AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

OPINI-OPINI:

PRA-PERADILAN

TRAGEDI BLOU 

ADVENT

UU PORNOGRAFI...

BALAI BAHASA...

MAURICE BLONDEL

PEND. HUMANISTIK

BISNIS UBI KAYU

KEKERASAN MEDIA

LAHAN KERING...

LAUT

PEMBANGUNAN NTT

GIZI BURUK

SERBA-SERBI...

ALDIRA....

KEMBALI...

EMAS....

YANGTERSIRAT

 

MENGAPA TIDAK BERAGRIBISNIS UBI KAYU?

Oleh: Dati Nawastuti Lewoema, S. Pt.

Sumber: Opini ntt-online, 10 Mei 2008

Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz)

 

 

Apa yang terlintas dalam pikiran kita ketika membaca dan mendengar dua kata tersebut? Ketika saya masih berada di kampung suami yang bernama Riangduli, terletak di kecamatan Titehena kabupaten Flores Timur, setiap sore menjelang gelap saya selalu melihat bapak mertua pulang dari kebun dengan memikul sesuatu dalam karung beras di pundaknya.

Ada pisang, ubi kayu hingga kayu bakar. Setelah beristirahat sejenak, sebagian ubi kayu mulai dicincang untuk dijadikan makanan babi (apalagi si babi pun sudah tak sabar menahan lapar sehingga suaranya terdengar sampai ke tetangga sebelah rumah). Setelah itu, kalau ubinya enak (pulen) untuk makan kami besok pagi. Tapi kalau ternyata bapak membawa ubi yang rasanya pahit berarti semua ubi yang beliau bawa sore itu adalah untuk makan babi.

Itu sedikit ilustrasi yang saya ambil dari pengalaman pribadi. Selama ini ubi kayu hanya dipandang sebelah mata. Padahal nilai ekonominya cukup tinggi; mulai dari pakan ternak, gaplek, tiwul, kue, kripik, minuman bahkan biofuel. Jadi ubi kayu sebenarnya tidak hanya sebagai makanan babi saja dan kalau ada sisa untuk manusia.

Varietas Ubi Kayu

Saat ini tersedia 10 varietas ubi kayu di pasaran yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu varietas untuk pangan dan varietas untuk industri.Varietas untuk pangan antara lain Adira-1;Malang-1;Malang-2 dan Darul Hidayah. Sedangkan untuk ubi kayu bervarietas Adira-2;Adira-4;Malang-4;Malang-6;UJ-5 dan UJ-3 adalah untuk industri.

Varietas untuk pangan mempunyai tekstur umbi yang pulen dengan kadar HCN 50 miligram per kilogram, rasanya tidak pahit, sedangkan untuk industri mempunyai kadar patin sekitar 0,6 gram per kilogram dan rasanya pahit (Tempo interaktif,2007).

Beberapa varietas yang tahan hama tungau merah yaitu Malang-4 dan Malang-6 serta varietas baru yang sedang diujicobakan di beberapa daerah adalah CMM 99008-3 yang mempunyai kadar patin yang sangat tinggi sehingga baik sekali untuk industri biofuel.Varietas UJ-3 dan UJ-5 ternyata lebih tahan terhadap Cassava Backterial Blight (CBB).

Lalu varietas apa saja yang dapat tumbuh di Nusa Tenggara Timur? Sebenarnya semua varietas ubi kayu tersebut dapat tumbuh dengan baik di NTT apalagi jenis-jenis tanah di NTT bukanlah termasuk jenis-jenis tanah yang bermasalah seperti podzolik merah kuning, histosol dan tanah sulfat masam (Sudjadi,1984).

Menurut Prihandana (2007),ubi kayu adalah tanaman yang toleran terhadap tanah dengan tingkat kesuburan rendah. Ubi kayu juga mampu berproduksi baik pada lingkungan sub-optimal dan mempunyai pertumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan tanaman lain.

Beberapa daerah sudah menjadi sentra penghasil ubi kayu antara lain Lampung, Kalimantan Selatan, Jawa Timur (Malang, Blitar, Trenggalek dan Kediri) serta Jawa Barat. Bagaimana dengan NTT? Beranikah kita membudidayakan ubi kayu untuk menambah penghasilan petani/pekebun kita.

Proyek Budidaya Ubi Kayu di Kabupaten Manggarai Barat

Gebrakan yang sangat mengesankan telah dilakukan oleh Pemkab Manggarai Barat dengan mencoba mengerahkan petani/pekebun di tiga kecamatan yaitu Sano Nggoang, Welak dan Lembor untuk menanam stek ubi kayu sebanyak 3.687.767 batang. Terlepas dari masalah dugaan KKN yang dilakukan, minimal mereka telah meletakkan landasan agribisnis di kawasan ini.

Pemkab Manggarai Barat berani mengambil resiko yang tinggi (kalau tidak ingin dikatakan sebagai tindakan tanpa perencanaan yang matang) dengan mendatangkan stek dari luar pulau dalam jumlah besar tanpa mempertimbangkan banyak hal seperti curah hujan, kebiasaan petani dalam menanam serta hal-hal lain yang tidak diantisipasi sebelumnya.

Maka hal yang tidak diinginkan pun terjadi; kegagalan proyek penanaman 3,6 juta ubi kayu. Berbagai alasan pun dikemukakan yakni; penanaman karena tidak sesuai dengan musim, tidak mempertimbangkan masa tanam yang bertepatan dengan masa panen padi ladang, kekeringan dan dimakan ternak (Pos Kupang,3/2/2008).

Menurut data dari Badan Meteorologi dan Geofisika (1990), Kabupaten Manggarai termasuk salah satu daerah di NTT yang mempunyai curah hujan yang cukup tinggi yaitu 2744 mm/thn yang lalu diikuti kabupaten Sumba Barat 2687 mm/thn dan kabupaten Ende sebanyak 1524 mm/thn. Lalu mengapa proyek penanaman ubi kayu di kabupaten Manggarai Barat gagal dengan alasan kekeringan? Persoalan lainnya adalah karena ubi kayu-ubi kayu tersebut dimakan ternak.

Anehnya, di satu sisi masyarakat diajak beragribisnis dengan menanam ubi kayu untuk diambil umbinya tapi ternyata di sisi lain petani tidak diarahkan untuk menjaga lahan-lahan agribisnis tersebut dari serangan ternak yang tidak dikandangkan.

Ternyata agribisnis tidak semudah yang dibayangkan. Beragribisnis bukan sekedar ada proyek, lahan dan petani tanpa perlu mempersiapkan SDM yang menguasai agribisnis dengan baik.

Menurut Downey (2007), agribisnis merupakan sector perekonomian yang menghasilkan dan mendistribusikan masukan bagi pengusaha tani kepada pemakai akhir. Berhasil atau tidaknya suatu kegiatan agribisnis pada dasarnya tergantung pada efektivitas pemanfaatan sumber daya yang digunakan. Manajemen agribisnis berbeda dengan manajemen lainnya karena agribisnis bersifat unik dan memerlukan kemampuan dan keahlian yang unik dari manajernya.

Bagaimanapun Pemkab Manggarai Barat sudah berani memulai agribisnis dalam skala besar walaupun masih ada indikasi kurangnya pemahaman manajemen agribisnis secara benar.

Namun demikian, bukan berarti setelah kegagalan ini maka Pemkab tidak berani mencoba beragribisnis lagi. Mungkin dapat dimulai dari skala kecil dengan menggunakan stek lokal dari varietas yang ada di sekitar. Kalau sudah berhasil baru mulai ke skala menengah sambil mempersiapkan SDM baik ditingkat Dinas Pertanian hingga petani sebagai ujung tombak agribisnis.

Jika sudah siap segala sesuatunya maka mungkin agribisnis ubi kayunya bisa diperbesar lagi skalanya.Tidak ada salahnya bila studi banding ke salah satu daerah penghasil ubi kayu untuk membuka wawasan tentang agribisnis.

Penutup

Ternyata Ubi kayu dapat menjadi andalan jika dikelola dengan metoda yang tepat. Ketepatan mengelola memerlukan pengetahuan yang cukup di bisang agribisnis. Setiap rantai agribisnis yang bertautan akan menghasilkan kesinambungan alur produksi sehingga tidak ada produksi yang menumpuk dan menjadi obyek permainan harga oleh para tengkulak. Kita bisa mulai kalau komponen-komponen sumberdaya lengkap tersedia.

Agribisnis adalah sebuah isu komprehensif yang memerlukan SDM yang mampu dan mumpuni. Kalau begitu, ternyata kebutuhan akan SDM sudah sangat mendesak. Bagaimana bisa melaksanakan kegiatan agribisnis ubi kayu kalau SDM kita masih belum memiliki kompetensi dalam bidang ini. Ini tugas semua stakeholders pembangunan. Bukan hanya pemerintah, tapi siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan agribisnis di daerahnya masing masing.

Penulis tinggal di kec.Wulanggitang kab.Flores Timur. Saat ini sedang menyelesaikan S2 program Magister Manajemen Agribisnis Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS