AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

OPINI-OPINI:

PRA-PERADILAN

TRAGEDI BLOU 

ADVENT

UU PORNOGRAFI...

BALAI BAHASA...

MAURICE BLONDEL

PEND. HUMANISTIK

BISNIS UBI KAYU

KEKERASAN MEDIA

LAHAN KERING...

LAUT

PEMBANGUNAN NTT

GIZI BURUK

SERBA-SERBI...

ALDIRA....

KEMBALI...

EMAS....

YANGTERSIRAT

 

Balai Bahasa

Oleh P. Bernard Hayon (Pos Kupang: 23 Okt 2008)

--------------

Staf Pengajar STFK Ledalero-Maumere 
---------------


BAHASA kita adalah apa (sesuatu) yang kita mengerti. Ia membicarakan realitas di sekitar kita. Kita tidak tahu apa yang kita pikirkan sampai kita mengetahui apa yang kita katakan. Setiap kata yang dilafalkan, karena itu, merupakan ekspresi dari pemikiran. Kalau kita tidak tahu apa yang mau kita katakan, sebaiknya kita diam, demikianlah kita diwanti-wanti oleh filsuf bahasa, Wittgenstein. Peringatan Wittgenstein ini memperlihatkan satu kesungguhan berbahasa, tetapi juga satu apresiasi dalam berbahasa. Eksistensi manusiawi sebagai satu cara berada yang khas dari manusia juga terdiri dari saling keterkaitan di antara agama, budaya, corak hidup yang berbeda, termasuk berbahasa. 

Dalam karyanya Summa of Logic, William Ockham (1280-1347), seorang nominalist menganalisa tiga level bahasa: bahasa tulisan, bahasa lisan dan bahasa mental. Ketiga level lini merujuk pada tiga aktivitas manusia : menulis, berbicara dan berpikir. Sebuah nama mengandung di dalamnya satu benda (realitas) yang kelihatan dan juga satu ide, gagasan atau pemikiran. Setiap kata yang kita ucapkan adalah medium bagi pengungkapan kerinduan jiwa (emosi), meskipun kata-kata yang diucapkan tidak mewakili sepenuhnya perasaan dan kerinduan seseorang. Ketika saya mengatakan "Aku mencintai engkau", ketiga kata ini tidak membahasakan secara penuh semacam apa emosi jiwa saya terhadap seseorang, yang kepadanya saya katakan "Aku cinta padamu". Dan ketika kita membaca sebuah bahasa tulisan, kita, pada saat itu diundang untuk masuk dalam alam keterbukaan untuk berpikir dan berbicara tentang realitas. 

Seni dan pengetahuan 
Bulan Oktober dikhususkan sebagai bulan bahasa. Ini adalah satu bentuk apresiasi terhadap bahasa. Ia bukan saja soal berujar, untuk mengutarakan maksud tertentu, ia juga bukan soal menggunakan diksi dalam konteksnya. Ia juga bukan sekadar komunikasi, tetapi juga sebuah kesenian (art) dan pengetahuan (science). Bahasa sebagai sebuah seni nyata dalam seni memilih kata-kata (diksi) dan pengungkapan pikiran. Sebagai seni, bahasa sudah secara implisit mengandung pengetahuan itu sendiri: pengetahuan akan ragam bahasa, pengetahuan akan kekuatan sebuah diksi yang digunakan. Sebagai pengetahuan, bahasa tidak saja berfungsi dalam mendeskripsikan suatu ilmu atau ide. Sebagai pengetahuan, bahasa mesti menjadi sumber informasi untuk sebuah seni berbahasa. Dan seni sebagai salah satu karakter eksistensi manusia sudah dikenal sejak peradaban lampau. Seni berbahasa, karena itu, sebagai suatu bentuk dasar dari perilaku manusia menegaskan keberadabannya. 

Susanne Langer, filsuf wanita Amerika Serikat, sungguh benar ketika ia mengatakan bahwa "Every culture develops some kind of art as surely as it develops language" - Setiap kebudayaan mengembangkan suatu jenis seni sepasti mengembangkan bahasa (Langer, 1964:75). Sebagai seni dan sumber pengetahuan bahasa mesti memiliki sebuah tempat di tengah (hati) masyarakat. Ia semisal sentral dan sumber informasi berkaitan dengan bahasa. Ia semisal balai bahasa, tempat orang 'duduk' dan menikmati 'hidangan' berbahasa yang baik dan benar, tempat orang mencari dan menemukan tradisi berbahasa, konteks berbahasa, makna dan penggunaan bahasa itu sendiri serta pengetahuan berbahasa. 

Balai Bahasa
Seturut laporan Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, dari 33 propinsi di Indonesia, saat ini baru terdapat 17 propinsi yang memiliki Balai Bahasa dan lima (5) propinsi yang mempunyai kantor bahasa. Propinsi NTT termasuk satu dari 10 propinsi yang belum memiliki Balai Bahasa bersama beberapa propinsi lain seperti : Kepulauan Riau, Bengkulu, Bangka Belitung, Banten, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara (Kompas 17 September 2008). Ke-17 propinsi yang belum memiliki Balai Bahasa ini semuanya berada di luar Pulau Jawa. Gambaran ini memperlihatkan bahwa kesenjangan dalam apresiasi berbahasa dimasyarakat masih ada. Kita masih tetap membutuhkan pelbagai cara untuk meningkatkan apresiasi berbahasa termasuk pembentukan balai pustaka, sumber seni dan pengetahuan berbahasa.

Balai bahasa sebagai pusat bahasa di daerah dirasa penting untuk meningkatkan mutu bahasa, kemudahan mendapatkan informasi, termasuk sastra daerah dan bahasa asing. Balai bahasa menjadi urgen bagi dunia pendidikan kita, tatkala kita berhadapan dengan program mulok (Muatan Lokal) sebagai sebuah pelajaran yang berbasiskan kontekstualitas. Balai Bahasa kiranya menjadi satu sarana atau sumber pembelajaran, di mana setiap insan pendidikan menemukan suatu tambahan pengetahuan, misalnya akan sastra lokal, kearifan lokal dan juga informasi lainnya. 

Dalam konteks NTT balai bahasa kiranya menjadi wadah penting, sebagai pusat informasi juga bagi para TKI yang doyan mencari pekerjaan ke luar negeri, baik Asia maupun manca Eropa. Informasi ini bisa dalam bentuk kelaziman dan kaidah esensiil berbahasa di negara tertentu, dan juga berbahasa sebagai satu bentuk pengekspresian diri termasuk dalam penggunaan simbol-simbol bahasa atau bahasa tubuh. *

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS