AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

TANGGAPAN 1

TANGGAPAN 2

TANGGAPAN 3

TANGGAPAN 4

TANGGAPAN 5

TANGGAPAN 6

TANGGAPAN 7

TANGGAPAN 8

TANGGAPAN 9

TANGGAPAN 10

TANGGAPAN 11

TANGGAPAN 12

TANGGAPAN 13

TANGGAPAN 14

TANGGAPAN 15

TANGGAPAN 16

TANGGAPAN 17

TANGGAPAN 18

TANGGAPAN 19

TANGGAPAN 20

Jumat, 02 Oktober 2009

Puteri-puteri Gresituli

Oleh Rafael Raga Maran

Sumber: http://atamaran.blogspot.com

 

Selain memiliki tiga orang anak laki-laki, yaitu Doweng, Dalu, dan Sani, Gresituli juga memiliki beberapa anak puteri. Dari perkawinannya dengan Ktopiwoli dari Lewokaha, lahir pula tiga orang anak puteri, yaitu Yaleng, Goluwaleng, dan Watobabu. Dari perkawinannya dengan Nogo Gunung dari Lewokoli, lahir pula dua orang anak puteri, yaitu Yawa Lepang dan Waituang. Jadi Doweng mempunyai tiga orang saudari, Sani mempunyai dua orang saudari.

Yaleng menikah dengan Laba, seorang pria Paji dari Lewokaha yang terletak di daerah yang menjadi milik Lewotobi, yang terletak dekat Tuakepa. Sebagai belis Yaleng, Gresituli memperoleh tanah Kayobahi Bele’eng (Etang Kayobahi Bele’eng).

Goluwaleng menikah dengan Plating Lela, kakak dari Metinara. Perkawinan Goluwaleng dengan Plating Lela itu diungkap dalam kata-kata, Boang budi rae Ile Hingang Liting Boleng, woka lota tarang pito. Dari perkawinan dengan Plating Lela, Goluwaleng melahirkan seorang anak laki-laki bernama Liting Boleng dan seorang anak perempuan bernama Waleng Pihok. Karena ulahnya yang tak terpuji, Pelating Lela sempat dikenai hukuman mati, namun dia akhirnya lolos dari jerat hukuman mati itu. Tetapi karena tak kuat menanggung rasa malu, Pelating Lela sempat menyembunyikan diri di Newa Gelaraang di Etang Wolo. Dari situ dia pindah ke Lewokluo dan tinggal di sana hingga ajal datang menjemputnya.

Bagaimana nasib Golu Waleng setelah Pelating Lela gagal dihukum mati lalu meninggalkan Lewoingu? Golu Waleng terpaksa berpisah dengan Pelating Lela. Anak puteri Gresituli itu kemudian diungsikan ke Lewokung bersama anaknya yang masih kecil, yaitu Liting Boleng. Ketika itu dia pun sedang mengandung seorang anak. Anak yang dikandungnya itu lahir di Lewokung dan diberi nama Waleng Pihok. Setelah menjadi pemuda, Liting Boleng kembali ke Lewoingu. Di lewoingu dia meninggal dalam usia masih muda. Sedangkan ibunya dan saudarinya tetap tinggal di Lewokung hingga ajal datang menjemput mereka.

Di Lewokung Waleng Pihok menikah dengan Sadi Bau dan melahirkan empat orang anak, yaitu Soge, Sai, Raga, dan Gureng. Setelah Waleng Pihok mati dibunuh oleh Sadi Bau, Liting Boleng menuntut pembagian anak yang lahir dari rahim Waleng Pihok. Berdasarkan kesepakatannya dengan Sadi Bau, Liting Boleng membawa Soge dan Sai ke Lewoingu.

Lantas dengan siapa Watobabu menikah? Dia menikah dengan seorang Paji Wolomeang. Dari pernikahan ini, Gresituli memperoleh tanah (Etang) Umariang.

Dari perkawinan Gresituli dengan Nogo Gunung, lahir pula dua anak puteri, yaitu Yawa Lepang dan Waituang. Yawa Lepang menikah dengan seorang pria dari Lamika (Ruma Sina Kada Yawa). Dari pernikahan ini, Gresituli di kemudian hari memperoleh bantuan tenaga untuk menumpas Paji Lamawulo. Sebagai balas jasa, tanah bekas milik Paji Lamawulo di bagi dua. Sebagian untuk Gresituli, sebagian untuk orang Lamika.

Waituang menikah dengan seorang pria Paji dari Lewokoli bernama Baga. Baga yang menikah dengan Waituang itu bukan saudara kandung dari Nogo Gunung.

Yang perlu diperhatikan ialah bahwa perkawinan Goluwaleng dengan Plating Lela terjadi setelah Gresituli dan keluarganya tinggal di Dung Tana-Lewoingu. Sedangkan perkawinan Yaleng, Watobabu, Yawa Lepang, dan Waituang terjadi sebelum terjadi aksi Tekung Paji (perang melawan Paji) di daerah itu. Dengan perkataan lain, perkawinan mereka itu terjadi di masa damai, ketika masih terjalin relasi yang baik antara keluarga Gresituli dan keluarga-keluarga Paji setempat. Relasi yang baik itu mungkin terjalin dan terbina sebelum berkobarnya perang melawan Paji. Mustahil perkawinan tersebut terjadi setelah meletus perang Demong melawan Paji.

Perang Gresituli melawan Paji Lewokoli mulai dikobarkan ketika dia dan keluarganya tinggal di Lewowato. Salah satu yang jadi korban adalah Baga, saudara dari Nogo Gunung. Sare, adik dari Baga, yang berusaha mencari di mana kakaknya itu berada, setelah menghilang dari Lewokoli, menemukan sendiri di mana jenazah Baga berada. Penemuan jenazah kakaknya itu menimbulkan rasa ngeri dalam dirinya. Dan sejak saat itu hubungan kekeluargaan Lewokoli dengan Gresituli dan keluarganya putus total. Selanjutnya terjadi aksi penumpasan Paji oleh Gresituli dan berbagai kekuatan pendukungnya.

Yang juga perlu diperhatikan ialah bahwa di masa damai tersebut di atas, di Lewohari bermukim Watangpao dan keluarganya yang terbilang dalam kelompok Paji. Setelah mulai merebak aksi penumpasan Paji oleh pihak Demong setempat, barulah Watangpao dan keluarganya meninggalkan Lewohari. Maka menjadi jelas pula bahwa perkawinan beberapa puteri Gresituli dengan pria dari kalangan Paji itu mengindikasikan bahwa kedatangan Gresituli ke Lewokoli dan keputusannya untuk tinggal di situ terjadi pada masa yang lebih awal daripada masa yang selama ini diperkirakan oleh beberapa pihak di Lewoingu. ***

 

TANGGAPAN 21

TANGGAPAN 22

TANGGAPAN 23

TANGGAPAN 24

TANGGAPAN 25

TANGGAPAN 26

TANGGAPAN 27

TANGGAPAN 28

TANGGAPaN 29

 TANGGAPAN 30

 TANGGAPAN 31

TANGGAPAN 32

TANGGAPAN 33 

TANGGAPAN 34

TANGGAPAN 35

TANGGAPAN 36

TANGGAPAN 37

TANGGAPAN 38

TANGGAPAN 39

TANGGAPAN 40

TANGGAPAN 41

TANGGAPAN 42

TANGGAPAN 43

TANGGAPAN 44

TANGGAPAN 45

TANGGAPAN 46

TANGGAPAN 47

TANGGAPAN 48

TANGGAPAN 49 NEW

TANGGAPAN 50 ?

 

 

 

 

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS