AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

Rabu, 22 Juli 2009

"SANG DEMONG PAGONG"

Dari Narang Take Sampai Narang Horong Loa,

Make'ng Te'me' Te'wong

OLEH: MARSELINUS SANI KELEN

SUMBER: http://marsel-sani-kelen.blogspot.com/

Menyimak siapa Gresiktuli, sama halnya dengan menyimak misteri kehidupan sang pengembara. Dari tanah beto sampai Lewohari, demong narang take menjadi misteri. Demi sebuah nama, harus melalui proses perjuangan, perjalanan perburuan yang panjang. Tapi dari proses yang panjang itu, tersirat berbagai misteri yang dapat kita gali, dan barangkali bisa menjadi referensi kita untuk memaknai lebih jauh tentang siapa sesungguhnya Gresiktuli dan apa makna dari semua peran yang dilakukan.

Tulisan kali ini, akan dimulai dari perjalanan hidup sang demong pagong dari Lewohari sampai Lewopao, kemudian dilanjutkan dengan upaya hermeneutik atas perjalanan yang begitu heroik untuk menghadirkan sebuah nama.... " Gresiktuli".

A. Dari Lewohari sampai Lewopao

Agar tulisan tetap memiliki nilai historis dan berdasarkan pada akar sejarah yang kuat maka saya tetap memakai gatak sastra, dengan demikian proses apresiasi dan analisa tetap berlandaskan pada sebuah fondasi. Landasan apresiasi semacam ini, sesungguhnya menjadi pedoman agar tidak menjadi bias dan mengurangi sekecil mungkin berbagai unsur subyektif yang melekat pada diri penulis.

" Latu noong wuhu au bewa, noong blida kukung, latu weli kuma amang papa'ang, weli Ebe Laka beang, kelisari buya' blaka arang. Deing nala serah sorong, sudi nala nete neing, pau asu leki lekang, uha' lihang hurik kui', go asu naeng sagaribu, manuaning, lakebele, kenawolo, dongdai rayabineng, haga keang bao wutung, siki pata bulan boloo'ng, nura wruing, kela larukeng, rae ekang pukeng dang nimun.

Pi kuwu wolo matang rabi lera wutun, niu disaman tuto hala, laga disaman dawa kurang.

Hubang dopa rae nai, rehang sadi haka rae nato, sega rae ketaka hara' dike, kledo lolon lou, rae diri sina dare jawa, niu disaman tuto hala, laga disaman dawa' kurang.

Hubang dopa rae nai, rehang sadi haka rae nato, sega rae lewobloloo'ng wolo matang kenawe lungung lemene'ng, raya rae sedu hogahan tuang kaliwurin, wato utang limang hea'ng. Niu disaman tuto hala, laga disaman dawa kurang.

Hubang dopa rae nai, rehang sadi haka rae nato, sega rae sili lolon bala, rae merang larang tukang, raya rae sili kiki tuang raga me'ang, niu disaman tuto hala, dawan disamang logang kurang.

Hubang dopa rae nai nai, riang sadi haka rae nato, sega rae megung sina, sae rae bala narang. niu disaman tuto hala dawan disaman logang kurang.

Bunung lodo lau nai, ora naming lali nato, sega lau botohong bunuhung bahing tuan tora wero, raya kala ratu mado, tuang lau lawe taji.

Bunung lodo lau nai, ora dinaming lali nato, sega lali gete tewelu mamung lama bera akak keang, mamung dope klehing, niu disaman tuto hala dawan disaman logang kurang.

Hubang dopa rae nai, rehang disadi haka rae nato, sega teti lewopao, sega teti mada paji, rae nala buka tutu, rae nala towa maring, mo pite aba bala matang, humuk lodang tonu lola, deing nala herik nala nitung, hoko raelolong, rae lidung hodi tien, horo ro' nodi lodo, deing nala pete aba bala matang, deing nala humuk lodang tonu lola. Asu naeng sagaribu, manuaning, lakebele, kena wolo, dong dai raya bineng, haga keang bao wutung, niu tutu lagang dawa' niu rupang trata tege, ladang gawa hupang wodong gere, tuen ile gole woka, ile bele'eng wae lewung, wato sidu para pigang, lodoro blodo'ong tobi. gere ro knere bao, leong pati kelik tukang, teba' limang hara' wanang, mata pitang letang, lolaka uru amang....
"Go Gresiktuli Keropong Ema" narang horong loa, makeng teme tewong.

Menyimak gatak yang menceritrakan perjalanan sang Demong Pagong, kita dapat menemukan berbagai gambaran tentang figur Gresiktuli sesungguhnya. Fenomena perjalanan sampai memanah seekor rusa, baru kemudian ia memeperkenalkan diri memberikan banyak interpretasi. Satu hal yang patut direnungkan adalah proklamasi untuk memperkenalkan diri , terlaksana dengan begitu tepat, ketika ia mulai mengaktualisasikan diri. Dengan demikian nama Gresiktuli sesungguhnya menjadi hakikat dan substansi yang mau menceritakan tentang siapa pribadi dengan nama yamg dilekatkan pada dirinya.

B. Go Gresiktuli Keropong Ema

Bila kita melakukan kajian tentang arti sebuah nama, maka nama selalu berhubungan dengan asal usul. Nama yang melekat pada diri seseorang adalah wujud perhatian orangtua bagi keberlangsungan hidup pribadi dan komunitas suku atau kelompok masyarakat tertentu. Nama adalah fenomena pemberian dan penerimaan, nama adalah bentuk pewarisan dari generasi ke generasi, nama adalah bagian identitas dan jati diri, maka nama kemudian menjelaskan pribadi seseorang.
Fenomen sang demong pagong Gresiktuli Keropong Ema, tidak dalam konteks pemberian dan penerimaan, tapi dari usaha dan upayanya sendiri, memperkenalkan diri tentang sebuah nama yang selama ini ia rahasiakan. Nama yang diperkenalkan menjadi fenomenal, karena justru terlaksana, pada saat ia mengaktualisasikan diri. Menjadi pertanyaan ada apa dibalik pakeng makeng lai narang, sehingga narang horong menjadi loa, makeng teme menjadi tewong .....?
Pertama ; Pengenalan tentang sebuah nama adalah simbol dari kharisma yang dimiliki. Bahwa nama itu memiliki wibawa, nama itu punya kekuatan, punya daya dan kemampuan. Ternyata dikemudian hari terbukti bahwa pribadi dengan nama itu menjadi figur sentral memperjuangkan hak masyarakat diaspora untuk hidup bersama, tempat yang aman untuk hidup secara leluasa tanpa ada rasa takut.
Kedua nama yang dari dan untuk dirinya ia berikan, mau menunjukan siapa dirinya. Bukan hanya orangtua asu tidak mengenal asal usul, tetapi lebih dari itu, menyangkut maksud dan tujuan dan semua fenomen pada diri narang take, oleh karena itu pemberian nama menjadi sebuah hak diluar kemampuan mereka sebagai orangtua asuh. Dengan kata lain, tidak ada kesanggupan dari siapapun untuk memberi sebuah nama pada figur narang take.
Ketiga; membuka tabir tentang sebuah nama pada waktu ia menunjukan kekuatan dan kewibawaan, seolah olah kita disadarkan tentang awal kehadiarannya di tanah beto " Demong peeng betok rae koting bala pukeng, pagong peeng burak rae wato tonu lolong" , ada sinergi tentang kekuatan dan kewibawaan yang dimiliki, bukan hasil propaganda sang orator tetapi karena panggilan hidup, karena panggilan itu sang demong pagong mengaktualisasikan diri.
Keempat; Pengenalan diri dengan dan melalui membunuh rusa dalam proses memburu, mau menjelaskan bahwa ketika kondisi sedang "menguasai " ia memperkenalkan diri. Kondisi menguasai ini menjadi bukti awal bahwa nama Gresiktuli adalah figur pemimpin, yang kemudian hari menjadi terbukti.

Salam...................................... dari Jakarta.

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS