AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

OPINI-OPINI:

PRA-PERADILAN

TRAGEDI BLOU 

ADVENT

UU PORNOGRAFI...

BALAI BAHASA...

MAURICE BLONDEL

PEND. HUMANISTIK

BISNIS UBI KAYU

KEKERASAN MEDIA

LAHAN KERING...

LAUT

PEMBANGUNAN NTT

GIZI BURUK

SERBA-SERBI...

ALDIRA....

KEMBALI...

EMAS....

YANGTERSIRAT

Opsi Dasariah:

Satu Keniscayaan untuk Melampaui Orde Natural Manusia

dalam Terang Filsafat Perbuatan Maurice Blondel

 

(P. Bernard  Hayon, SVD

Terbit: 18 September 2008)

 

  1. Introduksi

Tema ini bermaksud memperkenalkan Blondel,  seorang  filsuf Perancis  dari abad modern dan pemikiran filosofisnya. Ia memiliki pengaruh yang luas dalam bidang teologi dan filsafat dengan karakter kristiani, di Perancis, Jerman, Italia, Spanyol dan Belgia. Ia mempertahankan corak kristiani dalam filsafatnya. Ia  memiliki  ketajaman persepsi  akan drama pemisahan iman dan akal budi,  karena itu dia memiliki kerinduan dan keberanian mengatasi pemisahan ini[1]. Dengan L’Action 1893 ia ingin mengklarifikasi “gap” antara teori dan praksis yang dibangun oleh Kant, dan menegaskan bahwa ‘perbuatan’ manusia adalah jembatan yang menghubungi teori dan praksis. Perbuatan adalah vinculum substantiale (kaitan substansial) antara pikiraan (ide) dan apa yang ada (fakta). 

Bagi Blondel perbuatan  manusia tidak sebatas pergerakan fisik (fakta eksternal) manusia; ia juga adalah manifestasi kehendak. Ia mengkritik nihilisme dan estetisme yang menegasi kehendak manusia untuk menghendaki. Ia membuktikan ke-tidakcukup-an positivisme dalam menjelaskan aksi manusia karena hanya bertolak dari pengalaman dan sains. Ia lalu memproklamirkan “via essere” untuk membuktikan bahwa mesti ada ‘sesuatu’, yang ia sebut l’unique nècessaire (ada mahapenting) sebagai satu kemungkinan terdekat dan pasti, sumber, penyempurna dan tujuan aksi manusia. Afirmasi Blondel akan “via essere” membuka satu hipotesis atas “supernatural” sampai pada  metafisika karitas dalam dogma Kristen tentang “Ada yang ilahi”, asal dan tujuan pergerakan aksi manusia.

Skema pembicaraan kita terdiri dari empat bagian utama; Pada bagian pertama, kita berkenalan dengan Blondel  filsuf Katolik dari Aix. Bagian kedua tentang sistematika karya L’Action 1893 yang menjadikan ia dikenal sebagai filsuf perbuatan. Bagian ketiga : opsi dasariah dan keharusan  mentransendensi  perbuatan manusia hingga pengakuan dan penerimaan akan l’unique nécessaire. Bagian keempat tentang iman yang mendasari pencarian dan pengakuan akan ada mahapenting.

 

 

1. Maurice Blondel,  Filsuf Katolik dari Aix

1.1. Profile

Blondel dilahirkan di kota Dijon, Paris pada tanggal 2 November 1861.  Ia  mengawali  sekolahnya di Dijon di bawah pengasuhan Alex  Betrand, yang memperkenalkan dia akan Leibniz, Maine de Biran, Ollé-Laprune, Paschal. Setelah menyelesesaikan lisensiat kesusastraan dan bakheolorat hukum  tahun 1879, Blondel melanjutkan ke École Normale Supérieure (ENS) di Paris sampai tahun 1885. Tahun 1889 Blondel mulai menulis tesisnya, yang kemudian ia pertahankan di Universitas Sorbon - Paris pada tahun 1893 dengan judul: L’Action; Essai d’une critique de la vie et d’une science de la pratique (Perbuatan; Percobaan untuk Menyusun suatu Kritik mengenai Kehidupan dan Suatu Ilmu Mengenai  Praktek).  Setelah ditolak untuk mengajar di universitas karena  tesisnya yang lebih mengarah kepada posisi religius ketimbang filsafat,  ia kemudian diterima mengajar di Lille pada tahun 1895 dan di Aix-en-Provence dari tahun 1896-1927, di mana ia dikenal sebagai “filsuf dari Aix”.  Blondel meninggal  di Aix pada tanggal  4 Juni 1949 dalam umur 88 tahun[2].  

 

1.2. Beberapa Karya Penting  

             Karya Blondel dapat digolongkan dalam dua periode; periode masa  muda (1893-1906) dan periode masa dewasa (1928-1950).  Dari periode pertama ada dua tesis, yang pertama, tesis pada Universitas Sorbon tahun 1893, yang kemudian di kenal dengan L’Action 1893[3]. Tesis  kedua dalam bahasa Latin merupakan eksamen Blondel atas tesis Leibniz (De Vinculo Substantiale). Karya penting lainnya adalah ; Surat tentang Tuntutan-Tuntutan, Pemikiran Modern di Bidang Apologetika  dan tentang Metode Filsafat dalam Mempelajari Permasalahan Religius,  Sejarah dan Dogma, 1904. Periode kedua karya Bondel (1928-1950) di mulai dengan  penerbitan Perjalanan filsafat Maurice Blondel, sebuah autobiografi yang menjelaskan juga maksud L’Action I ditulis. Tahun 1934-1937 ia menulis lima volume trilogi metafisika, yakni;  La Pensée, (Pemikiran) yang terdiri dari dua jilid. Volume kedua; L’Être et les êtres (Ada dan Adaan-Adaan), Essai d’ontologie concrète et intègrale (Essei tentang Ontologi Konkret dan  Integral, 1935). Volume ketiga; L’Action II  yang terdiri dari dua jilid. Trilogi Blondel, Ada dan Adaa-Adaan, serta Perbuatan dalam dua jilid ini berbicara tentang ; Pemikiran, Ada dan Perbuatan[4]. Volume keempat; La Philosophie et l’Esprit Chrétien (Filsafat dan Suasana Pemikiran Kristen). Volume kelima; Exigences Philosophiques du Christianisme, 1950, (yang direncanakan dalam tiga jilid, tapi ia hanya menyelesaikan dua jilid sebelum ajal menjemputnya. 

 

2. Blondel dan L’action 1893

2.1. Sistematika L’action 1893

            L’action 1893 terdiri dari lima bagian, yang secara sistematis dikembangkan dalam  sebuah dialetika fenomenologi dan ontologi akan agen yang bergiat, perbuatannya dan relasinya dengan yang transenden. Blondel mengawali bagian introduksi dengan melontarkan peranyaan”  adakah kehidupan manusia mempunyai satu makna, ya atau tidak? Dan apakah manusia  memiliki tujuan”? Pertanyaan ini mewarnai seluruh analisa Blondel tentang dalam l’action I. Pada bagian pertama, ia mencari eksis tidaknya  problem perbuatan manusia dengan menganalisa sikap diletantisme yang  mereduksi perbuatan manusia hanya kepada kesenangan ; dan estetisme, yang hanya mencari dan mengakui satu formula pengalaman baru.        

            Bagian kedua ia membicarakan solusi negatif terhadap persoalan perbuatan, dengan  mempresentasikan kontradiksi internal dari kesadaran nihilis dan pesimis. Kelompok ini menegasikan segala sesuatu (kehendak, pengetahuan dan ada). Menurut Blondel dalam sikap mereka ini terdapat apa yang ia sebut dengan nolonté (sikap tidak mau menghendaki). Untuk Blondel,  nolonté adalah nolo vele (saya tidak menghendaki untuk menghendaki). Nolo velle, karena itu adalah juga volo nolle[5] (saya menghendaki untuk tidak menghendakinya).

            Bagian ketiga Blondel bicara soal fenomenologi perbuatan menghendaki, yakni perbuatan konkret dalam satu penentuan partikular. Fenomena perbuatan ini nyata dalam lima  tahap eksosdus: Pertama, dari fakta ke aksi: di sini ada pergerakan dari intuisi sensasional (obyek eksternal) ke pengetahuan subyektif (kesadaran subyek). Kedua, dari kesadaran subyek kepada operasi kehendak. Agen sadar akan perbuatan, alasan perbuatan dan determinasi kebebasannya. Ketiga, ia menyingkapkan duplisitas dari ketakterbatasan volonté voulante ( kehendak untuk menghendaki terus) dan keterbatasan volonté voulue (kehendak yang dikehendaki, obyek empiris dari kehendak). Keempat; dari aksi individu ke aksi sosial),  perbuatan manusia bertautan dengan tindakan dan kebebasan subyek lain.  Lahirlah kooperasi sosial. Kelima,  dari aksi sosial ke aksi superstitusi, Blondel mengelaborasi struktur organisasi sosial. Keluarga pada level pertama dilihat sebagai basis  komunitas sosial, lalu aktivitas  organisasi sosial yang melahirkan bangsa. Ketidakpuasan akan bangsa melahirkan  kemanusiaan yang memungkinkan tindakan moral universal. Ketikdakcukupan moral unversal  membimbing manusia dalam tindakan supersittusi  

Bagian keempat Blondel bicara tentang  ada  mahapenting (being  necessary) bagi setiap perbuatan. Ia memperkenalkan aspek metafisis dari perbuatan manusia, yang diawali   dengan menjelaskan  konflik yang meliputi tiga momen, pada fase pertama  dan alternatif pada fase kedua  yang meliputi dua opsi; opsi negatif  yang ia sebut sebagai kematian perbuatan (mortifikasi) dan opsi positif yakni  kehidupan perbuatan. 

            Bagian kelima mengenai ketertujuan final  dari seluruh proses pergerakan perbuatan manusia  yakni  Allah.  Ia  coba  mencari relasi  antara filsafat dan kekristenan, antara yang natural dan supernatural. Supernatural ini dilihat Blondel sebagai  basis, pusat dan asal  dari perbuatan manusia.   

 

2.2. Manusia: antara kebebasan   dan determinasi

 Ketika kita sedang  bertindak, kita menginginkan ‘sesuatu’ yang positip. Tapi apakah kita menginginkannya secara bebas? Ada  titik pandang  fisik dan psikologis. Dalam determinasi fisik kita dikondisikan oleh  hukum alam dan kosmis serta regulanya. Tetapi   ilmu diciptakan manusia karena itu satu determinisme absolut tindak mungkin. Juga dalam  eksperimen tertentu, kita berhadapan dengan pluralitas pilihan yang mau diekplorasikan, tapi ini tergantung sepenuhnya pada plilihan pelaku eksperimen. Dalam determinasi psikologi, perasaan, pilihan bisa tergantung pada warisan (turunan) yang mempengaruhi secara organis atau biologis terhadap psike kita, juga dari pendidikan dan sejarah  kepribadian kita[6]. Dengan demikian kebebasan manakah yang masih tertinggal?

            Blondel menjelaskan bahwa subyek sadar  akan determinasi dalam perbuatannya.  Ketika saya berpikir tentang determinasi, saya memutuskan, mengambil posisi  bertentangan dengannya. Ada pertentangan karena ketika membuat pengobyekan, kita mendistingsikan antara obyek dan subyek. Jika obyek adalah determinasi maka subyek itu bebas. Kita juga direduksi karena ketika kita menjadi obyek, determinasi tampak sebagai sebuah nilai partikular dan tergantung dari saya menerima atau menolaknya. Ide tentang determinasi mengandung ide tentang kebebasan, karena untuk menegasi kebebasan adalah penting untuk mengetahuinya. Kebebasan eksis  dan negasi terhadapnya adalah cara lain untuk mengaffirmasi eksistensinya; apa yang tidak eksis tidak dapat dinegasi karena secara sederhana ia tidak ada[7].

            Hanya manusia yang dianugerahi kebebasan dapat menjadi sadar akan determinasinya[8]. Ketika kita sadar, kita tidak dapat  tidak bertindak secara bebas:  kebebasan  adalah “permulaan” aktivitas. Tetapi ia juga paradoks; kita tidak bebas untuk berada secara bebas”[9].  Kita tidak mempunyai pilihan untuk bertindak secara bebas. Kita menerima satu kondisi terberi, satu determinasi, namun determinasi dalam arti apa? Kebebasan kita tampak seperti gunung bergerigi antara dua determinasi; determinasi anteseden, yang  menyiapkan suatu kondisi dari perbuatan yang menghadirkan diversitas kemungkinan untuk bergerak serta determinasi  konsekwen yang menerangkan satu seri  konsekwensi yang tak terbatas, yang tak dapat dielakan. Bagi Blondel “kebebasan”[10] mengikatsatukan kedua determinasi ini. Kebebasan adalah konsekwensi ketika kita menempatkan tindakan hanya pada satu kondisi tertentu yang ditentukan sebelumnya, yang menuntut kita harus bertindak.; determinisme konsekwensi yang kita kehendaki mengikuti  perbuatan kita, kita tidak dapat menghendaki secara sungguh sebuah tindakan tanpa kita sadar akan konsekwensinya, baik ataukah tidak. Aksi yang bebas adalah vinculum yang menyatukan hidup tetapi juga memberi arti pada  fenomena yang ada[11].    

 

  2.3. Volonté voulante dan volonté voulue

            Blondel menempatkan kehendak dalam kaitan dengan kesadaran manusia untuk membuktikan irasionalitas nihilisme. Ia menegaskan bahwa duplisitas kehendak (volonté voulante dan volonté voulue) lahir dari satu konsras interen;  ketakterbatasan kehendak manusia untuk terus menghendaki dan keterbatasan obyek yang dikehendakinya. Kesadaran manusia memperlihatkan secara tidak langsung negasi akan kredo nihilisme yang mengaffirmasi bahwa; “Saya tidak menghendaki sesuatu”. Bagi Blondel ide tetang  “ketiadaan” (nothingness), bukan satu pernyataan sederhana yang lebih dari satu statement yang direfleksikan secara sadar[12].

Dalam analisis logikanya ia menegaskan bahwa dalam tiga frase; “saya menghendaki  sesuatu”, “saya tidak menghendaki sesuatu”,  “saya menghendaki untuk tidak  menghendaki sesuatu”, tetap eksis satu kata “kehendak”. Karena itu mengatakan bahwa “saya tidak hendak untuk menghendaki” selalu berarti “menghendaki”[13]. Blondel menerangkan bahwa  dalam setiap kesadarannya, manusia menemukan inadequation antara kehendak ganda manusia itu.  Mengapa? Karena volonté voulante (the wiling will) menunjukkan  akar dari semua aktivitas yang dikehendaki. Satu kehendak yang tak berkesudahan. Sementara volonté voulue (the willed will) bersifat terbatas. Ketidaksesuaian ini menghasilkan ketidakpuasan, yang memotivasi kita untuk tidak berhenti beraktivitas. Kontradiksi ini bisa diatasi dengan menjelaskan peran aspek kesadaran, yang akan dimanifestasikan dalam membuat opsi dan tindakan.

 

2.4. Perbuatan moral 

            Dari sub-judul; Percobaan untuk menyususn Suatu Kritik mengenai Kehidupan dan Suatu Ilmu Mengenai Praktek ditemukan satu orientasi moral dari karya Blondel. Ia menyebut dua kutub dalam manusia: autonomi dan heteronomi yang mengkarakteristikan perbuatan moral. Kedua kutub ini diperluas dalam sebuah proses eksodus dari aksi individu sampai ia menemukan  apa yang ia sebut : l’unique necessaire.

 

2.4.1. Dari aksi individu ke aksi sosial.                   

            Perbuatan, pada tempat pertama berkorelasi dengan  kondisi fisik (badan) sebagai akibat dari dominasi kemauan kita. Melalui badan, kita berelasi dengan seluruh kosmos, tunduk di bawah hukumnya,  tetapi perbuatan itu nampak sebagai yang terus berulang; bermulai dari satu titik star, keputusan personal kemudian menuju ke tubuh (badan). Pada tahap kedua, aksi personal saya berhadapan dengan diversitas  kebebasan dari subyek lainnya, yang bisa menjadi satu tantangan, atau satu kolaborasi yang baik.  Jika ada kolaborasi yang baik, lahirlah satu  ko-aksi  (aksi sosial). Dasar dari  kehidupan sosial adalah persatuan konyugal yang secara normal berasal dari  keluarga. Kehadiran anak dalam family adalah bukti kesatuan aktus konyugal dan pilihan bebas dari pencinta yang saling memberikan dalam kebersatuan mereka. Anak untuk pertamakalinya mengalami keluarga sebagai the best. Keluarga menjadi referensi dari pikiran dan perbuatannya. Namun kesadaran ini berubah ketika ia bertumbuh dewasa dan menemukan bahwa keluarga tidak lagi menjadi the best. Ada sesuatu yang ia jumpai di luar keluarganya. Ia sadar bahwa keluarganya tidak cukup untuk memenuhi segala kehendaknya. Ia memperluas jangkauan perbuatannya  dalam  organisasi  sosial dalam daerah di mana ia hidup.

Daerah (country)  adalah perluasan dari sosietas domestik. Dalam satu daerah tiap individu menempatkan pilihan dan putusannya dengan bereferensi pada bonum comune. Untuk mencapai tujuan ini Blondel menyebut dua prinsip penting dalam institusi publik; organisasi politik dan keadilan sosial. Diharapkan institusi ini sanggup membawa kepuasan masyarakatnya, serta membangun tanggungjawab moral demi tujuan kolektif. Tapi ia menemukan bahwa tujuan kolektif dan tanggungjawab moral bisa didapatkan, serta bonum comune dapat dicapai, tetapi ada relativitas dari organisasi politik dan sosial dalam masyarakat. Relativitas ini berkaitan dengan tuntutan kesadaran dan hidup bersama. Ada variasi tuntutan yang melahirkan ketegangan, yang memungkinkan lahirnya kelompok baru; ada kelompok protagonis, kelompok antagonis berhadapan dengan kebijakan tertentu. Ada ketegangan antara individu dalam kelompok dan kelompok-kelompok dalam organisasi besar, antara apa yang menjadi tuntutan kodrati (natura sebagai individu) dan penentuan (determinisme organisasi). Apa yang absolut dalam organisasi politik, ia juga relatif dalam perkembangan sejarah dan tradisi partikular, yang absolut dalam  keadilan manusia  juga relatif dalam tuntutan kesadaran dan kehidupan umum. Orang menemukan bahwa country-nya belum cukup memenuhi keinginannya untuk setiap perbuatannya. Kehendak manusia  lalu mencari pemenuhannya  pada interaksi moral.

 

2.4.2. Dari aksi sosial ke  tindakan moral

Dalam kaitan dengan tindakan moral, Blondel  menganalisa  utilitarianisme dari kaum positivis dan formalisme moral Kant. Utilitarianisme mengklaim bahwa nilai moral ditemukan dalam sejumlah aksi yang  membawa keuntungan bagi mayoritas masyarakat. Klaim ini jelas mereduksi  nilai moral  kepada interese individu dan masyarakat. Sementara formalisme moral Kant melihat etika bukan sebagai sains (ilmu) tentang kebiasaan, tetapi sebagai sebuah metafisika  tentang kebiasaan berperilaku, sebuah pendasaran a priori[14].

Blondel mencirikan tindakan moral dengan memperlihatkan bahwa perbuatan itu bersifat spekulatif[15]. Ia menuntut pertimbangan intelek dan logika, dan refleksi yang menuntut intensi dan atensi sebelum bertindak. Karena itu etika utilitarianisme bagi Blondel hanya menuntut hasil akhir dan mengabaikan proses serta kesadaran yang dibangun selama proses itu terjadi; sementara itu  formalisme moral Kant yang hanya menuntut satu moral a priori membatasi subyek hanya pada melaksanakan kewajibannya (etika deontologi). Ia  menekankan pentingnya ide metafisik dalam kesadaran sejak permulaan. Satu kesadaran akan yang infinitif. Ide infinitif ini menjelaskan kebebasan dalam bertindak[16]. Ia bergerak dari moralitas natural ke moralitas metafisik untuk menggarisbawahi kontinuitas dan keterarahan hidupnya[17]. Moralitas metafisik menghantar kita untuk  mengakui naturalitas proyek manusia ke satu pengerak utama yang tidak digerakan[18]. Ia menjelaskan  tiga karakteristik  moralitas metafisik ini : Pertama, ia berawal dari pengalaman karena itu mengandung  keseluruhan realitas. Dari realitas yang ada, agen beraksi untuk menemukan  sebuah prinsip universal, yang lahir dari kesadaran akan realitas (universum); Kedua, mengsubsordinasi fakta aktual dalam arti positif yakni memperluas dunia natural ke dalam dunia pemikiran dan membangun hukum-hukum untuknya. Realitas dibawah ke yang rasionalitas; Ketiga, ia menegaskan “apa yang bukan (yang belum)” dalam tindakan untuk menjadi apa yang akan terjadi.

 

2.4.3. Dari tindakan moral ke  tindakan supertitusi      

Kehendak manusia tak terbatas menuntut pemenuhan perbuatannya pada sesuatu yang absolut. Ia memproduksi ‘allah’ dan atau mengumpulkan suatu kekuatan dari allah ciptaannya itu agar ia mengalami kepuasan. Gejalah superstitusi ini nampak dalam tiga  element :  obyek, pemujaan (cult) dan perasaan.

a.     Obyek  tindakan superstitusi

Obyek tindakan superstitusi adalah obyek sensible, yang diambil dan  dijadikan  sesuatu yang ilahi untuk dipuja.  Ia menjadikan yang tak abadi sebagai yang abadi (finite infinite). Obyek ini sebenarnya berasal dari satu dan sama inisiatif yakni:  pemujaan ganda (double cult)  dan  pemujaan yang disebut  fetish[19] (objek yang visibel dan misterius, yang incomprehensible dan accessible. Pemujaan ganda adalah apa yang  hidup di antara manusia, yang tetap tidak dijangkau tetapi dipatuhi.  Double dan fetish diamini sebagai satu kepercayaan, yang kepadanya seseorang bergantung. Ia mau mengatasi distansi antara kehendak dan apa yang dikehendaki dengan masuk dalam situasi sublimasi dari pemujaan penyembahan dan doa-doa. Ia menempatkan idol superior dalam dirinya lalu disembahnya. Idolatria berubah menjadi autolatria, satu adorasi diri sendiri.

b. Ritus (pemujaan) dan simbol

Obyek yang dialami disembah dalam ritus tertentu (doa-doa) sebagai bentuk kontak dengan yang supernatural itu. Ketika seseroang “tenggelam” dalam pemujaan obyek ciptaannya, ia memuja kerinduannya sebagai sesuatu yang murni. Dalam aksi ini obyek pemujaan sudah diproyeksikan dan diciptakan sebelum penyembahnya. Dalam keyakinan akan kekuatan infinite, ia mempersembahkan dirinya sendiri dan tindakannya sambil  percaya bahwa dirinya aman[20].

 

 

c. Feeling (sentiment) terhadap tindakan superstitusi

            Perasaan superstitusi tergantung sepenuhnya pada kekuatan obyek yang disembah itu. Jika ia merasa bahwa obyek pujaannya kehilangan daya pengaruh, ia meninggalkannya dan mencari obyek lain. Keilahian obyek itu eksis selama ia masih mempengaruhi tindakan tertentu. Karena itu yang dominan adalah perasaannya. Ia bagaikan  seseorang yang mengambil cermin dan melihat wajahnya. Ia merasa puas dan senang dengan diri bayangan sebagaimana yang tampak dalam cermin[21]. Sampai pada tiitk ini kita jumpai bahwa seluruh tatanan dan keteraturan fenomena ternyata tak memberi kepuasan kepada manusia. Blondel, karena itu, mencari tahu bahwa mesti ada “sesuatu” (aliquid). Aliquid yang dicari ini adalah ada mahapenting (necessary being). 

 

2.5. Keterbukaan kepada yang Ada (pentingnya via essere)

Setelah dua jalan sebelumnya (via nulla –nothingnes dan via fenomena) dirasakan tidak cukup untuk menjembatani gap antara kehendak ganda, Blondel mencari keabsahan  via essere. Ia menganalisa fungsi sosial perbuatan manusia dari keluarga, aksi superstitusi dan moralitas metafisika yang melahirkan kesadaran akan adanya ‘ada absolut’, yang independen dan definitif,  yang melampaui sesuatu yang fenomenal[22]. Kita harus maju terus, tidak mungkin untuk berhenti, tidak mungkin kembali ke yang fenomenal, juga tidak mungkin melangkah maju sendiri, karena apa yang di depan aliquid (sesuatu yang di cari) itu masih misteri. Konflik kembali bermunculan, dan ini membangun kesadaran akan pentingnya pengetahuan tentang  ada mahapenting. Kendati kita  tahu atau tidak untuk menamakannya, ini adalah jalan yang tidak mungkin untuk tidak dilalui. Kita harus studi tentangnya, bukan untuk menemukannya sebagai sesuatu benda dan memberikanya satu definisi matefisis, bukan untuk memperluas pengetahuan tentangnya, tetapi untuk menemukan bahwa kuasa perbuatannya dan memperluas perbuatan kita. Sesuatu  ini dilihat sebagai dinamisme aksi, yang membantu kita untuk menyadari konflik tak berkesudahan dari kehendak untuk selalu bertindak, dan untuk membuat satu opsi  dasariah.  

 

Selanjutnya KLIK DISINI ! 


[1] James C. Swindal & Harry J. Gensler (eds), Anthology of Chatolic Philosphy,2005,  p.297.

 

 

[2] J. LACROIX, Maurice Blondel. An Introduction to the Man dan His Philosophy, 1968, pp.11-15.

[3]  Tesis pertama ini disebut  juga l’Action I  untuk dibedakan dengan L’Action II yang ditulis antara tahun 1936-1937). L’Action I adalah karya utama Blondel yang membuat dia dikenal sebagai “filsuf perbuatan”.

[4] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Prancis, 2001, p.28.

[5] M. LECLERC, Il Destino Umano Nella Luce di Blondel, 1993, p.142.

[6] LECLERC, p.165.

[7] LUCAS LUCAS, p.165.

[8] LECLERC, p. 166.

[9] Ibid, p.167.

[10] Kita memahami kata ‘kebebasan’ di sini tidak dalam arti oposisi dari satu determinisme. Kita menjadi bebas dalam arti kata ‘bebas’ beroposan dengan tindakan  koersif atau kompeling (pemaksaan). Kebebasan itu eksis  karena ada gerakan kesadaran yang tidak dapat dijelaskan jika ia (kebebasan) itu tidak ada. Lih. Action, p.125.

[11] LECLERC,p .169.

[12]Action, p.31.

[13] Ibid., p.129.

[14] Dengan  kategori imperatif-nya Kant  mengatkan bahwa  perilaku univesal tidak lahir dari  pengalaman, karena setiap pengalaman bersifat  subyektif dan sesuatu yang subyektif  bersifat partikular relatif dan dapat berubah-ubah. Jika aksi empiris itu  bersifat relatif dan  kontigent ia akan menentukan  keinginan manusia  dalam bertindak hanya untuk tujuan eksternal dan bukannya demi hukum moral. Bagi Kant kebaikan moral mentransendensi segala  pengalaman sensibel. Ia menetapkan lebih dahulu sebuah  determinisme absolut  bagi  prinsip formal dari moral demi semua ada yang rational, dan sesudah itu barulah mencari aplikasinya untuk manusia.

[15] Sifat spekulatif  perbuatan ini digambarkan  Blondel seperti seorang penjudi yang sangat hati-hati dalam  membuat kalkulasi atau pertimbangan intelek  sebelum mengambil sebuah putusan.

[16] Action, p.123.

[17] Moralitas natural eksis dalam  kenyataan bahwa tindakan konkret manusia lahir dari kebebasan. Kebebasan adalah sebuah karakteristik natural. Kebebasan adalah milik manusia, ia mendorong manusia untuk bertindak secara moral

[18] Action, p.274.

[19] Term ‘fetish’ dalam  bahas Latin facere yang  berarti  membuat. Dalam bahasa Perancis fetiche merupakan turunan dari kata feitiçmagic dalam bahasa Portugis, ysng merupakan sebuah nama pemberian orang Portugis untuk allah orang Afrika Barat. Lih. M. ROBINSON, Chambers 21st Century Dictionary, 1997, p.484. 

[20] Action, p.287.

[21] Action, p.286.

[22] Ibid., p.303.

 

Selanjutnya KLIK DISINI ! 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS