AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

 

23 Agustus 2009

Asbun dalam “SIAPAKAH RAGA ITU?”

Catatan khusus untuk Marselinus Sani Kelen

Bagian pertama dari dua tulisan

Oleh Rafael Raga Maran

SUMBER: http://atamaran2.blogspot.com

 

“SIAPAKAH RAGA ITU?” adalah judul artikel yang diposting oleh Marselinus Sani Kelen pada hari Kamis, 20 Juli Agustus 2009. Karena belakangan ini sering terjadi gangguan pada aluran internet, maka saya pun baru membaca artikel tersebut di eputobi.net pada hari Minggu sore, 23 Agustus 2009. Ketika melihat judul tersebut, saya bertanya dalam hati: Adakah jurus baru yang dia keluarkan dalam persilatan kata-katanya dengan saya?

Ternyata tidak ada jurus baru yang dikeluarkannya. Jurusnya cuma itu-itu saja. Padahal yang saya harapkan dari dia adalah tantangan-tantangan baru yang disertai dengan argumen-argumen yang canggih untuk mempertahankan tesis-tesis pokoknya. Alih-alih mengemukakan argumen-argumen yang canggih, dalam mencatat koda kiring yang disebutnya nasihat itu saja tak beres. Coba perhatikan kata-kata berikut ini. Laga ahi niku kola. Huke kia baru buko. Balo kia baru napang. Wato pitang tanah bori.

Setelah membaca kata-kata tersebut, saya pun bertanya dalam dari mana kata-kata itu berasal. Reaksi yang sama pun mungkin terjadi pada diri para pembaca yang memiliki khasanah yang memadai tentang filologi Lamaholot, termasuk filologi Lewoingu. Soalnya, beberapa kata yang terpateri di situ kontan mengundang tanya, dari manakah kata-kata itu berasal. Perhatikan Laga ahi niku kola. Penggunaan kata ahi di situ membuat susunan kata-kata itu tidak memiliki arti jelas. Yang dikenal dalam penuturan Lewoingu adalah Laga ae’ niku kola.

Lalu coba perhatikan katabaru” dalam Huke kia baru buko dan dalam Balo kia baru napang. Kata “baru” itu tidak dikenal dalam koda kiring Lewoingu tempo doeloe. “Baru” adalah istilah bahasa Indonesia yang ditempelkan pada apa yang disebut koda kiring itu. Selain itu, penggunaan kata napang dalam Balo kia baru napang itu out of context. Yang dikenal dalam penuturan Lewoingu adalah Balo kia baru napa.

Penggunaan kata-kata tersebut secara serampangan menunjukkan kekurangan pengetahuan penggunanya tentang koda kiring. Kekurangan pengetahuan tersebut termasuk salah satu dari problem-problem epistemis yang nampak dalam rangkaian tulisannya tentang sejarah Lewoingu.  

Yang jadi pertanyaan ialah, dapatkah kata-kata yang tidak saling klop satu sama lain itu diandalkan sebagai bukti bahwa Raga bukan anak Sani? Jelas tidak dapat diandalkan. Karena kehabisan bukti bahwa Raga bukan anak Sani, maka kata-kata tersebut di atas dipaksakan untuk dijadikan buktinya. Dikiranya kata-kata itu ditempa sebagai bukti bahwa Raga bukan anak Sani. Padahal kata-kata itu ditempa sebagai suatu nasihat yang bersifat umum.

Kiranya perlu dicatat di sini, bahwa hingga kini Marselinus Sani Kelen belum mampu membuktikan bahwa Raga itu bukan anak Sani. Padahal bukti yang meyakinkan itu sangat saya harapkan selama ini. Tetapi saya pun menyadari bahwa bukti yang diharapkan itu tidak mungkin dapat disodorkan oleh Marselinus Sani Kelen, karena penilaiannya tentang Raga itu murni jiplakan dari pernyataan Donatus Doni Kumanireng. Hingga kini Donatus Doni Kumanireng sendiri pun belum mampu membuktikan bahwa Raga itu anak Hule. Sekedar ceritera, pada bulan Mei tahun 2008 di kampung Eputobi, ketika dihadirkan sebagai penutur sejarah dalam suatu pertemuan, Donatus Doni Kumanireng dibuat tidak bersuara oleh beberapa tokoh muda yang lebih mengetahui sejarah ketimbang dirinya. Padahal oleh kelompoknya, dia dianggap sebagai ahli sejarah Lewoingu.  

Karena tidak memiliki bukti otentik, maka Marselinus Sani Kelen pun menggunakan argumentum ad populum untuk membantah pernyataan saya bahwa Raga itu pun anak kandung Sani. Argumentum ad populum itu nampak dalam pernyataannya bahwa lewo gole roiro kae’ bahwa Raga itu anak Hule. Dalam hal ini dia pun mengikuti jejak Donatus Doni Kumanireng, yaitu mencatut nama rakyat Lewoingu untuk membenarkan segala macam omong kosong tersebut. Dengan argumentum ad populum semacam itu, Marselinus Sani Kelen berusaha menyesatkan pembaca.

Guna mempertahankan segala macam omong kosongnya itu, Marselinus Sani Kelen tak segan-segan melakukan penghinaan demi penghinaan. Dengan mengatakan bahwa Raga itu anak hasil perselingkuhan atau hasil dari “titipan” orang lain, dia tidak hanya menghina Raga, tetapi juga menghina Kene, Sani, dan Hule, bahkan dia juga menghina Boli yang lahir dari kandungan Kene. Di seluruh kawasan Lewoingu, baru kali ini saya menemukan adanya orang yang tidak segan-segan menghina leluhurnya sendiri demi membela kepentingan kelompok yang terkenal sibuk berkasak-kusuk untuk merusak persatuan dan keharmonisan kehidupan sosial budaya di kampung Eputobi.

Lantas ketidakkonsistenannya nampak lagi. Kali ini ia nampak jelas dalam kata-kata: nuhung teme tewong, alo boleng boto. Sebelum ini dia menggunakan kata-kata: nuhung tewo temong, alo boleng bola. Mana yang benar, ya? Yang jelas, ketidakkonsistenan itu dengan sendirinya menggiring dia masuk ke dalam kontak orang-orang yang asbun alias asal bunyi. Seseorang yang mengaku diri memiliki banyak referensi tentang sejarah Lewoingu, apalagi yang menganggap diri lebih tahu tentang sejarah Lewoingu daripada saya mestinya tidak boleh asbun seperti itu. (Bersambung)

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS