AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

RENUNGAN:

NEW: ARNOLD JANSSEN

PRIORITAS HIDUP

PANTANG MUNDUR

DOA DAN KERJA

MENYALIBKAN EGO

MISA PEMBUKAAN...

MISSIONARY...

 

100  TAHUN  SANTU ARNOLDUS  JANSSEN

(1909 – 15 Januari – 2009)

(REQUIESCAT  IN  PACE DOMINI)

 

Oleh: P. Konrad Kebung SVD

Terbit: 18 Januari 2009

 

Bacaan I: Yes 52: 7-10; Bacaan II: Ef 3: 8-12; 14-19; Injil: Yohanes 1: 1-5; 9-14, 16-18

 

 

“Arnold-Janssen adalah bukan seorang geni, tetapi seorang tokoh iman; dia bukan seorang yang pandai bicara dan berkata-kata secara meyakinkan, melainkan seorang pendoa besar; Ia telah berbicara kepada Gereja semesta lewat kata dan tindakan. Dia tidak hanya sebagai Pater-Dux-Fundator kita, tetapi juga adalah pendoa kita sekarang ini di hadapan Tuhan.”

 

Membaca dan menekuni biografi seorang Arnoldus Janssen adalah sungguh menarik dan inspiratif. Pater Josef Alt, dalam karya monumentalnya Journey in Faith: Missionary Life of Arnold Janssen, dengan sangat indah mengungkapkan latarbelakang dan kesederhanaan hidup keluarga Gerhard Janssen (+ 23 Mei 1870) dan ibu Anna Katharina Wellesen (+ 10 Mei 1891), dan dari latar keluarga inilah terbentuk diri dan pribadi Arnold Janssen. Keluarga Janssen adalah keluarga yang amat unik, tidak berkecukupan secara material tetapi amat rajin dan setia pada iman katolik. Dan situasi ini amat didukung oleh seluruh situasi iman umat, anggota komunitas kota kecil Goch. Mereka membangun relasi kemanusiaan dan kerohanian yang baik. Hubungan antarmanusia selalu disepadankan dengan hubungan mereka dengan Tuhan. Dalam situaasi seperti ini lahirlah Arnoldus Janssen pada 5 November 1837.

 

Sejak usia muda Arnold Janssen sudah berpikir tentang nasib dan keselamatan umat manusia seluruhnya. Keterbukaan iman inilah yang menuntun dia untuk berpikir dan memulai suatu paham misi universal. Ia ditahbiskan menjadi imam praja pada tahun 1861 yang terikat dengan diosesnya sendiri, namun semangat misi universal ini sungguh mendorongnya untuk menggapai banyak manusia di dunia lain. Dan semangat inilah yang menumbuhkan niatnya untuk mendirikan sebuah rumah misi dan menyiapkan para imam dan misionaris untuk bisa mengabdi di mana saja demi keselamatan umat manusia. Arnold Janssen sudah sejak dini sungguh menghayati ajakan dan perintah Tuhan, „pergilah ke seluruh bumi dan ajarlah segala bangsa menjadi murid-Ku atau wartakanlah kemulian Tuhan di antara para bangsa,“ seperti yang terungkap dalam mazmur tanggapan teks misa hari ini. Seperti rasul Paulus, Arnold Janssen juga ingin dan nekat mewartakan kekayaan Kristus kepada bangsa-bangsa tak beriman (Ef. 3: 8-12; 14-19).

 

Untuk mewujudkan ambisi besar ini Arnold Janssen menghadapi terlalu banyak kesulitan dan tantangan. Dari mana dia mendapat uang untuk membeli tanah dan seluruh proses pendidikan? Siapa saja yang bisa mendukung rencana ini? Siapa yang siap dan rela untuk masuk rumah ini dan kemudian rela juga berkelana di pelbagai negara lain untuk mencari dan menyelamatkan umat Tuhan? Apakah dia dengan mudah memperoleh izin untuk ambisi sebesar ini? Apalagi Jerman kala itu tengah menghadapi kenyataan hubungan yang tidak baik antara Gereja dan Negara di bawah ideologi Kulturkampf. Negara dilihat sebagai segala sesuatu; segala usaha dan kerja harus demi kepentingan negara. Absolutisme negara amat besar, penindasan terhadap kaum minoritas bukan Jerman, perlawanan terhadap Gereja di pelbagai aspek kehidupan, dll. Dan kita tahu bahwa pada tahun 1872 relasi diplomatis Jerman dengan Vatikan juga putus. Namun lewat pelbagai upaya, nasihat dan konsultasi, ide ambisius ini akhirnya menjadi kenyataan dengan pendirian rumah misi di Steyl, negeri Belanda, dan bukannya di Jerman, tanah airnya sendiri. Rumah misi ini secara resmi dibuka pada tanggal 8 September 1875 dan secara resmi juga hari ini dilihat sebagai hari berdirinya SVD.

 

Kelihatan bahwa ide ini sungguh terencana secara matang sehingga pada waktu rumah ini didirikan, Arnold Janssen sudah punya struktur rumah misi yang baik secara internal terutama menyangkut pendidikan dan pembentukan para imam, biarawan dan misionaris ke depan. Dalam kotbahnya pada hari pembukaan rumah misi ini Arnold Janssen mengatakan demikian kepada para hadirin waktu itu:

 

Entahkah ada sesuatu yang penting akan muncul kemudian, hanya Tuhanlah yang tahu. Kesederhanaan pada awal ini tidak boleh mematahkan semangat kita. Pohon yang paling besar selalu bermula dari satu bibit kecil; seorang manusia raksasa yang paling perkasapun bermula dari seorang bayi mungil yang kecil dan tak berdaya. Untuk semua kita yang berkumpul di sini, apa yang bisa kita perbuat? Pertama, berdoa dan memohon kepada Tuhan yang empunya panenan. Kedua, berkurban.

 

Jelas, betapa iman dan kepercayaan Arnold akan cinta Tuhan terhadap dirinya dan terhadap seluruh usaha dan rencana kerjanya. Ia sangat yakin bahwa Tuhan akan tetap mendampingi dia melalui Sabda Nya yang menjelma menjadi manusia dan senantiasa tinggal di antara kita. Putra ini adalah Jesus sendiri, ungkapan cinta Allah yang paling besar terhadap kita manusia. Ia sadar bahwa Allah sungguh berkarya dan Allahlah yang memulai dan akan mendampingi kita selalu dengan cintaNya. Tanpa kita sadari, Allah sungguh berkarya dalam hidup dan karya kita manusia, sebagaimana terungkap dalam prolog injil Yohanes.

 

Rumah misi ini menjadi besar dan kemudian mengutus para misionarisnya ke seluruh dunia. Ide dasar yang kabur dan ideal akhirnya berubah menjadi kenyataan. Untuk menjalankan semua tugas dan fungsi pendidikan dan pewartaan, selain Serikat Sabda Allah (imam dan bruder SVD), Bapak Arnoldus Janssen juga mendirikan Tarikat para suster abdi Roh Kudus (SSpS) pada 8 Desember 1889, yang aktip terlibat dalam karya misi,  dan Tarikat para suster SSpS adorasi abadi pada 8 Desember 1896, yang menekankan kehidupan doa dan kontemplasi. Mereka inilah yang menjadi dasar kekuatan para misionaris yang aktip di daerah misi.

 

Arnold Janssen yang kuat dan perkasa ini kemudian digerogoti sakit dan penderitaan ketika ia terserang stroke pada akhir tahun 1908. Akhirnya ia meninggal dengan tenang pada 15 Januari 1909 pada jam 1.00 lewat tengah malam, dan dimakamkan pada 19 Januari 1909. Di atas peti jenasah, yang dibuat dari perunggu dan ditempatkan di Gereja (bagian atas), Rumah Misi Steyl, tertulis kata-kata sebagai berikut:

 

Dulcissimus in Christo

Arnoldus Janssen

Pater, Dux-Fundator Noster

in Pace

(Orang yang paling manis dalam Kristus, Arnoldus Janssen

Bapak – Pemimpin-Pendiri kita dalam Damai)

 

19 Oktober 1975 Bapak Arnoldus digelarkan beato bersama Joseph Freinademetz dan pada hari Minggu, 5 Oktober 2003 digelarkan kudus (kanonisasi) oleh mendiang sri Paus Johanes Paulus II, juga bersama santu Joseph Freinademetz.

 

Apa makna perayaan ini untuk kita zaman ini?

 

Pertanyaan ini bisa diungkapkan dengan cara agak lain: „apa makna membaca biografi Arnold Janssen untuk kita (seluruh umat) zaman sekarang dan SVD atau SSpS masa depan?“

 

  • Arnold Janssen adalah seorang kudus abad 19 yang sungguh memperlihatkan suatu pandangan hidup, pandangan teologis dan pengetahuan ilmiah zamannya dan coba membuat interpretasi atas situasi dan tanda zamannya, dan menjawabinya dalam terang iman.

 

  • Dalam dirinya tercermin cinta kasih Tuhan yang amat besar terhadap kita manusia. Devosi dan imannya yang begitu kuat kepada Allah Tritunggal Mahakudus dan kepada Hati Kudus Yesus, membuka ruang baginya untuk sungguh memikirkan nasib banyak orang di dunia lain dan tidak hanya dunia, tempat asalnya. Keselamatan dan cinta Tuhan itu diperuntukkan bagi semua manusia dan tidak hanya terbatas pada suku, kelompok, agama atau kebudayaan tertentu. Cinta Tuhan ini melampaui segala sesuatu dan bahwa semua orang dapat tahu dan mengenal rahasia cinta Allah ini. Arnold Janssen telah mewariskan kepada para pengikutnya suatu keterbukaan dan sikap internasionalitas.

 

  • Baginya kita semua dipanggil untuk suatu misi universal. Paham tentang misi ini sudah amat modern dan cocok dengan apa yang hampir 100 tahun kemudian diamanatkan oleh Konsili Vatikan II. Amanat misi universal ini merupakan suatu tanda profetis keselamatan bagi semua manusia di pelbagai penjuru dunia. Ini merupakan suatu tanda keterikatan tanpa batas negara, ras, kultur dan kepercayaan. Untuk bisa menggapai semua manusia ini kita perlu mengutus para misionaris kita ke pelbagai bagian dunia. Dan SVD mengutus misionarisnya yang pertama pada 2 Maret 1879, empat tahun setelah didirikan. Pater Anzer yang kemudian menjadi uskup dan pater Yoseph Freinademetz diutus ke Timur Jauh, negeri Cina. Karena itu perutusan misionaris merupakan suatu kesempatan yang amat khusus di rumah misi kita. Motto pengutusan yang diambil adalah “Quam speciosi pedes evangelizantium pacem (betapa indahnya kaki mereka yang mewartakan damai)”. Dan selalu ada acara mencium kaki para misionaris oleh semua anggota rumah. Jelas bahwa sejak abad 19 tarikat kita, melalui pendirinya sudah amat terbuka, jauh sebelum Konsili Vatikan II, mengumandangkan dialog dan keterbukaan. SVD dan SSpS sekarang meneruskan apa yang Arnold Janssen sudah mulai dan pikirkan. Kita hanya perlu menjabarkan dan menginterpretasikannya secara baru sesuai dengan situasi konkret-historis dan kultural kita.

 

  • Karena itu tarikat-tarikat di bawah Arnold Janssen ini harus selalu berdiri di garis depan dalam perjuangan-perjuangan kemanusiaan, entah itu dengan orang-orang kecil dan terpinggirkan, orang-orang yang ditekan dan menjadi korban kekerasan dan arus globalisasi dalam dunia komputer dan internet, korban ketidakadilan dan kesewenangan, dan lain-lain, agar cinta Allah semakin dirasakan oleh umat manusia. Arnold Janssen sungguh menyadari bahwa ada orang yang bernasib baik tapi ada juga yang masih hidup dalam kegelapan salah dan dosa dan malam tak beriman. Mereka ini selalu meminta uluran tangan kita. Sebab itu untuk bisa memiliki pengaruh dan kekuatan kita perlu bekerjasama dalam jaringan-jaringan cinta dan kemanusiaan. Kita menyadari bahwa kuasa-kuasa jahat juga semakin kuat mewarnai hidup kita. Namun untuk bisa menjalankan tugas perutusan ini, kita perlu membangun diri dan komunitas kita masing-masing. Refleksi dan doa harus beriring bersama kegiatan dan tindakan. Semua kegiatan kemanusiaan kita akan hanya dilihat sebagai aktivitas sosial yang bisa juga dilaksanakan oleh banyak LSM lain, kalau kegiatan kita tidak ditunjang oleh semangat dan spiritualitas biara yang diwarnai oleh kharisma dasar tarikat kita yaitu religous dan misioner.

 

  • Kita berdoa pada kesempatan peringatan ulang tahun ke 100 meninggalnya bapak Arnold Janssen, agar dengan perantaraan doanya, Tuhan senantiasa membimbing hidup dan karya pengabdian tarikat kita dan seluruh anggotanya. Kita berdoa bagi para pemimpin tarikat-tarikat kita dari tingkat pusat sampai ke rumah-rumah dan komunitas-komunitas agar, diterangi oleh kebijaksanaan ilahi mereka dapat memimpin dengan baik; kita berdoa bagi para calon kita yang tengah mempersiapkan diri untuk karya besar tarikat kita; juga agar panggilan-panggilan kita menjadi subur sehingga lebih banyak umat dapat memperoleh palayanan. Kita juga berdoa bagi para misionaris kita di medan, terutama yang amat sendirian dan kesepian, agar Tuhan selalu menjadi peneguh, penguat dan pendamping mereka. Kita juga mendoakan semua anggota tarikat kita yang telah mendahului kita agar dari keabadian, mereka semua tetap mendoakan kita yang tengah berjuang di bumi ini; Tidak lupa kita mendoakan Gereja semesta, para pemimpin Gereja dan seluruh umat, agar cinta dan kehadiran Tuhan tetap mereka rasakan dalam hidup dan karya pengabdian mereka….amin. (Mataloko, 15/1/09)

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS