AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

NEW: LAUNCHING BUKU...

 SEKELUMIT....

PESTA KENAIKAN

 

AKU  DICIPTA  UNTUK  BERKARYA

(RIWAYAT SEBUAH PANGGILAN)

 

Oleh: P. Konrad Kebung SVD

Terbit: 18 Januari 2009

  

 

Kaum modernis atau Filsafat Modern mengagungkan peran aku (ego) atau subjek yang dilihat sebagai pusat perkembangan dunia dan manusia. Aku ini bisa menjadikan dunia lebih baik dan menyenangkan, tetapi pada waktu yang sama aku juga bisa memanipulasi dan merusakkan dunia, lingkungan hidup kita. Andaikan kita melihat ego atau aku sebagai pusat dunia, maka kalau seluruh dunia lingkungan kita baik dan menyenangkan ego atau aku ini adalah baik. Namun kalau seluruh dunia lingkungan kita diwarnai oleh situasi garang dan tidak menyenangkan maka jelas ego atau aku ini juga tidak baik.

 

Saya bersama sekian banyak pemikir post-modernis tidak menempatkan manusia secara absolut sebagai titik pusat yang mengatur segala sesuatu, melainkan melihat aku sebagai bagian dari suatu dunia dan ruang lingkup yang jauh lebih luas dan aku ini bisa dibentuk dan dipatri oleh sekian banyak wacana (discourse) yang mengitari saya. Saya hidup dan dibentuk oleh seluruh dunia lingkungan saya termasuk sejarah, tradisi, kebudayaan, lingkungan kampung halaman, dan lain-lain. Karena itu dalam diri ego atau saya ditemukan suatu wacana yang membahasakan banyak hal lain di luar diri saya. Ego atau aku ini harus dipandang sebagai suatu titik simpul, suatu fusi dari pelbagai horizon dan latarbelakang hidup saya. Melalui riwayat hidup seorang penulis atau pengarang, kita dapat menemukan banyak kebijaksanaan hidup. Selain kita dapat mengetahui pandangan hidup atau filsafat berpikir penulis, kita juga dapat mempelajari banyak aspek lain yang melatarbelakangi hidup seorang penulis baik dari aspek psiko–sosial maupun dari aspek politis, historis, kultural, religius dan banyak aspek lain yang melingkupi hidup dan karyanya. Karena itu seorang penulis adalah bentukan budaya.Semua nuansa ini mewarnai seluruh tulisan ini.

 

Latarbelakang Penulisan

 

Beberapa tahun lalu ketika saya menginjak usia imamat yang ke-21, saya secara intensip membuat suatu refleksi tentang hidup dan karya pengabdian saya sebagai imam, biarawan dan misionaris SVD (selama sekitar 30 tahun menjalani hidup sebagai biarawan dan misionaris dan 25 tahun sebagai imam). Pada waktu itu saya bertekat untuk menulis sebuah buku kenangan, sebagai tanda terimakasih dan syukur saya kepada Tuhan dan kepada semua orang yang terlibat dalam hidup dan karya saya sebagai imam, biarawan, dan misionaris Sabda Allah. Terus terang, hidup imamat ini saya jalani dengan penuh kegembiraan dan tidak pernah saya menyesal sedetikpun bahwa saya menjadi imam, biarawan dan misionaris. Berbekalkan bakat, pendidikan dan kemampuan menulis, saya akhirnya menerbitkan karya ini dengan judul Aku Dicipta untuk Berkarya. Judul ini merupakan motto atau kalimat yang tertulis dalam kartu tahbisan saya, 2 Juni 1984.

 

  Maksud dan Tujuan Penerbitan

 

  1. Menyampaikan syukur dan terimakasih saya kepada Tuhan dan kepada semua yang telah berperan dalam pembentukan spiritualitas pengabdian saya sebagai imam, biarawan dan misionaris SVD.
  2. Mengabadikan semangat dan roh pelayanan saya selama kurang lebih 30 tahun dalam kaul kebiaraan dan 25 tahun sebagai imam. Pengabdian dan pelayanan saya ini sungguh diwarnai oleh kegembiraan dan kebahagiaan, terutama dalam tanggung jawab sebagai dosen dan pendidik bagi para calon imam, biarawan dan misionaris, dan para mahasiswa, calon-calon tokoh awam yang tangguh di tengah umat.
  3. Mengungkapkan apresiasi atas roh dan semangat para leluhur dan nenek moyang Lewoingu yang telah mewariskan suatu kebijaksanaan dan peradaban yang kaya untuk diteruskan oleh generasi-generasi sekarang dan berikut.
  4. Menyampaikan penghargaan atas nilai-nilai positip dari kebudayaan dan peradaban yang berguna pada masa lalu dan sekarang, dan membangun suatu visi kesatuan dan perdamaian antara suku pulo kaya lema di Dungbata Lewoingu, Sarabiti Waihali.
  5. Mengabadikan nama besar Ata Kebelen dan suku-suku asli (Ile Yadi), Koten-Kelen-Hurit-Maran, yang telah memperlihatkan kebesaran dan kebijaksanaan mereka sebagai pemilik dan penguasa Lewoingu, yang telah mengatur dan membangun organisasi lewotanah yang baik, dan dengan rela menerima dan merangkul semua suku pendatang, memberi mereka tugas dan tanggung jawab tertentu untuk kepentingan masyarakat di wilayah ini.
  6. Mengabadikan nama besar Beoang Amang Kwoka Kakang yang ketika tiba di daerah Lewoingu, menerima tugas besar dari ata Kebelen sebagai berikut: a) menebang hutan, mengolah dan menggarap tanah di sebelah Utara (berbatasan dengan Leworook, desa Lera Boleng), daerah pegunungan yang angker - suku yang dianggap bisa menghadap lawan kuat yang dapat membahayakan kampung halaman. Karena itu hingga kini suku kami memiliki banyak newa di wilayah ini. Ata Kebelen menamakan suku kami sebagai ‘kayo tale” (pakeng go kayo noong tale, lai go newa noong nura); b) Dengan keunggulan wuhu-aho dan lihang lekang (berburu dan menggunakan senjata), nenek moyang kami suku Beoang diharapkan untuk menyumbang hasil buruannya kepada lewo tanah (pau gota lewotanah). Sampai sekarang masih ada anak suku yang berminat dalam bidang ini.
  7. Ini juga menjadi sumbangan kecil saya dalam bidang kebudayaan dan peradaban yang dapat dijadikan sebagai satu kekayaan daerah khusus untuk arsip kabupaten Flores Timur, dan secara khusus sumbangan bagi masyarakat Lewoingu dan sekitarnya yang memiliki tradisi yang hampir sama (hampir semua tulisan saya hanya bisa dibaca dalam dunia akademik atau oleh orang yang berpendidikan tinggi).
  8. Memberi motivasi dan peneguhan bagi para imam, biarawan, misionaris, juga terutama para frater dan mahasiswa kami di Ledalero agar sungguh-sungguh menyadari tanggung jawabnya dalam setiap tugas yang dipercayakan mereka.

Kemasan Buku

 

Buku ini terdiri dari beberapa bagian antara lain:

 

  1. Bagian pertama mengisahkan sejarah kebudayaan dan peradaban kelompok-kelompok suku yang mendiami wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali (desa Lewoingu, Dung Tana, Lewolaga dan sekitarnya). Di sini secara historis ditelusuri pembentukan dan perkembangan desa atau perkampungan di wilayah ini. Kemudian sejarah suku Beoang (suku saya), sebagai suku pendatang dan bagaimana suku-suku asli dan pembesar wilayah menerima dan merangkul mereka, dan kemudian memberikan mereka tugas dan tanggung jawab penting untuk kepentingan lewotana. Juga sejarah dan latarbelakang keluarga saya (orangtua, anak, cucu dan cece). Semua ini penting karena dari lingkungan dan manusia-manusia seperti itu saya dilahirkan, dibesarkan dan dibentuk atas cara yang amat khusus. Seluruh bagian ini dihimpun dan ditulis oleh adik saya Drs. Yakob Dere Beoang (sekitar 90 halaman).
  2. Bagian kedua berisikan perjalanan hidup dan karya pengabdian saya sebagai imam, biarawan dan misionaris dalam rupa-rupa pengalaman dan karya pengabdian, terutama berkarya sebagai guru, pendidik dan pemimpin (sekitar 180 halaman).
  3. Buku ini juga diapresiasi oleh sejumlah teman yang coba menulis sesuatu dalam kata pengantar: misalnya kata sambutan dari pastor paroki Lewolaga, Pemerintah desa Lewoingu, wakil Tua Adat Lewoingu, dan Romo Eduard Jebarus, sebagai mantan pastor paroki Lewolaga yang cukup baik mengenal keluarga kami.
  4. Buku ini juga dihiasi dengan sejumlah gambar berwarna dan hitam-putih, yang secara historis menggambarkan latarbelakang dan karya pengabdian saya.

 

 

Harapan-Harapan

 

  1. Kiranya karya ini bisa memberikan masukan dalam bidang pengetahuan dan memperluas wawasan berpikir semua kita sebagai pembaca. Lewat karya ini kita memperoleh banyak pengetahuan mengenai tata dan struktur kehidupan dalam institusi Gereja dan Biara, regula dan peraturan serta pelbagai hukum religius yang mengikat orang-orang biara atau klerus. Kita juga mengenal kebudayaan, agama dan pola hidup dan pola pikir sekian banyak manusia di pelbagai bagian dunia ini.
  2. Kiranya karya ini sungguh menjadi suatu promosi panggilan dan pengabdian yang benar dan baik bagi para imam, biarawan, misionaris, para calon imam dan juga bisa membangkitkan semangat keluarga-keluarga Kristen dan para pendidik untuk menyiapkan anak-anak mereka secara baik di rumah dan di tempat pendidikan.
  3. Khusus bagi suku pulo kaya lema di wilayah Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali, agar mereka dan generasi-generasi sekarang dan berikut meneruskan kebijakan dan nilai peradaban para leluhur ini untuk berpikir benar dan baik dan siap membangun lewotana yang sejahtera, damai dan yang bermartabat.
  4. Karya yang penuh dengan nuansa religius, kultural dan historis ini dapat dijadikan sebagai sebuah monumen bagi suku pulo kaya lema di lewotana Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali. Sebagai monumen ia dapat dibaca dan dikenang lalu diteruskan kepada generasi-generasi berikut.
  5. Kita membaca sejarah masa lalu kita sebagai monumen dan tugu besar dengan pelbagai macam bayangan dan kenangan indah. Semua ini, bagi anak zaman ini, adalah sesuatu yang sudah diberikan (terberi) tanpa banyak perjuangan dari kita sendiri. Dan apa yang kita terima sebagai hadiah atau pemberian ini harus kita jadikan sebagai tugas kita ke depan. Bagaimana saya dapat melanjutkan karya nenek moyang dan orangtuaku yang sangat sederhana ini; bagaimana saya membangun kampung halaman saya, dan apa andil saya dalam membawa lewotana saya ke tingkat yang dapat bersaing dengan perkembangan dan kemajuan di banyak tempat lain. Saya ingin mengutip kata-kata penyair padang gurun Libanon, Kahlil Gibran, yang kemudian diangkat oleh mendiang alm. John Kennedy, presiden Amerika Serikat, yang terpatri di atas pusaranya di Arlington Cemetery, Virginia, USA sebagai berikut: „...And you fellow Americans, ask not what your country can do for you, but what you can do for your country.“ Diterjemahkan secara bebas dan cocok dengan situasi kita :„Janganlah bertanya kepada negara apa yang negara buat terhadap anda, tetapi bertanyalah kepada diri sendiri apa yang anda perbuat terhadap negara“ .. atau sesuai dengan isi tulisan saya: „Jangan bertanya apa yang lewotana perbuat terhadap anda, tetapi apa yang anda perbuat untuk lewotana.“

  

Akhirnya limpah terimakasih kepada bapak Bupati dan wakil Bupati, Muspida Flores Timur, para pejabat dan pimpinan instansi dan lembaga yang turut hadir dalam acara hari ini. Terimakasih kepada penerbit Cerdas Pustaka di Jakarta yang dengan senang hati menerbitkan karya ini, yang juga menyertakan komentar dan apresiasi sejumlah pembaca mengenai buku ini. Saya juga menyampaikan limpah terimakasih kepada para tokoh adat dan tokoh masyarakat yang telah menyumbangkan waktu dan pikiran untuk menghimpun semua data ini. Juga terimakasih kepada Serikat Sabda Allah (Provinsi SVD Ende dan Seminari Ledalero) yang telah merestui penerbitan buku ini. Akhirnya secara khusus, terimakasih kepada panitia perak imamat dan seluruh anggota keluarga yang sudah menyiapkan acara peluncuran buku ini.

 

Larantuka, Sabtu, 17 Januari 2009.

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS