AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

Selasa, 21 Juli 2009

Tanggapan Atas Tulisan Sdr Rafael Raga Maran

OLEH: Marselinus Sani Kelen

SUMBER: http://marsel-sani-kelen.blogspot.com/



Tulisan ini disajikan kepada halayak pembaca terutama anak Lewoingu dengan maksud agar materi diskusi semakin teruji dan menemukan kepastian siapa sesungguhnya tokoh tokoh utama dalam sejarah konstruksi Lewoingu. Hal itu berati proses dialektika diantara kita untuk saling menguji argumentasi sehingga kebenaran sejarah yang menjadi harapan dalam penelusuran sejarah, benar benar menyentuh seluruh aspek dan fariasi dalam keberagaman suku di lewotanah.
Tulisan ini dimuat sebagai bentuk tanggapan atas tulisan dalam blok Ata Maran sekaligus untuk mempertajam diskusi kita, mengapa saya menempatkan leluhur kami Boli dalam sejarah Lewoingu.

Eksepsi atas tulisan blok Atamaran " maksud hati ...........


A. Bahwa tulisan saya yang berjudul " Sejarah Lewoingu adalah Sejarah Boli " merupakan sebuah bentuk apresiasi terhadap tonggak tonggak dan puncak-puncak sejarah, menyangkut siapa tokoh awal dan utama, mana fase fase sejarah yang menjadi starting point dalam konstruksi sosial Lewoingu. Penulisan tentang sejarah sangat berbeda dengan apresiasi, karena penulisan sejarah membutuhkan berbagai kriteria sehingga ada kepatutan dan diterima secara obyektif karena benar dan secara kolektif oleh keberagaman suku di lewotanah. Dengan demikian tanggapan saudara Rafael Raga Maran adalah tanggapan tergesa-gesa dan judul yang dipakai sangat tidak arif dalam medan diskusi.

B. Penulis mempertanyakan dimana posisi saya pada tahun 2007; mohon maaf, saya tidak dalam posisi untuk berpihak, tetapi dengan teliti dan cermat mengikuti alur diskusi yang ada. Karena diskusi menjadi tak terkontrol sehingga menjadi sebuah perdebatan lepas, bahkan melibatkan berbagai unsur subyektif, maka banyak orang menjadi tidak simpatik, termasuk saya. Bahwa ada juga pernyataan yang benar dari kedua belah pihak sehingga patut didukung.

C. Pernyataan sdr Rafael Raga Maran tentang hak "rie limang wanang" pada koke Dungbata hanyalah bentuk adopsi dari budaya Lewotalah yang intinya rie limang wanang diserahkan pada anak bungsu bukan anak sulung, menjadi sebuah pernyataan yang sangat tidak beralasan. Pertama Koke Dungbata adalah starting point konstruksi sosial Lewoingu, dari koke itu segala fungsi dan kewenangan itu mulai dibagi, dari koke berbagai tatanan dan budaya mulai ditetapkan dan diberlakukan. Pembagian dan penetapan, jelas memiliki dasar bukan sekedar adopsi. Kedua, ada keraguan dan keengganan dalam diri penulis untuk mengakui bahwa rie limang wanang sebagai tiang utama dan diturunkan kepada anak cucu Boli, hal ini mengingatkan saya tentang sebuah keprihatinan karena dalam tulisan pada ucapan selamat datang Blok Atamaran ia juga telah menganulir suku Kebeleng Kelen sebagai turunan Gresiktuli. Ada maksud apa ....... ? Ketiga, ada kebimbangan dalam dirinya untuk mengakui lewoingu yang berkepribadian dan jati diri, karena tatanan yang ada adalah hasil adopsi. Logika ini diteruskan maka berbagai tatanan adat budaya yang diwariskan nenek moyang adalah hasil adopsi, semuanya adalah tiruan/imitasi, sehingga tidak ada ciri khas atau identitas budaya yang lahir dari Lewoingu sendiri. Lewoingu tidak punya jati diri termasuk kita sebagai anak lewoingu. Bahwa dalam adat dan budaya memiliki nilai universal, itu bisa diterima, tetapi pada setiap daerah tetap memiliki nilai nilai eksklusif dan hanya ada pada diri masyarakat tsb, apalagi itu menyangkut hal utama/ tonggak dari sebuah fenomena adat dan budaya.

D. Sejarah Lewoingu tidak mulai dari Boli, segala karya Boli terlaksana sesudah Lewoingu terbentuk. Pernyataan seperti ini perlu diuji tingkat kebenaran dan akurasinya, proses pengujian kita mulai dengan beberapa pertanyaan sebagai indikator
Pertama; apabila istilah Lewoingu itu adalah rangkaian Dungbata Lewoingu Sarabiti Waihali, dimulai pada fase hidup siapa ? Kedua bahwa Lewoingu itu adalah konstruksi sosial yang dimulai dari koke Dungbata, maka siapa sesungguhnya tokoh yang membangun koke Dungbata itu ?
Ketiga; Mengapa didirikan koke Dungbata, padahal ketika itu sudah ada koke Dungtana ? Keempat; Fenomena gatak dari sastra mantra ( marang mukeng) menuturkan seperti apa dan bagaimana ? Kelima; Fenomena adat dan budaya hari, sebagai bentuk pewarisan kewenangan leluhur lewoingu tempo dulu menyatakan seperti apa ?

Proses pengujian menjadi penting untuk mendapatkan nilai obyektif dari semua pernyataan, sehingga diterima sebagai kebenaran. Lepas dari fakta sejarah maka segala bentuk penulisan kita menjadi tidak dapat diterima karena dianggap palsu.

E. Penulis menyatakan bahwa Boli sebagai delegasi dari rumah Limpati dalam setiap peperangan dan Raga tampil sebagai peminpin dirumah Limpati. Menjadi pertanyaan
Pertama; atas dasar apa Raga tampil sebagai pemimpin di rumah Limpati, apakah karena hak kesulungan ? memang Raga anak siapa ? Apakah Sani adalah Bapanya ? TIDAK !! Raga adalah anak Hule dari keluarga Metinara. Raga adalah hasil dari " nuhung teme tewong, alo boleng boto"
Kedua; menjadi pemimpin tempo dulu bukan hanya duduk di rumah. Pengakuan itu ada karena legitimasi masyarakat berdasarkan pada kewibawaan karena berbagai kekuatan yang dimiliki oleh sesorang. Kemudian ada fakta keberhasilan dalam melaksanakan tugas yang diberikan, ada tekad dan komitmen untuk memperjuangkan kepentingan kelompok masyarakat.

Menjadi nyata siapa sesungguhnya pemimpin di rumah Limpati, proses pengujian tidak menempatkan Raga sebagai pemimpin, oleh karena itu argumentasi sdr Rafael Raga Maran yang menyatakan Raga Tampil sebagai pemimpin menjadi tidak berdaya, oleh karena itu harus ditolak

F. Istilah Dong rua (Lengkapnya dong rua lika rua). Dong rua lika rua adalah istilah, karena itu istilah, maka padanan kata itu bermakna konotatif. Istilah itu mengikuti proses upacara adat dirumah Limpati yakni ketika ada upacara adat maka baku (tempat beras) dari suku Kebeleng kelen harus masuk dari depan dan harus penuh dulu baru dari pihak Atamaran yang masuk dari belakang. Demikian juga dengan tumpeng atau berbagai sajian lain harus dimulai dari suku kebeleng kelen baru suku Atamaran kemudian suku lain yang menumpang
Pemisahan ini bukan simbol konflik tetapi sebuah sikap arif dari nenek moyang yang mau menunjukan siapa yang lebih berhak di rumah Limpati, sekaligus untuk menjaga agar dikemudian hari tidak terjadi manipulasi dan saling berebut, waupun fakta hari ini, indikasi itu mulai tumbuh subur. Fenomena pemisahan itu dilaksanakan berdasarkan fakta sejarah ketika Raga yang dipanggil pulang untuk terlibat dalam pendirian Koke Dungbata untuk pertama kali.
Mungkin saudara Rafael perlu bertanya mengapa ada istilah " Go kang kakang wolo" atau gatak lain " Gena gele Raga Wanga"

G. Satu kalimat pelecehan " baru tahu satu dua koda khiring sudah berlagak luar biasa" rupanya sudah menjadi kebiasaan bagi sdr Rafael Raga Maran untuk menghina, mengfitna dan melecehkan orang lain, tapi saya tidakperlu membalas pelecehan itu karena
Pertama; semakin anda melecehkan dan menghina orang lain, maka pada saat yang sama anda telah membuka layar tayangan pribadi sendiri tentang siapa sesungguhnya dirimu, sehingga menjadi jelas hanya kepada orang yang tahu menghormati dirinya, saya perlu memberikan respek, pengakuan dan penghormatan. Pantaskah kita dihormati ?.....................
Kedua; Penghinaan adalah cara lain dari proses belajar, semakin kecil saya dimata orang lain semakin besar niat saya untuk belajar, kecil dimata manusia tapi saya yakin pada saatnya dimulikan oleh Yang Kuasa " Aju has saidul jalil habibul muhahidin, ajib ya abdal, wahid bil Wahidil ahad"

H. Ada pernyataan " tokoh tokoh dari suku Kebeleng Kelen tidak berceritra seperti itu"
Penulis begitu jeli untuk menggunakan pola atau satu teori dalam berdebat dengan membuat klaim untuk mendapatkan dukungan dan pembenaran. Saya teringat pada tahun 2007 ketika terjadi perdebatan dengan Opu Don Kumanireng ada kalimat berbunyi ada tokoh tokoh Kumanireng yang menjadi sumber ceritra. Kali ini terulang lagi, tapi bagi saya cara cara semacam itu adalah bagian lain dari teori yang sama untuk menyatakan kepada publik bahwa sang penulis kehabisan ide, kehilangan argumentasi untuk mempertahankan tesis.

Dari delapan eksepsi ini saya mengajak sdr Rafael Raga Maran untuk terlibat dalam refleksi
1. Argumentasi tulisan tidak dapat diterima karena argumentasi tidak memiliki dasar pijakan pada fakta sejarah. Pernyataan pernyataan hanyalah bentuk premis dari kasil interpretasi sehingga menjadi kabur ( obscuur libel).
2. Penulis begitu sibuk untuk menyatakan orang lain sebagai penutur palsu, tetapi dilain pihak penulis tidak mampu menunjukan bukti atas tuduhan yang disampaikan sehingga mengundang pertanyaan siapa yang palsu.
3. Yang meletakan persaudaraan di rumah Limpati itu adalah Boli dan bukan Raga. Tanpa kearifan Boli maka Raga tidak punya tempat di Dungbata. Tanpa kearifan Boli hak Uluwai dari Lango Limpati tidak ada pada Raga
4. Raya Koten noong Kelen, tuak Hurik noong Maran, dari gatak mantra dan nama yang melekat pada kita sudah ada perbedaan, jadi jangan anda melecehkan leluhur saya.
5. Adu argumentasi adalah hal yang wajar, menjadi tidak wajar kalau kita sebagai penulis kontemporer terjebak dalam keegohan intelektual untuk membenarkan pendapat sendiri. Ingat.... keegohan semacam itu adalah ungkapan dari keterbatasan dan ketidakberdayaan kita terhadap obyek analisa yang sedang kita bangun.


Salam ............. dari Eputobi
 

Boli adalah Konstruksi Sosial Lewoingu

Tulisan ini adalah bagian lanjutan dari diskusi kita untuk saling berinteraksi dan berdialog tentang sejarah Lewoingu, ada proses untuk saling mengisi, bertukar pikiran bahkan saling berdebat untuk bisa menemukan kepastian sejarah yang sebenarnya.
Eksistensi Boli pasti memiliki hubungan dengan Sang kakek Gresiktuli, tapi agar menjadi terfokus maka perlu ada pembagian fase dalam sejarah itu. Karena sejarah menunjukan bahwa koke Dungbata berdiri pada fase hidup Boli, maka saya tidak akan pernah gentar untuk mempertahankan keberadaan kewenangan dan hak dari leluhur saya ini. Supaya diskusi tetap berdiri diatas pijakan sejarah, maka setiap pernyataan dalam tulisan ini saya tetap menggunakan fakta sejarah hari sehingga nalar dan pikiran kita dapat menerima mengapa saya terus mempertahankan leluhur saya Boli sebagai figur utama konstruksi sosial Lewoingu.

A. Isi Sastra Marang Mukeng

Ketika kita masuk dan menganalisa bahsa sastra sebagai satu bukti sejarah maka ada beberapa hal yang kita peroleh, pertama gatak dalam sastra mantra lewotanah muncul sesudah adanya koke, memiliki versi yang berfariasi, fariasi dimaksud untuk menunjukan obyek dan tujuan dari setiap jenis ritual yang dilakukan Kedua setiap gatak mantra diucapakan pada acara belo howe didahului dengan acara sorong neing kepada semua penguasa/ sohibul wilayah yang berdekatan dengan wilayah dilaksanakan acara ritual itu. Ketiga, dalam setiap gatak mantra ada kalimat pendahuluan:
Lerawulang beng lega tanah ekang, lodo hau tobo tukang, gere haka pae bawang, mo denge koda baing khiring, denge umeng baeng namang"........
Dungbata Lewoingu sarabiti waihali.....
Limpati dang pukeng gawe rage kenawe matang......
Maung Boli-Duru-Sani-Sedu-Doweng........
Saya menulis gatak mantra itu dalam lima baris kalimat untuk memudahkan kita memahami satu persatu frase gatak mantra:
Pertama; Bentuk ketergantungan manusia terhadap Sang Pencipta, Sang Khalik adalah awal dari segala yang ada, Ia adalah pemilik langit dan bumi, oleh karena itu segalanya harus kitakembalikan kepadaNya sebagai bentuk ketergantungan, persembahan dan ucapan syukur. Kedua Pengakuan atas konstruksi sosial Lewoingu dimulai dari adanya koke Dungbata, jJadi Dungbata adalah awal konstruksi sosial Lewoingu Oleh karena itu ketika kita berbicara tentang lewoingu, maka perhatian kita tidak lagi berbicara tentang Gresiktuli yang ditanah beto atau yang di lewohari atau Gresiktuli yang ada di dua" mula watohong, atau Gresiktuli yang di Dungtana, tetapi fokus kita harus kepada anak cucu Gresiktuli yang di Dungbata. Lewoingu adalah kontrak sosial yang terdiri dari sekian elemen suku. Ketiga Pengakuan atas rumah Limpati sebagai pintu masuk, menjadi starting pont dalam konstruksi sosial itu, dari rumah Limpati semua rencana dibangun. Keempat Maung Boli-Duru-Sani-Sedu-Doweng adalah nama nama leluhur dari suku kebeleng kelen, dan nama itu dimulai dari Boli yang mau menunjukan bahwa Boli adalah figur utama dari Dungbata.
Maka ketika saya mempertahankan leluhur kami Boli, bukan sebuah bentuk pernyataan yang dianggap mengada ada, sehingga dianggap palsu, siapapun boleh membantah itu tapi saya tidak akan merubah pernyataan, hanya karena tuduhan yang tak terbukti itu. Kalau ingin mengganti peran leluhur kami maka robah dulu gatak mantra yang ada, dan kita boleh memulai yang baru menurut selera kita ........ saya takut..... takut akan tulah nenek moyang..... eka ra kepoeng oyang te "oba matayo" lalu kepada pengadilan mana kita akan tuntut .................???

B. Hak atas Rie Limang Wanang

Boli yang lahir dari perkawinan Sani dengan Kulu Kene mewarisi gen secara lurus dari Gresiktuli sehingga secara lurus dan utuh kekuatan Gresiktuli itu diwarisikan kepada cucunya Boli. Pewarisan itu menyangkut dua kekuatan besar Gresiktuli: Iku hege limang baa dan Sing detang dading gai . Kekuatan yang ada mempengaruhi Boli dalam menunjukan eksistensi dirinya. Kekuatan itu memberikan kewibawaan pada Boli sebagai tokoh yang disegani ditakuti. Ketokohan dengan kekuatan, keberanian menempatkan Boli sebagai pemimpin dan mewariskan ketokohan kakeknya Gresiktuli dan bapaknya Sani.

Kepemimpinan Boli dimedan laga sangat teruji, sehingga Boli kemudian menjadi delegasi dari turunan Gresiktuli untuk membela para sekutunya ( hipa). Pengalaman di medan peperangan menjadi pengalaman yang menarik, termasuk didalamnya hambatan yang menyebabkan kegagalan dalam peperangan. Salah satu hambatan mendasar adalah "restu" ikekwaa lango umah yang sering terlambat memberikan dukungan. Hambatan inilah yang menjadi dasar dari sikap perlawanan terselubung dari Boli terhadap orang tua dan saudaranya. Disinilah istilah muncul "go kang kakang wolo", jadi kalau kita jujur adanya koke Dungbata adalah sikap pemberontakan Boli terhadap penyimpangan yang terjadi dalam rumah sendiri. Kondisi inilah yang menyebabkan Boli menyiapkan sendiri segala perlengkapan dari bangunan koke. Baru ketika semua tersedia Boli mengundang semua suku yang lain untuk terlibat, termasuk memanggil Raga yang ketika itu menetap di Riang kung/ Riang woloreng. "Go toking laba waha rona ruba hala go teta bapaang go belo kakang". Raga hadir dirumah Limpati dengan permintaan dan tangisan " Gena gelek Raga wanga". Raga hadir di rumah Limpati karena ada kearifan dan rasa persaudaraan Boli, karena merasa lahir dari rahim ibu yang sama walaupun mereka dipisahkan oleh bapak yang berbeda, karena Raga adalah anak Hule dari keluarga Metinara dari Ile hingang.

Wua tou malu bala, wua knure inang malu knala amang, gurung koong suku matang pulo kaeng gawa koong wo kole lema ka'eng. Bahwa untuk membangun koke sebagai konstruksi sosial membutuhkan kehadiran pihak suku lain, hal ini terlaksana karena ingin menunjukan bahwa dalam setiap aksi peperangan ada keterlibatan berbagai suku yang lain. Maka di koke setiap rie yang ada punya hubungan timbal balik, ada wuku matang masing masing.

Dari hasil apresiasi atas fakta sejarah ini mau menunjukan bahwa konstruksi sosial lewoingu bermulai dari didirikannya koke Dungbata. Tokoh utama dalam proses pendirian itu adalah Boli , maka kalau saya mengatakan Boli peletak dasar konstruksi sosial Lewoingu, mengapa kemudian disebut palsu, atau mungkin anda heran bahwa masih ada yang lebih tahu tentang sejarah lewoingu......

Maka tindakan yang paling arif adalah mari kita sama-sama belajar...... jangan saling menista, apalagi menghina dan mengfitna............

Salam...........................................................Jakarta







 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS