AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS

 

OPINI-OPINI:

PRA-PERADILAN

TRAGEDI BLOU 

ADVENT

UU PORNOGRAFI...

BALAI BAHASA...

MAURICE BLONDEL

PEND. HUMANISTIK

BISNIS UBI KAYU

KEKERASAN MEDIA

LAHAN KERING...

LAUT

PEMBANGUNAN NTT

GIZI BURUK

SERBA-SERBI...

ALDIRA....

KEMBALI...

EMAS....

YANGTERSIRAT

 

CATATAN KRITIS TENTANG PEMBANGUNAN NTT KE DEPAN

(DITINJAU DARI ASPEK PSIKO-SOSIAL DAN FILOSOFIS)

 

Oleh: P. Konrad Kebung SVD

Terbit: 14 april 2008

 

PENDAHULUAN

 

 

Setiap manusia ingin untuk maju, berkembang dan mencapai hidup yang lebih baik. Untuk mencapai tujuan ini dia harus bekerja keras sekarang ini, dengan memperhatikan kelemahan dan kegagalan pada masa lalu dan melihat prospek-prospek mana yang perlu baginya untuk masa depan. Bangsa kita telah melewati sekian banyak tahap dalam pembangunan, namun hingga hari ini kebanyakan kita belum merasa puas dengan apa yang sudah dicapai oleh kita semua secara bersama-sama dan secara pribadi.

Kita mengeluh bahwa kekayaan negara ini hanya dinikmati segelintir orang saja dan kebanyakan warga masyarakat kita masih dikategorikan sebagai warga miskin. Kita juga mengungkapkan ketidakpuasan bahwa pemerintah dan negara kita tidak membagi semua hasil dan kekayaan negara ini secara adil dan merata; bahwa pembangunan hanya lebih diutamakan di wilayah Barat dan wilayah Timur sedikit sekali mendapat perhatian pemerintah. Pada hal tugas utama pemerintah ialah menyejahterakan seluruh warga bangsanya.

 

Kita menyadari bahwa sebagai suatu bagian dari wilayah Indonesia Timur, NTT juga sering lolos dari perhatian pemerintah pusat. Berhadapan dengan kenyataan ini, apa yang perlu kita buat sebagai warga NTT dalam situasi konkret sini-kini. Apakah kita hanya tetap berkeluh dan mengungkapkan ketidakpuasan kita ataukah kita harus berani bertindak dan memulai dari diri kita sendiri, wilayah kita sendiri. Kita memiliki SDA (Sumber Daya Alam), juga memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang sungguh menunjang pembangunan wilayah kita. Namun bagaimana SDM kita perlu ditingkatkan dan diberdayakan secara lebih optimal, dan apa saja yang sungguh kita perlukan demi kesejahteraan rakyat kita di daerah kepulauan NTT ini? Ini kiranya yang menjadi  pokok utama catatan kritis pada kesempatan diskusi kita hari ini.

 

1. PEMBANGUNAN NTT KE DEPAN (Ditinjau dari Perspektif Filsafat Sosial)           

 

Beberapa waktu lalu bapak-bapak, tokoh awam dari Kupang, yang pada umumnya adalah  jebolan Seminari-Seminari Menengah dari NTT dan alumni Sekolah Tinggi kita, menawarkan kepada saya untuk berbicara mengenai Pembangunan NTT dilihat dari perspektif filsafat (sosial), yang dibawakan pada hari Sabtu, 12 April 2008, pada kesempataan diskusi panel ini. Untuk masuk dalam topik dengan pendekatan yang sangat khusus ini kita perlu tahu sedikit tentang apa itu filsafat sosial dan apa tugas serta fungsinya dalam kaitan dengan pembangunan wilayah kita.

 

Filsafat Sosial adalah disiplin Filsafat yang bertugas membuat refleksi tentang kehidupan sosial kemasyakatan, dan termasuk dalam wilayah kerja ini adalah filsafat tentang ilmu-ilmu sosial dan human, yang merupakan ilmu-ilmu pendukung utama. Karena itu ilmu-ilmu seperti sosiologi, antropologi, psikologi, sejarah, linguistik, politik, dan lain-lain, adalah ilmu-ilmu yang sangat dekat dengan disiplin filsafat ini dan sekaligus menyiapkan pokok bahasan atau lahan kerja bagi refleksi filsafat. Komponen-komponen utama yang menjadi pusat perhatian kita adalah kebudayaan, sejarah, politik, komunikasi, etika dan hukum. Disiplin filsafat ini juga dapat dilihat sebagai suatu studi normatif dan  karena itu ia merupakan bagian dari filsafat moral yang berkaitan dengan tindakan-tindakan sosial dan keterlibatan individual dalam masyarakat. Dengan itu filsafat sosial yang normatif cenderung masuk dalam dunia politik dan etika, dalam arti bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain dan memperlakukan orang lain dalam hubungan dengan institusi dan struktur-struktur sosial. Ini beda dengan etika individual dalam arti bagaimana orang perorangan mencapai satu hidup yang baik bagi diri mereka sendiri.[1]

 

Sejak beberapa dekade yang lalu istilah pembangunan menjadi suatu istilah yang sangat populer. Orang berbicara tentang pembangunan dari pelbagai aspek seperti pembangunan dari aspek material-fisik, pembangunan mental-rohaniah, pembangunan sumber daya manusia, dan lain-lain. Istilah ini kemudian mengabur karena pembangunan itu mengalami cedera berat ketika tahun 1997 sebagian besar negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia mengalami sengatan nyamuk yang mematikan lewat krisis ekonomi, yang berkempanjangan bahkan hingga hari ini. Kita semua lalu saling menuding. Muncul waktu itu istilah-istilah yang kini menjadi cukup populer seperti KKN (Kolusi, Korupsi, Nepotisme), money politics, atau kinerja aparat yang tidak becus. Perhatian para pemimpin negara  karena itu lebih diberikan kepada usaha-usaha pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme, money politics, dll, yang didiagnose sebagai sumber utama krisis dalam negara. Krisis yang pada mulanya bersifat ekonomis (monetary) lalu merembes kepada dunia sosial-politis, moral etis, ataupun sebaliknya dua krisis terakhir ini menjadi sebab bagi krisis ekonomi. Namun kunci fundamental, menurut saya, adalah krisis dalam sumber daya manusia (SDM) sendiri.

 

Berbicara tentang pembangunan secara spesifik mengantar kita kepada diskusi mengenai dua hal pokok yaitu MANUSIA dan MATERI atau dunia fisis yang menjadi objek aktivitas manusia. Berbicara tentang objek-objek material atau fisis mengarahkan kita kepada Sumber Daya Alam (SDA), dan berbicara tentang manusia akan mengarahkan kita kepada diskusi mengenai Sumber Daya Manusia (SDM). Seorang ekonom, ahli fisika, ahli pertanian, atau pencinta lingkungan mungkin akan lebih memperhatikan SDA dan ekologi yang bersih dan sehat. Seorang filsuf akan lebih memberi perhatian kepada SDM, sebagai subjek sekaligus objek dalam pembangunan. Karena itu dalam makalah ini saya akan lebih memberikan perhatian kepada manusia sebagai subjek dan objek pembangunan, pola pikir dan pola tindakan yang perlu dimiliki oleh seorang manusia (pemimpin atau rakyat), terutama manusia NTT sendiri. SDM yang baik akan bisa mengatur SDA yang ada dalam wilayah kita demi kesejahteraan seluruh warga NTT sendiri.

 

  1. NTT MASA  DEPAN: RAKYAT YANG SETIA DAN PEMIMPIN YANG CERDAS DAN ARIF

 

Pemikir Plato ( 427-347 Seb M), dalam karyanya Politeia (Republic), pernah dengan tegas mengatakan bahwa yang bisa menjadi raja atau pemimpin adalah seorang filsuf. Bagi filsuf idealis ini, seorang filsuf memiliki kebajikan-kebajikan yang niscaya untuk memimpin kota ( polis). Bagi dia seorang pemimpin harus menempatkan intelek atau karya rationya di tempat paling atas dan ratio ini bertugas membina dan mengendalikan semua aspek lain yang ada di bawahnya, seperti kehendak (spirit, emosi) dan segala macam kecenderungan atau nafsu. Kebutuhan material (berada di perut) dan pelbagai macam keinginan (dada), termasuk nama besar dan hormat, tidak boleh menguasai ratio ini (kepala). Dalam kaitan dengan itu ia membagi manusia atas tiga kelompok yakni, kaum tani yang bertugas menyiapkan makanan dan kebutuhan material untuk kota, para prajurit yang bertugas menjaga keamanan dalam kota, dan para pemimpin yang memimpin kota. Masing-masing kelompok ini dilatih dan disiapkan secara khusus dan tidak boleh mencampuri urusan kelompok lain. Semua akan berjalan baik kalau ada harmoni internal antara mereka. Self-control menjadi isu penting di sana (Bdk. Republic, IV (427C-445B).[2]

 

Pembagian ini didasarkan pada tiga bagian jiwa dalam manusia , yaitu jiwa rasional yang memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami, dan ini ada pada para pemimpin. Bagian jiwa yang memungkinkan kita marah, memiliki semangat kompetitif, atau mencari nama baik dan rasa hormat adalah bagian kedua, dan bagian jiwa yang paling rendah adalah jiwa apetitif. Termasuk dalam bagian terakhir ini adalah kecenderungan material, seksual, dan yang serupa. Semua bagian jiwa ini harus melaksanakan tugas secara harmonis, dalam arti bahwa bagian-bagian yang lebih rendah tidak boleh menguasai yang lebih tinggi, malahan dia harus takluk pada bagian jiwa yang lebih tinggi. Justru karena itu dalam Republic juga dalam Nomoi (Laws) dia juga berbicara mengenai keadilan yang berarti memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Berdasarkan pemikiran ini, bagi Plato, keputusan yang tepat dan bijaksana harus datang dari pemimpin atau raja yang adalah orang bijaksana, dewasa dan matang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa suatu kota/negara ideal haruslah diperintah oleh para filsuf yang dilatih secara khusus karena mereka memiliki forma kebaikan yang mempengaruhi seluruh hidup (bdk. Gambaran pendidikan menurut Plato dalam alegori gua).

 

Filsuf Aristoteles, Santu Tomas Aquinas, John Locke, John Stuart Mill, Jacques Rousseau, dan sejumlah filsuf politik lain juga berbicara tentang negara dan pemimpin-pemimpin negara. Dengan pelbagai pandangan dan penjelasan yang berbeda, semua mereka mengakui bahwa seorang pemimpin haruslah orang yang matang dari pelbagai aspek, orang bijaksana dan orang yang senantiasa berusaha agar kesejahteraan dan kebaikan umum warga masyarakat menjadi agenda utama pelayanan mereka. Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki kematangan dalam diri, memiliki visi yang jelas ke depan yakni kesejahteraan dan kebaikan umum masyarakat (bonum commune). Prinsip-prinsip dasar ini tidak pernah disangkal manusia bahkan sampai abad kita ini.

 

Dalam suatu negara, kita memerlukan pemimpin yang siap melayani dengan baik berikut rakyat yang setia menjalankan tugasnya dan kewajibannya sebagai warga negara. Setiap anggota masyarakat harus memiliki sikap kritis yang bisa mengevaluasi atau menilai para pemimpin serta kinerja mereka dan yang sungguh bertanggungjawab atas kehidupan bersama. Karena itu rakyat yang tidak berpendidikan baik apalagi yang buta terhadap kehidupan politis harus senantiasa dicerahi (bukan diperbodoh atau dimanupulasi). Plato, dalam diskusinya di atas, menegaskan bahwa dalam suatu negara ideal diperlukan kesetiaan setiap warga untuk menjalankan tugasnya dengan baik dan penuh tanggung jawab,  dan dijiwai ole ide kebaikan dan keadilan ini, rakyat (orang kebanyakan) juga secara kritis melaksanakan tugas-tugas mereka yang spesifik dalam kota. Kata-kata nabi padang gurun Lebanon, Kahlil Gibran, yang dipinjam oleh alm. John Kennedy, presiden Amerika Serikat, yang kemudian dipatri di atas makamnya di Arlington cemetery, VA, perlu kita cermati: ’And so my fellow Americans, ask not what your country can do for you. Ask what you can do for your country.” (…janganlah bertanya apa yang negara buat untuk anda tetapi bertanyalah apa yang anda buat untuk negara).

 

 

  1. PEMIMPIN MANA YANG KITA PERLUKAN?

 

Kita mengetahui sangat banyak hal tentang NTT, baik tentang hal-hal yang baik dan menyenangkan maupun tentang hal-hal yang memrihatinkan kita semua. Kita juga tahu banyak tentang pembangunan yang sudah berlangsung, tengah berlangsung dan yang akan dilaksanakan ke depan. Informasi-informasi tentang semua hal ini kita ikuti terus melalui pelbagai sumber, baik sumber-sumber paling dekat dengan kita (cerita orang, radio, tv, majalah, harian, buku) maupun melalui sumber internet di dunia maya. Ada banyak hal yang mengagumkan tetapi tidak sedikit persoalan yang memrihatinkan.

 

Mencermati pandangan-pandangan sejumlah filsuf di atas saya dapat mengatakan bahwa dari perspektif filsafat, siapa saja dapat dipilih dan diangkat menjadi pemimpin ke depan, asalkan dia memenuhi sejumlah persyaratan yang niscaya untuk dapat mengantar semua warga NTT kepada kesejahteraan dan kebaikan hidup (bonum commune). Kebaikan umum semua warga hendaknya menjadi visi utama seorang pemimpin, dan oleh karena itu pelbagai aspek pangabdiannya harus diarahkan dari dan menuju visi ini. Namun seorang pemimpin yang baik dan bijaksana harus juga mencermati pelbagai kondisi, peluang dan sumber daya dalam wilayahnya sendiri. Untuk itu dia perlu mengenal wilayahnya sendiri. Karena seorang pemimpin yang baik juga biasanya ditentukan oleh sekian banyak kondisi dan peluang ini. Secara pragmatis-strategis orang-orang di wilayah tertentu boleh mengajukan calon pemimpin tertentu yang mereka kenal dan handalkan sebagai orang yang bisa memimpin dan mengorganisir. Namun sikap dan kepribadian calon pemimpin bersangkutan haruslah menjunjung tinggi pengabdian dan kebaikan umum masyarakat.  Dalam hubungan dengan kepemimpinan ke depan kita melihat dua komponen utama pembangunan di NTT, dan berdasarkan itu kita bisa menilai pemimpin mana yang sungguh kita perlukan dan apa kiranya hambatan utama yang kita hadapi.

 

3.1. Sumber Daya Manusia (SDM)

 

Dari dulu NTT dikenal sebagai wilayah yang memiliki mutu persekolahan dan pendidikan yang cukup baik karena peran para misionaris Kristen yang diberi kesempatan oleh pemerintah Belanda untuk bermisi atau ber ‘zending’ di wilayah ini. Paling kurang pengakuan ini cukup sering diungkapkan oleh tokoh-tokoh masyarakat di Indonesia Timur. Tidak hanya soal pengakuan orang-orang luar NTT, tetapi juga kenyataan di tanah air bahwa ada sejumlah tokoh NTT yang mendapat tempat terhormat di dunia nasional dan internasional karena pendidikan dan pengabdian mereka di tanah air. Andaikan semua mereka ini secara penuh mengabdi di NTT demi kepentingan NTT dan kondisi NTT juga memungkinkan, maka situasi NTT mungkin akan berbeda dari yang sekarang kita alami.

           

Namun bagi saya persekolahan atau tingkatan studi yang tinggi yang ditandai dengan diploma atau ijazah (S1,2,3) hanya merupakan satu aspek kecil dari sekian banyak aspek penting lainnya. Kenyataan bahwa banyak sarjana kita memperoleh ijazah tinggi, tetapi betapa banyak dari mereka yang dikeluhkan di tengah masyarakat. Menurut saya aspek dan nilai pendidikan harus sungguh-sungguh ditanam sejak dini dan pendidikan yang tinggi haruslah merupakan kesempatan refleksi untuk melicinkan sikap-sikap dan kepribadian kita. Banyak orang sukses dalam pengajaran dan tingkatan studi, tapi gagal memperoleh pendidikan yang baik. Pendidikan mengandaikan suatu pembentukan diri yang utuh. Kita tidak hanya dididik untuk memiliki kemampuan intelektual (secara teoretis tahu banyak) tetapi juga harus bertingkah secara manusiawi yang matang secara sosial, etis-moral, psikis-emosional, kultural dan religius. Ini semua tentu memerlukan pemaknaan terhadap studi, kerja dan hidup kita melalui refleksi yang terus menerus. Dan refleksi berarti tindakan untuk berbicara dengan diri sendiri dalam konfrontasi dengan seluruh realitas kehidupan kita. Tidak heran kalau banyak orang nyeletup: ‘kok pemimpin kita ini memiliki begitu banyak cacat dalam karya pengabdian.’

 

3. 2.  Sumber Daya Alam (SDA)

 

NTT merupakan satu bagian dari wilayah Republik ini yang secara aktual dan potensial kaya dalam banyak hal. Kita memiliki lautan yang luas dengan kekayaan laut dan pantai yang indah, kepulauan yang indah dan menawan, objek-objek wisata bertaraf internasional, padang dan savana yang menjadi tempat subur untuk peternakan, gas-gas bumi dan mineral, dan sekian banyak kekayaan potensial lainnya. Berapa banyak pengusaha atau pemodal asing yang sejak lama mengintai kekayaan alam kita? Namun mengapa NTT yang dikatakan kaya dalam SDM dan SDA justru terbilang sebagai salah satu provinsi yang amat miskin di tanah air?

 

Kekayaan alam ini tidak akan bermanfaat kalau tidak dimaknai dan ditanggapi lewat SDM yang memadai. Di mana reklame-reklame kita tentang semua kekayaan alam dan objek wisata kita di manca Negara? Mengapa setiap tahun ketika menyusun APBD selalu saja diandaikan sebagian besar anggaran datang dari pusat? Berapa banyak yang kita berikan kepada pusat untuk kepentingan banyak wilayah lain di republik ini? Mengapa di era otonomi ini selain mendapat bantuan dari pusat kita tidak bisa mengoptimalkan pelbagai usaha dan hasil-hasil kekayaan kita sendiri?

3.3.  Pemimpin Mana yang Kita Perlukan?

 

Untuk dapat mengangkat NTT ke depan secara ideal kita perlukan pemimpin-pemimpin dengan sikap dan watak seperti berikut: baik, sehat (fisik dan mental) dan matang dari pelbagai aspek yang menunjang kepribadian. Atau secara skematis saya dapat mengatakan demikian:

 

a.      Pemimpin yang memiliki semangat pengabdian yang tinggi dan sungguh berpihak pada rakyat. Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang memiliki visi utama yaitu kesejahteraan dan kebaikan masyarakat. Visi ini musti juga dijabarkan dengan baik melalui strategi-strategi yang mungkin demi kebaikan umum. Gagal melihat masa depan adalah tanda kegagalan selanjutnya.

b.     Cemerlang dalam berpikir (konseptual) namun juga praktis-pragmatis dalam pelaksanaan. Apa yang diucapkan secara teoretis harus juga diungkapkan melalui tindakan konkret yang bisa mendatangkan manfaat besar untuk rakyat. Dia tidak saja hanya berteori tetapi juga berbuat. Karl Marx, pengritik utama kaum idealis dan rationalis, pernah mengatakan bahwa kita tidak hanya berteori dan berkata-kata secara bijak tentang masyarakat dan kenyataan sosial yang memrihatinkan. Yang jauh lebih penting ialah bagaimana kita merubahnya.

c.      Pemimpin yang terbuka dan siap bekerjasama. Ia siap bekerja sama dengan pelbagai komponen lain dalam masyarakat. Sebagai politisi ia juga harus siap bekerja sama dengan para ilmuwan (teknokrat), para pengusaha dan pemegang modal, siap mengawinkan nilai-nilai lain yang berbeda dengan nilai-nilai pribadi. Seorang pemimpin karena itu harus memiliki pemahaman sosial budaya dan moral-etis yang benar dan baik, dan nilai-nilai ini juga harus sungguh terungkap dalam hidupnya. Dengan ini dia lebih gampang memberi penghargaan terhadap semua orang dari pelbagai latarbelakang dan dengan demikian dia juga dapat diterima. Kita sungguh membutuhkan pemimpin yang mampu berkomunikasi dan berorganisasi.

d.     Memiliki semangat demokratis yang tinggi yang terungkap dalam seluruh hidupnya. Seorang pemimpin yang efektif adalah orang yang lebih memerhatikan pribadi atau ‘manusia’ (peoplework) dan bukan hanya berorientasi pada kertas dan kesibukan kerja (paperwork). Orang lain, rekan kerja atau rakyat biasa haruslah dilihat sebagai kesempatan (opportunity) dan bukannya gangguan (interupsi). Penghargaan dan afirmasi atas manusia dirasa amat penting. Untuk itu sikap otoriter harus dihindarkan dalam pelbagai pengambilan keputusan (decision-making). Sebagai abdi, dia tidak mempraktekkan top-down leadership melainkan servant leadership. Pemimpin yang efektif melihat diri sebagai suatu dasar piramide yang memberi kekuatan dan daya dukung atas semua orang yang ada di atasnya.

e.      Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu menyiapkan pemimpin-pemimpin ke depan dan dengan rela dan sportif juga bisa melepaskan tugas dan jabatan yang selama ini diemban. Estafet kepemimpinan haruslah direncanakan dengana baik. Menyelesaikan tugas dengan baik adalah ukuran sukses yang amat penting. Melepaskan jabatan selalu berat tetapi harus dibuat dengan rela dan sportif.

f.      Pemimpin yang berani dan tegas mengambil arah. Saya berikan contoh: Sering pemimpin wilayah kita mengorbankan hal-hal yang paling mendasar bagi hidup masyarakat di wilayah kita hanya karena secara patuh menjalankan keputusan pusat, yang kerap tidak cocok dengan kebutuhan dan tuntutan-tuntutan di daerah; kerap juga perjuangan lembaga-lembaga agama dan lembaga-lembaga sosial di wilayah kita didiamkan atau kurang didukung oleh para pemimpin di wilayah kita?

 

Secara singkat seorang pemimpin yang efektif adalah orang yang punya otak (berpikir, bernalar dan memanipulasi dunia), tetapi dia juga harus memiliki hati yang siap menyentuh, merangkul dan mencinta. Dari sini kita bisa temukan begitu banyak kebajikan lainnya.[3]

 

3.4. Hambatan-Hambatan Konkret di NTT

 

Saya mendeteksi beberapa kendala dalam kepemimpinan dan upaya pembaruan NTT ke depan:

  • Sumber daya manusia belum memadai. Kita belum memiliki cendekiawan yang sungguh-sungguh mengabdikan diri demi kepentingan rakyat banyak. Kita belum cukup mendapat orang yang sungguh berkepribadian utuh, yang bisa memimpin rakyat dengan hati. Kalau SDM (berpendidikan dan berbudaya) kita cukup baik, tentu orang NTT mampu mengoptimalkan semua potensi yang ada, dan dengan demikian kita pasti sudah jauh lebih maju daripada apa yang kita alami sekarang ini. Karena itu pendidikan dan pembiasaan yang baik memegang peran krusial (pembentukan watak dan sikap).
  • Letak geografis yang agak sulit dijangkau di wilayah kepulauan yang luas ini. Ini juga mempersulit jangkauan pelayanan terhadap masyarakat luas.
  • Kemiskinan: selain disebabkan oleh sumber daya alam yang kebanyakan masih bersifat potensial, rakyat kecil juga kerap dipermiskin oleh struktur atau sistem dan gaya kepemimpinan para penentu kebijakan kita. Kemiskinan ini juga mempengaruhi seluruh gerak maju kita (pendidikan, pelayanan/jasa, promosi-promosi sumber daya kita, dll).
  • Komunikasi kita juga kurang luas: tidak hanya karena kesulitan geografis dan  transportasi, tetapi komunikasi kita dengan dunia luar juga amat terbatas (perdagangan/niaga, intelektual, bisnis, dll masih tergolong lemah).
  • Halangan sosial budaya: primordialisme berdasarkan suku, ras, wilayah, kedekatan dan kepentingan amat besar. Semua hal ini mempersulit kita untuk memperoleh pemimpin-pemimpin yang kualified. Kita lebih cenderung memilih atau memperhatikan orang-orang kita.
  • Di wilayah-wilayah tertentu di Republik ini (contoh wilayah NTT) sering terjadi kekurangpahaman atau kurang kerjasama yang baik antara Pemerintah dan wakil-wakil rakyat (eksekutif dan legislatif) dalam banyak kebijakan kepemimpinan daerah. Wakil Rakyat tampak seakan memiliki kuasa yang jauh lebih besar daripada Pemerintah dan kerap terasa tidak ada semangat kerekanan (kolegialitas). Dalam republik ini juga tampak lebih banyak masalah antara Pemerintah dengan Wakil rakyat daripada masalah yang muncul dari rakyat sendiri. Kalau demikian maka kepentingan mana yang mereka ladeni dalam Negara ini?
  • Pelaksanaan dan penerapan hukum masih terlampau lemah. Ini disebabkan, atau karena hukum kita tidak lengkap dalam arti ada banyak kasus dan kepentingan yang belum dengan jelas dirumuskan dalam pelbagai bentuk peraturan perundangan, atau karena kita mentolerir semua kesalahan hukum yang dipraktekkan oleh para pemimpin atau pejabat kita. Di sini juga kita dapat berbicara mengenai hak atas perlindungan hukum, pemerataan dan keadilan dalam bidang hukum.
  • Ketidakstabilan politis nasional: Ini nampak dalam kebijakan dan peraturan yang sering tidak bertahan lama. Berapa banyak pemodal asing atau juga pengusaha nasional dan lokal yang mengeluh karena kebijakan dan peraturan di republik ini terlalu cepat berubah.
  • Korupsi sungguh amat merajalela di wilayah-wilayah kita yang nota bene adalah wilayah orang Kristen. Mengapa? Bagaimana jalan keluarnya?
  • Pemimpin yang kurang berani dan kurang tegas mengambil arah (bdk. di depan).

 

Ini beberapa catatan kecil yang sempat saya rekam. Tentu masih banyak catatan lain yang masing-masing kita catat sesuai dengan pengalaman dan pengamatan atas perkembangan dan kemajuan di wilayah NTT.

 

 

PENUTUP

 

Ada banyak hal positif yang telah kita raih dalam perjalanan sejarah provinsi NTT. Kita sendiri bisa menyaksikan sendiri perkembangan wilayah kita  sejak kita masih kecil hingga sekarang. Ada banyak kemajuan sudah kita capai dan masih ada sekian banyak rencana dan harapan yang belum terealisir. Tetapi kita tidak boleh menutup mata terhadap sekian banyak cacat dan luka yang perlu kita obati dan kita coba temukan terapi yang tepat. Seluruh pengalaman kemajuan atau kemerosotan ini adalah fakta yang tidak mungkin disangkal. Sebagai warga NTT kita ingin meningkatkan yang kecil yang sudah kita miliki dengan pelbagai upaya dalam pelbagai aspek kehidupan, dan kita mau merubah warna-warna suram NTT masa lalu dan kini, dan ingin membawa NTT ke depan yang cerah, yang sejahtera dan bahagia. Kita tidak ingin menikmati sendiri hasil karya kita sekarang, juga tidak ingin bahwa generasi kita ke depan akan mengutuki kita, tetapi ingin agar generasi penerus kita akan dengan penuh syukur menikmati hasil keringat kita sekarang ini, dan karena itu kebaikan dan cinta kita akan tetap dilestarikan oleh generasi-generasi penerus kita. Mengabdi dengan hati, merangkul dengan cinta adalah berat dan penuh pengurbanan, tetapi sungguh luhur dan mulia dan karena itu amat dihormati.

Mari kita berjalan terus, bergandengan tangan dan kompak membangun NTT dengan otak dan hati kita.

 

Ledalero, April 2008

Konrad Kebung



[1] Bdk. Robert Audi, ed. The Cambridge Dictionary of Philosophy, 2 nd ed (Cambridge: Cambridge Universty Press, 1995), hlm., 856-858.

[2] Ibid., s.v. “Plato”, hlm., 709-713 (khusus 711-712). Bdk. ‘Teori Forma’ atau ‘Idea’ dari Plato dalam F.M. Cornford (trans), The Republic of Plato (New York: Oxford University Press, 1974), hlm., 175-220 (buku V-VI). Bdk. Plato: The Collected Dialogue, ed.by  Edith Hamilton and Huntington Cairns (Princeton: Princeton University Press, 1989 (cet.14)), hlm. 676-686.

[3] Bdk. Hanz Finzel, The Top Ten Mistakes Leaders Make (Colorado Springs: Viktor Cook Communications, 2000). Juga lihat Loughan Sofield and Donald H. Kuhn, The Collaborative Leader (Notre Dame: Ave Maria Press, 1995).

AKTUAL   |   SALAM   |   EMAS SDK   |   SEJARAH DESA   |   SEJARAH SUKU   |   OPINI   |   RENUNGAN   |   CERITRA LEPAS   |   IMPRESSUM   |   LINKS