AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

SALAM / WELCOME

LETAK EPUTOBI

LETAK EPUTOBI.NET

NAMA EPUTOBI

TABEL PENTING

DESIGN PERTAMA

DESIGN KEDUA

 

CATATAN LEPAS TENTANG NAMA EPUTOBI

Nama "Eputobi" adalah sebuah nama yang mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena kalau nama ini di pisahkan, maka kita temukan artinya dalam bahasa Indonesia sebagai berikut: "epu" berarti kumpulan/himpunan sedangkan "tobi" berarti pohon asam. Saya tidak tahu pastih, sejak kapan nama ini diberikan kepada desa Eputobi dan siapa yang pertama menggunakannya. Tetapi makna langsung yang tersirat dalam nama Eputobi dapat saya temukan di desa ini: banyaknya pohon asam yang tumbuh di wilayah desa Eputobi. Saya pernah berkunjung ke banyak tempat di Flores atau di Indonesia, bahkan sekarang di Eropa, tetapi saya tidak pernah menemukan satu desa pun di dunia yang wilayahnya ditumbuhi begitu banyak pohon asam seperti di wilayah desa Eputobi. Hal ini merupakan sebuah keunikan istimewa yang seyogyanya mendapat perhatian dan layak dilestarikan. Hampir semua pohon asam yang tumbuh di wilayah desa ini tidak di tanam oleh tangan manusia. Karena itu patut disayangkan bahwa akhir-akhir ini jumlah pohon asam yang tumbuh liar di seputar desa Eputobi semakin berkurang karena diganti dengan begitu banyak tanaman perdagangan lain seperti jambu mete, kemiri, kakao, kelapa, pohon buah-buahan dan lain-lain.

Oleh karena terdapat hubungan antara konotasi nama Eputobi dengan realitas alam wilayah desa Eputobi saya mengajak orang-orang Eputobi khususnya dan para simpatisan pada umumnya, dimanapun anda berada, untuk bersama sama merenungkan realitas lain yang tersirat dalam nama ini.

Belajar dari keunikan nama Eputobi

Di kabupaten Flores Timur ada beberapa tempat yang mengunakan juga nama „tobi" sebagai bagian dari nama tempat atau desa mereka. Yang terkenal tentu gunung Lewotobi, beberapa desa „Lewotobi", kelurahan Pukeng Tobi Wanging Bao, Riang Tobi dan lain-lain. Anda tentu bisa memperpanjang daftar nama ini. Hal ini mungkin menunjukan kembali pada kenyataan bahwa pohon asam banyak tumbuh juga di tempat-tempat lain di kabupaten Flores Timur. Lalu apakah yang menjadi keunikan Eputobi? Yang unik pada nama Eputobi ialah „epu"nya. Semua pohon asam di desa Eputobi tidak hanya tumbuh liar, berjauhan satu sama lain, tetapi mereka tumbuh dalam satu kelompok atau himpunan yang kuat. Epu bisa diterjemahkan juga dengan berkumpul, berhimpun. Kita kenal peribahasa „bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Satu pohon asam saja tidak akan mampu memberikan penghasilan tambahan kepada masyarakat Eputobi. Tetapi banyak pohon asam yang tumbuh berdekatan akan mampu mendukung hidup masyarakat Eputobi. Setiap tahun, bila pohon asam menghasilkan buahnya, hampir semua orang Eputobi memperoleh semacam lapangan kerja tambahan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Karakter „epu / berkumpul" ini bisa kita temukan bukan hanya pada fakta alamiah pohon asam di wilayah desa Eputobi, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat Eputobi sehari-hari. Orang-orang Eputobi adalah orang-orang yang sangat menghargai rasa persatuan sebagai orang Eputobi. Bila satu orang Eputobi di puji, maka semua orang Eputobi merasa turut dipuji. Sebaliknya bila satu orang Eputobi di hina atau dilukai, maka semua orang Eputobi juga akan merasa dihina atau dilukai.

Belajar dari pohon asam

1. Pohon asam ialah pohon serba guna.
Akarnya dipakai untuk ramuan-ramuan atau obat-obatan tradisional, kulit pohonnya dipakai untuk membubuhi luka atau untuk minuman jamu, batangnya yang keras bisa digunakan untuk segala macam kebutuhan rumah tangga, daun dan bunga pohon asam yang masih muda biasa digunakan orang Eputobi untuk membuat sup ikan yang enak, buahnya untuk kuah asam dan bisa dijual untuk menghasilkan uang, biji pohon asam bisa dimakan juga sebagai makanan tambahan. Menurut ceritra orang tua, biji asam pernah membantu mereka untuk mempertahankan hidup di musim lapar. Karena itu bukanlah berlebihan kalau saya katakan bahwa biji asam (tobi kuluung) suatu saat dulu pernah menjadi Piza-nya orang Italia, Mac Donald-nya orang Amerika, ataupun Butterbrot-nya orang Jerman. Biji asam sendiri (tobi kuluung) hendaknya selalu membangkitkan kenangan akan ceritra penderitaan sekaligus ceritra ketabahan mempertahankan nilai kehidupan bagi setiap orang Eputobi. Selanjutnya ranting pohon asam yang kering sekalipun masih bisa digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak, sedangkan daun-daunnya untuk pupuk. Pohon asam benar-benar merupakan sebuah pohon serba guna. Karena itu hemat saya, menjadi orang Eputobi berarti juga harus menjadi orang-orang serba guna, di manapun kita berada.

2. Pohon asam sebagai tempat untuk berteduh dan berkumpul.
Di tengah desa Eputobi ada sebuah tempat yang diberi nama: „Lali Tobi Pukeng" artinnya „di bawah pohon asam". Sebelum orang Eputobi memiliki Balai Desa seperti sekarang ini, biasanya di tempat ini di adakan pertemuan-pertemuan desa, pertunjukan-pertunjukan film, pementasan drama atau sekadar berkumpul dan bertukar pikiran. Selain itu perayaan-perayaan besar yang melibatkan seluruh umat biasanya dirayakan „lali tobi pukeng", di bawah pohon asam, di tengah desa Eputobi. Di tempat ini memang terdapat dua buah pohon asam yang tumbuh berdekatan dan menjamin keteduhan sepanjang tahun. Kenyataan berkumpul di bawah pohon asam ini hendaknya menjadi semacam panggilan untuk semua orang Eputobi, di manapun mereka berada, untuk kembali ke kampung halaman, kembali ke bawah pohon asam, jangan sekali-kali melupakan tanah kelahiranmu.

3. Pohon asam, pohon yang tidak banyak menuntut.
Keberadaan pohon asam bagi masyarakat Eputobi sebenarnya tidak bisa dipisahkan lagi dari kehidupan mereka. Keberadaanya di wilayah desa Eputobi merupakan sebuah anugerah Allah yang luarbiasa. Pohon asam tumbuh dan berkembang di wilayah ini tanpa harus di sirami atau dirawat oleh tangan-tangan orang Eputobi. Ia tumbuh sendiri dan menghasilkan buahnya bagi orang Eputobi. Pesan yang disampaikan oleh pohon asam untuk orang-orang Eputobi dimanapun mereka berada ialah: tumbuh, berkembang dan hasilkanlah buah-buahmu dimanapun anda berada tanpa menuntut perhatian yang berlebihan. Allah yang Mahakuasa memperhatikan anda tanpa anda sadari.

Penutup:
Mari kita jadikan pohon asam sebagai simbol desa kita Eputobi.

P. Arnold Manuk SVD,
Germany, 24 April 2007

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS