pada fakta palsu yang dicari-cari dengan memakai logika yang berantakan.

 

Tapi benarkah ada pemuda anonym di Lewokoli? Atau ada pemuda a-history yang tiba di Lewokoli? Gresituli yang factual adalah Gresituli yang ada di Lewohari. Sejarah Lewoingu tidak butuh pengakuan Atamaran atau suku manapun bahkan bila seluruh dunia mengatakan dongeng sekalipun. Dan jika itu terjadi maka akan hanya keturunan yang mengaku eksistensi sejarahnya adalah suku yang terpelihara oleh roh nenek moyangnya Gresituli itu. Keturunan yang tidak mengakui adalah Kiwang Lewohoko, Watang Adonara. Mo a lewung a tanah’ng, a ile a wokah’ng akan dibersihkan oleh roh Gresituli dari ketinggian Surgawi sebagai keturunan yang murtad”.

 

Anda yang menghadiri pertemuan tanggal 12 Mei 2006 di kantor desa Lewoingu pasti mendengar ucapan saya seperti itu. Rupanya ucapan itu yang dipelintir pula oleh setan mana, yang mengatakan saya menghina Gresituli. Orang yang tidak hadir seperti Rafel  ini dan Plasidus (Ngingo)  menjadi snewen dan berkoar-koar di alam prasangka buruk yang memecah belah Lewotana. Menuding saya, memfitnah Mikel Torangama Kelen, dengan menghasut-hasut perlawanan dan memboikot keputusan musyawarah yang telah disepakati bersama saksi turunan Kakang Lewoingu: Berna de Ornay.

 

Ternyata hasutan itu terus berlanjut lewat blog Atamaran untuk memboikot aktifitas pembangunan lewo hingga sekarang. Pembaca orang Eputobi maupun bukan Eputobi, sebaiknya datang dan menghadiri 50 Tahun SDK Eputobi, 5 Juli 2008 untuk menyaksikan sendiri apa yang sesungguhnya terjadi di Eputobi.

  

Rafael Maran boleh meneriakan penyangkalan, namun Tuhan telah menciptakan sejarah Lewoingu melalui Gresituli yang betok rae Tana beto, dan ditemukan oleh Bota Bewa. Biarlah penyangkalan dia ini kita serahkan ke Lewotana nodi Na’ang ro’ puhung putuk, na’ang ro’ wuang lorang. Percaya tidak percaya: TERSERAH. Itu urusan anda. Tapi untuk memperjelas kepemilikan anjing, perlu saya tambahkan bahwa setelah nikah dan tinggal di Lewowato, anjing piaraan Gresituli bernama: Dongdai, Rayabineng, Hagakeang, dan Baowutung. Anak anjing itu lahir dari induk Manuaning dan Lakebala. Maksudnya supaya jangan lagi persoalkan anjing secara rancu.

 

Lewowato itu tanah Pusi Bera (Leluhur Lamatukang) yang mengalahkan Paji Lewoketaka, jauh sebelum Gresituli muncul. Lamatukang itu taling papa’ang adalah Kumanireng. Mengerti? Rafel ini tidak tahu apa-apa tentang kaitan Lewo dan suku-suku di luar garis Gresituli, sehingga antara imaginasi dia dengan waktu, peristiwa dan lokasi seluruhnya tidak nyambung. Sama seperti tesis dia tentang Lewokoli. Berikut ini saya bantah tesis itu.

 

  1. Lewokoli bukan Kota Dagang

 

Jika anda adalah pembaca yang belum pernah mengunjungi kota Eputobi sebaiknya datanglah ke kota Eputobi. Kita rayakan bersama pesta Emas 50 Tahun SDK Eputobi tanggal 5 Juli 2008, sekalian meninjau bekas kota dagang Lewokoli itu. Jangan bayangkan ada gedung bertingkat disitu.

 

Eputobi disebut kota, karena rumahnya dibangun diatas kota tana, yaitu methode tung tana pota wato, untuk fondasi rumah orang desa. Satu-satunya rumah batu hanya milik B. Sani Maran (ayah Rafel) bekas rumah Pater H. Kremers, SVD yang kini sudah roboh ditelan waktu. Kota Eputobi sangat dekat dengan kota Lewokoli. Kota Lewokoli adalah kota dagang yang punya pasar regular (menurut Rafel), dikunjungi saudagar Cina dan Jawa. Juga saudagar Venetia? Tanya aja Rafel Maran, dosen MKDU IBD Universitas Tarumanegara Jakarta. Kalau dosen IBD bilang di Lewokoli itu ada pasar regular di jaman Gresituli hidup, anda harus manut, jangan membantah agar dapat lulus IBD dengan nilai A.

 

Benarkah Lewokoli bekas kota dagang? Fakta saat ini ternyata bekas kota dagang itu adalah hutan. Tidak ada tanda-tanda pernah ada kota dagang disitu. Tak ada tanda-tanda peninggalan prasarana akses, berupa jalan yang bisa dilalui pedati atau gerobak. Kuda pun tidak bisa, karena kuda harus melangkah dari batu ke batu di Baowolor, pintu masuk (dari barat) ke Lewokoli. Tak ada satu pun orang Lewoingu kontemporer berbudaya transportasi kuda. Dalam khayalan fiktif mungkin pernah ada Lewokoli raya dengan bayangan saudagar Cina, Jawa yang mondar-mandir dengan kereta kuda itu. Fakta lapangan sangat bertentangan.

 

Bagi anda putera Lewoingu yang lahir dan masa kecilnya di Eputobi, mungkin malah pernah buang hajat di “dua” Lewokoli. Kata dua’ dalam bahasa Lamaholot dipahami sebagai tempat yang tidak digarap, dengan pohon yang dibiarkan tumbuh besar alami. Bisa membentuk kanopi hutan tropis, bila populasi pohonnya banyak dan padat seperti di Lewo’oking. Tapi dua’ Lewokoli cuma satu dua pohon besar saja. Singkat kata, Lewokoli sekarang adalah hutan. Terlalu jauh dari bekas sebuah kota dagang. Bahkan terlalu jauh dari bekas sebuah desa. Malah bekas sebuah hunian peradaban juga tak ada petunjuknya lagi. Jadi benarkah Lewokoliraya, dengan pasar ramai yang dikunjungi oleh saudagar China, Jawa, dan pemuda Jawa dewasa Narantake, yang kemudian bernama Gresituli? Hanya khayalan sejarah ciptaan Rafel Maran saja yang ada. Yaitu cerita yang muncul dalam imaginasi B. Sani Maran, atau Nuba kakek neneknya Rafel.

 

  1. Koke Lewoingu didirikan oleh Cucu Gresituli bernama Boli

 

Sejarah Lewoingu paralel dengan Sejarah Koke sebagai balai pelayanan ibu pertiwi (Bale Gelekat Lewotana). Di koke itu musyawarah mufakat dan tata pemerintahan diatur. Koke yang pertama kali didirikan di lokasi Lewo’oking (kampunglama) adalah koke Dungtana. Ini didirikan langsung oleh Gresituli. Warisannya diturunkan pada dua puteranya: Doweng dan Dalu. Warisan tugas, hak dan kewajiban kepada dua putera ini sudah paten dan final, yang dilanjutkan oleh suku-suku keturunan Dalu dan Doweng hingga sekarang. Termasuk kepemimpinan turunan tersebut, baik di “koke lewo” maupun di “duli pali” (kebun).

 

Jika tidak ada prahara yang menimpa Dungbata, mungkin hanya ada satu koke saja yang ada di Dungtana itu, dan kata Lewoingu tidak mungkin muncul. Maka debat apa diskusi inipun tidak ada. Karena sejarah koke Dungtana adalah sejarah Gresituli, dan Gresituli tidak memberi nama Lewoingu, melainkan memberi nama Dungtana. Sedangkan Dungbata adalah milik Metinara Kopong Todo Buge Hule Blawa Bura, pemilik Ile Hinga.

 

Namun prahara itu muncul, dan keturunan Metinara terusir dari tanah airnya sendiri dalam peristiwa Nuhung temo tewong, Alo boleng boto. Diakui atau disangkal, tidak penting. Tapi peristiwa itu bersinggungan langsung dengan martabat dan kehormatan turunan Gresituli dan peradaban. Jadi bila beliau marah itu manusiawi. Semua orang normal akan marah. Termasuk Gresituli.

 

Maka setelah itu, Sani ditugaskan membawa Uluwai matisela, untuk mendinginkan suasana panas di Dungbata. Pesanan Gresituli: “mo rae tobo rae tibang tukang, abo’ ma’ang one nai, pukeng lewo rae’eng kiko rio-rio kako rao-rao”. Terjemahan harafiah: Kamu kesana, duduk di tengah dan rangkullah mereka, karena kampung itu memiliki manusia yang bersenjata sangat ampuh.

 

Tinggal tiga suku saat itu yang masih mendiami Dungbata, dan berkemas untuk pulang ke “lewo” masing-masing. Mereka adalah Werong Hegong (Wungung Kweng), dengan kemampuan Plea mata mereng, Apu wai peni, dan Pusi Bera (Lamatukan) yang memiliki Gong sapi lera, Gedang bawa raya. Pasangan senjata dari kedua suku ini bersama Boli dalam sejarah Lewoingu, memenangkan banyak pertempuran kelak. Wujud Sani ‘duduk di tengah’ yang terlihat sekarang adalah posisi lango Linpati, di antara Wungungkwen dan Lamatukang. Datang ya saudaraku dan lihat bukti!

 

Misi Sani berhasil meredakan situasi, dan Werong Hegong bersedia tetap tinggal di Dungbata bersama Sani, karena setuju dengan niat suci: Pota ile hone woka. Sani masih bujang, kropong bele’eng tei rae Dung bata, lango naeng lika lurang aping mateng. Terjemahan bebas: Sani nasih bujang, bujang tua, tinggal di Dungbata, namun dapur rumah apinya mati. Maka Sani, disarankan oleh ayahnya Gresituli untuk ‘gurung gawak’ Kene yang sedang hamil anak Hule. Menaruh rasa simpati iapun bersedia menjalankan tugas itu sebagai suatu amanah. Oleh karena sani menjalankan amanah itu dia patut dihormati. Maka ia (Sani), mengambil Kene, meskipun telah mengandung anak Hule keturunan Metinara yang sudah lari semuanya. Anak itu lahir dan diberi nama Raga. Setelah lepas susu, demi melupakan masa silam Kene, maka Raga dititip tinggal dengan pamannya Dalu di Riangkung, bukan di Dungbata.

 

Selanjutnya Sani dengan Kene, menempati rumah Linpati, melahirkan Boli dengan seluruh karisma Gresituli yang muncul dalam diri Boli sampai mendirikan koke (baca tulisan terdahulu) di lokasi Ingu ema. Pilihan lokasi alternatip lainnya selain Ingu ema (sebagai lokasi koke sekarang) adalah: Kebo Wolo – dekat Watokrong, Baka – sebelah barat Ingu ema, dan Muda laka – dekat manu jago. Anda harus datang ke Lewo’oking agar bisa mendata semua itu. Selanjutnya sejarah koke Lewoingu adalah sejarah Boli. Sejarah Raga tidak disinggung dalam konteks berdirinya koke Lewoingu. Karena Raga diundang untuk mendapat tugas marang,  sama dengan Hurik (Lama tukang) dan fungsi layanan suku lainnya. Bukan sebagai pemimpin Lewoingu.

 

Setelah koke Dungbata berdiri di lokasi Ingu Ema, barulah popular nama Lewoingu dikenal. Saat nama Lewoingu muncul, seiring berdirinya koke itu sayangnya Gresituli sudah meninggal karena lanjut usia. Dan memang dia tidak memberi nama pada Lewoingu, sebagaimana tinjauan etimologis bahasa Jawa seperti tulisan imaginative Drs. Rafael Maran, M. Hum di eputobi.net.

 

  1. Gresituli tidak meremukan Paji Lewokoli.

 

Seluruh uraian panjang lebar dari Rafel, tentang kalkulasi politik Gresituli terhadap mertuanya Paji Lewokoli dan Paji Lewokaha, dengan mudah menunjukan bahwa dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang sejarah Lewoingu dan sejarah Gresituli. Kenapa?

 

Ada dua cara bagaimana Paji hengkang dari Lewoingu. Pertama: Kalah perang, atau dibunuh. Misalnya: Paji Nedabang, Paji Lewoketaka, Paji Lewotapo, Paji Lewohari, Paji Waitiu dan terakhir Paji Subang gere (oleh Lewoanging dan Wologening), serta Tega Lamawulo (kerjasama: Hatang–Wolo, Siratuna–Lamika dan Dalu Doweng). Kedua: Hengkang karena Baya, yaitu semacam sumpah adat untuk tidak boleh saling menyakiti. Pihak yang melanggar baya, akan mati termakan sumpah itu. Golongan paji yang hengkang dengan alasan baya ini adalah: Paji Lewokoli, Lewokaha, Tanaboting, Wolome’ang, dan Bumibera di Keletakeng. Tanpa baya, mungkin masih ada sisa paji di wilayah Lewoingu.

 

Kelompok Paji yang disebut belakangan itu tidak dapat diperangi, lantaran punya hubungan kekerabatan dan kawin mawin dengan lewo-lewo di sekitarnya. Juga tak ada pengkhianatan dan irihati karena harta, tanah, dll. Sebelum gading jadi Belis di Wilayah Lewoingu, maka tanah (baik newa ataupun hak ulayat atau kedua-duanya) dijadikan sebagai belis atau kontra belis (ohe wa’a). Namun ada suku-suku, yang tidak memiliki kebiasaan ‘edeng tale’. Suku tersebut antara lain: Kwen, Sogemaking, Hera. Sedikit catatan khusus tentang suku Hera: mereka boleh edeng sendiri di rumah suku mereka di koke Lamika, karena peran Hatang membunuh Tega Lamawulo, namun tidak edeng pada ex-tanah Lamawulo yang direbut itu.

 

Gambaran ini saya tampilkan untuk memberi latar belakang kepemilikan tanah ulayat, bukan saja di Lewoingu, tapi juga di Leworook, Tenawahang, Openg, Lamika, Lamuda, Wolo, Lewokluo, Lewokung dan Larantuka kota yang kebanyakan sudah kabur. Daerah-daerah tersebut, dalam konteks hak edeng berkaitan relasi Paji dan Demong memiliki model kepemilikan tanah ulayat yang relative sama.

 

  1. Bedah anatomi tanah (etang) di sekitar Eputobi desa Lewoingu dengan batas tanah dalam kaitan logis bersama suku lain di Lewoingu/lewo tetangga

 

………. Bersambung……..

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS