AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

NEW: LAUNCHING BUKU...

 SEKELUMIT....

PESTA KENAIKAN

 

Kisah sebuah kehadiran di Kampung Eputobi

Oleh: P. Nard   Hayon, SVD

Terbit: 04 September 2008

 

Catatan

Sudah hampir 4 bulan saya tidak terlibat dalam diskusi kita di eputobi.net, karena keterbatasan sarana internet di Maumere. Tapi akhirnya toh kita bisa jumpa lagi dalam warung kesayangan kita. Semua diskusi yang berkembang dlam eputobi.net sehubungan dengan persoalan di eputobi adalah tanda di mana kita masih menantikan kepastian bahwa matahari kebenaran dan kedamaian akan terbit esok harinya. Ini adalah sepengal catatan yang kubuat selama masa liburanku di kampung. Salam taan uin to’u dari Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, tempat saya membaktikan hidup, karya  dan panggilan saya yang baru.  

 

Bulan Mei 2008 saya tiba di Eputobi setelah kurang lebih tiga tahun berada di Roma –Italia. Dengan segala antusiasme dan kerinduan  untuk menyaksikan dari dekat bagaimanakah perwajahan kampung itu, bagaimanakah perwajahan penghuninya aku melangkah masuk. Tapi apa yang kutemui dan kudapatkan? Yang kudapatkan adalah lengangnya suasna kampung itu, sunyi bagai kampung tak berpenghuni. Suasana dingin, tak bersahabat di antara penghuninya. Tidak seperti tahun-tahun silamku. Hari-hari awal liburanku dipenuhi dengan pertanyaan dan informasi seputar kejadian menghebohkan; Kematian Bonsu Akim Maran. Keberadaanku hampir dua bulan membuat aku mengalami sesungguhnya seperti apa kampung ini.  Di sana tak ada keceriaan, tak ada gelak tawa keakbran dan persaudaraan. Tak kutemukan senyum simpati. Yang ada cuman senyum sinis, gurauan untuk mengolok lawan, pertemuan untuk mencari info apa yang sedang berkembang di pihak lawan. Ke mana gerak kaki orang tertentu hendak melangkah dan untuk apa dia masuk ke rumah orang itu, dst, dstnya. Hari-hari awalku disibukan dengan meleraikan pertikaian dan perkelahian antar keluarga dan kelompok dalam kampung ini. Suatu suasana yang jauh dari harapan.  

 

Rupanya peristiwa kematian Bonsu Akim Maran adalah satu moment  yang melahirkan sejarah baru di kampung ini. Satu moment yang membentuk perilaku, kepribadian, cara berpikir dan berperilaku  warga kampung Eputobi. Ada dua  blok (Timur dan Barat  atau  Jawa Timur dan Jawa Barat ) itu nyata.  Nyata karena  kalau peristiwa kematian di wilayah Timur, maka kelompok wilayah barat tidak akan menghadiri acara itu, mulai melayat, penguburan, sampai doa malam atau pun nebo. Begitu pun sebaliknya. Yang hadir hanyalah anggota blok meskipun bukan keluarga. Ada pergeseran baru dari kekerabatan biologis (keluarga)  ke kerabatan kepentingan (karena blok).  Kalau    sebelumnya orang Lewoingu sangat menghormati orang yang meninggal, karena itu ia  menghentikan aktivitas harian kalau ada orang sekampung meninggal, maka sekarang bahkan kematian warga di satu blok adakah kegembiraan dan kebahagaiaan bagi blok lainnya. (Catatan selama saya hmapir 2 bulan di kampung ada 4 peristiwa kematian: kematian Nona Donsa, istri almarum pak Dalu Kelen, Kematian Monika Mongan Tukan, kematian Ibu Genoveva (istri Yosef Kehuler) dan kematian Bpk Doweng Tukan.  

 

Perseteruan terjadi antara kelompok, suku dan simpatisan. Ada klaim suku pendatang dan asli. Ini untuk pertamakalinya saya dengar selama saya hidup di kampung Eputobi.   Anak –anak diarahkan untuk bermain pada lingkungan kelompoknya. Di Gereja banyak bangku yang kosong pada hari Minggu.

 

Selain itu setiap pergerakan orang di kampung termasuk kita yang berdominsili di luar kampung, menjadi satu interpretasi bagi orang kita kalau kita tidak bijak menempatkan diri dalam menghadapi kasus ini. Satu hal yang cukup meruncing suasana di kampung adalah tersebarnya pelbagai informasi berhubungan dengan kematian Akim dan  proses penyidikan polisi setelah mantan kepala desa dan tiga orang di bawa ke kepolisian Larantuka. Entah dari mana dan siapa isu itu dihembuskan, tapi isu ini cukup mempengaruhi mental dan cara pikir masyarakat kita untuk semakin memperluas horison konflik ini. Anak-anak dijadikan semacam “spion” untuk menguber atau menjaring pelbagai informasi yang beredar dipihak kubu atau lawan. Setiap gerak gerik orang tertentu senantiasa dibaca dalam rangka kasus kematian Akim dan proses pemeriksaaan terhadap tahanan di Larantuka.  Di mana kerumunan dua atau tiga orang, sudah hampir pasti isi obrolannya adalah  kematian Akim dan perkembangan penanganan polisi atas tahanan di Larantuka.

 

Ketika saya bertandang ke rumah Nana Geroda Tukan yang sering dijadikan tempat mangkal orang-orang di bagian Timur, saya mendapat informasi yang berbeda tentang kasus di Lewoingu. Ketika saya bertandang ke Rumah Pius Koten yang menjadi tempat mangkal kelompok barat, informasi  yang berbeda lagi atas kasus yang sama. Semua orang punya kehendak untuk membenarkan infonya.  

 

Ini gambaran yang kelihatan dan kenyataan yang saya alami sewaktu liburan.  

Dalam perjumpaan dan percakapan saya dengan banyak orang di kampung (dari dua belah pihak) saya boleh menyimpulkan bahwa:

 

  1. Persoalam di kampung Lewoingu itu sangat kompleks. Seperti ; persoalan  batas tanah di kampung dan kewenangan  suku atau tua adat dalam kaitan dengan upacara adat.
  2. Persoalan proses pemilihan kepala desa terakhir dan proses pelantikannya
  3. Kebijakan kebijakan pemerintahan desa yang  mungkin tidak memuaskan kelompok tertentu yang menuai badai protes.
  4. Kematian Bonsu Akim Maran dan tuduhan keterlibatan beberapa warga di kampung Eputobi.
  5. Keterpecahan tua-tua adat di kampung. Saya boleh mengatakan ini sebagai sebuah keterpecahan yang sangat kuat mempengaruhi masyarakat kita. Tatanan adat sudah mulai bergeser pengaruhnya, termasuk kewibawaan tua-tua adat kita. Anak-anak muda sudah mulai kehilangan respek atas peran dan fungsi mereka dalam kaitan dengan urusan adat.  Satu bukti yang boleh saya tunjukkan adalah bahwa kalau sebelumnya urursan adat apa saja di kampung melibatkan semua Tua Adat, maka sekarang kalau urusan adat pun terkesan terpecah oleh polarisasi blok Barat dan Timur ini.  Ketika uapacara adat peletakan batu pertama sehubungan dengan pembangunan sebagian gedung SDK Eputobi yang hadir cuma tua-tua adat dari Riangduli dan wilayah barat Eputobi.
  6. Pembagian kerja bhakti di kampung juga terkesan mendukung polarisasi blok ini. Seperti  dusun I dan II bertangungjawab dengan pembangunan gedung kantor kepala desa yang berlokasi di bukit Wolomeang sementara  dusun III dan IV bertanggungjawab terhadap pembanguna sebagian gedung dan lapangan voley dan basket di SDK Eputobi.  
  7. Sekretaris desa yang menjabat sebagai pelaksana harian dianggap kelompok wilayah barat sebagai  pemihak kelompok Timur, karena itu ada mosi tidak percaya terhadap tugasnya sebagai pelaksnaan harian di desa selama Kepdes menjalani status tahanan polres Flotim.
  8. Kecurigaan dan ketakutan masih mewarnai orang-orang di kampung. Mereka merasa tidak aman untuk hidup dan berada di kampungnya sendiri.  

 

Soal damai dan rekonsiliasi

 

Siapa bilang orang kita tidak mau berdamai? Terbukti bahwa selama liburan kedua kelmpok yang saya temui sempat mengidealkan perdamaian ini. Bahkan kelompok yang dinilai sedang berkonflik ini hampir “bertabrakan” di rumah saya karena mau diskusi bareng soal kasus ini. Orang kita masih punya hati nurani untuk tinggal dalam damai yang bukan semu. Karena itu sejauh mengikuti wacana dan diskusi dalam eputobi.net akhir-akhir ini, saya mau mengutarakan ha lini : kita jangan menjadi orang yang suka memberi jawaban tetapi lebih menjadi orang yang melahirkan pertanyaan. Dengan melahirkan pertanyaan seperti mengapa terjadi konflik berkepanjangan di Eputobi? Apa  latar-belakang dibalik konflik itu? Bagaimana sampai konflik ini meluas, mengapa kasus ini sudah di aparat keamanan tetapi lamban penyelesaiannya, boleh dikatakan terlunta-lunta. Benarkah kasus itu sudah selesai atau mengapa belum? Mengapa masyarakat kita saling menuding dan mencurigai, mengapa mereka takut di antara sesama warga sendiri padahal sebelumnya mereka begitu aman dan damai, tanpa intimidasi, tanpa lego larang kalau ke kebun atau ke sekolah?  Dengan melontarkan pertanyaan kita menemukan sebab terdalam persoalan. Dengan melontarkan pertanyaan kita temukan kait-mengait antara satu kasus dengan kasus lain. Ingat kasus di Eputobi bukan kasus tunggal. Ia adalah kasus berantai yang tak terselesaikan secara baik dan benar. Tanpa menemukan akar terdalam persoalan damai dan rekonsiliasi melahirkan kasus baru lagi. Akar serabut persoalan harus dicermati dan ditemukan lalu ia akan gampang di cabut. 

 

Yang menjadi pertanyaan dari saya:  Versi informasi yang berbeda tentang kasus ini masih menjadi bagian persoalan. Misalnya tahanan yang dikeluarkan dari polres Flotim: Versi RRM adalah karena pihak pengadilan meminta polisi melengkapi berkas karena dinilai belum lengkap, karena itu status tahanan adalah tahanan kota dengan wajib lapor dua kali seminggu. Versi DDK adalah bahwa tahanan itu bebas murni, bebas demi hukum karena tidak ditemukan alasan keterlibatan mereka.  Semua kita hanya sebagai konsumen informasi yang ada, soal kebenaran dan ketidakbenaran informasi ini menjadi hak siapa?

 

Saya kira kita mesti memastikan dulu apakah persoalan yang sedang di tangani polisi ini sudah selesai atau belum. Karena kasusnya sudah dilimphakan ke kepolisian bahkan ke pengadilan. Dengan diumumkan selesainya kasus kematian ini di kepolisian atau pengadilan, maka persoalan lainnya bisa didiskusikan. Karena bukan soal damai atau mendamaikan, maaf atau memaafkan tapi substansi persoalan selesai dan masyarakat kita dan kita semua belajar dari persoalan ini.   

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS