AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

OPINI-OPINI:

PRA-PERADILAN

TRAGEDI BLOU 

ADVENT

UU PORNOGRAFI...

BALAI BAHASA...

MAURICE BLONDEL

PEND. HUMANISTIK

BISNIS UBI KAYU

KEKERASAN MEDIA

LAHAN KERING...

LAUT

PEMBANGUNAN NTT

GIZI BURUK

SERBA-SERBI...

ALDIRA....

KEMBALI...

EMAS....

YANGTERSIRAT

 

ADVENT:  SAAT MEMBANGUN HARAPAN

*) Bernard  Suban Hayon 

(Terbit: 4 Desember 2008)

 

Dengan mengucapkan selamat datang Advent,  umat kristiani  memasuki  satu periode yang dikarakteristikan dengan tema  penantian dan kenab. Tema-tema ini didistribusikan dalam empat minggu Advent, di mana umat nasrani masuk dalam saat berahmat untuk merefleksikan dikursus eskatologi dan penantian; sikap pembalikan atau konversi dari kedosaan;  lalu mengambil satu sikap penitensi, sambil mencontohi kesaksian Yohanes Pembabtis dan Maria, ibu Tuhan dan istri Yosep.  

 

Advent bukanlah suatu moment penantian panjang kaum Ibrani yang menantikan Mesias, ia juga bukan sekedar persiapan untuk Hari Raya Natal. Advent  adalah waktu ketika kita  masuk dalam dua tanda  kedatangan Kristus yang riil; pertama, ia sebagai sebuah kedatangan  historis, satu kisah yang sudah terjadi, kisah past tense; kedua, ia dilihat sebagai kedatangan eskatologis, kisah future tense. Terhadap kedua jenis kedatangan Mesias ini, kita menggemakan suara penantian, saat berharap, suara kenabian, saat bertindak, suara profetis kita. Advent, karena itu, adalah saat yang menggembirakan. Umat Kristiani  menghidupi lagi  dua momentum pergerakan roh: di satu pihak, mereka membuka sekaligus membangun pandangan menuju kesudahan dari perjalanan historis yakni kedatangan kembali kemuliaan Tuhan, dan dipihak lain, satu memori emosional kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Pengharapan Kristen berorientasi pada satu masa depan, tetapi selalu berkaitan dengan kisah sebelumnya (masa lampau). Harapan Kristen senantiasa di bangun dari sejarah, satu situasi historis tertentu. Ia memiliki dasar dan orientasi sekaligus.            

 

Tahun 1944 ketika NAZI menduduki Perancis, Gabriel Marcel, seorang filsuf  Perancis mengatakan bahwa, “ Harapan tidak terlalu banyak muncul dari pengalaman  buruk itu”. Tetapi kemudian ia menambahkan lagi: “Dalam harapan akan pembebasan saya menolong mempersiapkan  sebuah jalan” (Marcel, 1944; 70).  Dengan pernyataannya,  Marcel mencoba melihat hubungan antara apa yang kita percaya  sebagai yang posibel (yang mungkin), dan hal itu,  pada saat yang sama bisa menjadi motivator terhadap suatu gerakan perubahan sosial; karena itu kita tidak akan pernah menyerah untuk berharap. Dalam harapan  kita tidak saja menemukan potensi  tetapi kita tengah mengolah potensi, kita sedang dalam proses mengktualkan potensialitas.  Harapan, sebagaimana cinta dan iman,   merupakan sebuah praksis natural yang mempertahankan hidup kita. Naturalitas manusia adalah sebuah dinamisme. Kodrat manusia adalah bahwa ia memiliki destinasi (keterarahan dan tujuan hidup). Dinamisme manusia nyata juga dalam harapan yang memungkinkan seseorang bisa bergiat untuk hidup. Karena itu benar bahwa tidak ada orang yang hidup tanpa harapan. Mungkin hanya malaikat yg tidak membutuhkan harapan. Harapan bagi manusia semisal lampu besar yang menyinari keterarahan perjalanan dan perjuangan hidupnya. Harapan adalah sebuah jiwa yg hidup. Jiwa yg tanpa harapan adalah jiwa yg mati. Harapan, karena itu, adalah sebuah affirmasi atas eksistensi metafisis manusia. Ia bukan statement atau formula abstrak.  Harapan itu berada di “belakang” manusia. Ia melampaui kumpulan data, semua bentuk inventarisasi dan kalkulasi, kondisi manusiawi. Ia tidak dapat dipisahkan dari iman itu sendiri, ia adalah juga pengalaman fundamental seperti “aku percaya”, ketika kita berelasi dengan Allah yang kita sebut sebagai “Engkau yang Absolut.

          

Optimisme Marcel tentang harapan  memperlihatkan bahwa saat kita berharap adalah saat di mana kita sedang beraksi, sebuah aksi yang membebaskan kita dari pelbagai (kemungkinan) probabilitas, karena ia merupakan juga satu kepercayana yg mendalam (iman).  Sebuah aksi yg mengungkapkan pengalaman  akan suatu kekuatan yg melampaui saya, kekuatan yg  diatasnya atau kepadanya saya bergantung  untuk beroleh kesempatan berharap tetapi jug membangun relasi. Optimeisme ini membuat kita sanggup membaca ulang kemungkinan lain dari masa advent.  Kita membuka masa advent dengan satu undangan kepada Tuhan; “Kiranya Engkau mengoyakan Langit dan turunlah” (Yes 63:19). Ini sebuah doa undangan bangsa Israel di tengah situasi ketakberdayaan mereka, situasi batas. Sebuah doa untuk membangun harapan baru di tengah keterpurukan bangsanya. Satu doa yang menandai awal yang baru. Dan inilah juga tema advent kristiani kita: kita mulai lagi dengan kekuatan dari Allah dan membiarkan Allah sendiri  membangun semuanya mulai dari dasar. Kita jadikan Allah sebagai fondasi awal baru ini.  Terhadap aksi Allah yang mengoyakkan langit, kita menghubungkannya dengan sikap manusia  beriman yang “berjaga-jaga”,  yang berwaspada  terhadap setiap signal, tanda kehadiran  ilahi  sepanjang  sejarah.  Adventus, karena  itu, kesempatan untuk berharap dalam iman akan Allah dan membuka hati  kepadanya  hingga Ia boleh masuk dan berdiam dalam hidup kita.

             

Harapan adventus melahirkan kesadaran dalam diri kita bahwa kita bukanlah dasar bagi diri kita sendiri.  Kata kunci adalah “berjaga-jaga”.  Status berjaga menunjuk pada kesiapan (stand by), menanti dengan penuh cinta tanpa pernah bosan. Inilah satu kebajikan murid Kristen.  Allah memang selalu dekat tapi untuk itu kita selalu berjaga-jaga.  Berjaga juga mengaktifkan harapan kita. Karena harapan selalu berhubungan dengan saatu communio, satu persekutuan. Ketika harapan itu selalu  berelasi dengan yang lain, di sana ditemukan satu sikap cinta. Ketika saya berharap, ada kesadaran bahwa saya tidak indipenden lagi, saya menggantungkan diri pada yang lain. Ketika saya berharap saya bukanlah dasar bagi diri saya sendiri. Harapan selalu terarah kepada sesuatu yang lain, di luar diri saya. Ada satu kekuatan lain di luar diri saya yang dengannya saya bisa meletakan harapan, itulah kesetiaan Allah.

          

Harapan itu hadir sebagai sesuatu yg independen, ia bukanlah obyek dalam diri saya, ia juga buka sesuatu yang berangkat dari dominasi hidup interior saya. Ia tidak bergantung dari kumpulan aksi saya. Ia adalah tanda ontologis dari sebuah harapan. Karena itu penting untuk dipahami bahwa seseorang yang sedang berharap harus menyadari bahwa saya tidak menerimma satu situasi sebagai yang final.  Ada kesiapan sikap  bahwa momen yang dengannya kita berharap belum terealisir.  Advent bagi kita adalah saat untuk membangun harapan, sebuah harapan harapan yang tidak dapat kita kuasai, yg tidak tergantung  dalam diri kita sendiri,  tetapi sebuah harapan yang terbuka, bersemi dari kemanusiaan kita, dan kesetiaan cinta Allah. Sebuah harapan yang bersifat metafisis, melampaui  kemanusiaan kita, tetapi sekaligus satu harapan praksis yang mengajak kita untuk  memiliki keterarahan kepada yang lain dalam sebuah komunione, dalam persahabatan dengan yang lain. Karena advent kristiani adalah satu bentuk harapan yang mau mengaffirmasi (menegaskan)   sebuah bentuk tanggungjawab terhadap setiap bentuk penyangkalan realitas yang layak untuk dihidupi. Advent kristiani mau mengingatkan kita bahwa setiap bentuk ke-putusasa-an  (despair) dalam hidup berarti  kita menyangkal nilai yang terkandung dalam realitas hidup kita.    

 

Harapan (advent kristen) menegaskan bahwa setiap realitas menmbulkan  kelayakan sebuah nilai, menyempurnakan janji dan penyelesaian, sebuah bentuk pemberian diri terhadap kekekalan Allah. Dan ketika kita menantikan kelahiran Yesus, kita pun membangun kesadaran bahwa, tak seorang pun dari kita memilih untuk dilahirkan dan untuk hidup. Dilahirkan untuk hidup bukanlah pilihan kita. Tetapi ketika kita sudah lahir dan hidup, kita,  karena itu,  sedang dalam pencaharian arti hidup. Namun, Yesus, Putra Allah,  sambil mensyeringkan kehendak Bapa, Dia ingin dilahirkan, karena itu,  ada arti dalam hidup.  Seorang Bayi lahir di Betlehem dan Ia menjadi figur adanya  makna  untuk setiap manusia. Karena itu  kelahiran,  kalau dipestakan,  ia punya nuansa yang berbeda. Kalau kita membuat syukuran wisuda, misalnya, kita bersyukur untuk apa yang sudah terjadi, apa yang sudah dibuat. Tetapi dalam pesta ulang tahun, yakni dalam peringatan kelahiran, kita tidak memestakan seseorang untuk apa yang sudah ia buat, atau untuk apa yang ada, melainkan  untuk fakta bahwa ia sendiri ada. Ada adalah satu keakraban: inilah logika  inkarnasi yang paling jelas dari Yesus. Kelahiran  membuat kita menemukan  aktus keberadaan kita, essensi dari setiap bentuk kegiatan kita. Selamat menyonsong Hari Ulang Tahun Kelahiran Tuhan Yesus, saat di mana kita boleh mengenang keakraban kita dengan Dia, keakraban akan panggilan Cinta Allah juga dalam rumah kita ini.  

*) Staf pengajar STFK Ledalero – Maumere 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS