AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

Minggu, 2009 Juli 26

Tentang Rie Limang Wanang Koke Bale Lewowerang-Lewoingu

Catatan untuk seorang oknum dari Suku Kebeleng Kelen bernama Marselinus Sani Kelen

Oleh Rafael Raga Maran

SUMBER: http://atamaran2.blogspot.com/

 

Sebelum komunitas Dumbata-Lewoingu (Lewowerang-Lewoingu) membangun Koke Balenya, komunitas Dungtana (Lewolein-Lewoingu) sudah membangun Koke-nya. Sesuai dengan adat kebiasaan sebuah Koke (Korke), jumlah tiangnya 6 (enam), yang melambangkan persatuan atau kebersamaan yang serasi dalam komunitas itu. Masing-masing tiang itu ditanggung oleh Lewolein, Doweng One’eng, Mukin, Wulogening, Useng Hule, dan Lewoanging. Karena meninggal, maka tiang untuk Useng Hule disebut rie ape’ mateng (tiang tanpa api=tiang tanpa pemiliknya lagi).

Menarik bahwa di komunitas Dungtana, sejak dahulu kala hingga kini, orang tak mempersoalkan Rie Limang Wanang (Tiang Kanan). Ketika saya berdiskusi dengan beberapa narasumber di daerah Lamaholot Demong Pagong di luar Lewoingu, saya juga menemukan hal yang sama: orang tidak bicara soal itu. Dalam riset-riset yang dilakukan oleh beberapa misionaris tempo doeloe pun soal itu tidak disinggung.

Dalam perjalanan sejarah Lewoingu, khususnya dalam perjalanan sejarah Lewowerang-Lewoingu atau Dumbata-Lewoingu sejak dahulu hingga akhir awal abad ke-21 pun hal itu tidak diungkit-ungkit. Tetapi akhir-akhir ini, seorang oknum dari suku Kebele’eng Kelen mengungkit-ungkitnya dan menjadikannya sebagai sarana untuk meremehkan pihak lain, khususnya untuk meremehkan Raga dan keturunannya.  Maka dari itu, sedikit diskusi tentang Rie Limang Wanang di Koke Bale komunitas Dumbata-Lewoingu itu diperlukan agar pikiran kita diperkaya dengan wawasan-wawasan historis.

Kiranya perlu diperhatikan sekali lagi bahwa yang dibangun oleh komunitas Lewowerang-Lewoingu (Dumbata-Lewoingu) adalah Bale. Disebut Bale, karena jumlah tiangnya 8 (delapan). Secara praktis, Bale memang lebih cocok dengan kebutuhan masyarakat Dumbata-Lewoingu. Soalnya, masyarakat tersebut terdiri lebih dari enam kelompok sosial. Apa yang aslinya disebut Bale itu kemudian disebut juga Koke Bale.

Tentu saja seluruh proses pembangunan Koke Bale tersebut dilakukan melalui proses musyawarah mufakat dalam suasana yang tenang dan damai. Pembagian tiang-tiang pun dilakukan dalam suasana semacam itu. Dalam musyawarah awal disepakati bahwa Kebele’eng Koten sebagai Ile Jadi memperoleh dua tiang, dengan catatan Kesowari Bereamang, sebagai wruing (yang sulung) memperoleh Rie Limang Wanang. Amalubur memperoleh satu tiang. Ata Maran memperoleh satu tiang. Lamatukan memperoleh satu tiang. Wungung Kweng memperoleh satu tiang, Lewohayong memperoleh satu tiang, dan Kumanireng Belikololong memperoleh satu tiang.

Lantas kapan Kebele’eng Kelen memperoleh Rie Limang Wanang (Tiang Kanan)? Jawabannya sangat jelas, yaitu setelah Kesowari Bereamang dari Kebele’eng Koten Wruing meninggal. Karena tidak ada keturunannya yang menggantikannya, maka melalui proses adat, Rie Limang Wanang itu dialihkan kepada Kebele’eng Kelen.

Lantas siapa yang memimpin musyawarah pembagian tiang-tiang itu? Untuk menjawabnya, coba anda tanyakan sendiri kepada orang-orang tua dari suku Kumanireng Blikololong yang tahu perjalanan sejarah mereka sendiri. Tanyakan kepada mereka itu, dari manakah mereka memperoleh tiang di Koke Bale Lewowerang-Lewoingu (Dumbata-Lewoingu)?

Itulah konteks yang memungkinkan orang bicara bahwa mulanya ada 7 (suku), walaupun sebenarnya ada delapan suku. Pembicaraan tentang 7 (tujuh) suku seperti yang pernah ditayangkan oleh situs web tertentu itu jelas out of context. Demikian pula halnya dengan upaya oknum tertentu dari suku Kebele’eng Kelen yang akhir-akhir ini begitu sibuknya bicara tentang Rie Limang Wanang di Koke Bale Dumbata-Lewoingu itu. ***

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS