AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

Senin, 22 Juni 2009

SEJARAH LEWOINGU ADALAH SEJARAH BOLI

Sumber: http://marsel-sani-kelen.blogspot.com/

Tulisan yang berjudul Sejarah Lewoingu Adalah Sejarah Boli ini sengaja saya masukan untuk memberikan ketegasan dalam memisahkan periode dan tahapan tahapan sejarah yang benar benar memiliki dasar dan akar sejarah yang kuat. Tahapan ini menjadi penting karena Boli sebagai salah satu pribadi dalam fase sejarah Lewoingu menciptakan moment penting dengan memprakarsai bangunan lewoingu yang kita kenal dengan Dungbata. Saya harus memisahkan tahapan Boli dari orangtuanya Sani atau juga kakeknya Gresiktuli agar fokus pembicaraan kita tentang sejarah Lewoingu menjadi lebih jelas dan terinci. Apalagi Dungbata sebagai Koke Aring dibangun jauh sesudah adanya Kake Kakang Lewolein dan Doweng one'ng. Khalayak pembaca terutama anak generasi Lewoingu merasa kaget, karena tulisan ini dianggap tendesius, silakan ( mari kita diskusi atau kita perdebatkan), tapi saya harus menyampaikan ini supaya dalam proses penelusuran sejarah Lewoingu memiliki dasar pijakan jelas, dengan fakta sejarah yang aktual dan terpercaya.

Gresiktuli memang kakek Boli, bahkan secara genetis Boli mewariskan kekuatan luar biasa dari kakeknya, tapi Gresiktuli bukan orang yang bertindak langsung untuk mengkonstruksikan bangunan sosial yang namanya Lewoingu. Bahwa tokoh Gresiktuli menjadi begitu fenomenal itu ...ya. Bahwa ia bersama dengan ketiga anaknya membangun Koke Kakang Dungtana dengan pembagian fungsi dan peran itu jelas dan pasti. Bahwa Gresiktuli adalah orangtua Sani dan kakek dari Boli yang berarti ada mata rantai dari semua proses konstruksi sosial adalah benar dan tidak dapat disangkal. Tapi ketika kita ingin membuka tabir sejarah Lewoingu, maka fase Gresiktuli menjadi modal, untuk meletakan siapa anak cucu Gresiktuli yang lebih berperan yang dalam perjalanan hidupnya dan menjadi figur utama dalam menentukan perjalanan sejarah Lewoingu. Ini menjadi penting, karena dalam nukilan sejarah pada diding Eputobi net, nama Boli tidak disinggung atau mungkin dianggap tidak ada, maka dalam forum ini saya harus mengatakan, bahwa itu merupakan bentuk manipulasi publik terhadap sejarah lewotanah.

Dalam tahapan tahapan sejarah inilah saya menempatkan Boli sebagai salah satu tokoh penting dalam meletakakan foundasi bangunan sosial yang kita kenal dengan Lewoingu. Lalu siapa itu Boli ?, Apa peran yang ia lakukan ? Mengapa Boli menjadi orang penting dalam sejarah Lewoingu, apalagi sejarah Boli menjadi titik awal sejarah Lewoingu ? Barangkali ini pertanyaan yang menggugah kita untuk masuk dalam proses penelusuran sejarah lebih lanjut.

Ketika Sani anak Gresituli bertumbuh menjadi besar, menjadi keropong mamung, ada masalah yang melanda keluarga besar Gresiktuli, masalah itu dalam nenek moyang mengistilahkan dengan dengan sangat halus Nuhung teme tewong , alo boleng boto. Fenomena ini telah menyebabkan konflik horisontal yang menyebabkan kelompok Metinara kopong todo meninggalkan kampung halamannya di ile hingang, Kepergian kelompok Metinara ini tidak hanya pribadi fisik tetapi segala ike'e kwaka yakni dengan membawa Ile hingang leting boleng woka pepag ado girek. Kekosongan di Ile hingang dengan istilah nenek moyang /orangtua , Ile hingang tawa kese' gere lere' ka kae harus diselamatkan, maka ada amanah dari Gresiktuli kepada anaknya Sani dengan pesan Mo rae tobo, tobo rae tibang tukang abo maang one nai, koda maang wanang nai, tutu maang oneke tou. Amanah dilaksanakan oleh Sani yang ketika itu masih keropong mamung. Ada dua tugas yang harus diembang oleh sani anak Gresiktuli ini, yakni Uluwai mati sela dan pota ile hone woka, tugas ini bermakna sebagai memberikan kenyamanan, ketenangan, glete gluo, untuk kondisi yang pada saat itu agak mencengankan.Sani harus mengusai medan yang ditinggalkan Metinara, penguasaan ini juga menyangkut menguasai dan memadamkan kekuatan kekuatan Metinara yang tertinggal supaya tidak menimbulkan konflik berkepanjangan, inilah tugas yang disebut pota ile hone woka. Konsewensi dari amanah ini mengharuskan Sani untuk mendirikan rumah sebagai tempat ia menetap, tempat ia melakukan berbagai rencana dan strategi. Sani mendirikan rumah, dan rumah itu kemudian dikenal dengan sebutan Lango Limpati.

Prahara yang menimpa kelurga Gresiktuli karena perilaku Metinara harus diselamatkan, maka Sani atas saran orangtuanya menikahi keponakannya sendiri yaitu Kene, anak Doweng. Perkawinan inset atau perkawinan dalam keluarga bukan kerena pilihan tetapi karena sebuah bentuk tanggunjawab Sani untuk menyelamatkan keluarga Besar Gresiktuli saat itu. Hasil perkawinan Sani dan Kene melahirkan Boli. Dirumah Sani, Lango Limpati tinggalah bersama Sani dan istrinya Kene dan anak mereka Raga dan Boli, sehingga sampai dengan detik ini Lango Limpati ada dong rua, Raga menguasai bagian belakang berhadapan dengan lango Lewolein dan Doweng oneng dan Boli menguasai bagian depan menghadap pintu atau Mada ( mada bele'eng dan mada kene'eng). Disinilah substansi dari Limpati dang pukeng gawe rage kenawe matang. Dari isi mantra ini menjelaskan Pertama, Lango Limpati menjadi dasar/ foundasi ketika kita harus melangkah lebih jauh untuk berbicara tentang Dungbata Lewoingu. Kedua Lango Limpati menjadi pintu masuk, ketika kita ingin mengenal sejarah Dungbata Lewoingu. Ketiga Limpati menjadi sumber informasi dan berbagai kebijakan. Keempat Limpati dang pukeng dan kenawe matang adalah hak Boli.

Fenomena sejarah Ile hingang tawa keseka' gere lereka' kae membuat kekuatiran beberapa suku yang pada saat itu yang tinggal bersama dengan keturunan Gresiktuli, sehingga ada keinginan untuk kembali keriang, ketempat asalnya masing masing. Kondisi ini membuat Sani harus mengambil sikap arif untuk menyelamatkan lewotanah, tetapi fakta Sani tidak cukup kuat untuk mengambil peran ini, maka ia memberikan kewenangan itu pada Boli sebagai anak kandungnya; Mo Boli, mo ana' nimun mo tanah ihikeng, korokeng ma'ang bele, limang ma'an blaha, abo maang oneke tou, koda maang wanang nai. Pesan ini diberikan kepada Boli karena Figur Boli memiliki kekuatan warisan dari Gresiktuli Iku hege lema'ng ba'a, sing detang dading gai secara sempurna. Arah dan orientasi pesan ini adalah untuk melanjutkan pesan Gresiktuli Pota ile hone woka. Amanah besar ini wajib untuk dilanjutkan Boli, maka Boli bertindak arif untuk membangun kebersamaan Sewe nuki'i tukaa' lua habang elu, abo'o riang hode koda, demi pota ile hone woka. Boli mengajak suku suku yang tinggal disekitarnya, wungung kwen, lamatukang, sogemakin, kumanireng dll, untuk membangun rumah besar, Koke Dungbata sebagai rumah bersama, dengan tugas dan tanggunjawab masing masing. Maka kemudian dibangunlah koke aring yang dikenal dengan nama Dungbata, yang pada awalnya hanya terdiri dari 6 tiang, karena kelompok Metinara belum dipanggil dan belum datang. Kedatangan kelompok Metinara baru pada fase berikutnya yaitu pada fase Meko (anak Duru, cucu pertama Boli). Meko cucu Boli ini bertindak arif dengan melanjutkan peran uluwai mati sela, me nerima kembali kelompok Metinara yang di Lewokung dipanggil pulang oleh Wungung Kwen dan dari Lewomuda dipanggil pulang oleh Kumanireng. Karena Boli adalah pemilik Limpati dang pukeng gawe rage kenawe matang, maka Boli menjadi pemilik atas tiang utama ( rie limang wanang) sampai dengan saat ini. Ada beberapa kesimpulan yang perlu dicermati : Pertama Boli adalah inspirator yang merencanakan dan membangun koke Dungbata. Kedua Pembagian peran suku atas rie, berdasarkan hasil musyawarah, dan pemimpinan musyawarah adalah Boli. Ketiga Boli sebagai pemegang rie lemang wanang pada koke Dungbata menunjukan bahwa Boli adalah figur utama/ pokok dalam sejarah lewoingu. Keempat; untuk menelusuri sejarah Lewoingu maka sejarah Boli menjadi dasar pijakan dalam penelusuran tersebut.

Sejarah Boli adalah dasar sejarah Lewoingu, oleh karena itu sejarah Boli menjadi indikator bagi kebenaran dalam penulisan sejarah tersebut. Penulisan sejarah lewoingu yang meninggalkan peran Boli adalah kemunafikan, kebohongan dan manipulasi. Sangat beresiko bila kita ingin melakukan berbagai kebohongan, karena reaksi sekecil apapun dari anak turunan Boli akan membawa akibat pada penderitaan bahkan kematian dan itu bisa saja terjadi hari ini atau kapan saja. Tetapi bila masih ada yang tetap memperdebatkan ini, maka mari kita diskusikan atau biar kebenaran itu menjadi nyata, maka mari..... kita duduk di Lango Limpati atau sekalian diatas kuburan Sang Boli kita mengambil sumpah.

Go pukeng ataha'ang
Go tana ihike'ng
Go pohe paga iku garang
Go peheng goeng lima'a ba'a
Go rekung goeng sing getang
Pramun goeng dading gai
Go supik aleng hodek koten
Demong go usu asa
Pagong go reng gama
Go rehing ata, ata sama rehing go halak.

Sira Demong Pagong Molang...... Go Gresiktuli Keropong Ema

.........Kalau mau coba ...... mari berhadapan dengan saya.... Go Boli.....

Salam............................................................................... Dari jakarta.

Kalau tidak ada halangan maka ada dua artikel yang akan menyusul :
1. Sejarah Pemegang Rie rie Koke Dungbata
2. Mengapa Dungbata dirangkai dalam padanan lengkap Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali


 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS